Bukan Pring Sedhapur

Jika ada yang bisa membunuhku saat ini, itu bukanlah racun atau belati. Racun akan menyiksaku sebentar dan belati akan segera menembus jantungku atau memotong nadiku sebelum diriku bertemu Sang Hyang Yamadipati. Semua itu tidak ada artinya dibandingkan dengan diamnya Rara Hening. Ia tahu cara menyiksaku dengan sakit. Tidak ada yang membuatku lebih tersiksa dan mati pelan-pelan selain dengan diamnya.

“Ning, boleh ya aku memakai rumahmu untuk lokasi syuting?”

“Ning, aku sudah nyari ke mana-mana, tapi belum ada yang cocok. Ning, please.”

“Ning, tolong, maafkan aku.”

Centang dua berwarna biru menandakan kalau dia sudah membaca pesanku. Pesan yang hanya dianggurkan, tidak berbalas. Tapi dia juga tidak memblokirku. Dia memilih hening, seperti namanya.

Aku hampir gila. Thathit, temanku sudah mendesakku untuk segera mendapatkan lokasi syuting untuk produksi film tugas akhir kami. Kami harus mencari rumah joglo dengan latar yang luas,tapi pekarangan rumahnya masih tanah plus yang aman audio. Aku sudah mencari ke Sondakan atau Sukoharjo namun nihil. Ada yang cocok rumahnya, penghuninya tidak berkenan, ada yang komunikasinya enak, rumahnya tidak cocok. Aku sudah menawarinya untuk memakai Ndalem Jimatan, tapi Thathit tidak mau. Katanya Ndalem Jimatan bukan joglo, dan lebih ke bangunan kolonial. Kami akan membuat film tentang Nyi Beruk, istri Paku Buwana III yang melarikan diri karena tidak mau dimadu yang akhirnya malah membuat batik truntum.

“Lu, kenapa tak memakai rumah Hening saja?” pertanyaan Thathit membuatku menyemburkan kopi yang baru saja kuminum.

“Rumah Hening? Yang benar saja?” jawabku spontan.

Why not? Semua yang kita cari ada di sana. Dari empat sudut rumahnya sudah memenuhi syarat, plus lokasinya ada di Kampung Batik Laweyan, masih di Solo saja, tidak harus ke luar kota. Apalagi kamu sudah mengenal keluarganya kan?”

Rasanya aku ingin merebut rokok Thathit dan membuat tangannya seperti asbak. Yang benar saja, aku harus menghubungi Hening dan lebih gila lagi, meminta izin memakai rumahnya. Aku menggeleng. Big no. Ora banget. Tidak.

“Ayolah, Jalu, lupakan dulu gengsimu. Aku sudah hampir putus asa dengan semua ini,” Thathit masih kukuh membujukku.

“Thit, kita cari opsi lain dulu ya,” aku menutup perbincangan kami dengan tetap tidak mau menuruti kemauan Thathit.

***

Aku menunggunya selesai mengantar para peziarah di Makam Ki Ageng Henis. Sambil menunggunya keluar aku duduk di serambi Masjid Laweyan. Memandang lubang angin di masjid yang dulunya pura ini, aku jadi teringat obrolan kami dulu.

“Mas Jalu, coba lihat lubang angin itu? Persis kan seperti masjid-masjid di Gujarat? Ah sayang Mas Jalu tidak suka nonton film India. Coba lihat video klip Tujh Mein Rab Dikhta Hai di film Rab Ne Bana Di Jodi, itu ada Anushka Sharma yang mengikat tali doa di masjid sufi. Di film India kan sering ada adegan orang mengikat tali doa di lubang angin seperti ini,” dia mengambil benang yang dibawanya dan diikat di lubang angin itu.

“Kamu juga berdoa tadi?” tanyaku.

“Iya dong,”

“Doa apa?”

“Hmm…moga kita hubungan kita bisa berlanjut dalam ikatan suci.”

