Terikat Jawa dan Takjub Eropa

Pada 1913, Tjitpto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Surjaningrat berangkat ke Belanda, risiko atas keberanian mendirikan Indische Partij dan pembuatan selebaran Als ik eeens Nederlander was… Di mata penguasa kolonial mereka pembuat onar. Pilihan ke Belanda akibat politik. Pada tahun itu pula, berangkat lelaki bermimpi jadi modern dan menuai berkah zaman “kemadjoean”. Lelaki berasal dari Mangkunegaran (Solo), bernama Soeparto. Kedatangan ke Belanda mendahului Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat. Ia tak hendak berpolitik meski saat di Solo turut di Boedi Oetomo dan menulis di Darmo Kondo. Di Belanda, ia ingin menempuh studi bahasa dan sastra agar terhormat dan memiliki pijakan membaca dunia modern.

Perjalanan ke Belanda mendapat restu dan sokongan para sarjana dan pejabat kolonial: Rinkes, Van Wijk, dan Van Deventer. Soeparto seperti sedang menjalankan tugas suci agar menjadi juru penerang saat kembali ke Jawa (Harry A Poeze, Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950, 2008). Ikhtiar besar dimulai dengan menulis catatan harian berdalih terbit menjadi buku. Sebelum meninggalkan Jawa, Soeparto dan Rinkes bermufakat bakal mengadakan buku berisi kisah perjalanan. Soeparto dianjurkan rutin menulis dan mengirimkan ke Rinkes. Tulisan-tulisan mau diterbitkan oleh Commisie voor de Volkslectuur. Perjalanan ditempuhi 14 Juni-17 Juli 1913. Buku terbit pada 1916. Soeparto mendapat honor besar. Rinkes lega berhasil menerbitkan buku mengabarkan Eropa atau Belanda melalui pengalaman Soeparto untuk dibaca kaum bumiputra.

Semula, buku terbit dalam aksara dan bahasa Jawa. Buku berusia seratus tahun hampir tak mendapat pembaca pada abad XXI. Buku lama terlupakan. Kini, buku tak lagi menjadi penghuni sepi di Mangkunegaran. Kerja penerjemahan ke bahasa Belanda dan bahasa Indonesia diinginkan mengundang pembaca menilik masa lalu. Buku berhasil terbit dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia oleh Frieda Amran berjudul Kisah Perjalanan Pangeran Soeparto, Jawa-Belanda, 14 Juni-17 Juli 1913 (Penerbit Buku Kompas, 2017). Buku mengantar pembaca ke pengandaian naik kapal, berpisah dari Jawa, melintasi pelbagai negeri, dan merasakan ketakjuban pada Eropa. Kita membaca dengan mata masa lalu.

Pada 14 Juni 1913, Soeparto meninggalkan Solo menuju Semarang. Ia hendak pergi ke Belanda.

Di Semarang, ia naik kapal Wilis untuk menempuhi perjalanan jauh, selama sebulan. Pada saat naik perahu menuju kapal Wilis, Soeparto mencatat: “Di sebelah selatan, sejauh mata memandang, tampak siluet Semarang, kota cantik di pinggir laut melambangkan kemakmuran Jawa.” Pujian sempat ditulis dalam kalimat bersahaja dan puitis, sebelum ia meninggalkan Jawa. Ia pun berpisah dari keluarga. Seoparto mengaku pilu setelah adegan terakhir: ia di kapal bergerak dan keluarga melambaikan topi atau sapu tangan.

Kepergian ke Belanda tak bermisi pelesiran tapi pelajaran. Di negeri jauh, Soeparto ingin maju dengan mempelajari bahasa, sastra, dan militer. Jawa telah berubah. Soeparto pun ingin turut dalam “doenia bergerak” dengan bekal ilmu dan tata cara hidup baru. Perpisahan sedih pada keluarga dan Jawa ingin digantikan “sukacita melihat negeri kecil tetapi berani sehingga mampu menjajah negeri lima puluh kali lebih besar  dan berpenduduk tujuh kali lebih banyak.” Negeri kecil itu Belanda. Negeri besar itu Hindia Belanda.

Pada saat meninggalkan pelabuhan Pekalongan, Soeparto melihat Jawa dengan sedih bercampur pujian. Perasaan dituliskan mirip pendefinisian Jawa: “Pulau itu, pulau kelahiranku, tersohor di seluruh dunia karena kesuburan dan kemakmuran.” Ia pun mengakui jika kemonceran Jawa mengakibatkan bangsa-bangsa asing berdatangan mencari untung berlimpahan. Soeparto mencatat nasib tanah jajahan “menjadi mutu manikam di mahkota Kerajaan Belanda.” Kemakmuran dimiliki Belanda, dicipta dan didatangkan dari Hindia Belanda selama ratusan tahun. Soeparto tentu tak gamblang memberi kritik ke Belanda. Catatan itu sengaja dihindarkan dari bahasa politik.

