Menziarahi Para Wali Berandal Tanah Jawa

Cerita dimulai dari Gunung Lawu di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Salah satu gunung yang menjadi tujuan pendakian para pendaki gunung. Namun, kali ini, Gunung Lawu tidak seperti biasanya. Tempat ini dipadati oleh pengunjung untuk nyekar (Jw: Ziarah) yang bertepatan dengan Bulan Sura, 1 Muharram. Para peziarah yang datang dari berbagai penjuru nusantara berduyun-duyun mencapai puncak gunung yang dikeramatkan tersebut dengan satu niat: ngalap berkah.

George Quinn, seorang peneliti di Pusat Kajian Asia Tenggara, Australia National University memulai perjalanan penelitiannya dari sini. Kisah tentang Kusnadi yang kukunya copot hingga berdarah akibat terpelatuk batu saat pendakian, buku Nahjul Balaghah yang disimpan sebagai jimat hingga punden Sunan Lawu yang konon misterius menjadi pembuka buku ini dengan menarik dan runtut.

Praktik ziarah di Jawa dengan segala keberagaman dan pertentangannya, disinyalir merupakan gugatan atas ragam baku agama Islam yang menguat dalam lanskap keagamaan Indonesia sejak tahun 1980-an. Cuplikan buku yang memang menyodorkan pertentangan klasik antara arus Islam tradisional dan Islam Puritan. Islam tradisional seringkali dituduh sebagai Islam yang tidak murni, sinkretik, dan berupaya untuk toleran terhadap praktik-praktik bid’ah bahkan mendekati musyik. Ziarah adalah salah satu contohnya. Oleh karena itu, misi Islam puritan adalah membersihkan praktik meyimpang tersebut dengan penyebarluasan wacana pemurnian terhadap Islam “sinkretik” dengan segala pernak-pernik kebudayaannya.

Islam tradisional seringkali dituduh sebagai Islam yang tidak murni, sinkretik dan berupaya untuk toleran terhadap praktik-praktik bid’ah bahkan mendekati musyik. Ziarah adalah salah satu contohnya.

Bagi George Quinn, kontradiksi praktik keberagamaan tersebut memancing ketertarikannya untuk menelusuri situs dan makam keramat yang tersebar di Jawa.  Rasa penasarannya itu juga didorong oleh pernyataan seseorang bahwa terjadi kenaikan pengunjung makam-makam keramat tertentu yang signifikan dalam 20 tahun terakhir. Tentu, ia tidak dapat melepaskan imajinasi peneliti Jawa seperti Clifford Geertz yang membagi Jawa menjadi tiga tipologi kebudayaan: Priyayi, Santri dan Abangan. Secara lugas pada halaman 8, Quinn menuliskan bahwa praktik Ziarah tidak murni dan eksklusif. Ziarah dipandang sebagai sesuatu yang sangat Islami sekaligus menggabungkan semangat kuno pra-Islam, (Ia menyebutnya sebagai gado-gado praktik ibadah) yang condong pada tipologi masyarakat Abangan. Sebagai agama, Islam diserap tanpa meninggalkan kebudayaan pra-Islam hingga hadirlah ekspresi Islam yang “gado-gado”, menurutnya.

Menghadirkan Figur Wali Berandal

Bagian menarik dari tulisan-tulisan dalam buku ini adalah tentang Sunan Kalijaga yang menjadi figur sentral dalam penyebaran Islam di Jawa. Sunan Kalijaga sebagaimana sudah masyhur adalah seorang anggota Wali Sanga (Wali Sembilan) yang pernah terjerumus dalam lembah dunia hitam berandal. Dalam cerita rakyat tentang Sunan Kalijaga, ia dijuluki sebagai Berandhal Lokajaya. Diceritakan bahwa Brandhal Lokajaya bertemu dengan Sunan Bonang pada sebuah tempat. Dari kejauhan, Sunan Bonang berjalan pelan sambil menggenggam tongkat kayu yang diincar oleh sang Brandhal. Langsung saja, ia menghadang Sunan Bonang untuk menyerahkan tongkatnya. Ia segera beradu ilmu kesaktian dengan Sang Sunan, meskipun berakhir tersungkur dan pingsan. Menyadari kekalahannya, Brandhal Lokajaya bersedia menerima amanat Sunan Bonang untuk menjaga tongkat kayunya di pinggir sungai sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Cerita ini begitu populer sehingga pernah diangkat sebagai judul film dengan judul Sunan Kalijaga (1983) dan Deddy Mizwar sebagai pemeran utamanya.

