Hal terpenting ketika kita hendak mengetahui sebuah objek adalah memahami maahiyyah alias ke-apa-annya. Maahiyyah (kuiditas) yang secara tidak tepat kadang disebut sebagai esensi, adalah apa yang menjadikan sesuatu menjadi sesuatu itu dengan sifat-sifat yang khas, baik terkait substansi maupun aksiden sesuatu itu. Dibedakan dari aksiden, esensi mengacu pada aspek-aspek yang lebih permanen dan mantap dari sesuatu, yang berlawanan dengan yang berubah-ubah, parsial, atau fenomenal. Kuiditas (maahiyyah) berasal dari bahasa Latin quid est (atau bahasa Arab maa hiya, yang berarti apa itu?), adalah batas-batas yang diterapkan atas eksistensi oleh keterbatasan manusia dan, karena itu, tidak real.[1]

Begitu juga ketika kita berbicara tentang Tuhan dalam pengetahuan. Pertanyaan “apa” itu Tuhan adalah sebuah pertanyaan penting dan sah. Meskipun begitu, jawabannya tidak mesti mudah, bahkan tidak selalu mungkin. Mengetahui hakikat atau esensi Tuhan dikenal dalam sejarah pemikiran sebagai sesuatu yang sangat berat, bahkan mungkin di luar jangkauan manusia. Jadi, tidak heran kalau ada filsuf yang menyebut Tuhan sebagai The Great Unknown, Yang Besar tapi tak dikenal. Adapun maksud kata “tak bisa dikenal” adalah tidak bisa diketahui secara positif, tetapi secara negatif, atau dalam istilah filsafatnya, via-negativa. Via-negativa maksudnya adalah mengetahui Tuhan dengan cara membedakan-Nya dengan yang lain, seraya berkata, “Dia tidak seperti apa pun.” Via-negativa dikenal juga dengan Negative Theology.[2]

Nah, karena tidak ada sesuatu apa pun yang serupa dengan Tuhan, sedangkan pengetahuan apa pun yang dimiliki oleh manusia tentang-Nya mestilah berupa sesuatu, maka pengetahuan kita tentang Tuhan pastilah tidak sama dengan-Nya. Begitu juga ketika kita menyetarakan Tuhan dengan apa pun, pastilah penyetaraan kita juga tidak sama, karena Dia tidak setara dengan apa pun. Dia adalah unik, dalam arti tidak ada duanya, tidak ada taranya. Deskripsi atau pemerian apa pun yang manusia buat tentang Tuhan, pastilah tidak akan pernah sama dengan-Nya.[3]

Karena kenyataan yang seperti itulah maka Ki Ageng Suryomentaram membedakan secara tegas antara pengetahuan yang hanya berdasarkan keyakinan (kawruh keyakinan) dengan pengetahuan berdasarkan realitas (kawruh nyata).

Tanpa melalui uraian yang rumit, keduanya langsung disederhanakan bahwa sumber dari semua kawruh keyakinan adalah ngira weruh (mengira tahu) sedangkan sumber dari kawruh nyata adalah weruh (benar-benar tahu). Ngira weruh selalu berangkat dari katanya-katanya (jare-jarene) termasuk katanya kitab suci yang tidak atau belum bisa dibuktikan secara nyata, spekulasi (dhuga-dhuga), dan otak-atik logika (pantes-pantese). Sedangkan weruh berangkatnya adalah dari sesuatu atau peristiwa yang telah benar-benar diketahui, baik melalui indera, rasa, atau pemahaman yang benar.

Sampai di sini, Ki Ageng lalu menyederhanakan bahwa yang menjadi asal muasal segala sesuatu maupun segenap peristiwa adalah apa yang diistilahkannya sebagai Barang Asal atau Bakal Barang. Jadi, Ki Ageng memang tidak pernah menyebut secara eksplisit dalam wejangannya bahwa asal muasal dari segala sesuatu itu adalah Tuhan atau Gusti Allah dalam bahasa orang Jawa.

Apakah karena yang demikian itu lantas kita harus menyimpulkan bahwa Ki Ageng tidak membahas Gusti Allah dalam wejangannya? Nanti dulu, Ki Ageng memang tidak pernah berkenan menggurui apalagi mendikte di dalam memberikan wejangan. Karena itu marilah kita cermati kutipan wejangannya berikut.

