Tanggapan atas Tanggapan: Sebuah Respon Kepada Lamuh

tradisi suku menikah di suku sasak

Adalah sebuah kehormatan, bahwa tulisan saya tempo hari di Langgar, yakni soal “Maskulinitas dan Feminimitas Masyarakat Sasak”, ternyata mendapat tanggapan dari saudara Lalu Muhammad alias Lamuh. Kenapa saya merasa terhormat dan keren? karena sosok Lamuh ini kerap menempatkan diri–secara sengaja atau tidak—sebagai juru bicara tentang Sasak, dan tentu saja dia cukup otoritatif, setidaknya pada diskusi-diskusi kecil warung kopi Yogya. Ibarat Soekarno yang kerap mengatakan dirinya “Penyambung Lidah Rakyat”, maka Lamuh seola-olah (tapi tidak benar-benar lho ya) sedang menempatkan dirinya sebagai “Penyambung Lidah Sasak”.   

Baiklah, saya hendak mencoba menanggapi tulisan Lamuh. Untuk beberapa koreksi yang telah disampaikannya, saya ucapkan terima kasih. Namun di saat yang sama, saya ingin menjawab beberapa hal yang menjadi keberatan Lamuh terhadap tulisan saya.

Membincang “Sasak” dalam kultur masyarakat Lombok selalu melahirkan perdebatan yang alot. Di lain sisi, “Sasak” menjadi perbincangan yang intim bagi sekelompok orang, utamanya di kalangan trah “bangsawan” . Oleh karenanya, pandangan tentang Sasak berikut segala atribut sosial-budayanya, tentu saja tak penah tunggal. Sasak itu selalu multisuara. Pandangan Lamuh adalah satu versi, dan pandangan saya adalah versi yang lain. Sampai di sini, kita mesti bersepakat untuk tidak sepakat.

Lamuh dalam tulisannya berkali-kali menyebut kata “keliru” dan “serampangan” terhadap tulisan saya. Bahkan, mengatakan saya parsial. Dari cara Lamuh mengungkapkan ketidaksetujuannya itu, terlihat bahwa seolah-olah pendapat dia-lah yang benar dan universal. Kecenderungan semacam itu, tak elok dalam diskusi. Sebab kecongkakan intelektual hanya akan  menutup pintu diskusi dan mengarah kepada absolutisme  pikiran sendiri.  

Merarik Sasak sebetulnya tema lawas, ada sekitar puluhan tulisan (jurnal) mengupas  perihal tersebut dari berbagai perspektif. Agaknya, tema ini sudah usang,  mungkin juga telah sampai pada level membosankan untuk dibicarakan. Namun, Saya dan Lamuh hanya mengulang-ulang saja di web langgar.co ini. Tidak ada yang istimewa, dibikin seru-seruan saja. Topik ini tampak  menarik, hanya karena Lamuh turun menaggapi tulisan saya dengan penuh gairah. Oke baiklah, kita mulai.

Pertama, saya ingin menjelaskan soal “perspektif modernitas” yang menjadi titik pangkal kritik Lamuh pada Saya. Dalam artikel yang saya tulis, memang menggunakan gramar “ilmu gender”, seperti maskulinitas dan feminimitas. Oleh Lamuh disebut paradigma modernitas. Jadi begini, sebetulnya terma-terma itu saya gunakan sebagai “istilah teknis” saja untuk menggambarkan relasi laki-laki dan perempuan dalam tradisi kawin-mawin di Lombok. Jadi itu sah-sah saja. Tak ada larangan, ini soal pilihan dalam meneropong persoalan.