Penerbit KPG, Penulis George Quinn, terbit 24 Februari 2021

Namun, bukan hanya itu Sunan Kalijaga. Quinn juga menelusuri makam-makam keramat yang diduga mempunyai alur cerita seperti Sunan Kalijaga. Kesalehan beragama, kepedulian sosial yang dipadukan dengan kemiskinan rakyat sehingga sang tokoh utama menggunakan kesaktiannya untuk membantu rakyat miskin dengan jalan mencuri dan merampok harta orang-orang kaya. Mirip seperti kisah Robin Hood dari Inggris. Cerita tentang Ki Ageng Balak yang merupakan seorang sakti dengan kemampuan meringankan hukuman bagi orang-orang yang sedang terkena kasus hukum; Ki Boncolono di Kediri yang makam kepala dan badannya terpisah karena memiliki Aji Rawa Rontek adalah nama-nama figur yang memiliki kemiripan cerita dengan sunan Kalijaga. Barangkali, jenis cerita yang menampilkan tokoh pahlawan seperti ini dilatarbelakangi oleh suasana ketertindasan sosial dan ekonomi masyarakat kecil oleh struktur politik seperti era kolonialisme tanam paksa di abad ke-17 sehingga harapan munculnya satriya piningit mewujud pada sosok pembela rakyat dari kalangan bangsawan yang memberontak, seperti Raden Mas Syahid atau Pangeran Diponegoro.

Quinn juga menelusuri makam-makam keramat yang diduga mempunyai alur cerita seperti Sunan Kalijaga. Kesalehan beragama, Kepedulian sosial yang dipadukan dengan kemiskinan rakyat sehingga sang tokoh utama menggunakan kesaktiannya untuk membantu rakyat miskin dengan jalan mencuri dan merampok harta orang-orang kaya.

Kisah klasik tentang pangeran dari kerajaan Majapahit atau Mataram yang memilih untuk menjalani laku lelana ternyata tidak berhenti pada sosok Raden Sahid. Cerita Pangeran Sidharta Gautama yang keluar dari kungkungan istana dan memilih mencari makna kehidupan, menggiringnya untuk mengunjungi situs-situs suci agama Hindu. Pada titik pencarian yang sudah puncak, ia mencapai pencerahan; Boddhisatva. Pengetahuan yang paling agung tentang hakikat alam semesta dan kehidupan. Perbedaannya adalah Buddha yang baru menemukan pencerahan tersebut tidak memilih menjadi seperti Sunan Kalijaga dengan pilihan menjadi bandit. Ia memilih untuk menjadi penuntun agama baru yang lambat laun menyebar ke negara-negara Asia Tengah dan Asia Tenggara.

Barangkali, kisah Ki Boncolono dari Kediri menjadi penyanding yang tepat untuk kisah Sunan Kalijaga. Dalam sebuah penelusuran yang susah payah, Quinn melakukan perjalanan untuk menemukan makam Ki Boncolono di Kediri, tepatnya di Bukit Maskumambang. Dekat dengan Goa Selomangleng. Sesampainya di sana, ia menemui juru kunci makam. Diceritakan bahwa Ki Boncolono adalah pencuri yang sakti mandraguna. Ia diperkirakan hidup pada abad ke 17 akhir, di mana pajak hasil bumi sangat memberatkan rakyat. Hal tersebut tidak lain karena pada era tersebut, sistem tanam paksa digencarkan Belanda untuk menutup kas keuangan pasca Perang Jawa. Masih menurut versi cerita rakyat, Ki Boncolono melakukan perampokan dan pencurian terhadap rumah para petinggi Belanda, lalu dibagi-bagikan kepada rakyat Jelata.

Belanda lalu berusaha untuk menangkap pimpinan kelompok bandit ini dengan dibantu pendekar lokal. Kelemahan Ki Boncolono adalah ketika kepala dan anggota badan lainnya terpisah dan tidak menyentuh tanah. Ajian rawarontek yang dimilikinya sungguh ampuh, namun Belanda tidak kalah licik. Ia ditangkap pada satu pertempuran, anggota tubuhnya dipenggal dan dikuburkan di dua tempat yang berbeda. Kepalanya dikuburkan di Ringin Sirah, badannya dikuburkan di Bukit Maskumambang. Legenda tersebut kemudian tersebar hingga diabadikan pada relief Simpang Lima Gumul yang menduplikasi dari Arch du Triomphe di Paris. Ki Boncolono kemudian dikenang sebagai Maling Gentiri, sebuah nama yang juga mengandung kontradiksi.