Weruh punika tiyang, dados tiyang punika langkung agung tinimbang kaliyan ingkang dipun weruhi. Ing ngriki tiyang, teges weruh. Wonten ing kawruh begja, tiyang punika: asring teges weruh, asring teges karep, asring teges kramadangsa. Ingkang dipun weruhi punika barang salumahing bumi sakurebing langit, dados tiyang punika langkung agung tinimbang kaliyan barang salumahing bumi sakurebing langit. Lajeng kraos: ‘Aku kang luwih agung.’ Raos Aku kang luwih agung punika leresipun: ‘Aku kang maha agung.’ Nanging tembung maha agung, asring kangge namaning punapa-punapa ingkang tiyang boten mangertos. Dados sami kalian: U.I.A.AH.

Yen sampun kraos: ‘Aku kang luwih agung’ kados makaten, lajeng saben weruh punapa-punapa, negesi dhateng ingkang dipun weruhi. Mangka, raosing teges punika seneng. Mila tiyang punika lajeng sarwa seneng. Nalika pikiran punika namung dados praboting karep, boten saged nampeni teges. Mila tiyang boten saged negesi punapa-punapa. Wawasanipun dhateng barang-barang, namung miturut karepipun, inggih punika cengkah utawi mitulungi gegayuhanipun.

Raos maha agung punika nyirnakaken ajrih-ajrihan, mila wawasanipun lajeng leres, boten kaling-kalingan ajrih. Yen wawasan punika leres, tiyang anggenipun ngajeni utawi mawas dhateng barang-barang boten miturut karepipun. Namung punapa wontenipun, inggih punika negesi. Dados, ajrih punika ngalang-alangi tumitahing teges. Tiyang punika yen tanpa ajrih, saged ngadili prakawisipun tiyang sanes kanthi adil, tegesipun miturut raos adilipun. Ananging yen ngadili awakipun piyambak, lajeng mak kluwer miturut pangajeng-ngajengipun piyambak.

Wonten dedongengan, ratu ingkang linangkung mejahi para nyainipun. Jalaran para nyai wau mutahi jangan dhateng pangkonipun sang ratu. Ratu wau kraos getun lajeng minggat saking praja, lajeng madhukun-madhukun supados sampun dipun ukum pejah. Lho, rak mak kluwer, miturut pangajeng-ngajengipun.

(Yang weruh—dapat benar-benar mengetahui—adalah orang. Jadi, orang sebagai subjek yang tahu sesungguhnya lebih agung dari seluruh objek yang diketahuinya. Di sini orang sebagai subjek, tahu dengan sadar. Dalam kawruh begja, orang dapat diidentifikasi sebagai benar-benar tahu, dipaksa tahu oleh keinginannya, dan tahu berdasar subjektivitasnya. Objek yang diketahui adalah segala sesuatu yang berada di bumi dan di kolong langit. Jadi, orang sesungguhnya lebih agung dibandingkan segala sesuatu yang di bumi dan di kolong langit. Kemudian merasakan, “Aku yang lebih agung.” Rasa aku yang lebih agung ini sebenarnya, “Aku yang maha agung.” Namun, karena maha agung seringkali digunakan untuk menamai sesuatu yang orang tidak benar-benar pahami, jadi sama dengan: U.I.A.A.H.

Jika sudah merasakan, “Aku yang lebih agung” seperti itu, maka setiap kali mengetahui segala sesuatu, kemudian menyadari yang telah diketahuinya. Dan, kesadaran itu melahirkan rasa nyaman, senang. Maka dalam setiap saat dan keadaan, orang bisa senantiasa merasa nyaman. Tatkala pikiran hanya menjadi instrumen keinginan, maka tidak akan bisa menjadi sadar, karena itu orang tak dapat menyadari apa pun. Wawasannya pada setiap keadaan hanya berdasar kemauannya, jadi tidak sebagaimana keadaan benda atau peristiwanya tetapi disesuaikan dengan harapannya.