Aku tidak ingat apakah aku mengaminkan doanya waktu itu. Yang jelas tali doa tersebut sudah tidak ada. Mungkin dilepas olehnya atau diambil orang karena mengganggu pemandangan. Ikatan kami pun sudah tidak ada bekasnya. Lepas. Hilang. Tepatnya, aku yang melepasnya.

Aku melihat rombongan peziarah keluar dari makam. Setelah berkumpul dan mendengar arahan dari perempuan berbaju putih dan bersarung batik di dekat gerbang makam, mereka membubarkan diri. Dari tadi dialah yang kutunggu.

“Ning…,” kuhampiri dia, tidak ada tanggapan. Aku serupa angin lalu yang tidak dianggapnya sama sekali. Seakan aku tidak terlihat.

Dia benar-benar melewatiku begitu saja dan berjalan kaki meninggalkan area masjid. Aku mengikutinya.

“Ning, bisa ngomong sebentar?” aku masih berusaha mendapatkan perhatiannya. Dia tetap tidak menggubrisku sampai langkahnya melewati jembatan depan masjid dan menuju rumahnya. Aku pun masih mengikutinya berjalan menuju gang-gang ke rumahnya.

Mau tidak mau ingatanku terlempar ke masa lalu. Pertama kali melewati gang-gang sempit di Kampung Batik Laweyan ini aku sudah jatuh cinta dengan arsitektur rumah-rumah di sini. Rumah-rumah mewah saudagar bertembok tinggi layaknya benteng, bergaya art deco atau indis (Jawa-Eropa).

“Tahu kenapa rumah di sini tinggi-tinggi? Dulunya ini untuk keamanan. Selain itu juga salah satu usaha para saudagar untuk menjaga privacy dan daerah kekuasaan di lingkungan komunitasnya. Ya biar nggak contek-contekan motif batik juga, Mas,” Hening menjelaskan padaku seakan dia bisa membaca rasa penasaranku.

Waktu itu Hening memintaku mengikuti langkahnya. Kami berhenti di pojokan gang. Dia lalu berjalan beberapa langkah dan memperlihatkanku sebuah langgar lawas milih sebuah rumah batik. Langgar itu ada di atas kami. Yang kulihat adalah sebuah tempat pengimaman yang klasik. Aku memotret langgar itu dari bawah sambil mendengarkan ceritanya.

“Ini langgar yang masih dipertahankan oleh rumah batik Estu Mulyo. Dulu digunakan para buruh batik untuk istirahat salat. Hal ini sebenarnya punya motif ekonomis sih agar bisa menghemat waktu. Jadi biar para buruh itu salatnya nggak harus ke masjid Laweyan atau ke langgar lainnya. Soalnya bisa saja mereka lama baliknya, udud-udud dulu misalnya. Ya juragane bangkrut. Apalagi kalau buruhnya seperti kamu, Mas.”

Aku tertawa mendengar omongannya. Sialan, dia memang selalu menyindirku seperti itu. Aku memang selalu santai ketika dia sudah ngomel-ngomel menyuruhku bergegas jika ada kepentingan.

Sik, Ning, sak udutan dulu,” begitu aku selalu berkilah. Aku memang suka membuatnya ngomel-ngomel.

“Sak udutan versimu itu kalau buat ngecap kain sudah berlembar-lembar, Mas. Huh,” tak lupa ia selalu melengkapi omelannya dengan dahinya yang berkerut dan bibirnya yang mecucu. Ah apa memang begitu ya tipikal anak Mbok Mase? Tidak bisa santai.

Ternyata aku terlalu asyik terjebak nostalgia sampai hampir kehilangan jejak Hening. Untunglah aku masih bisa mengejarnya sampai di depan pintu gerbang rumahnya. Ia membanting pintu tepat di hadapanku. Tentu saja aku tidak dipersilakan masuk.

Sia-sia saja aku mengejarnya. (Baca juga: Menghanyutkan Kenangan)

***

Aku mungkin sering bertengkar dengan Hening, tapi aku tidak pernah melihatnya menangis. Didikan keluarganya membuatnya tumbuh sebagai perempuan yang kuat dan mandiri. Tapi hari itu, untuk pertama kalinya, aku melihat air mata mengalir deras dari kedua matanya. Ia menangis tanpa suara. Hening, seperti namanya.

