Passion for Anime

Bolehkah cerah pada langit malam kita, tidak memiliki akhir? – Demikian sebaris pesan nomor tak tersimpan yang tiba-tiba masuk.

Memangnya saya ini siapa dan apa? – Batin saya sambil ngetik – maaf,  ini siapa? Berharap ada kejelasan segera, pesan langsung saya kirim. Beginikah tiwikrama? Tujuh menitan jawaban ditunggu, di sana masih saja mengetik pesan, entah bagaimana, tiba-tiba menangkup saya : kegelapan dingin menyala screen besar memampang peta angkasa. Pirantinya serba terbuka menggugah bagaimana menemu lokasi segugus bintang baru dikenal, bagaimana mengukur jarak antar planet dalam suatu formasi yang meragukan, bagaimana mengetahui kekuatan kontur permukaan sebuah planet yang menggoda ditinggali, lalu bagaimana menyikapi materi terserak di permukaan sebuah planet yang haus sentuhan, bahkan bagaimana menilai pertanyaan si pemilik nomor tak tersimpan yang belum jelas arahnya. Maka bagaimana seleranya serta apa maunya, saya tarik dalam zona permainan saya. Utas pesan berikut mungkin membangkitkannya :

Baiklah, saya ada sedikit cerita. Dibaca besok juga tak apa.
 
Bagaimana cahaya menerpa wajah kita, sudah tahu?
Demi meraih hati manusia, bersama ledakan besar
di ceruk-ceruk angkasa masa lalu kita, kerlip pedih itu gigih
menyibaktembus kegelapan malam.
 
Siapa menduga planet-planet kembali berselisih,
setelah sebelumnya panen panjang kebersamaan.
 
Adagium yang digantungkan para pendahulu,
mereka genggam erat lagi :
Pesawat Induk adalah panji koloni.
 
Bayangkan jika berada di situ –
Landasan sekoci-sekoci pesawat dari planet asal yang jauh,
atau bahkan telah luruh, berlabuh.
 
Terhubung taman dan kafe, maka yang saling kangen
leluasa bertemu sekedar menyegarkan janji.
 
Terhubung aula besar, maka tamu pesta perkawinan
para pahlawan maupun pengkhianat bisa menepati waktu.
Dan ulang tahun peluncuran orbit koloni, terbuka bagi
setiap kehadiran –
warga biasa maupun dari lingkaran istana.
 
Tak jauh dari situ, setelah menyusur lorong-lorong dingin,
buat yang bertahun tak melepas cumbu, sudah ditata
kamar-kamar kedap suara.
 
Juga stadion olahraga bagi pemburu kebugaran
dan prestasi.
Di puncak-puncak menara, jika hendak melupa kealpaan
serta menyadari kembali Kemahaan, tersedia sunyi.
 
Tak ketinggalan – di sini awak kapal nakal lama-lama
berlaku seperti paranormal –
dekat ujung pipa-pipa pembuangan limbah,
terselip penjara pengap.
 
Semua itu dibalut tebal-tebal melebihi tabu.
Meski gagah bagai panji terikat
di ujung tombak sang panglima, ada saja titik lemahnya –
bergolak dalam lambung ketakutan lawan  
yang berderumdentam bersama kerja reaktor tenaga.
Siapa kuasa meredamnya, lalu dengan kekuatan konstan
menumpu titik mungkin demi titik mungkin,
bakal nemu yang paling lengah pada pertahanan sasaran.
Jika tembus, satu sosok awak saja terurai, secara berantai
akan mengurai ratusan sosok awak lainnya.
Merebaklah cahaya di angkasa kita,
sebagiannya telah dinikmati generasi-generasi lalu.
Tak penting pemenangnya siapa, lumayan, malam ini ada
sisa cahaya yang sampai ke kita.
Kalau kau menyukai kenangan,
barang dua tiga moment, tentu mengabadikannya.
 
Jika tak terengkuh cahaya meluluhkan bagaimana?
Mereka, sambil merancang kemenangan di masa datang,
terus melesat
ke zona-zona aman.
Boleh jadi jauh sebelum langit malam menjadi terang
untuk kembali suram, sudah ada yang tinggal di bumi.
 
