Tulisan Marcel Bonneff ini versi aslinya berbahasa Prancis: “Ki Ageng Suryomentaram, Prince et Philosophe Javanais,” dimuat pertama kali di Archipel 16 (1978), hal. 175–203. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Susan Crossley, “Ki Ageng Suryomentaraman, Javanese Prince and Philoshoper,” dimuat di Indonesia 57 (April 1994).

Afthonul Afif, Peneliti Kawruh Jiwa
Afthonul Afif, Peneliti Kawruh Jiwa

Versi bahasa Indonesia tulisan ini diterjemahkan oleh Afthonul Afif dari versi Inggrisnya atas izin Marcel Bonneff. Tulisan ini juga menjadi apendiks dalam buku Matahari dari Mataram, karya Afthonul Afif dan kawan-kawan. Afthonul Afif adalah seorang peneliti Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram. Dua bukunya tentang Ki Ageng Suryomentaram yaitu: Matahari dari Mataram; Menyelami Spiritualitas Jawa Rasional Ki Ageng Suryomentaram (2012) dan Ilmu Bahagia menurut Ki Ageng Suryomentaram (2012). Ia juga aktif menulis tema psikologi kebahagiaan di berbagai media massa.


ecintaan terhadap permenungan filosofis dan religius dalam kebudayaan Jawa dapat dilihat dengan jelas dalam berbagai kelompok, perkumpulan, dan gerakan-gerakan yang secara umum memiliki tujuan bersama, yaitu ingin mewujudkan pemenuhan spiritual tertentu. Namun yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa generalisasi yang berlebihan terhadap ajaran kelompok-kelompok tersebut hanya akan berujung pada risiko, yaitu terdistorsinya hakikat “spiritualitas Jawa” itu sendiri. Dengan demikian, beragam bentuk gagasan dan doktrin yang terdapat di dalamnya harus tetap dilihat dalam konteks keragamannya masing-masing.1 Tulisan ini akan membahas filsafat—atau disebut dengan “Ilmu Jiwa” (science of psyche)—dari seorang “pembangkang”, Ki Ageng Suryomentaram, dan akan menunjukkan bahwa, meski gagasan Ki Ageng Suryomentaram itu bersifat orisinal, namun ketika diletakkan dalam konteks sosialnya hal itu tetap dapat dilihat sebagai ekspresi dari mentalitas tertentu.

 

Warisan Suryomentaram

Salah seorang teman dekat Ki Ageng Suryomentaram (KAS) menceritakan bagaimana dia pernah mengusulkan kepada KAS tentang pentingnya memiliki tulisan-tulisan beliau dalam bahasa Indonesia (versi aslinya dalam bahasa Jawa) atau bahkan dalam bahasa asing, sehingga pemikiran-pemikiran filosofisnya kemungkinan akan mendapatkan pengakuan yang lebih pantas. Percakapan ini berlangsung singkat sebelum KAS meninggal dunia di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Sang Filsuf bereaksi keras. Apakah ada kondisi kecukupan bagi seseorang untuk mencari pengakuan publik? Untuk meyakinkan temannya itu, sang Filsuf melanjutkan pertanyaannya, bukankah mereka yang mengelilinginya (para pengikut) sekadar ingin meninggikan harga diri dan reputasi mereka? Demikian tanggapan sederhana yang disampaikan oleh KAS dengan penuh keyakinan—sebuah gaya kepemimpinan tanpa pamrih yang telah dia tunjukkan lebih dari tiga puluh tahun lamanya.2