 Fakta di lapangan, diakui ataupun tidak, menujukkan bahwa laki-laki Sasak cukup dominatif terhadap perempuan Sasak. Ini perkara biasa-biasa saja yang berlaku umum dalam dunia Islam, khususnya di Indonesia. Jadi Lamuh tak perlu khawatir berlebihan, bahwa pengambaran saya akan mencederai “keluhuran” budaya Sasak.  Sebagai laki-laki, tentu saya juga mengaggap hal itu “lumrah”, bahkan yang lebih ekstrem, banyak orang  mengatakan itu “sunnatullah”. Tapi setidaknya dari teropong gender itu, saya hanya ingin menjukkan suara lain, yakni sudut pandang kaum feminis, atau paling tidak saya ingin menunjukkan pentingnya aspek “mubadalah”– kesalingan dalam relasi suami-istri. Sesederhana itu, tak lebih.

Kedua, soal varian model prosesi pernikahan di Suku Sasak. Sedangkal bacaan saya, bahwa saya menemukan lima jenis model pernikahan orang Sasak, seperti merarik, kawin”culik”, kawin ngelakok (lamar/khitbah), kawin tadong (gantung) dan kawin ngiwet. Jenis-jenis ini merupakan cara orang Sasak yang hendak menikahi perempuan. Yakni proses yang dilakukan pra-akad (ijab-qabul). Model-model ini tentu tidak berlaku secara luas, tapi sering, atau setidaknya, pernah terjadi. Lalu, Lamuh menanggapi perihal itu dengan mengajukan bahwa pernikahan adat Sasak menggunakan tiga hukum; hukum agama, hukum positif dan hukum adat. Apa hubungannya denga hukum? Saya hanya menjelaskan cara laki-laki Sasak dalam mengambil perempuan yang akan dijadikan istrinya, itu saja. Adapun tiga hukum yang disebut Lamuh itu jelas punya fungsi masing-masing.  

Ketiga,  Saya sepakat pada contoh kasus yang disebut Lamuh, yakni tentang calon pengantin yang berasal dari Mataram kemudian hendak menikah dengan calon mempelai dari wilayah pedesaaan, sebut saja di wilayah Pesisir Lombok Tengah. Maka sebelum ke tahap selanjutnya kedua pihak mempelai, idealnya membicarakan mengenai tata cara yang paling baik dan paling patut, apakah hendak mengikuti cara yang berlaku di Mataram atau yang berlaku di wilayah pesisir Lombok Tengah, tujuannya agar tidak menjadi permasalahan besar di kemudian hari.

Dari contoh yang dikemukakan Lamuh di atas, terang bahwa dalam arus perubahan sosial, orang Sasak melakukan proses negosiasi dengan modernitas. Sebab wilayah mataram adalah wajah orang Sasak urban yang tak terlalu risau  dengan seluk-beluk adat-istadat. Dengan kata lain, mereka adalah wajah Sasak yang termodernisasikan. Dan tak jarang, orang Sasak justru memilih cara pernikahan modern gaya Mataram. Maka dengan demikian, Lamuh mengafirmasi bahwa Sasak terbuka pada modernitas. Lalu kenapa ketika saya menggunakan “perspektif modernitas”, Lamuh seperti tak setuju dan keberatan? Pada titik ini, saya kira Lamuh mengalami sebuah paradoks: keberatan dengan persfektif moderntas yang saya gunakan, namun permissif terhadap praktik modernitas pada kebudayan Sasak, khususnya tata cara pernikahan.       

Adapun soal lain-lain terkait prosesi pernikahan Suku Sasak, seperti ritual-ritual dan tata cara adat, saya pikir tak perlu menanggapinya lagi. Lamuh sudah menjelaskan hal itu dengan cukup rinci. Saya justru tertarik menaggapi bagian lain dari tulisan Lamuh, yakni soal konstruksi Lamuh tentang stratifikasi sosial masyarakat Sasak. Bagi saya, Ini jauh lebih menantang, dan memancing  gairah saya, ketimbang bicara merarik.

Lamuh dalam tulisannya menawarkan cara pandang baru tentang stratifikasi sosial Masyarakat Sasak. Ia melandaskan cara pandangnya itu dari apa yang dia sebut sebagai rukun Agama: Iman, Islam, dan Ihsan”. Meskipun selama ini saya hanya tahu rukun iman dan rukun Islam. Dan Saya baru tahu ada rukun Agama dari Lamuh. Tapi sudahlah, anggap saja ini hanya intermezo. Mari kita kembali fokus ke soal stratifikasi saja.  