Maaf, saya suka nglantur.
Juga tak biasa membuat singkatan _/||\_
 
Sesungguhnya ini yang perlu engkau ikuti!
Seperti pernah ditemui, seorang teman suka
mengulang-ulang cerita yang katanya cuma mimpi.
Saat kelelahan mengejar dead line desain grafisnya,
tiba-tiba pintu studio kerjanya diketuk sosok wayang wong,
yang katanya seperti yang pernah ia tonton
melalui TV hitam putih dulu.
Dibilang salah alamat, sosok itu hanya menggeleng,
lalu menyerahkan sejenis kenangan.
Sejak itu teman satu ini makin rajin lembur.
Terkadang hingga menjelang Subuh,
tetapi bertahun-tahun hidupnya masih seperti itu –
 
Mobilnya buatan 90-an, supaya sedikit gaya,
mengisi bahan bakarnya milih di depan
mesin pompa Pertamax
– saya paham, hidup memang pertempuran! –
 
Sepatunya bagus, saya tanya beli di mana, katanya ada
pedagang keliling merayu Satpam masuk kantornya.
Setelah dinego harganya 60 ribu.
 
Memang belakang
 – katanya yang di pesantren anaknya sudah mulai kuliah –
bersama istrinya sering ke Yogya.
Tapi itu hal seharusnya, bukan? Tanggungjawab orangtua.
 
Mungkin bosan melalui medsos, suatu sore sehabis hujan,
muncul di studio saya.
“Awas, jangan ngintip!” Gurau saya.
 
“Saya ada yang baru kok!” Sahutnya sambil menarik laptop
dari tas koper berukuran besar.
Belum pernah lihat type dan logo merknya,
hendak tanya “keluaran mana?” tapi urung. Percuma,
nanti malah ditanya balik, “apa kamu memerlukan?”
 
Begitu file-nya terbuka, saya teringat yang pernah
ia ceritakan.
“Seperti itu yang menemui dalam mimpi?
Bukankah itu Gatotkaca?” Pertanyaan saya wajar, bukan?
 
“Saya memang hanya memodifikasi!”
Jawabnya meyakinkan.
 
“Sesungguhnya kehidupan di sana tak beda dengan
di kita, menuntut sosok setiap level mampu dengan tepat
memposisikan dan mengendalikan hal-hal yang melekatinya.
Tapi bagaimana pemrogramannya, mereka yang tentukan!”
 
Jika malam ini engkau bingung dengan diksi ‘mereka’,
saat menit-menit awal percakapan itu
saya justru sangat paham.
‘Mereka’ adalah juragan-juragan yang biasa menggunakan
jasa ‘kami’.
‘Mereka’ mengungkapkan,
‘kami’ menampung sekalian mengolah gelisah ‘mereka’.
Lahirlah sosok-sosok sederhana hingga rumit.
 
Begitulah hukumnya, hingga ‘mereka’ tak kuasa menolak.
Tak berani melekatkan hal-hal baru ataupun melepas
hal-hal yang telah lekat pada model setiap sosok.
 
Saat hanya saya yang mampu menggarap
harapan-harapan mereka, saya sering kerepotan.
Beruntung teman satu ini bersedia saya ajari.
Sungguh membanggakan, kini telah melampaui saya.
Suatu kali, mungkin habis dapat job besar, sambil nenteng
bungkusan berisi kue kesukaan anak saya, gula kopi,
serta rokok “wajib” saya, istrinya menemui istri saya
di rumah
– saya paham, mereka sedang berterimakasih! –
 
Tampaknya hari-hari ini teman satu ini mulai menghadapi
hal yang lebih berat dari yang biasa dihadapi.
Di luar dugaan, file berikutnya mempertontonkan
sesosok pesawat induk dalam manuver berlabuh.
Di tengah kawasan berbatu dikelilingi bukit-bukit terjal
kaki-kakinya tampak menapak rata,
sungguh membangkitkan imaji tentang si genus gajah
yang musnah : Mamut!
 
Entah hendak meraih apa, belalai legamnya sudah menegak
ke angkasa, fungsi kepalanya masih perlu mendongak
45 derajat. Sedang ratusan benda kecil yang mengerumuni
– tampaknya lori-lori pesawat –
mengesankan berharganya setiap upaya.
 
“Meski saya tak berharap ada di dunia nyata,
jika yang terinjak hancur lantak, berarti programernya
tanggap!” Ungkapnya lirih.
 
