Seni dalam Sejarah, Sejarah dalam Seni

Hari ini sejarah hanya menjadi sebuah narasi, naskah, kisah, dan dongeng usang pengantar tidur. Sejarah ditempatkan manusia kini sebagai formula strategis untuk ‘pura-pura’ mengerti apa dan bagaimana perjalanan hidup bangsanya. 

Kadang, kisah penting dalam perjalanan sejarah dipoles menjadi bendera, dan pernak-pernik unik sekadar untuk menandai bahwa ada sebuah monumen yang ‘mahal’. Belum ada kesadaran yang masif untuk mengalokasikan pengetahuan masa silam menjadi background dan falsafah dalam melakoni kegiatan hidup. Setidaknya menurut saya, hal ini cukup berbahaya. 

Salah satu cara menjadi manusia yang berdaulat adalah paham betul bagaimana amanah sejarah diwariskan kepada seseorang atau sebuah entitas kelompok masyarakat untuk diputar kembali menjadi corak dan desain yang baru. Jika nilai ini abstain, maka manusia hanya akan menjadi benda hidup tanpa gema dan resonansi.

Salah satu cara menjadi manusia yang berdaulat adalah paham betul bagaimana amanah sejarah diwariskan kepada seseorang atau sebuah entitas kelompok masyarakat untuk diputar kembali menjadi corak dan desain yang baru. Jika nilai ini abstain, maka manusia hanya akan menjadi benda hidup tanpa gema dan resonansi.

Lantas apa korelasi antara seni dengan sejarah atau sejarah dengan seni? Tentu, penjelasan dalam tulisan ini adalah pandangan subyektif saya dalam menelaah wacana dan fenomena yang terjadi hari ini. Instrumen dan pendekatan yang sangat mudah untuk saya sentuh adalah kesenian, dimana ia adalah produk akal manusia yang memiliki kaitan sangat erat dengan kegiatan hidup manusia itu sendiri. Sehingga bentuk dan corak kesenian yang sangat beragam merupakan deteksi paling gampang untuk mengkaji secara sederhana bagaimana ‘petilasan’ sejarah pemeluk kesenian tersebut berlangsung. 

Di sisi lain, dapat saya katakan pula bahwa seni adalah bentuk dari puncak orgasme paling dalam sebuah kejadian. Di sana memuat banyak sekali kritik, argumentasi, perasaan, protes, ‘unen-unen’, sampai sekadar banyolan semata.

Di sisi lain, dapat saya katakan pula bahwa seni adalah bentuk dari puncak orgasme paling dalam sebuah kejadian.

Seni Tradisi-Modern dan Kritiknya

Seni sangat beragam bentuk dan genrenya. Sebab itu pembahasan akan saya persempit, yaitu seni tradisi (Jawa) dan modern yang masih bisa kita amati bersama. Eksperimen-eksperimen kecil pernah saya coba untuk menguji dua senyawa yang bekerja secara berlainan. Secara garis besar, kesenian memiliki sifat-sifat eksplorasi dan ekspresi yang sama. Mungkin yang membedakan adalah idiom maupun medium yang beraneka ragam. Apakah dua sifat seni (tradisi & modern) dapat saling merenovasi atau justru resisten jika diletakkan pada ruang-konteks yang berbeda, sehingga perlahan kita dapat menganalisis bagaimana perjalanan alam pikiran kesenian (secara otentik) berlangsung pada rentang waktu, zaman, dan unsur pembentuk dari pemeluk kesenian itu sendiri.

Yang terjadi, seni tradisi hari ini menjadi ‘bancakan’ dan ‘rayahan’ eksotis paling mengenyangkan. Dia ditempatkan untuk konsumsi alternatif ‘ndakik-ndakik’ dogma pelestarian dan pemeliharaan. Sekadar itu. Sebagai organisme rakyat, seharusnya spirit kelokalan menjadi opsi primer dalam pelaksanaan kegiatan hidup, hiburan, ritus, sampai ruang edukatif-akademik. Sekali lagi saya pertegas, spirit dan ide lokal harus tampil menjadi lakon utama dalam seluruh babak zaman. Karena faktanya, tradisi dipakai hanya pada wilayah pelengkap instrumen saja, tidak sampai pada nilai dan etik yang sebenarnya banyak sekali terkandung. Lebih dalam dari itu, saya memahami seni tradisi sebagai kesatuan utuh mikro-makro kosmos manusia Nusantara (pada umumnya) sebagai obyek vital simbol keselarasan manusia dengan alam semesta, dan religiusitas.