Sekarang, lima belas tahun sejak kematiannya (merujuk pada akhir 1970-an), masih banyak orang yang mengenalnya. Sebagian di antaranya adalah mereka yang melanjutkan untuk menganggap dirinya sebagai Pelajar Kawruh Jiwa,3 para pengikut “Ilmu Jiwa”, sebutan yang oleh KAS sendiri tak henti-hentinya dia sematkan untuk ajaran-ajarannya, dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya. Definisi tersebut telah tercatat dalam banyak tulisan pendek, yang kadang-kadang masih dapat ditemukan di rak-rak buku di rumah-rumah orang kebanyakan dan di toko-toko buku bekas. Belakangan (merujuk pada tahun 1978) Yayasan Idayu memprakarsai penerbitan tulisan-tulisan tersebut dalam bahasa Indonesia, sehingga pembaca secara luas (terutama mereka yang bukan penutur bahasa Jawa) memiliki akses terhadap gagasan-gagasan sang Filsuf. Editor buku tersebut membandingkan gagasan KAS dengan gagasan para filsuf besar dunia, seperti Socrates, Zarathustra, dan Khrisnamurti. Namun untuk mengenalkan dimensi internasional karya KAS tersebut, bagaimanapun juga, tidak harus dengan menyembunyikan fakta bahwa penerbitan ini bersumber dari naskah aslinya (yang berbahasa Jawa), sehingga pesan utama dari karya tersebut tetap dapat dipahami, yakni hendak menampilkan wawasan tentang eksistensi (manusia) yang diilhami oleh tradisi Jawa (Javanism). Anak tertua sang Filsuf, Dr. Grangsang Suryomentaram, memutuskan untuk melanjutkan memimpin gerakan Kawruh Jiwa (atau Kawruh Beja, “Ilmu Kebahagiaan”) dengan didasari oleh alasan-alasan di atas, meski alasan utamanya adalah untuk menjaga ingatan masyarakat tentang peninggalan (pemikiran) ayahnya. Akhir-akhir ini (merujuk pada tahun 1978-an—penerj.) sejumlah artikel yang ditulis olehnya dan oleh teman-teman ayahnya di masa-masa akhir hidup KAS yang mengisahkan hidup dan karya beliau telah diterbitkan oleh penerbit. Namun dalam tulisan-tulisan ini, peringatan KAS tentang bahaya dari “hagiografi” nampaknya belum sepenuhnya dipahami.4 Untuk mengingat kembali gagasan-gagasan filosofis KAS, dicantumkan pula tulisan-tulisan yang merujuk pada peran penting KAS sebagai seorang nasionalis, disebutkan secara jelas keterlibatannya dalam Paguyuban Selasa Kliwon—sebuah perkumpulan patriotik yang kemudian menginspirasi lahirnya gerakan pendidikan Taman Siswa—begitu juga perannya sebagai pendiri PETA dan ceramah-ceramahnya dalam mendukung nasionalisme seperti yang dia sampaikan setelah kemerdekaan RI. Ketertarikan baru terhadap sosok ini, yang telah melalui sejarah masa kini (merujuk pada paruh pertama abad ke-20—penerj.) tanpa pernah menampilkan diri di baris terdepan panggung politik, nampaknya mengisyaratkan bahwa dia memiliki pengaruh moral yang patut diperhitungkan.5

Kekecewaan Sang Pangeran

Dalam upaya untuk menampilkan riwayat hidup KAS serta menjelaskan perannya secara bersamaan, seseorang akan dihadapkan pada keterbatasan dan ketidakjelasan sumber informasinya, sebab cerita kehidupannya sering kali ditampilkan dengan penuh kiasan-kiasan.6 Lahir pada 20 Mei 1892 di Keraton Yogyakarta, KAS adalah anak ke-55 dari total 79 anak Sultan Hamengku Buwono VII. Ibunya, B.R.A. Retnomandoyo, adalah istri dari golongan kedua (garwo ampéyan) Sultan, anak perempuan Patih Danurejo VI. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Sekolah Keraton Srimenganti, dia kemudian mengikuti ujian untuk Klein Ambtenaar (pegawai sipil junior), yang kemudian mengantarkannya menjadi tenaga administratif di Residen Yogyakarta—untuk mengisi posisi tersebut dia harus belajar bahasa Belanda selama dua tahun. Dia juga belajar bahasa Arab untuk kelas pelajaran agamanya, dan kemudian bahasa Inggris untuk menutupi kekurangan dalam pendidikan formalnya. Dia menunjukkan hasrat belajar yang sungguh luar biasa.

Pada usia 18 tahun dia diangkat menjadi seorang pangeran, sehingga kemudian mengubah namanya dari Bendoro Raden Mas Kudiarmaji menjadi Bendara Pengéran Harya Suryomentaram.

Hanya sedikit sumber yang diketahui tentang masa-masa awal kehidupannya. Suatu hari dia menceritakan betapa dirinya terperangah menyaksikan lewat jendela kereta api jenis pekerjaan yang dapat menyebabkan sakit punggung yang dilakukan oleh para petani sewaktu dia akan menghadiri upacara perkawinan di Keraton Surakarta. Sementara orang lain mengalami penderitaan yang begitu berat, dia dan orang-orang sepertinya malah menikmati kemewahan hidup tanpa perlu bersusah-payah mendapatkannya karena telah membawa keistimewaan-keistimewaan tertentu semenjak lahir. Akan tetapi, sebagaimana diungkapkan Prawirowiworo, teman terdekat sang Pangeran, apakah para petani tersebut tidak lebih bahagia ketimbang sang Pangeran, yang hanya bisa meratapi dirinya sendiri ketimbang mengasihani mereka, karena setidaknya para petani tersebut sudah merasa puas dengan sawah yang mereka miliki. Prawirowiworo (meninggal pada 1960) adalah teman karib sang Pangeran, teman tertua dan terdekat yang dia miliki. Keduanya merupakan saudara sepupu, tetapi status Prawirowiworo jauh lebih rendah dibanding dirinya. Dia hanyalah abdi dalem yang dipekerjakan sebagai pelayan di istana Sultan.

