Pertempuran di Marga

“Saya bukan kompromis. Saya atas nama rakyat hanya menghendaki lenyapnya Belanda dari Pulau Bali. Kami sanggup dan berjanji bertempur terus sampai cita-cita kami tercapai. Selama tuan tinggal di Bali, pulau ini akan menjadi belanga pertumpahan darah antara kita dan pihak tuan. Sekian.”

Tubuh Termeleun –kolonel yang cerewet dan dibenci penduduk pulau itu karena sikapnya yang brutal– tersentak keras ketika membaca isi surat tertanggal 18 Mei 1946 itu. Kabut pekat telah turun. Ajakannya untuk berunding di Plaga ditanggapi dingin, sia-sia. “Rai, si “pemberontak” itu keras kepala! Ia sungguh sialan! Keparat!” kata Termeuleun, “kita akan hancur-leburkan pos-pos pertahanannya, kita akan bikin ia dan pasukannya kocar-kacir dan rata dengan tanah. Musnah. Tak bersisa.”

Malam itu, segera ia mengumumkan strateginya, ia tahu bahwa nama dan kemenangannya yang cemerlang tak berguna bila Rai melawannya, taktik bumi hangus. Selebaran segera dicetak dan disebarkan ke segenap penjuru pulau. Isinya:

“Kepada segenap penduduk Bali, serahkan Rai. Bila dalam enam bulan mendatang kalian belum juga mengabarkan, maka desa-desa akan diratakan, hukuman paling keras akan dikenakan, tak ada ampunan.”

Bagi kaum kolonial: Rai bukan hanya setan, tapi “Harimau Bali” dan seluruh dunia segera akan mengenalnya. Memang 13 Desember 1945, dunia mencatat kegagalannya yang pertama, ia merasakan situasi yang benar-benar pahit, tangsi Jepang untuk sementara tak berhasil dirampas. Tapi setelah itu, ia selalu bisa memesona para musuhnya, ia mampu memperoleh kemenangan-kemenangan penting di Gitgit, Penebel, Munduk Malang, Marga, dan lereng Gunung Agung.

November 1946, tak ada yang berubah di Bali, raja-raja masih mendukung kekuasaan kompeni, kecuali Rai dan rombongan yang telah berjalan sepanjang 400 kilometer. Melakukan perjalanan yang sulit dan bahaya. Mereka merayap, sambil menenteng senapan karatan, sepanjang sayap pesawat pembom yang terbang pada ketinggian 3000 meter di tengah terpaan angin kencang dan baling-baling yang berputar mengerikan. Mereka sembunyi-sembunyi melintasi gunung, lembah, dan bukit-bukit curam, menghindari patroli polisi, untuk menuju desa Marga.

Setelah tiga hari melakukan perjalanan panjang dan meletihkan, akhirnya sampailah mereka di Marga. Kini di hadapan mereka terhampar hutan Marga. Menjelang fajar, mereka menuju ke suatu tempat di balik punggung bukit dan menghabiskan hari pertama di sana, mereka makan dengan lahap, kemudian merebahkan tubuh dan terlelap hingga petang.

Malam itu mereka menyalakan unggunan api dan membakar jagung untuk terakhir kali.

Malam itu mereka menyalakan unggunan api dan membakar jagung untuk terakhir kali. Salah seorang dari mereka, seorang kopral yang berperawakan kecil namun bertekad besar berkata, “kita tak bisa selamanya melarikan diri.” Waktu itu jam menunjuk sekitar tengah malam. “Ya, bersiaplah, besok pagi, kita akan menghadapi tentara Belanda di sini, mungkin ini benar-benar menjadi mimpi buruk, kita akan perang sampai habis-habisan, puputan,” terdengar perintah Rai, pemimpin gerilyawan, dari luar tenda. Mendadak suasana hening kembali.

Pagi hari, mereka bangun ketika seorang penjaga meneriakkan adanya bahaya: pasukan Belanda telah mengepung desa, menggeledah rumah-rumah, dan menyiksa warga. “Sontoloyo! Bangsat orang-orang Belanda! Mereka mengira kita akan tunduk dengan cara-cara ditakuti. Tidak, di sini kita akan balas membantai,” dengan hati berang Rai mengucapkan itu.

“Lihat, mereka ada di mana-mana, mereka datang dengan puluhan truk dari Denpasar, mereka mengira kita bersembunyi di gubuk-gubuk warga. Bersiaplah semua, kita akan naik lagi jauh ke utara, kita akan menjebak mereka! Ingat, satu peluru untuk satu nyawa!” Rai –anak ningrat yang berani menentang kastanya sendiri, menolak kekuasaan “feodal” Dewan Raja, dan karena itu ia rela berseberangan dengan para kerabatnya: I Dewa Gde Taman, Cokorda Gudor, Anak Agung Bagus Suteja– memang sudah memperhitungkan Marga sebagai front terakhir. Jajaran bukit curam berbatu dengan ceruk dan pohon yang besar, sangat pas dijadikan tempat perlindungan bagi para gerilyawan.