“Tak bisakah kau membicarakan hal ini baik-baik? Aku mungkin akan tetap sakit, tapi tidak sesakit ketika aku tahu itu dari orang lain.” Walau berlinangan air mata dia tetap Hening, yang berbicara padaku dengan menatap mataku.

“Aku tidak ingin menyakitimu, aku tidak tega jika harus mengatakannya langsung. Makanya…”

“Ketidaktegaanmu itu adalah tegamu. Kamu bodoh apa jahat sih? Kamu ingin membunuhku pelan-pelan?”

“Jangan berlebihan, Ning!”

“Berlebihan? Aku memberimu kain batik itu untuk kau pakai. Kain batik tulis motif pring sedhapur yang kubuat sendiri. Aku minta sepupuku dari Magetan untuk mengajariku membuat motif itu. Kamu tahu kan filosofi pring sedhapur? Pring sedhapur itu kita, Mas. Pring sedhapur, bambu serumpun. Dan kamu seenaknya memberikan pada perempuan lain. Parahnya aku tahu hal itu dari temanmu yang mengirimiku fotomu bersama perempuan yang memakai baju batik yang sangat kukenal motifnya. Siapa yang akan lupa dengan batik hasil karya tanganku sendiri?”

Aku ingin menyanggah, namun kuurungkan. Sungguh, aku belum pernah melihat tatapan matanya seperti itu. Tatapan yang bisa membuatku mati berdiri.

“Katanya kita itu pring sedhapur, tumbuh bersama, besar bersama. Katanya kita itu pring sedhapur, bakal merasa sakit jika salah satu dari kita ditebang. Kamu selalu bilang padaku, ‘tidak apa-apa, aku saja yang sakit, kamu harus tetap hidup’. Aku sakit ketika melihatmu jatuh, tidak berdaya karena masalah-masalah yang membelitmu. Aku hidup, tapi sejatinya tidak hidup. Aku berpikir waktu itu, kenapa bukan aku saja yang menjadi anyaman bambu. Ah baru kusadari sekarang ternyata memang itu maumu. Karena kamu memilih menjadi anyaman bambu… dengan bambu lain.”

Sungguh aku memilih ia memaki-makiku dengan kata-kata kasar daripada bermain pasemon seperti ini. Ia selalu menjadi lebih singup jika sudah menyindirku seperti ini.

“Seharusnya dari dulu aku sadar. Darah biru sepertimu sampai kapan pun tidak akan menerima anak saudagar sepertiku. Rara Hening tidak seharusnya bersanding dengan Jalu Narendra. Kita bukan pring sedhapur.”

“Ayolah Hening, kita tidak sedang berada di zaman kerajaan…”

“Tapi kau memilih keturunan bangsawan juga kan? Aku tidak masalah ketika kau memang sebenarnya tidak menyukaiku. Tapi seharusnya kau bisa tegas memilih. Aku heran sebenarnya terbuat dari apakah hati dan mulut lelaki itu?”

Tidak lama ia meninggalkanku dengan jamur goreng dan wedang jahe yang tidak ia sentuh sama sekali. Aku mengejarnya sampai pinggir jalan. Kuraih tangannya.

“Aku antar ya, Ning?”

Dengan kasar dia melepaskan tangannya dari genggamanku.

“Dari dulu, saudagar Laweyan tidak pernah bergantung pada priyayi. Semoga kau masih ingat pelajaran sejarah yang kuberikan padamu.”

Aku membiarkan ia pulang diantar ojek online yang dipesannya. Aku memandang punggungnya sampai hilang di belokan depan. Malam itu adalah malam paling hening dalam hidupku, tanpa Hening.