Di satu sisi ada seorang pangeran yang berkelimpahan kehormatan dan kekayaan, sementara di sisi lain ada abdi dalem yang menerima gaji begitu rendah, yang baru saja mengajukan diri untuk dibebaskan dari tugas-tugasnya. Kedua laki-laki itu sedang dirundung ketidakpuasan hidup karena sampai sekarang mereka merasa belum pernah “bertemu dengan orang” (saprana-saprene aku kok durung tau pethuk wong); sang Pangeran hanya tahu tentang tuan-tuannya dan kekecewaan-kekecewaan mereka. Hidup yang terkungkung itulah yang dia rasakan sebagai penyebab utama mengapa dia merasakan ketidakpuasan hidup. Untuk mengatasi kondisi tersebut, dia kemudian sering pergi meninggalkan keraton untuk mengembara mengunjungi sejumlah tempat yang dia yakini dapat membawa keberuntungan (seperti Goa Langse atau Goa Cermin, Pantai Parangtritis, dan makam-makam keramat). Prawiro, yang tugas-tugasnya telah banyak berkurang, juga mengawali pengembaraan serupa. Mereka berdua kemudian saling berbagi cerita satu sama lain tentang pengalaman-pengalaman menarik yang mereka peroleh. Kadang-kadang mereka menenggelamkan diri dalam doa-doa, dan di lain waktu mereka mengunjungi para pemimpin agama untuk membicarakan dan belajar tentang hal-hal yang terkait dengan hakikat agama dan (pengalaman) mistik.

Pengawal sang Pangeran menjadi khawatir, sebab sang Pangeran mulai meyakini bahwa kepemilikan materi dapat menjadi penghambat untuk mencapai kebahagiaan. Dia kemudian memberikan cuma-cuma semua kekayaan pribadinya. Salah seorang pangeran yang paling kaya di Yogyakarta tiba-tiba memberikan mobilnya kepada sopirnya dan memberikan kudanya kepada tukang kudanya. … Selanjutnya, suatu hari dia meninggalkan keraton. Dengan mengenakan pakaian layaknya seorang pedagang dan menggunakan nama Notodongso, dia pergi ke Cilacap untuk berjualan batik. Ayahnya, Sultan Hamengku Buwono VII, mengutus orang untuk mencarinya. Para utusan itu kemudian menemukan sang Pangeran di daerah Kroya dan berhasil membujuknya untuk kembali ke keraton.

Peristiwa-peristiwa tersebut terjadi ketika sang Pangeran menginjak usia 20 tahun, menjelang tahun 1920, tahun ketika Residen Jonquiere mengirim surat resmi kepada Gubernur Jenderal bersamaan dengan sebuah salinan untuk Suryomentaram agar dia segera mengumumkan gelar pangerannya. Namun dia meminta ayahnya untuk membatalkan pengangkatan tersebut, meski oleh sang ayah permintaan tersebut ditolak, seperti permintaan sebelumnya ketika dia ingin menunaikan ibadah haji ke Mekkah.7 Di tahun-tahun itu, sebagaimana dituturkan oleh penulis biografinya, Suryomentaram benar-benar sedang dirundung kebingungan: beberapa bulan dia terlihat di rumah kakeknya, Patih Danurejo, yang baru saja diberhentikan dari tugas-tugasnya, sementara ibunya juga diceraikan oleh Hamengku Buwono VII, dan akhirnya peristiwa yang paling menggetarkan adalah ketika istrinya meninggal dunia tepat setelah melahirkan anak laki-laki mereka.

Pada 1921 Sultan Hamengku Buwono VII turun tahta dan penerusnya, Hamengku Buwono VIII, mengizinkan Suryomentaram untuk meninggalkan istana. Sang Pangeran menolak menerima tunjangan hidup yang ditawarkan oleh Belanda dan malah menerima tunjangan pensiun yang jumlahnya jauh lebih kecil yang diberikan oleh keraton kepadanya. Dengan hanya memiliki sedikit kekayaan, dia lantas meninggalkan keraton dan memilih tinggal di Desa Bringin, dekat Salatiga, di mana dia kemudian membeli tanah. Dia memulai hidup sebagai seorang petani, seperti (umumnya) para penduduk asli yang dia lihat sedang bekerja di sawah mereka. Pada 1925 dia menikah lagi dan reputasinya mulai tumbuh. Ki Gedhe (atau Ageng) Bringin8 adalah pribadi yang eksentrik. Beberapa orang memercayainya sebagai dukun dan mereka datang kepadanya untuk meminta nasihat atau bantuan. Telah lama dia menanggalkan jubah kebesarannya dan memilih menggunakan celana pendek dan sabuk kulit yang umum dipakai oleh petani waktu itu. Dia bepergian dengan telanjang kaki dan di lehernya melingkar sepotong kain batik dengan motif parang rusak barong, motif yang juga masih dipakai oleh para penguasa atau bangsawan. Bahasa tubuhnya mengindikasikan ketidakpuasan tertentu; mirip dengan semangat yang ditunjukkan Suwardi Suryaningrat di tahun-tahun awal ketika dia dan pembantunya juga mengenakan jenis kain yang sama ketika pergi ke kota.9 Suryomentaram lagi-lagi dipandang sebagai sosok yang telah memicu penasaran orang lain karena baju yang dia pakai dan perilaku aneh yang dia tunjukkan ketika mengunjungi makam ayahnya di Imogiri (1931). Sewaktu acara berlangsung, mantan anggota keluarga dan juga teman-temannya menduga bahwa dia gila; mereka kemudian menyingkir darinya, tetapi Suryomentaram malah menakut-nakuti mereka.

