Dalam beberapa kali melakukan riset ke lapangan, bertemu dengan para informan dan narasumber, saya acap kali menerima keluhan: dulu ada juga ‘orang seperti saudara’ datang ke sini. Menanya ini itu, berkeliling melihat ke segala sudut kampung kami. Katanya riset, tetapi habis itu kami tidak tahu lagi kabarnya. Apa gunanya riset itu untuk kami.

Peneliti generasi sekarang mungkin tak akan pernah lagi menjadi peneliti awal. Sebelum mereka datang, pasti sudah ada peneliti lain. Nah celaka betul kalau peneliti sebelumnya adalah ‘orang seperti saudara’ sebagai yang dikeluhkan di atas. Datang, mewawancarai –dengan tentu mengambil waktu orang dan pasti merepotkan–, melihat-lihat, lalu setelah itu tak pernah lagi nongol dan menampakkan batang hidungnya. Nyaman tenteram di ruang ber-AC setelah hasil risetnya diujikan, dipresentasikan di forum ilmiah, dimuat di jurnal dengan nilai kum tinggi, atau menerima insentif besar lantaran hasil penelitian.

Tetapi lebih celaka lagi tentu komunitas yang diteliti tersebut. Mereka diteliti dan dibicarakan tapi tidak tahu apa gunanya untuk mereka. Dalam bahasa lain, mereka hanya jadi korban ‘eksploitasi ilmiah’.

Dalam hal ini menarik sekali apa yang dilakukan oleh Sandra Niessen, seorang antropolog dari Belanda. Sekitar tahun 1979-80, kemudian dilanjut tahun 1986, ia meneliti tradisi ulos di masyarakat selingkar Danau Toba. Ia masuk kampung keluar kampung, bertemu dan ngobrol dengan banyak para penenun, atau mereka yang terkait dengan tradisi tenun, mengamati dan memotret. Hasil risetnya, termasuk menelusuri museum-museum yang menyimpan ulos di berbagai Negara Eropa terbit tahun 2009, dengan judul Legacy of Cloth, Batak Textiles of Indonesia, oleh KITLV, Leiden. Artinya terbit 25-30 tahun setelah ia melakukan riset awal dan sepanjang itu pula ia mengerjakan riset tersebut.

Atas dukungan teman-temannya, pada tahun 2010 ia kemudian membuat proyek “Pulang Kampung”, yakni kunjungan kembali ke tempat-tempat dulu ia riset dan menyerahkan bukunya tersebut ke mereka. Ia mengembalikan buku itu kepada mereka yang dulu berbagi cerita, informasi, dan pengetahuan dengannya, serta membantunya dalam riset tersebut. Pada dasarnya masyarakat itulah pemilik pengetahuan tersebut, dan dia hanya memulung dan merajutnya saja.

Tetapi seorang antropolog pada dasarnya seorang dokumentator kebudayaan. Ia mencatat tradisi lisan maupun benda-benda kebudayaan sebuah komunitas melalui narasi tekstual dan visual (foto/film). Dari sini masyarakat setempat tahu apa yang berubah dan apa yang tetap di dalam kebudayaan mereka.

Antropolog juga seorang kritisi kebudayaan dan darinya masyarakat bisa belajar dari kritik tersebut.

Di sinilah pentingnya seorang antropolog. Karena itu beruntunglah sebuah komunitas yang memperoleh perhatian dari seorang antropolog atau peneliti umumnya. Tentu dengan catatan, jika hasilnya dibagikan kembali ke masyarakat tersebut. Ini saya kira merupakan tanggungjawab etis seorang peneliti (antropolog).

Di sinilah menariknya apa yang dilakukan Sandra Niessen ini. Perjalanannya ini ditemani oleh MJA Nashir, seorang fotografer yang juga penulis. Nashir menuliskan pengalamannya menemani Sandra ini dalam buku tebal berjudul Berkelana dengan Sandra: Menyusuri Ulos Batak (2011).

30 tahun jelas bukan tempo yang pendek. Nashir mencatat bagaimana Sandra seperti harus mengulang dari awal penelusurannya. Mendatangi lagi huta-huta yang dulu pernah ia datangi dan orang-orang yang dulu pernah ia temui. Untungnya ia punya foto-foto mereka yang pernah ia temui tersebut. Bermodal foto besar yang telah dilaminating, yang sebagian besar juga telah muncul dalam bukunya, dan ingatan yang samar, ia berjalan lagi ke kampung-kampung. Dan meski harus bertanya bolak-balik, ia berhasil menemui mereka.

Tetapi sekali lagi 30 tahun bukan waktu yg sebentar. Sebagian dari mereka yang ia tanyai berdasar foto itu terkaget sekaligus terharu. Oh itu foto opungku, oh ini mamakku, dst, kata orang yang ditanyai. Sebagian besar dari orang-orang yang ada dalam foto itu ternyata sudah meninggal. Sandra memberikan sebuah buku untuk anak cucunya, menuliskan nama penyumbang buku dan pesan di halaman sampul dalam. Dan mereka senang sekali. Melihat bersama-sama buku dengan banyak foto itu, mereka seperti menengok album kehidupan masa silam.

Ada juga yang ia temui yang masih hidup, tapi mereka ternyata sudah tidak menenun lagi. Buku yang ia perlihatkan membangkitkan kenangan ketika mereka menenun dan kenyataan betapa menenun yang merupakan tradisi leluhur dengan pahit mesti mereka tinggalkan karena tak bisa memberi penghidupan.

