Desa, Masyarakat yang Berpangupajiwa Agraris

Salah satu definisi tentang Desa yang menarik perhatian saya adalah definisi yang diajukan oleh Nathaniel Daljoeni (atau yang lebih akrab disapa N. Daljoeni), seorang Begawan ilmu bumi kenamaan yang dimiliki Indonesia. Ia menerjemahkan desa dalam bukunya Geografi Kota dan Desa (1986) sebagai:

“Permukiman manusia yang letaknya di luar kota dan penduduknya berpangupajiwa agraris.” (Daljoeni, 1986)

Sebuah definisi sederhana namun mengena, apalagi saat mendengar kata ‘Pangupajiwa Agraris’, saya terpelentang ke wejangan-wejangan Suryomentaram tentang Kawruh Begja. Saya menduga Pak Daljoeni ini jangan-jangan juga salah satu pelajar Kawruh Begja, haha. Ini murni hanya sebatas dugaan saya saja, yang terperanjah saat menemukan kata ‘Pangupajiwa Agraris’ dalam literatur akademik Ilmu Bumi.

Saya masih bertanya-tanya, kenapa Pak Daljoeni menggunakan kata ‘Pangupajiwa Agraris’, kenapa bukan kata ‘Mata Pencaharian’ saja, toh maknanya sama merujuk pada aktivitas bekerja atau mencari pendapatan. Saya rasa kata ‘Mata Pencaharian’ justru lebih familiar dalam Bahasa Indonesia di jaman beliau. Kenapa ia memilih kata ‘Pangupajiwa’ yang banyak orang yang awam saat mendengar kata ini.

Kata ‘Pangupajiwa’ ini sebenarnya merupakan istilah kunci dalam Wejangan Kawruh Begja Suryamentaram. Seingat saya dalam dalam buku Kawruh Jiwa Wejangan Ki Ageng Suryomentaram jilid 1 terbitan CV Haji Masagung, Suryomentaram cukup detail membahas Kawruh Pangupajiwa ini.

Dalam penjelasan konsep falsafah berpikirnya, Suryamentaram menaruh perhatian khusus pada penjelasan soal pangupajiwa ini. Menurutnya ‘Kawruh Pangupajiwa’ harus berjalan beriringan dengan ‘Kawruh Laki-Rabi’ (rumah tangga), karena dua Kawruh ini saling melengkapi satu sama lain sebagai ‘Butuhing Gesang’ (kebutuhan hidup) karena asalnya sama yaitu dari ‘Karep Gesang’ (Keinginan Hidup).

Suryamentaram menaruh perhatian khusus pada penjelasan soal pangupajiwa ini. Menurutnya ‘Kawruh Pangupajiwa’ harus berjalan beriringan dengan ‘Kawruh Laki-Rabi’ (rumah tangga), karena dua Kawruh ini saling melengkapi satu sama lain sebagai ‘Butuhing Gesang’ (kebutuhan hidup) karena asalnya sama yaitu dari ‘Karep Gesang’ (Keinginan Hidup).

Kawruh laki-rabi ini pangkalnya ada pada karep gesang (keinginan hidup) untuk melestarikan jenis, yang kemudian sarananya adalah lewat berumah tangga. Maka kawruh pangupajiwa adalah karep gesang untuk melestarikan hidup yang berfokus pada dirinya sendiri (baik fisik maupun psikis) yang sarana pemenuhannya adalah dengan mencari makan atau ‘upa’ untuk ‘jiwa’-nya. Suryomentaram sering menjelaskan pangupajiwa dengan analogi yang sederhana, bahwa manusia butuh ‘makan’ baik untuk fisiknya maupun psikisnya. 

“… murugaken dhateng tiyang butuh nedha. Mila lajeng wonten lelampahan pados pangupajiwa.” (Kawruh Jiwa Wejangan Ki Ageng Suryomentaram jilid 1 bab Kawruh Pangupajiwa). 

Dalam wejangannya tentang kawruh pangupajiwa, Suryomentaram membagi pangupajiwa dalam tiga perkara butuhing gesang atau kebutuhan manusia untuk hidup, terutama untuk melestarikan tubuhnya, yaitu; Nedha (makan), Nyandang (berpakaian), Mapan (tidur).

Keinginan untuk makan atau Nedha itu lahir dari rasa lapar, dan akan dipuncaki saat kitab bisa merasakan makanan yang enak-enak. Kemudian keinginan untuk berpakaian atau Nyandang itu lahir karena manusia merasakan rasa dingin, lalu ia ingin menutupi dan melindungi tubuhnya, dan muncullah pakaian. Puncaknya adalah saat manusia bisa mengenakan pakaian yang rapi dan pantas. Sementara itu keinginan untuk Mapan atau tidur itu muncul karena manusia merasakan rasa kantuk atau capai, maka ia butuh tempat untuk mapan tidur dan beristirahat yang nyaman, hadirlah keinginan manusia untuk memiliki Kasur, bilik kamar, dan rumah megah.