Suatu hari, dengan memakai celana pendek dan telanjang kaki, ketika dia hendak naik ke dalam bus, dia (tiba-tiba) dimintai tolong (oleh penumpang lain) karena dianggap sebagai seorang kuli panggul: seorang penumpang memberikan kopernya kepada Suryomentaram, lalu Suryomentaram mengambilnya dan dengan hati-hati membawakan koper itu…. Itulah awal pencariannya atas rasa takut terhadap hal-hal yang (dianggap) memalukan dari seorang pengembara yang jujur. Begitulah Suryomentaram, atau begitulah kisah-kisah yang diceritakan orang tentangnya:10 sosok laki-laki yang lebih perhatian kepada orang lain dibanding kepada dirinya sendiri. Dia senantiasa memiliki kesadaran tentang dirinya, bahwa dia dapat melihat tindakannya yang memalukan itu dari ketidaknyamanan orang lain.

Namun pada kenyataannya, Ki Ageng tidak pernah putus asa dalam mencari sosok ‘Manusia’ yang sejati. Suatu malam pada 1927 dia membangunkan istrinya dan berkata, “Aku telah menemukan apa yang aku cari… adalah Suryomentaram yang kecewa; dia adalah seorang pangeran yang kecewa, pedagang yang tidak pernah puas, dan petani yang selalu kecewa; dia adalah sumber dari ketidakpuasan (tukang ora puas). Namun dia telah ketahuan (konangan). Mulai sekarang, aku akan selalu menemukan orang yang memakai nama Suryomentaram.” Jika keterangan Dr. Grangsang dipercaya, hal inilah yang kurang lebih Ki Ageng katakan kepada istrinya yang tertidur di sampingnya. KAS telah menemukan sumber-sumber masalahnya: kebingungan antara diri yang aktif dan diri yang pasif. Dalam diri yang pasif inilah seseorang menjadi mampu, dengan sekian risiko, mengakui dan merawat sesuatu dalam dirinya sendiri sehingga dapat mengatasi cobaan-cobaan atau godaan-godaan yang bersumber dari kehidupan sehari-hari, dan dapat meraih “kebahagiaan sejati”. “Apa yang telah aku cari, dan gagal aku temukan, adalah konsep tentang orang (gagasan wong) yang hanya eksis dalam angan-anganku.”11 Ilmu Kebahagiaan (Kawruh Beja) telah lahir. KAS kemudian menceritakan kepada sahabatnya, Ki Prawiro, orang pertama yang menerima kebenaran tersebut, dan kemudian diikuti oleh para pengikut lainnya, yang dari waktu ke waktu jumlahnya semakin bertambah.

Ki Ageng segera bergabung sebagai tenaga sukarela, namun pemerintah militer dengan cepat mengambil alih perekrutan dan pelatihan serdadu yang kemudian melahirkan apa yang kita kenal sebagai PETA (Pembela Tanah Air).

