Perempuan dan Peran Ikhtiyari

~1~

Sebagaimana tak bisa memilih orang tua yang menjadi perantara untuk hadir di dunia, begitu juga dengan jenis kelamin yang dimiliki. Kita tak bisa memilih terlahir dengan janis kelamin apa saat dilahirkan. Alat reproduksi yang bersifat biologis yang melekat pada tubuh adalah kodrat. Tak bisa dirubah dan tak bisa ditawar-tawar.

Perempuan memiliki vagina, payudara, sel ovum, dan berpotensi untuk hamil. Laki-laki memiliki penis, sperma dan berpotensi untuk membuahi. Ciri-ciri fisik inilah yang kemudian melahirkan kepantasan dan kepatutan apa yang harus dipakai dan dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Peranan akal di sini sungguh luar biasa. Manusia yang serumpun dengan hewan itu, menjadi berbeda karena akal. Akal menjadikan manusia berbudaya dan berkebudayaan. (Baca juga: Perempuan dan Tuhan)

Akal menjadikan manusia berbudaya dan berkebudayaan.

Timbang menimbang budaya ini kemudian melahirkan seperangkat aturan yang disebut norma. Apa yang pantas dan apa yang tidak pantas dilakukan. Tentu juga beserta dengan hukuman sosial bagi siapa saja yang melanggar.

Satu desa dengan desa lain, satu kota dengan kota lain, satu negara dengan negara lain, memiliki kekhasan dalam budaya dan memproduksi norma yang khas. Ini tentu karena pengalaman kehidupan yang tak seragaman dan juga tentang narasi-narasi yang terus dibangun oleh nenek moyang kita.

~2~

Laki-laki pada umumnya, dalam pandangan tradisi dan budaya, di tempatkan pada wilayah publik yang mengurus perihal pencarian penghidupan, mengatur tata tertib di masyarakat, dan menjadi kepala dalam rumah tangga. Perempuan dipilihkan peran dalam wilayah domestik. Melakukan seluruh pekerjaan di dalam rumah dan memastikan semua anggotanya tercukupi kebutuhannya. Ia memasak, mencuci, mengatur rumah, dan mendidik anak.

Pembagian peran ini, mula-mula memang mempertimbangkan alat reproduksi yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Alat reproduksi itu kemudian ditafsiri sedemikian rupa oleh akal, yang kemudian melahirkan, semacam apa yang dianggap, kepatutan dan peran yang harus disandang oleh laki-laki dan perempuan.

Peran-peran sosial ini adalah bentuk koeksistensi antara laki-laki dan perempuan dalam membangun dan menjalani hidup. Tak ada yang lebih unggul dan tak ada yang lebih rendah. Laki-laki takkan bisa memainkan perannya di wilayah publik tanpa dukungan domestik yang purna dari rumah, pun sebaliknya.

~3~

Sampai tahap ini, peran yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan sebagai manusia adalah untuk saling bekerjasama yang bersifat ikhtiyari (diusahakan).

Sayangnya, sesuatu yang ikhtiyari ini seringkali dianggap sebagai sesuatu yang ajeg, tetap, dan tak bisa berubah. Padahal peran-peran yang disandang laki-laki dan perempuan ini seharusnya bersifat cair dan tak statis. Perempuan bisa beraktivitas di ruang publik dan laki-laki juga tak tabu untuk mengerjakan pekerjaan domestik. Laki-laki boleh saja memasak dan mengasuh bocah, perempuan boleh juga menjadi rektor atau juru bicara.

Bagi sebagian orang dan kelompok, pembagian peran itu bersifat kodrat dan bukan ikhtiyari. Sehingga kemudian menimbulkan tafsiran dan anggapan bahwa salah satu jenis kelamin dengan peran sosialnya lebih unggul ketimbang yang lain. Laki-laki dengan peran publiknya dianggap lebih unggul, mulia, dan bernilai ekonomi daripada perempuan dengan kerja domestiknya. Perempuan dianggap rendah dan enteng-entengan karena perannya di wilayah domestik tak dianggap ada atau kalaupun dianggap hanya sebagai sampiran, dan tak bernilai ekonomi. Akhirnya, dengan posisi yang dilemahkan, perempuan seringkali mendapatkan perlakukan yang tidak adil dan cenderung diskriminatif.

Anggapan ini kemudian dicarikan pembenaran dari berbagai hal, tak terkecuali dari (tafsiran) agama. Agama yang sejatinya diturunkan untuk kemaslahatan bersama (untuk laki-laki dan perempuan, anak-anak dan dewasa) ditarik sedemikian rupa oleh orang-orang yang memiliki akses penerjemahan dan penafsiran sebagai senjata untuk melakukan diskriminasi. Oleh sebagian ulama lainnya, agama dengan semangat rahmatan lil alamin dijadikan bijakan untuk membebaskan perempuan dari peran-peran dan prasangka negatif tentangnya.

Agama yang sejatinya diturunkan untuk kemaslahatan bersama (untuk laki-laki dan perempuan, anak-anak dan dewasa) ditarik sedemikian rupa oleh orang-orang yang memiliki akses penerjemahan dan penafsiran sebagai senjata untuk melakukan diskriminasi.

Lahir sebagai perempuan bukanlah sebuah aib. Aib adalah melakukan kekerasan dan diskriminasi pada sesama manusia dan pada alam semesta. Tak perlu takut untuk menjadi perempuan.

~~~

Buku Langgar Shop