***

Entah sampai kapan aku harus mengemis pada Hening untuk sekadar memintanya membukakan pintu gerbang rumahnya untukku. Aku tahu mungkin sulit untuknya untuk membukakan pintu maafnya padaku. Dulu aku enak saja menyambangi rumahnya. Aku sering berjalan kaki agar bisa melihat pemandangan rumah-rumah di kampung batik Laweyan ini. Ada yang menarik perhatianku saat itu. Rumah-rumah di sini punya pintu-pintu yang unik. Ada dua pintu, pintu besar dan pintu kecil. Pintu besar dulu digunakan oleh tuan rumah dan pintu kecil digunakan oleh buruh pembatik atau tamu biasa. Pintu kecil ini sungguh kecil menurutku. Aku membayangkan dulu untuk masuk lewat pintu kecil itu pastilah dengan menunduk, sebagai unggah-ungguh dalam masyarakat Jawa. Sekarang tentu saja pintu kecil itu sudah tidak digunakan. Tapi ada yang beda di pintu rumah Hening. Pintu kecil itu masih bisa dibuka kalau mau. Masih berfungsi dengan baik. Sesungguhnya aku rela jika aku harus masuk lewat pintu kecil itu. Asal ia mengizinkanku masuk.

Aku ingin masuk dan berbincang dengan keluarganya seperti dulu. Keluarga Hening adalah keluarga majikan dalam struktur sosial masyarakat Laweyan dulu. Ada neneknya yang disebut Mbok Mase Sepuh, kakeknya yang disebut Mas Nganten Sepuh, mereka adalah dari garis keturunan ibu. Ibunya yang seorang Mbok Mase, ayahnya yang disebut Mas Nganten, kakak laki-lakinya yang disebut Mas Bagus. Ia sendiri punya sebutan Mas Rara. Hening selalu bangga jika menceritakan tentang peran Mbok Mase dari zaman dulu.

Mbok Mase adalah perempuan pemegang kendali ekonomi masyarakat Laweyan. Kedudukannya sejajar lebih tinggi dengan abdi dalem kraton Surakarta dan setingkat lebih tinggi dari laki-laki, walau tetap menghargai peran suami. Mbok Mase adalah simbol perlawanan kepada kaum priyayi yang suka berfoya-foya, haus kekuasaan, gila hormat, dan poligami. Kaum perempuan di Laweyan sangat dihormati, tidak sekadar menjadi kanca wingking.

“Jadi begitulah, gaya hidup keluarga Mbok Mase bertolak belakang dengan kehidupan priyayi saat itu. Saudagar Laweyan sungguh tidak menyukai gaya hidup priyayi. Priyayi mendapatkan hidup enak dari garis keturunan, Mbok Mase terbiasa kerja keras sejak kecil untuk menjadi saudagar yang sukses. Aku selalu dilatih ibuku untuk prihatin dan selalu menghargai uang. Meski sudah tidak hidup di zaman dulu, bagi ibu aku tetaplah Mas Rara, penerusnya.” Tutur Hening waktu itu. Kami berbincang di halaman rumahnya sambil menemaninya mengerjakan tugas kampus.

“Tapi walaupun Mbok Mase kaya-kaya, mereka tetap tidak mendapat tempat dalam sistem resmi kerajaan. Menyebalkan memang para priyayi itu.”

Aku hampir tersedak mendengar kalimat terakhirnya. Saat itu ia belum tahu kalau aku adalah keturunan priyayi. Bagiku toh itu tidak penting lagi. Status priyayi seperti tidak ada efeknya dalam hidupku.

Aku tersadar dan kembali dalam kenyataan. Hari semakin larut dan tidak ada tanda-tanda Hening akan membukakan pintunya untukku. (Baca juga: Gamelan dan Irama Kehidupan)

***

Aku menunggu hening di pendhapa Astana Laweyan. Konon ini adalah peninggalan yang masih tersisa dari Kraton Kartasura ketika boyongan ke Surakarta. Di dalam mungkin ia sedang menjadi pemandu peziarah seperti biasanya. Tidak rutin, tapi hanya ketika ada rombongan komunitas sejarah yang berkunjung  ke sini. Bersama juru kunci makam, dia akan memandu mereka yang akan berziarah dan mendengar sejarah tentang Ki Ageng Henis. Dulu aku sering menemaninya jika bertugas.

