Aku dan Tugu

Di trotoar sebelah tenggara Tugu Pal Putih, aku duduk bersila tanpa memperhatikan lalu-lalang kendaraan di depanku. Mataku yang nanar tak mau lepas dari puncak Tugu yang runcing, yang kubayangkan seperti pucuk es krim. Udara siang itu memang panas: cukup panas untuk membakar kenanganku di Kota Pelajar. Kenangan terbakar bukan untuk hilang, tapi untuk tinggal.

Tugu yang kini sering menjadi tempat selfie dan wefie itu sudah jauh berbeda dari bentuk aslinya: bulat silinder (golong gilig) dengan tinggi dua puluh lima meter. Berkat campur tangan Belanda, tak terlihat lagi atmosfer Manunggaling Kawula Gusti yang dulu pernah ada ketika Tugu Golong Gilig masih tegak berdiri. Tentu aku tidak pernah merasakan langsung atmosfer yang agung itu. Aku hanya sering mendengar cerita tentangnya dari para guru sepuh yang kujadikan tempat bertanya. Meski tak lagi orisinal, Tugu masih menjadi titik yang menghubungkan antara Keraton dan Gunung Merapi. Sayangnya, ia selalu mengingatkanku kepada penjajah Belanda yang patriarkal, yang berhasil menancapkan kukunya di bumi Yogyakarta. Penjajahan itu rasanya masih terjadi di dalam diriku hingga sekarang. Apa mungkin perasaan terjajah itu datang karena aku kerap merasa terkekang oleh aturan-aturan? Di perempatan itu, dulu aku sering disemprit polisi karena melanggar marka jalan dan menerobos lampu merah ketika bersepeda. Sebagai seorang remaja yang tak takut kepada apa pun dan siapa pun, bukannya berhenti, aku saat itu lebih suka mengayuh sepedaku kencang-kencang ketika mendengar suara sempritan.

Puas memandangi Tugu, aku berdiri sambil mengemasi ransel dan melangkah ke arah selatan. Jalan Mangkubumi kulalui nyaris tanpa perasaan. Deretan hotel yang menjulang di sepanjang jalan hanya kulirik sesekali tapi tak membuatku terkesan. Aku menengok ke kiri dan ke kanan untuk mencari becak. Ada satu yang mangkal di sebelah utara Malioboro. Aku menyeberang jalan untuk menghampirinya.

“Pak, minta tolong diantar ke Kampus Bulaksumur, ‘njih. Ke Fakultas Sastra,” kataku kepada seorang laki-laki paruh baya yang kutaksir berusia belasan tahun lebih tua dariku.

Hinjih, Bu.”

“Ongkosnya berapa, Pak?”

“Tiga puluh ribu, Bu. Tapi kula cuma bisa nganter sampai Bunderan saja.”

“’Njih, Pak. Ndak ‘pa-‘pa.” Aku agak menyesal kenapa tadi aku malah berjalan ke selatan jika akhirnya memutuskan untuk naik becak ke kampus yang berada di utara. Dari Tugu, mungkin ongkosnya cuma dua puluh lima ribu. Tapi, karena sudah lama tidak naik becak, aku tidak tahu itu tarif mahal atau tarif malaikat. Ah, apakah semua perempuan terlahir sebagai sosok yang banyak perhitungan?

Becak yang badannya dicat merah itu dikayuh pelan-pelan melalui jalan-jalan yang pernah mengasuhku belasan tahun lalu. Bukannya menikmati pemandangan berupa modernnya pembangunan, mataku justru memejam. Kubiarkan kenangan meluncur dalam gelap yang menajamkan indera-indera lainnya. Aroma bakso di sebuah warung langgananku dulu, ramainya perempatan dengan toko buku besar di sudut barat daya, dan perasaan dongkol ketika becak terperangkap dalam kemacetan di depan rumah sakit dekat Bunderan membuat waktuku serasa terlipat. Saking seringnya lewat jalur itu dulu, aku hafal betul jarak tempuhnya dengan sepeda—bukankah laju becak-sepeda sama lambatnya ketika meniti kenangan?

Ketika becak berhenti tepat di sebelah selatan sebuah gelanggang, aku turun dengan anggun, membayar ongkos becak, mengucapkan terima kasih, dan beranjak menyusuri boulevard, jalan masuk ke kampus yang di mataku selalu merah. Dengan tegap, tanpa membusungkan dada yang tak lagi sempurna akibat kanker payudara yang pernah mendera, aku berjalan lurus menuju sebuah gedung tempat wisuda yang kemegahannya menyembunyikan sosok Merapi. Kulintasi lapangan luas di depannya untuk duduk di sebuah anak tangga, yang bagiku serupa sebuah level yang harus kupilih dalam universitas kehidupan. Duduk sendiri di anak tangga itu, dengan rambut yang berlarian ke belakang karena dibelai angin dan kepala mengarah ke kiri, ke selingkup tanah yang ditumbuhi gedung-gedung megah sebuah fakultas, aku memasuki lorong waktu. Di salah satu ruang yang sekarang bisa kupandang dari tempatku duduk, aku pernah mengalami sesuatu yang membuat nasibku terpuruk.

