10 SAJAK TERAKHIR: Puisi Mohammad Thoriq Miftahuddin

Ironic Illustrations by Davide Bonazzi

 

I
Siapa pun tak bisa menahan
segala kejadian. Seperti kesempatan
kerap hilang, di bawah waktu yang terus berjalan.

 

Atau seperti cuaca, yang seenaknya
menenteng terik panas dan gigil hujan
sepaket dengan sakit, yang mampir tanpa pamit.

 

Siapa pun tak dapat menahan
segala kejadian, termasuk kematian kekasih.
 

 

II
Ketika aku menciummu
atau sesekali kau cium bibirku
sekejap angin datang membalas
menghempas tanpa bekas.

 

Tapi ketahuilah!
Ingatan, akan menggiring malam itu
sampai ke pekuburan waktu.

 

Sebagaimana pukulan atau kebaikan.
Sebagaimana kecurangan dan kejujuran.
Sebagaimana kebohongan dan kebenaran.
Semua abadi pascakematian.

 

III
Setiap hari aku menyusun aksara
sambil merapikan lara
yang menganga.

 

Sesekali kuteguk kopi
yang mengandung puisi
agar kuat menenun benci
menjadi kain kafan putih
sebagai persiapan mati.

 

IV
Masih kuingat suara tangis tersendat-sendat
sebelum dua salam, di ruang paling malam.
Sebuah rentetan kalimat yang dibaca penuh khidmat.

 

Ah, mungkin ia sudah merasa sehat dan kuat
mungkin juga sudah tak punya hajat
atau mungkin hanya ketika melarat dan sekarat.

 

V
Selendang digelar
dari timur ke barat
malam diam.

 

Ketiadaan menunggu
seorang bocah bangkit
meniup doa.

 

Ia tenggelam
purnama sempurna
dalam air mata.

 

Semilir angin
membawa wangi
fajar pagi.

 

Bocah bersalam
menjawab bintang-bintang
yang turun bergantian.

 

 

VI
Aku belajar dariMu:
Cara mencintai kekasih, menyayangi kekasih,
dan cara meladeni kekasih.
Serta melatihku tentang cara menjaga
rasa percaya, begitulah kiranya.

 

Namun, sampai sekarang
semua masih gagal kutunaikan, sayang!

 

VII
Jika tubuhku terpotong-potong
jadi seribu, seperti malam
dan masing-masing hidup mengikuti putaran waktu
Aku akan berdiri memikul senyumMu
sambil mendaras lagu-lagu
sampai membuat malaikat patuh
lalu kupinjam sayap-sayapnya, terbang mengadu.

 

“Duh, Kekasih, ternyata maut
lebih dekat ketimbang urat-urat.”

 

VIII
Aku bertanya pada mereka;
yang hidup di pasar, di sepanjang trotoar
di antara jalanan, dan di sudut jembatan.

 

“Selama ini kau sahur dan buka
dengan apa?”

 

Lantas mereka jujur.
“Sepiring udara ditambah usaha,
semangkuk qona’ah dengan irisan cinta dan do’a-do’a
sebagai penutup biasanya segelas air mata.”

 

Sebelum kutanya lagi
mataku terbelalak terbuka, tak berani
meneruskan mimpi.

 

Tiba-tiba ada suara. “Itulah puasa!”

 

 

IX
Jatah usia berjalan ke kadaluarsa
masing-masing kepala: menua
rambut memutih lalu rontok. Ingatan
menguning: karatan.

 

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

 

“Bakar dan nyalakanlah sisa ramadhan!
agar kau tak kesepian dan kedinginan
di dalam pekuburan.”

 

X
Sampai, akhirnya puasa
ditebus oleh hari raya.
Tetapi puisi tak pernah selesai
menghidupkan peristiwa yang terjadi.

 

(2020)

 

Mohammad Thoriq Miftahuddin
lahir di Jombang. Nyantri dan bergiat di komunitas sastra pesantren (KSP). Buku puisinya “Semesta Lesap Dalam Senyuman” masih dalam antrean terbit.