Satu persatu kulihat rombongan peziarah keluar dari area makam. Aku menunggu sepi dan menghampiri Hening. Ternyata aku masih punya nyali untuk menemuinya.

Kukira dia akan mendiamkanku seperti biasanya, tapi dia berdiri dan menatap wajahku. Mata yang tegas. Mata yang sangat aku rindukan.

“Kau masih ingat pohon Nagasari di dalam makam itu?” tanyanya.

“Tentu saja, Ning. Pohon yang juga ada di kompleks makam raja-raja Imogiri,” aku menjawab seperti orang bodoh. Tentu saja sebenarnya bukan ini yang hendak ia tanyakan.

“Kau tentu masih ingat ciri khas pohon Nagasari di makam itu. Pohon yang ketika ada bagiannya yang patah, tidak akan tumbuh lagi. Kamu sudah seperti angin yang mematahkan cabang pohon Nagasari. Hatiku sudah patah. Tidak akan tumbuh perasaan lagi untukmu, seperti dulu.”

Ia meninggalkanku begitu saja. Aku pun masih mengikuti langkahnya dari belakang. Entah kenapa kali ini dia tidak melewati jalan semestinya. Ia melewati jalan di dekat tepi sungai Kabanaran. Kami pernah duduk menghabiskan sore memandang sungai yang kotor. Sore yang absurd. Dulu tepi sungai ini adalah sebuah bandar dagang. Rumah-rumah di sini dibangun dengan menghadap sungai. Melalui sungai ini, barang dagangan dari Laweyan diangkut dengan rakit ke bandar yang lebih besar di Nusupan, tepi Bengawan Semanggi yang kini lebih dikenal dengan Bengawan Solo. Masuknya kereta api sebagai transportasi darat membuat peran sungai menjadi surut dan kehilangan pengaruhnya.

“Ning, kali ini kamu mengizinkanku masuk, kan?” aku sudah membuang seluruh harga diriku agar perempuan di depanku ini mau membukakan pintunya untukku.

“Ingat peristiwa geger pecinan? Paku Buwana II, seorang raja, melarikan diri ke sini, bersembunyi di gua di tepi sungai Laweyan. Raja meminta bantuan meminjam kuda kepada masyarakat Laweyan. Permintaan itu ditolak oleh Mbok Mase karena kuda-kuda itu akan digunakan untuk mendistibusikan batik. Bayangkan, seorang raja! Bahkan permintaan raja pun tidak diindahkan oleh leluhurku, apalagi hanya seorang keturunan bangsawan sepertimu!”

“Jadi, kau benar-benar tidak mau membukakan pintu untukku? Pintu maaf untukku juga sudah kau tutup, Ning?”

“Kau tidak akan pernah kuizinkan masuk ke rumahku. Bahkan lewat pintu kecil pun tidak. Karena bagiku, kau pun bukan tamu. Kau bukan siapa-siapa bagiku. Kau bisa mengusirku dari hidupmu, apa susahnya aku mengusirmu dari depan rumahku. Berhenti mengikutiku dan berdiri di depan pintu rumahku lagi.”

Angin berhembus masam. Langit semakin memerah tepat ketika Hening membanting pintunya di depanku dan menguncinya rapat-rapat. Mungkin juga pintu hatinya, yang kuncinya sudah ia buang entah ke mana.

***

Mendungan, 18 Juli 2019

Untuk Mas Dody Eskha Aquinas dan teman-teman Solo Walking Tour.

Referensi tambahan:

Perempuan Laweyan dalam Industri Batik di Surakarta (Tugas Tri Wahyono, dkk, BNPB Yogyakarta, 2014)

Impian Nopitasari
Pernah suka menulis yang ambyar-ambyar. Sebagian cerita ambyarnya bisa dibaca di kumpulan cerita cekaknya, Kembang Pasren (2017). Sekarang sedang menikmati kelahiran buku barunya, Si Jlitheng: Dongeng Bocah Abasa Jawa (2020).