Nampaknya relevan sekarang untuk mempertimbangkan aspek-aspek karier KAS dalam kegiatan politik. Namun untuk melakukannya, kita terlebih dulu perlu menengok kembali ke tahun-tahun 1921–1922. Pada waktu itu dia adalah pemimpin Paguyuban Selasa Kliwon, perkumpulan yang mengambil nama dari hari di mana pertemuan mereka diselenggarakan. Sudah umum diketahui bahwa kelompok ini merupakan penggagas berdirinya Gerakan Taman Siswa.12 Terdapat sembilan priyayi (dalam perkumpulan tersebut), masing-masing di antara mereka yang mesti disebut adalah Suwardi (Ki Hajar Dewantoro), Prawirowiworo, B.R.M. Subono (saudara termuda KAS), dan Pronowidigdo. Beberapa di antara mereka, seperti Ki Hajar atau Pronowidigdo,13 kemudian memiliki kesempatan untuk mengumumkan nasionalisme mereka, misalnya melalui partisipasi mereka dalam Budi Utomo. Meski paguyuban tersebut berjalan di jalur “masyarakat kebatinan”,14 namun tujuan mereka secara jelas sudah terdefinisikan, yakni pembebasan, dalam pengertian memenangkan kemerdekaan RI. Namun pada tahun 1922, kelompok ini dibubarkan setelah dicapai kesepakatan bahwa pembebasan (yang sesungguhnya) baru dapat diraih melalui pengembangan di berbagai aspek pendidikan dan menumbuhkan kesadaran nasional di kalangan orang-orang Indonesia. Menyelenggarakan pendidikan formal merupakan salah satu yang terpenting. Ki Hajar Dewantoro kemudian mendirikan Taman Siswa dan menyelenggarakan pengajaran untuk pertama kalinya pada 3 Juli 1922. Namun, perhatian Taman Siswa lebih ditujukan kepada generasi muda. Sementara KAS sendiri kemudian mendapat bagian untuk melakukan bimbingan dan pembinaan kepada orang-orang dewasa.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1930, KAS bersama sejumlah temannya mendirikan Pakempalan Kawula Ngajogjakarto yang diketuai oleh Pangeran Suryodiningrat. Perkumpulan ini merupakan sebuah gerakan yang kepentingan sosial dan kemanusiaannya lebih besar ketimbang tujuan-tujuan politiknya. Perkumpulan ini, yang dikomandoi oleh Pangeran Suryodiningrat dan sejumlah priyayi terpelajar, setelah mendapat restu dari Hamengku Buwono VIII, merumuskan sebuah tujuan untuk meningkatkan standar hidup para petani yang bekerja untuk kesultanan. Hingga pecah Perang Pasifik, PKN dan sejumlah organisasi yang lahir saat itu—yang juga melakukan pendampingan untuk menciptakan otonomi dan demokratisasi pada administrasi kesultanan—mengambil inisiatif-inisiatif yang sangat populer waktu itu dengan membela kepentingan para petani miskin di berbagai tingkatannya,15 misalnya dengan mendirikan koperasi-koperasi pertanian dan pabrik-pabrik lurik, mengusulkan perubahan sistem perpajakan, dan mengurangi angka buta huruf. Pada 1931, PKN bergabung dengan organisasi-organisasi seperti PPPPA dan PPII untuk melawan praktik-praktik kekerasan dan perdagangan perempuan dan anak-anak. Pada 1932 bersama sejumlah kelompok, seperti Budi Utomo, Taman Siswa, dan Muhammadiyah, PKN memprotes kebijakan Wilde Scholen Ordonnantie.16 Pada pertemuan yang diadakan tahun 1932, Ki Hajar Dewantoro melontarkan gagasannya tentang pendidikan dan Ki Ageng menyampaikan prinsip-prinsip “Ilmu Kebahagiaan”, ajaran yang memberi penekanan pada fakta bahwa semua manusia pada dasarnya mencari kesejahteraan psikologis yang sama, di mana dampak dari pengalaman tersebut kemudian akan membuat mereka mampu melihat semua orang dalam kedudukan yang sama.

Ketika Jepang terlibat dalam perang KAS dan 13 nasionalis, yang kemudian dikenal dengan Manggala 13,17 merencanakan tindakan-tindakan tertentu andaikata pecah pertempuran antara Belanda dan Jepang (Pembebas Asia) di bumi Indonesia. Tetapi ternyata Jepang dengan mudah menaklukkan Jawa tanpa perlawanan berarti dari pihak Belanda. Pendudukan Jepang ini menarik perhatian KAS dan memengaruhi aktivitas-aktivitas (politik) KAS, yang kemudian berujung pada kecurigaan Belanda terhadapnya. Perwakilan Jepang segera menemuinya melalui Asano (anggota Dinas Rahasia) dan KAS menyampaikan ucapan terima kasih karena tentara Jepang telah membebaskan rakyat Indonesia dari kolonialisme Belanda. KAS kemudian mengusulkan agar dia dan teman-temannya diberi pelatihan militer yang memadai sebagai bekal untuk berperang bersama Jepang. KAS juga merumuskan prinsip-prinsip ilmu perang yang kemudian dia sebut sebagai “Jimat Perang”, sebuah keberanian kemiliteran atau tidak dimilikinya rasa takut untuk menghadapi kematian dalam peperangan. Dia diundang ke Jakarta untuk berbicara di radio dan diberi kewenangan untuk menyelenggarakan pertemuan serta menyebarkan gagasannya tersebut. Melalui bantuan Mr. Sudjono, pada 1943 di Jakarta dia bertemu dengan para nasionalis yang dipercaya oleh Jepang, yakni Soekarno, Hatta, K.H. Mas Mansur, dan Ki Hajar Dewantoro, yang juga dikenal sebagai “Empat Serangkai”. Dalam pertemuan tersebut KAS menganjurkan Soekarno untuk mengadopsi gagasan Jimat Perangnya itu, dan dalam berbagai kesempatan mereka (para pemimpin nasionalis itu) bersedia mempopulerkannya.