Sebagai contoh dengan merujuk pada judul di atas, sering saya temui kejadian penting dalam sejarah masa silam beriringan dengan proses alam pikiran kesenian tradisi. Misalnya, kisah tentang Sunan Kalijaga yang berdakwah menyebarkan agama Islam di Jawa dengan metode kesenian. Sebagai sebuah peristiwa, maka kisah syiar Sunan Kalijaga adalah sebuah kisah dakwah penyebaran ajaran agama. Namun secara sadar atau tidak sadar, sudah berlangsung sebuah alam pikiran seni tradisi untuk ikut andil dan berperan dalam sebuah peristiwa. Munculah sebuah simbiosis, renovasi dan inovasi. Kesenian yang dipakai sebagai metode dakwah tentu akan melahirkan corak, bentuk, dan pemikiran baru guna menyesuaikan diri dengan proses peristiwa yang sedang berlangsung. Di lain sisi, sebuah peristiwa juga terseret oleh alam pikiran seni sehingga membentuk konstruksi pemikiran, tindakan, dan kebiasaan-kebiasaan baru di tengah masyarakat. Secara sederhana dua hal ini akan saling melengkapi.

Kesenian yang dipakai sebagai metode dakwah tentu akan melahirkan corak, bentuk, dan pemikiran baru guna menyesuaikan diri dengan proses peristiwa yang sedang berlangsung. Di lain sisi, sebuah peristiwa juga terseret oleh alam pikiran seni sehingga membentuk konstruksi pemikiran, tindakan, dan kebiasaan-kebiasaan baru di tengah masyarakat. Secara sederhana dua hal ini akan saling melengkapi.

Gamelan, sebagai seni tradisi Jawa, juga merupakan produk hasil dari simbiosis peristiwa sejarah dengan alam pikiran seni. Sebagai peristiwa, ia adalah instrumen penting dalam proses berlangsungnya peristiwa itu sendiri. Sebagai instrumen kesenian, ideologi dan makna gamelan memiliki pengaruh yang sangat erat dengan sebuah peristiwa tersebut. Lantas mengapa saya mengambil contoh kesenian tradisi?

Gamelan era Sunan Kalijaga merupakan gubahan dari bentuk kesenian gamelan kuno era Jawa kuno sampai akhir dinasti kerajaan Majapahit yang masih kental dengan pengaruh Hindu-Budha dan kebudayaan India. Gamelan yang digubah oleh Sunan Kalijaga tentu mengalami banyak sekali modifikasi dan pengaruh dari nilai-nilai keislaman sampai pada pengaruh kebudayaan Timur Tengah. Artinya, pada saat itu gamelan ‘dakwah’ menjadi bentuk kesenian paling update dan terbaru atau mungkin dapat kita sebut pula sebagai bentuk kesenian yang paling modern. Sebagai kesenian yang modern (saat itu), proses kegiatan seni gamelan tidak lantas lepas dari muatan-muatan kelokalan, nilai-nilai lokal, dan tetap familiar untuk disentuh oleh masyarakatnya. Mulai dari ruang, fungsi, dan peran gamelan ‘dakwah’ tidak abstain dari spirit dan tindakan otentik masyarakat Jawa. Padahal secara musikal maupun penyajian, tentu menjadi sesuatu hal yang sangat baru. Itulah mengapa di atas saya katakan spirit dan ide lokal harus tampil menjadi lakon utama dalam seluruh babak zaman.