***

Ketika menghadapi ujian pendadaran, kurasakan cairan hangat merembes di sela kakiku yang gemetaran. Bagian belakang rokku yang basah membuat sekujur tubuh dan pikiran serba tak nyaman. Bagai seorang terdakwa di pengadilan, aku menangkap tatapan penuh curiga dari para dosen penguji yang seperti majelis hakim penentu masa depanku. Alih-alih menjawab pertanyaan seorang dosen penguji tentang judul yang kupilih, aku justru diam karena pikiranku sibuk menghitung hari berapa lama biasanya aku menuntaskan haid. Masih segar di ingatan, aku mandi besar setelah darah haid berhenti beberapa hari sebelumnya. Tampilan slide yang kupresentasikan seketika menjadi merah. Bundelan kertas yang isinya musti kupertahankan juga memerah. Tapi, mengapa darah datang lagi ketika skripsiku diuji? Dengan mulut yang mencoba menjawab patah-patah dan pikiran yang penuh bercak darah, aku akhirnya mendapat nilai ujian pendadaran yang tidak memuaskan. Keinginanku untuk mencari beasiswa terkubur sudah.

Seusai ujian yang tak sesuai harapan, aku panik karena kursi yang kududuki berbau amis. Kursi itu lalu kubersihkan dengan tisu seadanya yang kutaruh di saku baju. Sebenarnya sempat terpikir olehku untuk memberitahukan soal itu kepada seorang dosen perempuan yang menjadi penguji utama, tapi aku ragu. Reputasinya sebagai dosen killer membuatku mati kutu. Lagi pula aku tidak yakin benar akan apa yang kualami.

Aku segera membereskan berkas-berkas ke dalam tas, berpamitan secukupnya kepada teman-teman di luar ruang ujian, dan berlari ke kamar mandi. Benar saja, darah segar sudah merembes ke mana-mana. Tanpa pikir panjang, aku melesat ke koperasi terdekat untuk membeli alat penyelamat yang tak seperti malaikat: sehelai pembalut tanpa sayap. Setelah dua kali lari ke kamar mandi di dekat musala fakultas, aku bergegas pulang dengan menyembunyikan rok yang ternoda di balik tas.

Di tempat parkir, seorang satpam yang lumayan akrab denganku berbasa-basi.

“Mbak sakit ya?”

Mboten, Pak.” Bibirku terpaksa tersenyum. “Saya buru-buru mau pulang. Ada perlu.” Apakah wajahku terlihat pucat?

Aku segera menaiki sepeda dan memancal pedal-nya kuat-kuat sambil terus berpikir kenapa darah masih mengalir meski dua minggu telah lewat dari hari pertama haid. Apa mungkin ini yang disebut istihadhah, darah yang keluar dari kemaluan di luar masa haid? Beberapa hari sebelum pendadaran, stress memang sempat melandaku. Banyak referensi yang harus kubaca sementara pekerjaan sampingan sebagai editor paruh waktu kerap membuat jadwal tidurku terganggu. Meski perempuan kadang harus berperan sebagai cadas, sebagaimana kata Ibu, aku tetap tak siap berkenalan dengan istihadhah di meja pendadaran.

Sambil mengayuh sepeda, kulewati rumah sakit, toko buku besar, dan warung bakso favorit dalam genangan darah di kepala. Sesampainya di perempatan Tugu, dengan disaksikan lampu merah, Tugu yang biasanya putih itu turut menjelma merah. Anehnya, setelah lampu berubah hijau, aku tidak lantas melaju menuju rumah kosku. Sepeda kupinggirkan ke sebelah tenggara Tugu, persis di dekat pos polisi. Aku lalu duduk di trotoar dan memandangi Tugu selama berjam-jam tanpa peduli aku harus segera ganti celana, rok, dan baju. Entah apa yang merasuki pikiranku. Yang pasti, aku melihat Tugu sebagai sesuatu yang ingin kuadili.

***

“Sudah menunggu sejak tadi?” Suara itu milik seorang lelaki yang membuatku selalu rindu kota ini. Aku berkenalan dengannya dalam sebuah seminar tentang status keistimewaan Yogyakarta beberapa tahun lalu. Ia kini menjadi dosen di fakultas tempatku menimba ilmu dulu.