Namun Jepang belum yakin dengan kemampuan rakyat Indonesia dalam membentuk semacam kesatuan militer—penolakan resmi disampaikan langsung oleh Gubernur Militer Jepang untuk Yogyakarta, Kolonel Yamanuchi, terhadap permintaan KAS dan kawan-kawannya untuk membentuk kesatuan tersebut. Dalam situasi seperti ini, Asano kemudian bersedia membantu, namun KAS dan kawan-kawan harus membuat permohonan kepada Kaisar Jepang, baru kemudian Asano sendiri yang akan menyampaikan secara langsung permohonan tersebut kepada sang Kaisar. KAS kemudian mengajak delapan kawannya (Ki Suwarjono, Ki Sakirdanarli, Ki Atmosutidjo, Ki Pronowidigdo, Ki Prawirowiworo, Ki Darmosugito, Ki Asrar Wiryowinoto, dan Ki Atmokusumo (disebut dengan “Manggala Sembilan”—penerj.) untuk membuat petisi yang ditandatangani dengan darah mereka. Di luar dugaan mereka, otoritas Jepang di Tokyo segera menyetujui permohonan tersebut. Ki Ageng segera bergabung sebagai tenaga sukarela, namun pemerintah militer dengan cepat mengambil alih perekrutan dan pelatihan serdadu yang kemudian melahirkan apa yang kita kenal sebagai PETA (Pembela Tanah Air).

Versi tentang asal-usul berdirinya PETA ini (sebuah organisasi yang telah memainkan peran penting dalam perjuangan mencapai kemerdekaan RI dan merupakan tulang punggung bagi terbentuknya Tentara Nasional Indonesia) disampaikan oleh Dr. Grangsang.18 Pendapat senada juga disampaikan oleh Ki Prono dan Ki Asrar Wiryowinoto, dua orang yang juga menandatangani petisi.19 Namun, sekalipun konsep tentang Jimat Perang itu pada kenyataannya diinspirasi oleh KAS, masih sering muncul keraguan tentang pengaruhnya terhadap peristiwa-peristiwa penting di negeri ini dan peran petisi tersebut; di berbagai kesempatan kesimpulan ini disampaikan oleh S. Wirjosoedojo—salah seorang teman lama KAS—yang mempertanyakan versi ini karena dia tidak dapat memperoleh konfirmasi langsung dari Hatta tentang apakah pertemuan antara KAS dengan empat sekawan itu20  memang benar-benar pernah terjadi. Kebenaran informasi tersebut masih menjadi tanda tanya meski sudah banyak tulisan tentang persoalan ini, baik yang ditulis oleh sejarawan maupun orang yang menyaksikannya langsung; salah satunya adalah kesaksian yang disampaikan oleh Gatot Mangkupraja, tokoh yang juga sering disebut sebagai penggagas berdirinya organisasi tersebut.21 Namun seperti apa kebenarannya, hal ini masih menimbulkan perdebatan terbuka.

Meskipun informasi yang disampaikan oleh Dr. Grangsang tersebut masih bisa diperdebatkan, namun tetap penting kiranya melihat peran dan sosok KAS dalam perjuangan meraih kemerdekaan RI dan sebagai seorang nasionalis yang gigih. Salah satu informasi yang telah umum diketahui adalah keikutsertaannya dalam sebuah kesatuan pasukan yang bernama “Kesatuan Rakyat Jelata” dalam pertempuran melawan Belanda di dekat Yogyakarta selama periode 1947–1949.

Untuk mencapai kedamaian, KAS meninggalkan rumah dan sawahnya di Bringin dan memutuskan kembali lagi ke Yogyakarta, tempat di mana dia kemudian mengabdikan hidup sepenuhnya untuk mengembangkan ajaran-ajaran filosofisnya hingga kematian menjemputnya pada usia ke-70. Melalui sebuah telegram, Presiden Soekarno mengirim ucapan belasungkawa, dan atas nama negara memberikan penghargaan yang setulus-tulusnya untuk semua jasa Ki Ageng semasa hidupnya.22

Bersambung…

Baca juga:

Ki Ageng Suryomentaram: Pangeran dan Filsuf dari Jawa (1892–1962) Bagian II

Ki Ageng Suryomentaram: Pangeran dan Filsuf dari Jawa (1892-1962) Bagian III

Ki Ageng Suryomentaram: Pangeran dan Filsuf dari Jawa (1892–1962) Bagian IV – Habis


Sumber foto: Foto keluarga Ki Ageng Suryomentaram, Falsafah Hidup Bahagia Wejangan Ki Ageng Suyomentaram, 2017.