Begitu pula dengan kesenian wayang. Wayang yang kita kenal hari ini adalah produk inovasi seiring dengan proses sebuah peristiwa syiar dakwah keagamaan. Wayang purwa gubahan para wali juga merupakan bentuk strategi dakwah keagamaan melalui kesenian, sehingga dalam prosesnya dapat diterima dengan baik dan familiar oleh masyarakat Jawa pada umumnya.

Sebelumnya, pada era kerajaan Majapahit wayang dikenal dengan istilah wayang beber. Yakni wayang yang tergambar pada layar yang sangat lebar dan menceritakan kisah-kisah teladan, kepahlawanan kuno dari ajaran agama Hindu maupun Budha. Kemudian media wayang dirembug ulang dengan sentuhan aransemen keislaman meskipun lakon yang dibawakan adalah kisah-kisah ajaran Hindu. Maka, secara mudah dapat kita simpulkan pula bahwa bentuk wayang purwa merupakan bentuk kesenian baru yang tidak meninggalkan nilai dan pedoman lama yang sudah berlaku sebelumnya. Meskipun ada banyak sekali hal yang direvolusi secara muatan, manajemen pertunjukannya, dan penokohan, wayang purwa tetap eksis dan berlaku sebagai kesenian Jawa yang kuat akan identitas kulturalnya.

Pada hari ini, ada banyak sekali usaha pelestarian kesenian tradisi dengan langkah akulturasi terhadap kesenian modern (barat). Bentuk kesenian tradisi dipaksa bermain terlalu jauh dalam metode dan tata cara kebiasaan modern. Banyak sekali pelaku seni justru terjebak pada instrumentasinya saja, tanpa mau menggali lebih dalam bagaimana cara kesenian tradisi berkenalan dengan pola-pola lain. Nilai-nilai lokal dibenturkan dengan cara berargumen modern, sehingga ada banyak sekali resistensi namun tetap dipaksakan demi menarik pasar yang strategis. Imbasnya sangat fatal, motif kelokalan hanya ditempel sebagai emblem eksotisme dan guyonan jargon pelestarian budaya semata. Tradisi terus-menerus dipaksa mengalah dan diperkosa dengan mobilitas pemikiran ‘modern’ yang kebut-kebutan. Proses pembaharuan kebutuhan seni rakyat terhambat karena bentuk yang baru tidak mampu mengakomodasi cita, rasa, dan karsa pemeluknya. Padahal jika kita mau sedikit saja mengerti dan belajar bagaimana cara organisme kelokalan bekerja maupun berkenalan dengan pemikiran baru, maka kita dapat mengalokasikan ide pembaharuan terhadap spirit kedaulatan kultural secara manis dan luwes.

Banyak sekali pelaku seni justru terjebak pada instrumentasinya saja, tanpa mau menggali lebih dalam bagaimana cara kesenian tradisi berkenalan dengan pola-pola lain.

Namun, dalam perspektif yang lain, saya pribadi mengalami dan merasakan sebuah kesenjangan yang amat jauh. Hal ini sering sekali saya temui saat berproses dalam pentas seni tradisi penggarapan lakon kethoprak dan menggarap iringan musik gamelannya. Pada umumnya pelaku seni tradisi memiliki sifat primordialisme yang amat kuat. Alam pemikiran seni dikekang pada ruang dan tatanan yang biasa sekali kita dengar dengan istilah pakem. Sehingga ada suatu bentuk penolakan non-verbal yang dikemukakan secara ‘proses’ saat ada usaha untuk berinovasi dalam wilayah instrumentasi.

Jika mengacu pada kisah para wali yang berdakwah dengan metode kesenian, maka seharusnya kita bisa belajar bagaimana cara mengolah nilai-nilai kultural dibangun dan direnovasi dengan dinamisnya arus zaman yang terus bergerak seiring terhadap berkembangnya cara manusia berpikir dan berperilaku. Analogi sederhananya demikian, katakanlah instrumen kita sebut sebagai gula, sedangkan filosofi dan nilai adalah rasa manis. Jika kita mengerti konsep sederhana ini, maka kita bisa saja mendapatkan rasa manis dari berbagai macam sumber, bentuk, maupun media.