“Pekerjaan kita sesungguhnya banyak menguras jiwa!”
Sambungnya dengan mendengkus.
Hendak tanya apa yang membebani, tapi saya juga
tak beda dengannya : pekerja kasar.
 
“Jika kelak maujud, semoga sosok model ini
tak memicu mereka menjadi merasa paling kuat.
Lalu diam-diam merayah kekayaan bumi kita.
Tanpa kehadiran mereka saja, hutan dan batuan kita
telah banyak terkuras!”
 
“Lihat, setelah mengeruk isinya, meninggalkan begitu saja!
Dikiranya tak ada kehidupan lain bakal menjelang tempat
yang manfaatnya telah mereka ambil itu,
sumur-sumur seluas kawah tetap menganga,
drum-drum bekas wadah cairan penghancur
masih menyisakan asap beracun!
Jika itu terjadi di sini, siapa yang mampu mengembalikan
kekuatan alam kita? Para juragan di sana itu?
Saat banjir menerjang kampung-kampung, mereka sendiri
kelu bersuara.
Padahal sebagian akibat ulah mereka.
Merasa telah menyumbang banyak pada negarakah?”
 
Saya yang sudah mulai ragu, makin meragukan mimpi
yang sering diceritakannya dulu.
Hendak tanya lebih dalam ‘mereka’ itu siapa,
tapi file berikutnya lagi
memampang bagaimana sosok serupa Mamut lepas landas.
 
Saat membaca komik, apa yang kamu lakukan?
Nah, saya mungkin sepertimu :
membayangkan setiap objek sosok sewajar mungkin
sesuai fungsi-fungsi yang melekati.
Maka, bersamaan menguatnya gemuruh kerja turbin mesin
penolak gravitasi,
setelah sudut-sudut vital objek sosok berpijar lampu,
seiring tergulungnya belalai serta surutnya kaki,
perlahan, dalam sepuhan keperakan, sepasang sayapnya
mengembang.
Sedang duabelas kubah bening di punggung
makin mengesankan kukuhnya sang penentu
keberlangsungan.
 
“Seperti saat merancang baliho-baliho kampanye
– saat ini kenapa masih sepi ya? – setiap detil sosok
saya rancang sesuai ukuran-ukuran di bumi!“
Saya makin terpancing. Tapi mau teriak,
“hey, memang akan dibangun di bukan bumi yang mana?”
teman satu ini belum selesai.
 
“Bayangkan untuk ukuran sosok hampir seluas kota kita.
Dilengkapi ruang tertutup dan terbuka,
tanpa batas-batas tegas, dapatkah disebut wadah?
Tanpa jalan, lorong dan pintu, bisakah manfaat wadah
digapai?
Setiap ruang memiliki bentuk dan ukuran,
setiap bentuk dan ukuran mempunyai bagian-bagian
yang perlu dihubungan dengan tepat,
hubungan-hubungan perlu dipertahankan dengan kuat.
Apa yang dapat menguatkan?”
 
“Beruntung mahasiswa magang di tempat saya
tak hanya terampil dan berwawasan,
tetapi juga lekas tanggap.
Bagaimana membalas kebaikan-kebaikan mereka,
sulit saya mengatakannya!”
 
“Kemampuan mereka tentu beragam.
Maka pekerjaan sederhana, macam menggandakan model
mur-baud, roda bergerigi,
potongan plat logam tahan panas, potongan kabel
dalam berbagai ukuran panjang, lalu pipa dan keninya,
saya serahkan pada yang gampang patah dan ngantukan.
Tinggal copy-paste, bukan?”
 
Ingin tertawa, tapi terbantah lanjutannya,
“yang cukup kuat, mampu mengendalikan emosi
secara wajar, sesekali saya ajak lembur.
Saya tunjukkan bagaimana sebuah sosok model terbentuk.
Baru, kesempatan merangkai bagian demi bagian model
saya berikan!”
 
“Tentu seluruhnya tetap dalam kontrol saya.
Satu bagian saja tertinggal, meski kecil dan sederhana,
jika itu dibutuhkan bagian dalam, maka model
mesti dirangkai ulang. Mateng!”
 
“Sangar,” saya menimpali sambil, tanpa sengaja,
tepuk tangan.
 