Di kapal bernama Wilis, Soeparto adalah penumpang di kelas dua. Perjalanan selama sebulan memerlukan ketabahan dan siasat melawan bosan. Sedih meninggalkan Jawa dan impian lekas menginjak tanah di Belanda perlahan menjadi alinea-alinea apik, puitis, dan bertaburan pesan. Soeparto bercerita keadaan di kapal: “… penumpang menghabiskan waktu dengan mengobrol, bergurau, atau membaca buku.” Penumpang berhak meminjam di perpustakaan di kapal. Tata cara hidup modern atau Eropa berlaku di kapal. Soeparto “menuruti” meski tak semua hal memberi girang selaku manusia Jawa. Urusan makan, busana, musik, bacaan, dan bahasa selalu mengesankan “pemaksaan” mengikuti aturan-aturan Eropa.

Kapal Wilis sempat singgah ke Batavia selama tiga hari. Soeparto turun dan mengelilingi Batavia. Ia sudah pernah berkunjung ke Batavia. Catatan pun tampak penuh keterangan akibat pengalaman dan ingatan ke pelbagai sumber berita.

Ia memilih menceritakan pakaian dikenakan orang-orang di Batavia. “Kaum perempuan biasa mengenakan kebaya katun berwarna dasar putih dengan motif bunga-bunga warna-warni. Mereka juga mengenakan gelang, giwang kecil, dan peniti tumbuk tiga disematkan di kebaya,” tulis Soeparto. Pengamatan tak melulu ke perempuan. Catatan untuk pakaian kaum lelaki: “Kaum lelaki mengenakan jas putih dan celana serupa dengan pakaian lelaki Eropa. Tetapi, di atas celana itu, lelaki Batavia melilitkan sebuah sarung dilipat dua sehingga kaki celana cuma tampak di bawah lutut. Kepala mereka tertutup oleh kain dibelit khas Batavia.” Pengisahan itu tak bakal membuat pembaca pusing. Soeparto bertugas mengisahkan, tak bermaksud pamer pemikiran atau renungan.

Soeparto tak serampangan berimajinasi Belanda.

Selama di Jawa, ia sudah bergaul dengan kalangan sarjana dan pejabat kolonial. Embusan modernitas di Jawa memicu perubahan-perubahan dan memungkinkan kebaruan tercipta, hasil persilangan Jawa-Eropa. Keadaan Jawa pada awal abad XX menjadi latar ambisi kemajuan Soeparto melalui perkumpulan modern, pers, pekerjaan, dan sastra. Pemenuhan kehendak ke Belanda adalah bukti membentuk diri modern tanpa meninggalkan kejawaan. Soeparto tetap manusia Jawa tapi memiliki nalar dan imajinasi baru saat menjadi penerus kekuasaan di Mangkunegaran, sepulang dari Belanda, 1916. John Pemberton (2003) dalam buku berjudul “Jawa” mengakui hasrat maju atau modern itu malah mengejawantahkan pemulihan semangat Jawa di Mangkunegaran. Soeparto atau Mangkunagoro VII menjadi teladan di Jawa dalam adonan pemberlakuan Politik Etis, modernisasi Jawa, dan deru nasionalisme.

Sejak lama, orang-orang dari tanah jajahan pergi ke Belanda dengan pelbagai misi. Pada akhir abad XIX, studi ke Belanda mulai jadi lumrah. Kita mengenang Sosrokartono, Di Belanda, ia berpedikat mahasiswa dan berlanjut menjadi wartawan. Kartini sempat iri tapi gagal menuju Belanda. Pada awal abad XX, orang-orang dari pelbagai pulau mulai berkuliah ke Belanda, mempelajari kedokteran, hukum, teknik, pendidikan, dan sastra. Soeparto ada di urutan agak belakang untuk mendapat julukan elite terpelajar. Kita bisa menilik tata cara menjadi modern dan perwujudan kesarjanaan itu melalui buku Robert van Niel berjudul Kemunculan Elite Modern di Indonesia.

Pada hari-hari menjelang tiba di Belanda, Soeparto sempat merenung mengandung minder. Pada usia masih muda seribu impian menghuni di kepala. Semua demi pamrih maju dan modern. “Apakah ada sekolah di Eropa mengajarkan kefasihan berbicara? Sepanjang kuketahui, semua orang Belanda yang pernah belajar di Eropa mudah memulai obrolan dengan orang-orang di sekitarnya. Mereka juga fasih memberi sepatah kata ketika harus berpidato,” tulis Soeparto. Renungan itu sebelum ia menjadi tokoh moncer di Jawa bergelar Mangkunagoro VII. Kedudukan terhormat memastikan harus fasih bicara dan berpidato di muka umum. Di mata pemerintah kolonial, Mangkunagoro VII berkemungkinan melawan bermodal kemahiran berbahasa dan ketekenunan bersastra berjiwa kebaruan.