Dalam memandang stratifikasi sosial Sasak, Lamuh berangkat dari keberatannya soal pandangan umum yang menyamakan stratifikasi sosial Sasak dengan  masyarakat Hindu Bali. Lamuh sepertinya kesal, lalu berusaha menjelaskan dengan penuh semangat bahwa dua konstruksi stratifikasi di Lombok dan Bali itu berbeda. Lebih lanjut, Lamuh menjelaskan bahwa Bali menyusun strata sosialnya berdasarkan dharma-nya yakni Brahmana, Kesatria, Waisya dan Sudra. Sedangkan Lombok, strata sosial masyarakat Suku Sasak terbagi dalam tiga golongan Menak PurwangsaMadya, dan Jajarkarang.

Mula-mula Lamuh membangun argumennya bahwa, terbentuknya startifikasis sosial Sasak tidak lepas dari sejarah penyebaran Islam awal di Lombok. Menurutnya, stratifikasi sosial Sasak itu disusun berdasarkan tingkat pemahaman Islam atau realitas batin masyarakat terhadap pengetahuannya tentang Agama Islam pada waktu itu. Lamuh Lalu  menghubungkan tiga starata itu dengan Iman, Islam dan Ihsan. Berikut penjelasannya:  (1) Golongan yang baru sampai pada tahap percaya (beriman) dengan Agama Islam  disebut jajarkarang; (2) Kemudian tahap selanjutnya adalah golongan yang sudah sampai pada tahap mejalankan Syariat Islam disebut Madya, (3) golongan yang telah mencapai tahapan memahami hakikat Islam, yang berbuat dan bertindak berdasarkan hikmah, maka disebut Menak Purwangsa. Tiga konsep itu menurut Lamuh  diformulasikan oleh Para Wali penyebar agama Islam di Lombok untuk menandai tingkatan realitas batin masyarakat Suku Sasak.

Baik, saya senang dengan tesis yang dikonstruksi Lamuh itu. Bagi saya, Lamuh punya imajiansi kreatif, untuk tidak mengatakan Cocokologi yang cukup atraktif. Dengan begitu, saya tertarik mendiskusikan perihal itu lebih lanjut. Begini, anggap saja klaim Lamuh itu saya terima, dan saya anggap benar. Namun ijinkan saya mengajukan beberapa pertanyataan dan pertanyaan sekaligus.

Pertama, jika pandangan Lamuh itu benar, maka mestinya “menak” itu menjadi sistem stratifikasi sosial yang terbuka di dalam masyarakat Sasak. Sebab semua orang punya kesempatan yang sama mencapai level “menak”, sesuai dengan ikhtiar, riyadah, dan laku spiritual yang dijalankannya. Namun ironisnya, kenapa sistem “menak” di Lombok itu terwariskan? Kenapa gelar menak (bangsawan) itu disemat berdasarkan genetika, darah dan harus ditulis dalam ijazah? Saya pikir tingkatan iman dan ilmu dalam Islam sama sekali bukan sesuatu yang terwariskan. Ia adalah sesuatu yang di-ikhtiarkan.

Kedua, saya menduga-duga, imajinasi Lamuh tentang stratifikasi sosial Sasak itu dipengaruhi oleh “serat menak”. Serat yang sangat populer di dunia Islam Melayu dan Jawa yang diadaptasi dari sastra Islam persia. Yakni sebuah epos Islam yang menceritakan Amir Hamzah. Kisah ini kemudian mengalami vernkularisasi secara massif di segenap penjuru Nusantara. Di dunia Melayu disebut hikayat Amir Hamzah, di Jawa menjadi Serat Menak, pernah disalin beberapa kali, termasukoleh Yasadiphura I, dan di Lombok pun diadaptasi Menjadi kisah Jayengrane.   