Ketiga rasa tersebut (rasa lapar, rasa dingin, dan rasa kantuk) merupakan rasa natural yang dirasakan manusia yang ‘hidup’ maka harus dicukupi. Ketiga rasa tersebut juga menjadi dasar dari konsep Pangupajiwa dalam filsafat Kawruh Jiwa Suryamentaram, yang kemudian diterjemahkan supaya lebih aplikatif oleh Pak Harto (Presiden kedua Indonesia) lewat pengenalan term ‘Sandang, Pangan, Papan’ itu.

Lalu bagaimana cara mencukupi Pangupajiwa?

Jika merujuk pada Suryomentaram, caranya adalah dengan ‘Makarya’ (bekerja, tapi bukan menjalani profesi). Dalam ‘Makarya’ ada tiga macam kebutuhan yang harus dipenuhi; pertama adalah kebutuhan pangupajiwa pribadinya; kedua, jika sudah menikah maka harus memenuhi pangupajiwa ‘bebrayat’-nya (keluarganya atau rumah tangganya); terakhir adalah kebutuhan pangupajiwa untuk ‘sesrawungan’ (berkehidupan sosial).

“Makarya, bebrayatan lan sesrawungan, punika pilah-pilah. Makarya, punika lelawananing tiyang nyekapi pangupajiwa, mawi petang-petang. Bebrayatan, punika raos alap-ingalapan paedah wonten nggen nyekapi kabetahan pangupajiwa. Sesrawungan punika raos weweh-winewehan.”

Arti:

Makarya (bekerja), bebrayat (berumah tangga), sesrawungan (berkehidupan sosial) itu memiliki arti yang berbeda-beda. Makarya, adalah upaya manusia mencukupi pangupajiwa, lewat hitung-hitungan. Bebrayat, adalah rasa saling (ngalap) memberi kebermanfaatan dalam mencukupi kebutuhan pangupajiwa (suami-istri, satu sama lain); Sesrawungan adalah rasa (ingin) memberi.

Manusia yang menjalani Makarya, Bebrayat, dan Srawung itu untuk mencukupi kebutuhan hidup atau ‘Pangupajiwa’.

Pangupajiwa Agraris

Suryomentaram juga memiliki persinggungan yang intens dengan budaya Agraris, tepatnya setelah memohon ijin kepada Sultan HB VII untuk menanggalkan gelar kebangsawanannya sebagai pangeran di Kraton Yogyakarta. Kemudian pada medio 1925 Suryomentaram memilih untuk hidup sebagai petani di Desa Bringin, sebuah desa yang terletak di Salatiga bagian utara. Kehidupan sebagai petani menurutnya lebih nyaman baginya daripada tinggal dengan segala aturan dan tata krama di Kraton. Di Desa Bringin, ia lebih bebas, kesibukannya setiap hari adalah bertani dan tirakat, ia rutin menjelajahi tempat-tempat kramat untuk mencari ketenangan jiwa di waktu senggangnya sebagai seorang petani.

Mayoritas orang yang hidup di desa-desa di Jawa hidup sebagai petani subsisten. Mereka menggarap sawahnya, menanaminya dengan berbagai tanaman yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarganya sendiri. Padi menjadi tanaman utama yang ditanam para petani di Jawa, orientasi yang ada di kepala para petani ini adalah jika mereka dapat panen setahun dua kali maka ‘ayem’ lah hidup mereka sekeluarga.

Demikian pula Suryomentaram, saat menjadi petani inilah ia merasa lebih merdeka daripada profesi-profesi lainnya. Petani tak harus tunduk pada atasan, kecuali yang menanam tanaman industri seperti tebu dan kopi. Petani juga tak harus hidup dalam tekanan karena takut terlambat berangkat ke kantornya, ia bebas menentukan jadwalnya sendiri selama 24 jam. Satu-satunya yang harus ia hadapi adalah alam, bukan bos apalagi juragan. Kemerdekaan inilah yang membuat Suryomentaram senangnya bukan kepalang.

Saat Suryomentaram menjalani hari-hari sebagai petani inilah ia punya banyak waktu untuk merenungi hakikatnya sebagai seorang manusia sembari merumuskan konsep berpikir (falsafah) yang ia namai ‘Kawruh Begja’. ‘Begja’ atau ‘Bejo’ dalam perspektif Suryomentaram adalah dua kata yang sama, yaitu sama-sama merujuk pada kata kondisi psikis yang Bahagia. Cara untuk mengelola Rasa Bahagia, demikian kiranya tawaran konseptual yang berhasil Suryomentaram rumuskan ketika dirinya merdeka pangupajiwanya.

Kembali ke definisi desa yang diajukan oleh Daljoeni di atas, jika Daljoeni mengimajinasikan masyarakat desa sebagai komunitas masyarakat yang hidup dengan berpangupajiwa agraris yang letaknya di luar kota. Agaknya cukup jelas tergambarkan betapa syahdunya kehidupan masyarakat di komunitas itu lewat konsepsi kawruh begja yang ditawarkan oleh Suryomentaram. 

Pulanglah ke desa

Membangun esok hari

Kembali ke huma berhati

Potongan Syair dari Umbu Landu Paranggi

Khon Kaen, 31 Mei 2022


Ilustrasi gambar: Flavia Olievira Rais