Catatan Kaki:

1. Dalam kajian ini, Archipel 4 (1972) telah memuat sebuah studi tentang Gerakan Pangestu (Pangestu Movement) yang ditulis oleh Indrakusuma.

2. S. Wirjosedojo, “Sapa kang ngedegake PETA?” dalam Mekar Sari 19: 17 (1 November 1975), hal. 13–14.

3. Kata-kata atau kutipan dalam tulisan ini menggunakan bentuk baru dalam sistem ejaan, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa. Dalam bahasa Jawa penggunaan huruf ganda dh dan th merujuk pada penggunaan lama. Meski begitu, untuk nama-nama dan judul-judul buku tertentu masih menggunakan sistem ejaan lama. Hanya dalam konteks penyebutan nama KAS, penulis menggunakan sistem ejaan baru, yaitu Suryomentaram, dari Soerjomentaram dalam ejaan lamanya.

4. Sumber-sumber untuk tulisan ini dibuat ketika peristiwa-peristiwa yang dijelaskannya tengah terjadi. Karya lengkap KAS dapat ditemukan di akhir tulisan ini.

5. Sebagai contoh B. R. O. G. Anderson dalam sebuah studinya yang begitu detil tentang peristiwa-peristiwa politik pada periode 1945–1946, yang mengambil latar di sebagian besar wilayah Yogyakarta, sama sekali tidak menyebut Suryomentaram (Ithaca: Cornell University Press, 1972).

6. Sebagian dapat dilihat dalam tulisan Dr. Grangsang Suryomentaram yang dimuat di sebuah surat kabar Jakarta, Berita Buana, “Riwayat Singkat Ki Ageng Suryomentaram” (24 dan 25 Juli 1975) dan “Rahasia di Balik Pembentukan Tentara Pembela Tanah Air (PETA)” (19 Juli 1975); karya-karya Ki Atmosutidjo, Gandulan kangge kontja-kontja peladjar Kawruh-djiwa; tulisan Kiai Pronowidigdo, “Riwajatipun Kawruh Djiwa,” dimuat di Buku Peringatan…. (cf. bibliografi). Ada juga sebuah biografi yang ditulis oleh Ki Djojodinomo, tetapi belum digunakan dalam tulisan ini. M. Agus Suwito dan Dr. Grangsang Suryomentaram dengan ramah mengizinkan penulis menggunakan sejumlah dokumen, untuk itu terima kasih kepada Dr. Grangsang dan Ki Haditomo atas informasi yang mereka berikan kepada penulis (wawancara Mei 1975).

7. Dokumen tertanggal 21 Agustus dan surat KAS 14 Agustus 1921 (Mailrapport No. 948 Geheim/1920; verbaal date 6-1-21, No. 18). Dalam suratnya, Residen menyebut bahwa KAS menolak pengangkatannya sebagai pangeran. Penulis juga berhutang kepada Mr. Kenji Tsuchiya yang membuat dokumen tersebut tersedia baginya. Dokumen ini juga relevan dengan penelitian Mr. Tsuchiya tentang sejarah gerakan Taman Siswa; lihat: “The Taman Siswa Movement: Its Early Years and Javanese Background,” dalam Journal of Southeast Asian Studies 6: 2 (1975), hal. 164–77.

8. Suryomentaram bermakna “Matahari dari Mataram”. Ki adalah istilah yang digunakan untuk menyebut laki-laki yang sudah tua dari kelas pekerja/bawah dan juga atas kebijaksanaan yang dimiliknya (nyi digunakan untuk perempuan; seperti kiai dan nyi, dua kata yang memiliki konotasi Islam). Gedhe atau Ageng bermakna “Besar”. Beberapa orang (nyata atau legenda) dalam sejarah Jawa memiliki sebutan serupa: Ki Ageng Sela, Ki Ageng Pamenahan, dan lain-lain.

9. Cf. Pranata, Ki Hajar Dewantara Perintis Perdjuangan Kemerdekaan Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1959), hal. 36.

10. Wawancara dengan Ki Haditomo.

11. Cf. tulisan Grangsang S. dan Ki Atmosutidjo.

12. Pada titik ini, lihat: Suratman, “Masalah Kelahiran Taman Siswa,” dalam Pusara 25: 1–2 (1964); Kenji Tsuchiya, “The Taman Siswa Movement,” hal. 166–177.

13. Ki Pronowidigdo (Prono) meninggal dunia di Yogyakarta pada usia 96 tahun (lihat Mekar Sari 1, 1976). Seorang guru terlatih dan nasionalis yang gigih, dia adalah salah seorang di antara anggota Budi Utomo dan juru bicaranya di Yogyakarta sekitar 1920-an. Dia secara dekat dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan KAS dan Ki Hajar Dewantoro; dia juga adalah salah seorang pendiri Taman Siswa; sampai akhir hidupnya dia adalah sosok penasihat yang begitu dihormati. Perlu juga disebut bahwa Ki Prawirowiworo merupakan anggota dari panitia pembentukan Taman Siswa.

