Perkamusan Bahasa Jawa

Pada 21 Februari 2019, orang-orang membuat peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional. Di Indonesia, peringatan itu biasa berisi laporan dari institusi kebahasaan di naungan pemerintah untuk menambahi sedih dan lara. Sekian bahasa daerah dikabarkan punah atau sekarat. Laporan jarang memberi girang berkaitan dengan pemajuan bahasa daerah di Indonesia, dari tahun ke tahun.

Anjuran-anjuran sering diberikan oleh pejabat, dosen, ahli bahasa, dan seniman adalah membiasakan menggunakan bahasa daerah di rumah. Kebijakan tambahan adalah memberlakukan hari berbahasa daerah di dinas-dinas pemerintah dan sekolah. Ada pula kebijakan mengadakan upacara dengan penggunaan bahasa daerah. Anjuran-anjuran itu jarang manjur. Di luar seribu anjuran, mereka belum getol mengajak orang-orang berkamus (lagi) untuk mengerti bahasa daerah. Kamus-kamus lama dibiarkan tertutup dan berdebu.

Pada abad XXI, kita masih memerlukan kamus bahasa Jawa berdalih pemuliaan bahasa ibu atau daerah. Di toko buku, kita melihat Kamus Indonesia-Jawa susunan Sutrisno Sastro Utomo, terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2015. Tebal 800 halaman. Harga 218 ribu. Penggunaan kamus-kamus terbitan baru mengingatkan kita pada perkamusan dan arus peradaban Jawa, sejak ratusan tahun silam. Sejarah itu berkesinambungan sampai sekarang. Sejarah dan perkembangan peradaban Jawa pernah ditentukan oleh para sarjana kolonial.

Kesadaran berbahasa Jawa dengan panduan kamus dimulai oleh JFC Gericke dan T. Roorda. Pada tahun 1901, mereka menerbitkan Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek, terdiri dua jilid. Tebal 1.777 halaman. Mereka menggunakan aksara Jawa untuk penulisan kata-kata Jawa dan menggunakan aksara Latin untuk kata-kata Belanda. Kamus bersejarah dan langka. P. Swantoro melalui Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu (2002) mencantumkan pengakuan: “Saya sendiri baru 28 Agustus 1990 mendapatkan kedua jilid kamus Gericke-Roorda cetakan 1901, setelah berusaha selama beberapa tahun. Kedua jilid berukuran sama 17,5 x 27 cm. Kamus ini sekarang sudah dapat dikategorikan sebagai barang antik, tetapi masih tetap berguna sebagai bahan studi.”

Semula, kerja membuat kamus berkaitan pamrih menerjemahkan Perjanjian Baru ke bahasa Jawa. Penggarapan kamus pun mengandung misi agama, politik, kultural, dan literasi. Penerbitan kamus memengaruhi tata bahasa Jawa dalam publikasi surat kabar, majalah, buku. Padmasusastra (1843-1926) pernah memberi satire bahwa bahasa Jawa dibawa oleh sarjana kolonial ke Leiden (Belanda) untuk diolah lalu dikembalikan lagi ke Jawa. Kamus dan buku-buku pelajaran bahasa Jawa “dipulangkan” ke Jawa bercorak kolonial.

Kita menginsafi bahwa garapan dan penerbitan kamus selalu menentukan nasib bahasa dan sastra, berkontribusi dalam pembentukan peradaban Jawa. Selama ratusan tahun, kamus adalah panduan mengerti nasib bahasa dan sastra Jawa. Begitu.

Bahasa Jawa menjembatani kultur kolonial dan Jawa. Penerjemahan pelbagai teks agama, politik, hukum, dan sastra dilakukan secara serius sejak tahun 1800, bermaksud meraih dominasi dan kedaulatan di negeri jajahan (Vincent JH Houben, 2009). Kamus sangat diperlukan bagi proses penerjemahan dan kerja politik agar memahami peradaban Jawa. Kamus digunakan di jagat pendidikan bagi calon pejabat dan pegawai kolonial saat menjalankan tugas ke Jawa. Kamus susunan Gericke dan Roorda perlahan memiliki peran penting dalam sejarah kolonialisme dan peradaban modern di Jawa. Kamus bahasa, identitas, mentalitas, nalar, dan imajinasi.

Pembuatan dan penerbitan kamus mulai berkembang di pertengahan abad XX.  WJS Poerwadarminta dibantu oleh CS Hardjasoedarma dan J Poedjasoedira menggarap Baoesastra Djawa (1939). Kamus itu mengacu ke Serat Baoesastra Djawi-Wlandi susunan TH Piageud. Poerwadarminta juga menggarap Baoesastra Indonesia-Djawi dan Baoesatra Djawi-Indonesia (1948). Dua kamus semakin memberi panduan bagi pengajaran bahasa Jawa. Pengaruh corak kolonial memang tak bisa semua dihindari. Di Jawa, studi bahasa dan sastra Jawa tetap harus mengacu ke publikasi buku-buku garapan kalangan sarjana kolonial. Mereka sudah ratusan tahun mengurusi bahasa dan sastra Jawa.

Pada masa kemerdekaan, bahasa dan sastra Jawa tetap berkembang. Pada 1957, terbit kamus berjudul Bausastra Djawa-Indonesia susunan S Prawiroatmojo. Studi mengenai Jawa juga semakin dikuatkan dengan penerbitan kamus Kawi atau Jawa Kuno. Pada 1977, terbit Kamus Kawi-Indonesia susunan S. Wojowasito. Ikhtiar menggarap kamus bermula dari pengajaran di Universitas Michigan, Amerika Serikat. Wojowasito memberikan kuliah mengenai bahasa Kawi atau Jawa Kuno. Para mahasiswa sulit memahami pelbagai materi perkuliahan dan mengalami ketergantungan dengan pengertian-pengertian istilah dari Wojowasito. Kamus pun disusun demi memenuhi keinginan para mahasiswa asing dan mahasiswa Indonesia dalam mempelajari bahasa Kawi bermisi menguak peradaban Jawa melalui studi teks-teks klasik.

Kerja fenomenal menggarap kamus dilakukan oleh PJ Zoetmulder. Pada 1982, terbit Old Javanesse-English Dictionary susunan Zoetmulder bekerja sama dengan SO Robson. Setelah puluhan tahun berlalu, kamus itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna, terbit berjudul Kamus Jawa Kuna-Indonesia (2004). Kerja penggarapan kamus dipicu oleh kontribusi kesarjanaan Herman Neubronner van der Tuuk melalui penerbitan Kawi-Balineesch-Nederlandsch Woordenboek, akhir abad XIX. Kita menginsafi bahwa garapan dan penerbitan kamus selalu menentukan nasib bahasa dan sastra, berkontribusi dalam pembentukan peradaban Jawa. Selama ratusan tahun, kamus adalah panduan mengerti nasib bahasa dan sastra Jawa. Begitu.

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi, Solo. Ia rutin menulis esai-esai kebudayaan yang sering menghiasi di berbagai surat kabar. Beberapa buku yang telah diterbitkannya antara lain: Ralat: Sastra Bergelimang Makna (2017), Pemetik Cerita (2017), dan Sepah Sahaja (2018).