“Ya, mereka tahunya beres. Setiap detil rancangan mesti
berfungsi.
Tapi semuanya diaplikasikan untuk meraih satu hal :
kemenangan!”
 
“Bagi kita maya, bagi mereka nyata.
Bagi kita cuma asesoris, bagi mereka berguna!”
Sambungnya sambil membuka fail berikutnya lagi.
 
Sekali lagi hendak lebih jauh tanya ‘mereka’ itu siapa,
tapi bagaimana sosok itu kini mengarungi sunyi angkasa,
membujuk saya tak lupa menyampaikannya pada
yang senang belajar.
“Jangan halangi kami!” Begitu mereka kira-kira,
setelah mengunci seberkas sinar keberadaan
sebuah planet baru.
Terbayang sekumpulan meteor yang berada dalam orbitnya
bersibak takzim.
Menolak minggir, meski melampaui besar sosoknya,
berarti hancur!
 
Terima kasih banyak, telah berbagi pengalaman. Sungguh sangat langka, ternyata anda bisa cerewet. Sangat berbakat jadi juragan! – Tiba-tiba di layar HP tampil pesan tanggapan pemilik nomor tak tersimpan. Itu yang saya tunggu. Saya juga khawatir bakal ada yang menghadang, dan itu sedang saya rancang. Lihat! – Susulnya dengan menyertakan foto sebuah model sosok pesawat induk.         
Sambil mengamati detil model sosok dalam fotonya, saya kembali mengetik – ah, saya hanya menceritakan yang saya ingat. Maaf, ini siapa?
Sekira limabelas menit setelah saya berkirim pesan, pesan susulan pemilik nomor tak tersimpan berikutnya beruntun masuk :
 
Juragan temanmu, saya cukup mengenalnya.
Ia dari jenis makhluk kalah bermodal penampilan.
Banyak maunya,
tapi pelitnya minta ampun. Mungkin ngirit 😀 –
 
Pernah dengar, jika jauh sebelum model
sosok-sosok digdaya
dalam kitab Ramayana-Mahabarata ditafsir
para pengrajin wayang kita, juragan-juragan jenis itu
sedemikian rupa mencuri pikiran moyang kita?
 
Mereka, demi kemenangan, turun mengunjungi
pertapaan-pertapaan sunyi, membujuk yang nyaris
tanpa pamrih membabar lakon-lakon rahasia.
Siapa tidak bangga, jika dirinya berguna?
Akhirnya orang-orang tulus itu setiap malam suntuk
menggali yang sesungguhnya hanya untuk kekayaan hati.
Berbulan-bulan!
 
Sementara, sambil menyimak bagaimana di tengah gejolak
model-model sosok penyangga keseimbangan semesta
bersikaptindak,
juragan-juragan tadi terus menyusun rencana-rencana
menguntungkan diri sendiri.
Mudah dibayangkan, jika juragan-juragan seperti itu ada
di sekitar kita!
 
Di sana Bhagawadgita tentu boleh digelar.
Tapi hanya saat di mana-mana terjadi protes menentang
keputusan gila Panitia Perang.
Bukan tidak mungkin program model sosok
Arjuna dan Adipati Karna, diturunkan hingga level
sekedar penghancur lawan.
Meski yang dilawan dari sumber yang sama,
posisinya tetap penghalang.
Jika menang akan dipuja.
Tapi yang kehabisan daya, tanpa upacara, dibuang jadi
sampah angkasa.
 
Melayang-layang, tergantung siapa menemukannya
pertama :
Pedagang budak apa binatang buas pemamah logam.
 
Tapi saya telah belajar banyak dari temanmu itu.
Sebelum itu, domain mana yang tidak saya retas?
Memang memberikan hasil melimpah,
tapi saya jadi sering sulit tidur 🙁
 
Beliau sangat tahu siapa saya.
Kini saatnya saya berterimakasih.
Cukup beliau sendiri memberi nilai!
 
Kroya, 2021

 


Ilustration by Yu Sang (Inspirationgrid.com)

Buku Langgar Shop
Badruddin Emce
di samping menulis juga aktif di Lesbumi PCNU Cilacap. Kumpulan puisinya yang telah terbit, Binatang Suci Teluk Penyu (2007), dan Diksi Para Pendendam (2012) masuk 10 besar Khatulitiwa Literary Award 2012. Akun twitternya @BadruddinEmce