“Belum lama. Baru tiga puluh menit.”

Kami berjabat tangan dan saling melempar senyum. Ia, dengan wajah lelah, menghempaskan tubuhnya ke anak tangga yang posisinya satu tingkat lebih tinggi dari posisi dudukku.

“Maaf, tadi aku agak lama menguji skripsi seorang mahasiswi. Entah apa yang terjadi kepadanya. Pas diuji wajahnya pucat pasi, padahal dia itu seorang mahasiswi teladan.”

“Barangkali dia tengah masuk angin atau haid atau istihadhah. Banyak sekali kemungkinannya. Menjadi perempuan itu tidak mudah.” Eh, kenapa aku jadi sensitif? Ia belum pernah kuberitahu tentang sejarah kegagalanku di ruang sidang skripsi. Bahwa sejarah akan berulang, meski pelakunya beda, bukankah sesuatu yang niscaya? Bisa saja.

“Apa itu istihadhah?”

Tiba-tiba aku ingat bahwa laki-laki di sampingku ini memeluk agama yang bukan Islam.

“Nanti cari di google saja ya. Intinya, jika mahasiswimu itu sedang istihadhah, ada darah mirip darah haid, tapi bukan darah haid, yang bisa mengganggu konsentrasinya saat ujian.”

“Hmm…, kalau itu yang dialaminya, harusnya dia sudah melakukan antisipasi dari rumah.”

Antisipasi? Darah yang tak bisa diprediksi kapan datangnya itu musti diantisipasi? Aku merasa tak perlu menjelaskan kepadanya secara panjang lebar tentang darah perempuan. Untuk meyakinkan diri, kutelusuri raut mukanya. Hampir tidak ada yang berubah darinya sejak kali pertama kami berjumpa. Rahang yang kukuh itu masih membuatnya keras kepala. Ia sebenarnya menarik kalau saja pandangannya tentang perempuan tak melulu sekaku itu. Kami terlalu sering berdebat tentang hal-hal yang menurutnya remeh-temeh tapi bagiku sama sekali bukan sesuatu yang receh. Tirai senja turun bersama hampa di dadaku.

Senyap mengisi ruang rendezvous kami selama lima menit. Anak tangga yang kududuki terasa dingin.

“Ehm…, anu,” suaranya agak gemetar. Aku tahu ia mau bilang apa. “Masihkah kita berkesempatan untuk menikah?”

“Tidak.”

Hening.

“Mengapa? Apakah karena agama kita berbeda? Bukankah selalu kukatakan bahwa aku bisa pindah agama kapan saja? Toh Tuhan yang kita sembah sama.”

Ia selalu mengklaim bahwa dirinya, seperti halnya Karen Armstrong—penulis buku yang dikaguminya, adalah seorang freelance monotheist.

“Tidak,” tegasku. “Bukan itu masalahnya.”

“Lalu apa?”

“Setiap kali melihatmu, aku ingat Tugu.”

Ia diam. Setahun lalu, kami pernah berdebat hebat di media sosial tentang makna penting Tugu bagi daerah istimewa ini.

Beberapa pemuda berlarian menggiring bola di halaman gedung tempat kami duduk. Langit agak mendung, tapi mereka tak tampak peduli. Aku kembali memandang lelakiku. Wajahnya pias seperti kurang darah. Kepalanya mendongak ke langit. Angin sepoi-sepoi mengelus beberapa uban di rambutnya dan mengembus perasaanku entah ke mana.

“Ya sudah,” ujarnya pasrah. “Aku lelah. Aku akan mencari perempuan lain yang mau kuajak menikah.”

Mendung kian tebal. Titik-titik air mulai terjun ke tanah tumpah darah—andai dunia tahu bahwa darah tak hanya tumpah di medan perang, tapi juga dari rahim perempuan.

Lelaki yang pernah kupuja itu menawariku untuk mampir ke kantornya di dekat musala fakultas. Aku menolak tawarannya dan memilih berjalan di sepanjang boulevard dalam gerimis.***

Pati-Yogyakarta, Januari 2018

Buku Langgar Shop
Ina Minasaroh
Pengajar Bahasa Inggris di PPB UMY dan penerjemah lepas, tinggal di Yogyakarta. Beberapa karya yang telah diterjemahkannya diantaranya: Warriors of God karya James Reston Jr. (2006), Islamku, Islamu, Islam Kita karya Gus Dur (2007) ke bahasa Inggris, Jonathan Livingston Seagull karya Richard Bach (2011), serta Hagakure : The Wisdom of Samurai karya Yamamoto Tsunetomo (2012).