Sastra fiksi Islami itu barangkali yang dijadikan Lamuh untuk menyusun imajinasinya tentang “menak”. Sebab di Lombok, serat menak ini cukup populer menjadi cerita yang penuh nilai-nilai Islam dan meminjam bahasa Lamuh, menggambarkan realitas simbolik bathin keislaman Masyarakat. Dalam konteks ini, Lamuh kiranya perlu melacak penggunaan kata “menak” dalam kultur Indonesia yang lebih luas. Di Jawa Barat, Sunda, juga menggunakan terma “menak”, yakni untuk menjukkan para bangsawan Sunda dan pejabat lokal. Memang ada trah menak yang ulama’ seperti Haji Hassan Mustafa, tapi tentu keulamaanya itu sebuah proses pencarian, bukan warisan. Dan di sisi yang lain, Hasan Mustafa disebut menjadi informan kolonial dan dekat dengan Belanda. Secara umum, menak Sunda di masa revolusi sosial dikatakan dengan dengan Belanda.

Selain Sunda, Jawa dan bali juga menggunakan menak. Meskipun tidak terlalu populer. Silahkan dibaca, banyak sekali  riwayat tentang ini. Dengan demikian, saya jadi menduga-duga kembali, jangan-jangan menak di Sasak itu adalah orang-orang yang punya privillage saat Bali berkuasa di Lombok. Orang-orang yang dekat dengan lingkaran Kerajaan karang Asem. Bahkan ada pendapat yang lebih ekstrim dari salah seorang tokoh, bahwa  sistem menak adalah mitologi modern yang dibangun Pasca Bali di Lombok, lalu diwariskan secara turun temurun. Selebihnya kita masih butuh diskusi panjang perihal ini.

Ketiga, saya melihat tulisan Lamuh secara umum adalah sebagai usaha untuk  membela dan menyelamatkan apa yang disebutnya sebagai “kearifan lokal”. Saya menghargai upaya dan kegigihannya itu. Tapi secara teknis, frase “kearifan lokal” yang merupakan terjemahan dari local wisdom itu, secara tidak sadar membawa Lamuh terjebak pada narasi Barat-kolonial.  Koskata “local wisdom” itu kerap digunakan para antropolog Barat-Orentalis untuk menggambarkan dunia Timur. Jadi, Anda adalah Local Wisdom, dan mereka adalah Universal Wisdom. Anda adalah pingiran semesta, kami adalah pusat semesta. Jadi Lamuh masuk ke dalam jebakan teknis pada sesuatu yang sebetulnya ingin ditentang: narasi  kolonial dan modernitas. Satu hal lagi, biasanya hasrat mempertahankan “local wisdom” itu, biasanya tersembunyi  di belakangnya hasrat merawat “local kingdom” (kuasa bangsawan).

Akhirnya, saya hanya ingin mengatakan, bahwa secara sosio cultural, pulau Lombok sangat berdekatan dengan pulau Bali, bahkan Bali pernah masuk ke Lombok melalui penaklukan secara politik yang dilakukan oleh Kerajaan Karang Asem. Setidaknya, Bali pasti memberi pengaruh dalam corak pergaulan Hindu, dan boleh jadi juga pada wilayah adat istiadat masyarakat Lombok. Sebagaimana Lamuh mengakui pengaruh budaya Jawa dalam Islamisai di Lombok, mestinya dia juga mengakui pengaruh budaya Bali yang pernah dalam waktu cukup lama mendiami Lombok. Dan jangan lupa, bahwa budaya Islam Sasak juga dipengaruhi Makasar, terutama di wilayah Lombok Timur.

Terakhir, seandainya gambaran Lamuh soal “menak” itu benar, saya membayangkan bahwa tak perlu ada “privatisasi” gelar kebangsawanan itu, karena menak ditentukan oleh laku spritual, bukan garis keturunan. Sekian.

Buku Langgar Shop
Muhyidin Azmi
Mahasiswa asal Lombok sekarang menempuh jenjang kuliah Pascasarjana jurusan Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.