Di sana mereka bisa melihat dengan amat jelas barisan tentara Belanda, dengan jumlah yang dilipatgandakan dari dua hari sebelumnya, memasuki desa Uma Kahang –kurang lebih tiga kilometer jauhnya. Setelah berjalan kaki beberapa lama mereka berhenti. Ketegangan hampir tak tertahankan lagi. “Tuan-tuan, kita tak dapat mengharapkan bantuan apa-apa dari orang lain, kecuali pada diri sendiri. Semua yang hidup akan mati. Kita akan mengepung mereka di sini, menang atau kalah,” kata Rai.

Tepat pukul sembilan pagi, kurang dari seratus meter, ketika pasukan musuh semakin mendekati daerah pertahanan mereka, terdengar bunyi tembakan. Ketujuh belas tentara musuh tewas hanya dalam waktu 10 menit. Penyergapan itu tak sepenuhnya berhasil, karena tiga orang berhasil lolos dan menggabungkan diri kembali dengan induk pasukannya. “Setan! Rai sangat cerdik, mereka menyerang dari perbukitan di atas desa. Menyebarlah kalian semua! Lebih cepat!” seru Konig, kapten infantri musuh, yang kedatangannya didahului oleh berita-berita yang memuja-mujanya.

Lima belas menit kemudian, kembali terjadi baku tembak. Kali ini tiga puluh tentara musuh mati dan dua puluh lagi terbirit-birit. “Pasukan mereka seperti siluman, bukan mereka bukan manusia, mereka setan! Mereka selalu bisa memukul mundur kita!” kata Konig.

“Kembali semua ke posisi-posisi pertempuran. Kali ini kita akan dapat menghancurkan Rai dan gerombolannya. Kita telah mengepungnya dan ia tak akan dapat keluar lagi. Kalian harus yakin akan hal itu. Kita akan menghujani mereka dengan granat dan mortir.” Dan sekali lagi, pasukan zeni bergerak maju. Pertempuran sengit berkobar lagi. Kali ini angkatan udara musuh bergabung dan menghujani pasukan Rai dengan bom. Menghancurkan segenap penjuru, gua tempat mereka sembunyi, tempat penyimpanan air, dan gudang senjata. Malapetaka. Dua ratus meter dari garis depan, meriam-meriam dari semua kaliber menyebarkan kematian ke tentara Rai, meleleh dalam lautan api.

Di tengah-tengah kekacauan itu, Rai tahu bahwa benteng yang dibuatnya tak akan bisa bertahan lebih dari lima jam. Ia sadar: kematian datang mengancam. Kini mayat-mayat bergelimpangan di pihaknya. Ia kehilangan banyak tentara. Tapi tetap keras kepala. Ia menolak kalah. Kemudian dengan suaranya yang tinggi, Rai berseru kepada anak buahnya, “Hayo, tembak, serang, jangan mundur satu langkah pun. Kita hanya dapat menunjukkan kepada para bedebah itu kemenangan atau kematian. Lebih baik mati berkalang tanah daripada menyerah kepada Belanda!” Suasana medan perang Uma Kahang menjadi kian panas. Suara mortir, bom, senapan bersabung dengan pekik puputan.

Suara mortir, bom, senapan bersabung dengan pekik puputan.

Sore, 20 November 1946, segera jadi senja yang muram, suara teriakan itu makin lama makin sepi lalu tak terdengar lagi, epos Rai dan pasukan Ciung Wanara berakhir. Medan Uma Kahang lengang. Rai telah gugur di sudut utara Marga di dekat bukit. Kapten Sugianyar tewas dan banyak lagi yang lain yang meregang nyawa dibabat oleh pesawat-pesawat, dikoyak-koyak oleh mortir, terbenam ke dalam darah dan baja.

Dan orang pun bertanya, di mana pangkalnya keambrukan ini. Tapi semua telah telanjur. Yang saya tahu: Pertempuran dan kematian sama-sama mengerikan entah itu di panas padang pasir Afrika atau di bukit hijau Marga. Kita, semua, akhirnya kalah.

Tapi pertempuran dan kematian bisa berbicara banyak. Yang kita tahu, satu hal yang membuat kita terkesan, pertempuran selalu bisa memberikan ilham bagi hidup yang lebih baik, bahwa mereka yang mati karena tanah air lebih besar ketimbang hidup dan mati itu sendiri. Chairil Anwar dengan sangat indah menulis hal itu dalam sajaknya.

~~~

Kami yang kini terbaring antara Karawang Bekasi

tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami

terbayang kami maju dan mendegap hati?

 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu

Kenang, kenanglah kami

 

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

~~~

 

(Chairil Anwar, Kerawang-Bekasi)

Agus Rois
Agus Rois Lahir 26 Januari 1983 di Cirebon, Jawa Barat. Pernah kuliah di Universitas Sebelas Maret, Universitas Padjadjaran, STF Driyarkara, tapi tak sampai tamat. Lalu, 2003, melanjutkan pendidikannya di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, lulus tahun 2012. Ketika masih kuliah di Yogyakarta, ia sempat aktif di badan penerbitan pers mahasiswa Balairung. Di samping menulis esai, kadang ia menulis puisi. Kini, setelah menamatkan studinya, ia menjadi penulis lepas, terkadang melakukan reportase kala senggang, sembari "ngebolang" ke pusat-pusat sejarah silam.