Rasa maha agung dapat menyirnakan segala sesuatu yang membuat khawatir, karenanya wawasan orang pun menjadi benar, karena tidak lagi terhalangi oleh ketakutan. Ketika wawasan sudah benar, maka orang di dalam menghargai dan menilai keadaan tak lagi berdasarkan kemauannya. Hanya apa adanya, yaitu cukup dengan menyadarinya saja. Jadi, ketakutan adalah penghalang dari lahirnya kesadaran. Orang yang tak lagi memiliki kekhawatiran akan dapat menghakimi persoalan orang lain dengan adil, artinya berdasar pada rasa keadilannya. Namun jika harus mengadili diri sendiri lantas menjadi tidak jelas, karena hanya berdasarkan kemauannya.

Ada dongeng tentang seorang raja yang terkenal bijaksana, namun pada suatu hari tega membunuh para selirnya hanya karena mereka telah menumpahkan sayur di pangkuannya. Sang raja merasa menyesal, lalu meninggalkan istananya, pergi kepada para dukun sakti untuk mendapatkan bantuan agar dirinya tidak diadili dan dihukum mati. Nah, jadi tidak jelas bukan? Sang raja yang terkenal bijaksana, ketika harus mengadili dirinya sendiri pun hanya menuruti harapannya agar bisa terbebas dari hukuman.)

Jelas sekali, kunci wejangan Ki Ageng di atas adalah kata weruh, dan yang bisa weruh hanyalah manusia. Dengan weruh-nya itu manusia lantas berhak mendaku sebagai yang maha agung. Namun, yang maha agung ini seakan-akan tidak pernah pantas disandang manusia karena yang berhak atas predikat Maha Agung hanyalah Gusti Allah.

Nanging tembung maha agung, asring kangge namaning punapa-punapa ingkang tiyang boten mangertos. Dados sami kalian: U.I.A.AH.” Artinya, predikat maha agung justru seringkali disematkan kepada sesuatu yang tidak manusia ketahui dengan sebenar-benarnya, hingga tak ubahnya seorang anak kecil yang melafazkan kata Gusti Allah dengan terbata-bata: U.I.A.AH.

Begitulah gaya Ki Ageng yang khas di dalam memberikan wejangan. Jika kita memahaminya dengan jernih tanpa tercampur dhemen (rasa suka) atau sengit (rasa benci), wejangan Ki Ageng di atas samasekali tak ada unsur untuk merendahkan Gusti Allah, bahkan menyejajarkan-Nya dengan manusia pun tidak. Ya, walau pun manusia menurut Ki Ageng memang dapat menjelma sebagai yang maha tahu, dan pengetahuan manusia menurutnya juga tanpa batas, namun sesungguhnya Ki Ageng tak pernah membiarkan manusia dapat berlaku di luar batas kemanusiaannya.

Weruh punika tanpa wangen. Wangening weruh punika ora weruh. Mangka ora weruh punika weruh, weruh yen ora weruh.” (Tahunya manusia itu tidak terbatas, karena batasan dari tahunya manusia adalah ketidaktahuannya. Padahal di saat manusia tidak tahu, sesungguhnya dia tetap tahu, yaitu tahu bahwa dirinya tidak tahu). Menarik bukan?

Di dalam mewejang, Ki Ageng sesungguhnya tidak hanya mengajak audiensnya untuk berolah pikir tapi juga sekaligus berolah rasa. Agar bisa rumangsa ora rumangsa bisa dalam bahasa Jawanya. Yakni lebih peka di dalam merasa, dan tidak buru-buru mendaku sudah begini dan begitu. Dan sebagai audiensnya, yang perlu kita siapkan hanyalah kejujuran. Yaitu jujur dalam merespon apa saja berdasarkan weruh kita yang tidak terbatas dan jangan sampai terperangkap pada ngira weruh.