Gamelan dan wayang purwa yang digubah oleh para wali untuk syiar dakwah adalah muatan instrumen, ia direka-reka sedemikian rupa menjadi bentuk yang baru dan dinamis (sesuai dengan zamannya) tanpa mengesampingkan bagaimana rasa manis (nilai) berikut bekerja dengan semestinya. Sehingga berkenan menjadi konsumsi yang sarat akan muatan hiburan terbaru, edukasi, pengetahuan, dan spiritual.

Kesenjangan antara pelaku seni modern yang ingin terus berinovasi, dengan pelaku seni tradisi yang masih sangat primordial harus mulai ditengahi. Dua contoh bentuk kesenian di atas hanyalah contoh-contoh kecil dari sekian banyak bentuk kesenian yang sama-sama memuat nilai-nilai inovasi, renovasi, pe-modern-an tanpa melepas identitas dan pedoman yang berlaku. Artinya, di sini kita dapat belajar banyak dari sebuah peristiwa sejarah yang amat penting dan sangat berkorelasi terhadap perjalanan alam pemikiran seni.

Pelaku seni hari ini sudah harus berani bergotong-royong membangun ekosistem seni yang berdaulat dengan identitas kulturalnya. Mengakomodir nilai-nilai lokal yang amat kuat dengan media dan instrumen modern tidak hanya menghasilkan produk hiburan seni semata, lebih dalam dari itu adalah edukasi kepada generasi penerus dapat bersirkulasi dengan baik tanpa ada kesenjangan apapun.

Kesenian Menjadi Diorama Sejarah

Di Desa Gedongsari, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul terdapat sebuah tradisi cing-cing goling yang digelar oleh masyarakat desa setempat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas berlimpahnya hasil panen dan kebutuhan air yang terus ada meski musim kemarau tiba.

Menurut tradisi sejarah lisan masyarakat setempat, dikatakan jika pelarian prajurit dari Majapahit yakni Wisangsanjaya dan Yudopati membangun sebuah bendungan sehingga dapat mengairi lahan pertanian dan membuat masyarakat setempat lebih sejahtera. Setelah datang dan menyatu dengan warga, keduanya pun turut serta pula dalam mengusir kawanan perampok yang berusaha mengusik keamanan dan ketenteraman desa.

Saat ini bentuk peristiwa heroik Wisangsanjaya dan Yudopati yang berhasil mengusir kawanan perampok digambarkan dalam tarian teaterikal. Pada adegan tersebut, belasan orang berlarian menginjak-injak tanaman pertanian milik warga setempat di lahan sekitar bendungan, untuk mengusir gerombolan penjahat. Salah satu adegannya adalah seorang pemeran yang memerankan istri Wisangsanjaya mengangkat kembennya atau dalam bahasa jawa disebut cing-cing, saat berlari. Dalam Adegan teaterikal tersebut, belasan orang lainnya saling tarik-menarik sambil bernyanyi : cing…goling, cing….goling, dan mengelilingi tokoh peran Wisangsanjaya dan istri beserta seorang pengawal yang membawa cemeti. Meski teaterikal tari tersebut harus dibayar dengan menginjak-injak tanaman, namun para petani tidak akan marah. Kebanyakan mereka justru mengharapkan hal itu. Warga setempat meyakini, tanaman yang diinjak-injak tidak akan mati, tetap justru akan terus bertumbuh subur. (Kompas.com : Upacara Cing-cing Goling, Tradisi Menjaga Sumber Air di Gunungkidul)