Pada saat turun dari kapal dan melangkahkan kaki di Marseille (Prancis), Soeparto sempat gelisah memikirkan Jawa ketimbang mengimpikan kenikmatan hidup setiba di Belanda. Marseille itu keajaiban. Soeparto tak usai takjub. Di hati, Soeparto menemukan situasi berbeda ada di Jawa. Pada pertengahan Juli 1913, ia menulis: “Saat ini, orang-orang Jawa sangatlah miskin sehingga terkesan mereka tidak memiliki kekuatan maupun kekuasaan.” Belanda sudah dekat tapi perasaan Soeparto terasa sedih berkepanjangan. Takjub pada Eropa dan sedih pada Jawa.

Pada perjalanan sampai di Afrika, pengisahan mulai menimbulkan penasaran ke pembaca. Kondisi tanah, cuaca, penghuni, dan situasi kota-kota di Afrika membuat Soeparto terkejut. Ia gampang teringat Jawa molek, subur, dan makmur. Di Laut Merah, Soeparto malah tekun menulis di buku catatan mengenai kagum langit. Di kapal, mata melihat langi sering berubah warna. “Aku tak dapat menemukan kata-kata tepat untuk menggambarkan aneka warna langit itu. Tak mungkin bisa mengungkapkan. Lagi pula, warna-warna itu tida begitu saja berubah menjadi warna lain, tetapi perlahan mengalir, bersatu dan berpisah lagi.” Langit pun lekas mengingatkan pada Jawa. Ia menulis bukan sebagai pujangga. Tulisan mirip kesan penglihatan: “Di Jawa, keindahan langit dipengaruhi oleh awan disinari matahari terbit atau terbenam.” Pengisahan langit mungkin agak menuntun pembaca di Jawa ke imajinasi memukau pada negeri-negeri jauh.

Pada hari-hari mendekati Belanda, Soeparto mulai kagum pada negeri-negeri di Eropa.

Selama di kapal, ia sudah menganggap penumpang Eropa memiliki adab tinggi dan tertib. Mereka merasa unggul ketimbang bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. Soeparto mengagumi meski memiliki kebencian akibat lakon kolonialisme. Di buku, Soeparto menulis dan meramalkan diri: “Alangkah bahagia hatiku bila tercapai mimpiku untuk dianggap setara dan sederajat dengan orang yang menjajah Jawa, tanah kelahiranku.” Pikat Eropa telah memunculkan mimpi muluk bagi lelaki asal Jawa. Kita mungkin menuduh Soeparto memiliki identitas ambigu: ingin tetap menjadi Jawa tapi berhasrat modern sesuai selera Eropa.

Soeparto berhasil tiba di Belanda, berjumpa para mahasiswa tergabung di Indische Vereniging. Ia pun berjumpa para profesor dan pejabat Belanda. Kehidupan di Belanda tampak terang dan makmur. Ingatan pada Jawa adalah kebalikan sulit dimaklumi. Di Belanda, Soeparto menunaikan studi, tak kental berpolitik. Perjumpaan dan persahabatan dengan Noto Soeroto, pujangga asal Jawa menulis berbahasa Belanda, menghasilkan buaian sastra. Politik nasionalisme tampak ada di kejauhan. Soeparto memilih membaca dan menerjemahkan puisi-puisi Rabindranath Tagore ke bahasa Jawa. Ia keranjingan mempelajari peradaban Timur-Barat ketimbang sibuk berpolitk dan mengumbar kritik ke pemerintah kolonial. Pilihan sikap itu terbukti saat pulang ke Jawa menjadi Mangkunagoro VII. Biografi telah berubah, tak lagi harus tergantung pada kalimat-kalimat di buku perjalanan atas pesanan Rinkes. Buku itu masa lalu.

Seratus tahun berlalu, pembaca ada di hadapan buku terjemahan perjalanan Soeparto, dari Jawa ke Belanda. Kita membaca sambil membuka buku-buku sejarah. Kita ingin mengenali tokoh dengan membuka daftar ratusan nama elite terpelajar selaku penggerak “kemadjoean” sejak awal abad XX. Soeparto berhasil menjadi tokoh. Pulang dari Belanda, ia adalah Mangkunagoro VII: penggerak Jawa di jalan kemodernan dengan kekuasaan, busana, bahasa, pers, dan kesusastraan. Begitu.

 

Bandung Mawardi

Kuncen Bilik Literasi

Penulis buku Omelan: Desa, Kampung, Kota (2018)

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi, Solo. Ia rutin menulis esai-esai kebudayaan yang sering menghiasi di berbagai surat kabar. Beberapa buku yang telah diterbitkannya antara lain: Ralat: Sastra Bergelimang Makna (2017), Pemetik Cerita (2017), dan Sepah Sahaja (2018).