Yen ora weruh punika dipun peksa-peksa, inggih mesti dados ngira weruh. Mila ngira weruh punika ora weruh. Ngira weruh punika ora weruh dipun peksa-peksa namung miturut pangajeng-ngajengipun, lajeng pados biridan-biridan, tandha-tandha, papadhan-papadhan, lajeng dados kawruh keyakinan.” (Karena di saat kita tidak tahu namun memaksakan diri tetap merasa tahu, maka kita pun menjadi sok tahu. Padahal sok tahu itu hakikatnya tidak tahu. Sok tahu sesungguhnya adalah ketidaktahuan yang tidak diakui lalu dicarikan pembenarannya melalui berbagai ajaran, fenomena alam, atau berbagai analogi yang kemudian dijadikan kawruh keyakinan untuk jadi pembenar, namun tidak nyata.)

Dari seluruh pembacaan, penulis berkesimpulan bahwa Tuhan yang dikritisi oleh Ki Ageng Suryomentaram sesungguhnya adalah Tuhan yang dikategorikan oleh Ibn ‘Arabiy sebagai Al-Ilah al-Mu’taqad alias Tuhan dalam kepercayaan, keyakinan, ataupun sebaliknya, yakni Tuhan yang tidak dipercayai atau tak diyakini keberadaannya.  Tuhan dalam kategori ini pulalah yang telah ‘dibunuh’ oleh Friedrich Nietzsche, “Gott ist tot, gott bleibt tot, und wir haben ihn getotet!” (Tuhan telah mati, tuhan terus mati, kita telah membunuhnya!), atau yang disitir oleh Rabindranath Tagore dalam aforismanya, “In death the many becomes one; in life the one becomes many. Religion will be one when god is dead.” (Dalam hidup, yang satu menjadi banyak. Dalam kematian, yang banyak menjadi satu. Agama-agama—termasuk kayakinan yang anti agama—hanya akan menjadi satu setelah tuhan mati.)

Adapun yang diistilahkan oleh Ki Ageng dengan Barang Asal atau Bakal Barang, Ia adalah Tuhan yang oleh Ibn ‘Arabiy disebut sebagai Al-Ilah Al-Muthlaq alias Tuhan yang sebagaimana wujud-Nya, Tuhan yang apa ada-Nya, atau Tuhan Mutlak yang tak bernama maupun Tuhan yang bisa dinamai apa saja. Tuhan dalam kategori inilah yang oleh Santo Thomas Aquinas dinyatakan, “Quasi ignotus cognoscitur” (Tuhan dikenal sebagai Dia yang tak dikenal), atau yang dibahasakan oleh Abu Bakar Ashshidiq, “Al-ajzu ‘anil idraaki ghayatul idraak” (Ketidakmampuan memahami Tuhan adalah puncak pemahaman terhadap-Nya), juga yang dibahasakan oleh para leluhur orang Jawa, “Tan kena kinaya ngapa” (Yang tak dapat direka-reka bagaimananya), atau “La yukayapu” (Tak ada cara yang bisa diajarkan untuk menemukan-Nya), ataupun yang ditegaskan oleh Alquran, “Laysa kamitslihi syai…”(Tak dapat diserupakan dengan sesuatu), dan yang tak didefinisikan dengan kalimat apa pun oleh para santo serta orang-orang suci seperti Zarahtustra, Budha, juga yang lainnya.

Dan, Tuhan dalam kategori kedua itulah yang oleh Ki Ageng diwejangkan secara tersirat telah ‘menubuh’ pada diri setiap manusia dengan menjadi karep-jasad-aku-nya, sehingga ber-tajalli sebagai manusia kuasa. Yaitu manusia yang tidak lagi merasa perlu mencari-cari keberdayaan di luar dirinya, karena kuasa manusia adalah otomatis juga merupakan kuasa Tuhannya sebagaimana saat ia melempar maka bukanlah dirinya yang melempar namun Tuhanlah yang melempar. ***

*Esai ini dipresentasikan dalam Dialog Ramadhan Mushalla Rahardja Paramadina, 20 Juni 2017.

 

 

[1] Haidar Bagir, Epistemologi Tasawuf; Sebuah Pengantar, Mizan 2017 hal. 14.

[2] Mulyadhi Kartanegara, Lentera Kehidupan; Panduan memahami Tuhan, alam, dan manusia, Mizan 2017 hal. 3.

[3] Ibid, hal 4.

 

Muhaji Fikriono
Budayawan, penulis buku "Kawruh Jiwa,: Warisan Spiritual Ki Ageng Suryomentaram".