Seorang partonun tua yang sakit bangkit dari pembaringan seperti ksatria ketika melihat foto hudon tano yang mengenangkannya pada saat muda ketika menenun. Hudon tano adalah gentong dari tanah liat yang dulu dipakai sebagai wadah ketika membuat pewarna alam. Tapi hudon tano sudah tak ada lagi, karena pembuatan warna alam juga sudah tidak dilakukan lagi. Benda itu pun ikut raib dari pandangan mata.

Sandra tidak hanya memberikan buku kepada para penenun, tapi juga kepada sebuah sekolah dan kepada para penenun muda. Tentu saja maksudnya agar buku itu menjadi bahan pembelajaran.

Singkat kata, kegiatan Pulang Kampung Sandra ini bukan semata menciptakan reuni, tapi juga membuka ruang dialog dan interaksi, bahkan mungkin semangat revitalisasi. Buku itu misalnya mendorong seorang anak muda di sebuah kampung yang prihatin karena tenun ulos mulai menghilang, dalam waktu singkat menggelar suatu workshop ulos dengan mengundang Sandra sebagai pembicara. Di acara itu, ia mengumpulkan para penenun, puluhan ulos tua yang selama ini tersimpan rapi di huta-huta, dan hudon-hudon tano yang selama ini tak pernah kelihatan. Acara ini ditimpali dengan manortor dengan diiringi gondang. Kampung anak muda ini dulunya memang masyhur sebagai pengolah warna biru alam salaon.

Dalam perjalanan ke kawasan Toba kemarin, buku Nashir ini jadi teman saya. Kebetulan saya juga menemui beberapa penenun, termasuk di kampung Said Ni Hita yang juga didatangi Sandra dan Nashir.

Membaca buku Nashir ini ((maunya juga buku Sandra, tapi ketika berselancar di internet dan tanya teman di LN, harganya sampai 12 jutaan, tentu tidak cocok buat kantongku yang kerempeng) makin menyadarkan saya bahwa antropologi hakikatnya adalah studi tentang perubahan. Ketika ia dilakukan ia harus melihat masa silam, menengok sejarah, harus tracking, tetapi ketika ia sudah dilakukan, ia justru menjadi sejarah. Demikianlah dengan ulos ini. Banyak yang dikemukakan Sandra, yang diceritakan ulang oleh Nashir, telah berubah. Banyak penenun yang sudah meninggal, sementara yang masih hidup tidak semuanya masih menenun. Tenun ulos tradisi meredup.

Tetapi tradisi pembuatan ulos sebenarnya tidak akan mati karena ulos adalah bagian penting dari tradisi Batak. Yang terjadi adalah perubahan dan pergeseran. Ulos dengan pewarna alam tidak banyak lagi dikerjakan karena serbuan benang sintetik dengan warna yang cerah dan beragam, serta murah. Ulos dengan motif tradisi yang kuat tergeser oleh olus baru dari benang sintetik ini, meski sebagian besar basis motifnya tetap pada tradisi.

Lalu bermunculan pusat-pusat tenun yang baru, terutama di pinggiran, sebagai konsekuensi dari perkembangan kota. Saya datang ke sebuah kampung di pinggiran kota yang dulu bukan sentra tenun, tapi kini berkembang menjadi salah satu sentra tenun. Awalnya seorang ibu dari keluarga penenun datang ke kampung tersebut karena ikut suaminya. Ia lalu meneruskan tradisi keluarganya menenun, yang kemudian diikuti oleh tetangga-tetangganya. Kampung ini cepat berkembang sebagai sentra tenun karena ia lebih dekat ke kota dan respon adaptipnya pada fashion.

Seorang dari mereka mengatakan bahwa di sini baru mengenal pewarna alam tahun 2017. Jelas dia keliru, karena seperti buku Sandra via Nashir menyebutkan, warna alam sudah dikenal moyang mereka lama, bahkan mungkin sejak ratusan tahun. Semua ulos tua terbuat dari warna alam.

Tapi ada juga perkembangan baru. Dengan tegas dikatakan bahwa semua penenun adalah perempuan. Benar, karena di Batak semua laki-laki ada raja. Masa raja martonun? Jadi menenun seperti tabu bagi laki-laki. Kalau ada yang martonun pasti dibully. Diejek. Perkembangan baru menunjukkan bahwa kini sudah banyak penenun laki-laki. Orang yang saya temui mengatakan mungkin sudah ada 20an.

Ini bukan berarti tidak ada laki-laki yang terlibat dalam proses menenun. Di dalam buku diceritakan ia sangat ingin menemui seorang laki-laki yang dikenal sebagai penyirat terkenal di zamannya. Sirat adalah hiasan dekoratif di ujung kain tenun, berupa manik-manik. Sayangnya orang ini juga sudah meninggal, sehingga Sandra menghadiahkan buku ke anak cucunya.

Yang menarik dari sini, menyirat ternyata pekerjaan yang special dan agak terpisah, dan maestronya ternyata laki-laki. Tapi kini tak ada lagi laki-laki yang menyirat.

Tradisi berkembang dan berubah. Ia selalu dinamis. Dan selalu ada keterhubungan dan sekaligus keterputusan. Jadi jangan pernah meratapi tradisi!

Hairus Salim, Siborong-borong, 20 Januari 2020