14. Kebatinan dapat diterjemahkan sebagai “kehidupan spiritual”. Banyak masyarakat dan kelompok kebatinan yang eksis di Jawa dengan anggota yang dianggap memiliki pengetahuan tentang “diri sejati”, elemen mendasar dalam pencarian terhadap yang Absolut. Secara umum, gagasan filosofisnya dipinjam dari sejumlah prinsip dari agama-agama India dan atau mistisisme Islam, yang sering diekspresikan dalam istilah-istilah yang bersifat esoteris. Aspek praktisnya meliputi meditasi dan latihan-latihan kontemplatif, bahkan asketisme. Tetapi, konsep kebatinan (atau Kejawen sebagaimana disebut dalam bahasa Jawa) mungkin merujuk pada berbagai pendekatan, beberapa di antaranya mengklaim bersifat ilmiah. Namun umumnya setiap pendekatan kebatinan tersebut menekankan pada konsep utama yang sama, yakni tentang keutuhan psikologis.

15. Pada 1938 PKN memiliki anggota 253.218 (30.471 adalah perempuan), hampir semua anggotanya adalah petani (90%). Organisasi lainnya adalah Pakempalan Kawula Surakarta (berdiri 1932), Pakempalan Kawula Mangkunegaran (1933), dan Pakempalan Kawula Pakualaman; lihat Ensiklopedi Indonesia, hal. 926–27.

16. Sebuah keputusan pemerintah kolonial yang memperkuat kontrol terhadap sekolah-sekolah lokal dan membatasi jumlahnya. Untuk melihat aktivitas PKN, lihat buku yang diterbitkan untuk merayakan delapan tahun kelahirannya (satu windu): Boekoe Pengetan Windon Pakempalan Kawoela Ngayoegyakarta (PKN), 1930–1938, (ed. PKN: 1938), 103 halaman. Selama pendudukan Jepang dan setelah kemerdekaan, pendiri organisasi ini, Pangeran Suryodiningrat, muncul sebagai seorang guru spiritual yang sangat disegani di mana setiap pertemuan yang diselenggarakannya selalu diikuti oleh pengikut dalam jumlah besar. Namun PKN kembali menjadi sebuah kekuatan politik pada 1951, menjelma menjadi Partai Gerinda, yang menurut Selosoemardjan (1955) adalah partai yang “mengikuti jalan mistisisme, yaitu kesatuan antara manusia dan Tuhan, yang menjelma di dunia ini dalam bentuk kesatuan antara kawula dengan Raja, yang dalam konteks Gerinda adalah kesatuan antara anggota partai dengan presiden partai.” Social Changes in Jogjakarta (Ithaca: Cornell University Press, 1962), hal. 188–89.

17. Manggala adalah doa di permulaan sebuah syair. Kata ini juga memiliki konotasi “garda depan”. Di antara 13 anggotanya, menarik untuk disebut kembali sosok Ki Hajar, Ki Prono, dan Suryodiningrat, bersama dengan Radjiman Wediyodiningrat, Sutopo Wonoboyo (salah seorang pendiri Taman Siswa), dan lain-lain (Berita Buana, 25 Juli 1975).

18. Berita Buana, 19 Juli 1975.

19. “Sapa kang ngedegake PETA?” dalam Mekar Sari 19: 15 (1 Oktober 1975).

20. Wirjosoedojo, “Sapa kang ngedegake PETA?” dalam Mekar Sari 19: 17 (1 November 1975).

21. Lihat: Nugroho Notosusanto, The Peta-Army in Indonesia, 1943–1945 (Departemen Pertahanan dan Keamanan, Centre for the Armed Forced History, 1971), 23 halaman; Raden Gatot Mangkupradja, “The Peta and My Relationship with the Japanese: A Correction of Soekarno’s Autobiography,” dalam Indonesia 5 (April 1968). Menarik juga untuk dicatat bahwa Gatot (meninggal pada 1968) mengklaim telah diminta untuk membubuhkan tanda tangan darah juga.

22. Lihat: Kus Sudyarsana, “Kawruh Bedja,” dalam Mekar Sari 6: 3 (1 April 1962). KAS dikebumikan di samping makam ibunya di pemakaman trah Nitinegaran, di Kanggotan (sekitar 7 km ke arah selatan dari Yogyakarta, dekat dengan Kerto, kota kuno yang menjadi ibu kota kerajaan di era Sultan Agung).

Marcel Bonneff
Pernah menjadi dosen bahasa Prancis di Universitas Gadjah Mada, dan tercatat sebagai ahli pada Lembaga Penelitian Ilmiah Nasional (CNRS) untuk area penelitian sejarah Jawa. Disertasinya tentang latar cergam Indonesia diterbitkan di Paris pada 1976.