Salah satu informasi mengenai upacara adat, seni, dan budaya diatas sepintas melempar imajinasi saya dalam visual-imagine model diorama yang menceritakan sebuah peristiwa yang biasa kita lihat di balai-balai atau museum pelestarian sejarah. Sangat menarik sekali, ada sebuah paradigma baru di dalam kepala saya, di sana terdapat cara unik dari masyarakat untuk mengenang suatu kejadian penting. Selain dipelihara dan dirawat pada ruang-ruang akademik, formal, dan teoritis, masyarakat kita memiliki segudang khazanah luar biasa untuk ‘ngopeni’ sekaligus mengedukasi zaman. Determinasi menjaga kedaulatan dan identitas budaya menjadi bagian yang sangat penting. Dengan dan bagaimana ia dirawat, tentu tidak terikat pada instrumennya. Nilai dan kode-kode penting diinagurasi dengan menjaga jarak proporsional secara optimal, agar pembaharuan dan ide tidak mengambang begitu saja. Buktinya adalah salah satu contoh yang sudah saya kemukakan di atas, peran kesenian dan tradisi tidak sebatas pada eksotika maupun hiburannya semata. Dia mampu berperan dalam menjaga harta karun peradaban dengan sangat luwes dan dinamis.

Pada tanggal 28 Oktober 2018, saya bersama komunitas Dentum dan masyarakat pedukuhan Gemahan, Ringinharjo, Bantul menggelar sebuah pentas teater tradisi dengan lakon ; “Ki Ageng Mangir Lena”. Dalam pentas tersebut yang berusaha disuguhkan bukan sekadar sebuah pentas pertunjukan semata, lebih jauh dari itu adalah sebuah bentuk sinergitas pelaku seni dengan masyarakat desa dalam merawat siklus zaman. Muatannya ada banyak sekali, diantaranya adalah usaha untuk menjadikan ruang seni menjadi sangat mudah sekali untuk disentuh oleh masyarakat luas tanpa batasan, sekat, maupun eksklusivitas tertentu. Mengaktifkan kembali sensor untuk mendeteksi ‘diorama’ sejarah masyarakat desa tersebut dengan tokoh sejarahnya (Ki Ageng Mangir) melalui media seni kolektif. Bereksperimen pada wilayah nilai maupun instrumentasi seninya dengan mengacu prinsip “inovasi, perkembangan, modernisme harus dikontrol dengan spirit dan ide lokal yang tampil menjadi lakon utama”.

Usaha ‘ndakik-ndakik’ tersebut lantas menetas dan berkembang biak di tengah masyarakat tidak sekadar ‘pernah pentas’, namun kesenian dalam konteks pemeliharaan nilai kesejarahan dipegang betul oleh masyarakat setempat. Imbasnya jauh kedalam, merawat sejarah dengan kesenian sebagai dioramanya akan menjadikan seorang manusia ‘pede’ dengan identitas kulturalnya.

Usaha ‘ndakik-ndakik’ tersebut lantas menetas dan berkembang biak di tengah masyarakat tidak sekadar ‘pernah pentas’, namun kesenian dalam konteks pemeliharaan nilai kesejarahan dipegang betul oleh masyarakat setempat. Imbasnya jauh kedalam, merawat sejarah dengan kesenian sebagai dioramanya akan menjadikan seorang manusia ‘pede’ dengan identitas kulturalnya.

Akhirnya bisa kita lihat bersama, bentuk kesenian (tradisi) yang pada umumnya memang sebuah bentuk diorama dan media untuk ‘ngudari’ sesuatu nilai abstrak yang sering dianggap tidak masuk akal oleh lingkungan akademik padahal di dalamnya sangat logik untuk dianalisa dan dipelajari secara metodologis menjadi tidak kabur. Setidaknya melalui kesadaran atas simbol-simbol, semiotik, dan ‘sasmita’ kalau orang Jawa menyebut, dapat membawa tubuh ke-tradisi-an menjadi induk peradaban.

Usaha generasi silam dalam menjaga corak tradisi dengan akal dan orientasi yang sehat adalah itikad menjadikan entitas yang ‘waras’. Selain menjadi manusia yang kaya akan khasanah maupun wacana, ia bakal menjadikan manusia menghargai betul bagaimana peradaban sebuah bangsanya berlangsung dan berkontinyu. 

 

 

Buku Langgar Shop
Madha Soentoro
Penulis adalah pengajar kesenian dan pegiat seni tradisi. Tinggal di Tegalrejo, Yogyakarta. IG: @madhasoentoro