Dari Makam Sang Habib hingga Permaisuri Madura

Bagian menarik lainnya dari buku ini adalah tentang makam Habib Hasan al-Haddad di Tanjung Priuk. Nama beliau lebih dikenal sebagai Mbah Priok. Pada ingatan yang samar, saya mengingat bagaimana Peristiwa Tanjung Priok 1984 diceritakan dalam banyak buku dan media massa. Sebuah cerita yang menandakan opresi Orde Baru terhadap kekuatan Islam di penghujung masa akhir sebuah rezim diktator. Makam Mbah Priok yang berada di sekeliling terminal peti kemas adalah sebuah simbolisasi spiritualisme di tengah arus perdagangan internasional. Namun bagi pemerintah dan pengelola Tanjung Priok, makam Mbah Priok adalah duri dalam daging yang menghalangi ekspansi kapital. Rencana penggusuran pun dipersiapkan dengan skenario terburuk.

Skenario terburuk memang benar-benar terjadi. Pertumpahan darah tak dapat terhindarkan ketika aparat bersenjata dan Satpol PP berhadapan dengan Laskar FPI yang notabene adalah pengikut salah satu keturunan Mbah Priok. Di tengah-tengah kemiskinan yang membelenggu, Mbah Priok tak sekedar makam Wali yang sudah meninggal namun menjadi figur pembela masyarakat urban perkotaan yang terancam dipinggirkan oleh struktur sosio-ekonomi global.

Di tengah-tengah kemiskinan yang membelenggu, Mbah Priok tak sekedar makam Wali yang sudah meninggal namun menjadi figur pembela masyarakat urban perkotaan yang terancam dipinggirkan oleh struktur sosio-ekonomi global.

Penelusuran etnografi George Quinn menyajikan makam keramat yang berada di luar kebudayaan Jawa ternyata juga tidak kalah sakti, bertuah dan keramat. Ritus ziarah yang semula adalah ritus keagamaan berkembang sedemikian rupa menjadi sebuah konsolidasi sosial, pertaruhan ekonomi masyarakat dan kebanggaan tertentu pada anak keturunannya. Para raja-raja di Madura mengklaim bahwa Syarifah Ambami yang dimakamkan di Aer Mata adalah salah satu leluhur mereka. Melalui pertalian genealogi tersebut, muncul sebuah kebanggaan tertentu yang menjadi legitimasi politik di tengah kuatnya budaya kultus personal di tengah-tengah masyarakat Madura. Bahwa bukan hanya di Jawa atau lebih tepatnya “berkebudayaan Jawa” budaya ziarah itu penting, namun sudah menembus batas-batas geografis Jawa.

Sebuah ungkapan menggelitik yang diutarakan oleh penulis buku ini bahwa ia pernah ditawari untuk masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat waktu ia di Masjid Agung Demak. Di dalam hati, ia merasa tak bijak kalau mengaku sebagai orang atheis. Namun ia mengelak bahwa mengucapkan syahadat sebagai pengakuan ikrar keimanan membutuhkan sebuah kesiapan dan kemantapan yang tulus, bukan hanya sekedar diucapkan di lisan. Dalam sebuah wawancara yang lain tentang Sunan Bonang, George Quinn tak hanya mengamati, mencatat dan merangkum tentang apa dan siapa Sunan Bonang, namun ia juga terlibat dalam pembicaraan mendalam dengan juru kunci Sunan Bonang yang menceritakan riwayat hidup Sang Wali yang tak boleh dicatat, ditulis dan disebarluaskan secara umum tentang Sunan Bonang.

Selain menggunakan metode penelititan etnografi, penulis buku ini juga menggunakan sumber-sumber sekunder untuk menjelaskan jejak hidup dan pemikiran para Wali yang ia tulis. Seperti contoh, ia mengutip Suluk Wujil, Het Boek van Bonang, The Admonitions of She Bari yang merupakan salah satu tulisan kolonial tentang tafsir tasawuf wujudiyah dalam keyakinan Sunan Bonang. Penggunaan sumber-sumber sekunder untuk melengkapi wawancara etnografis ini tak lupuk dari beberapa kritik para penulis sejarah yang menyatakan bahwa harus ada kritik historiografi yang digunakan oleh para orientalis dan penulis sejarah kolonial yang menggunakan sumber-sumber kurang otoritatif seperti Babad Kadhiri yang bercerita tentang sejarah tanah Jawa versi Bhuta Locaya (seorang raja jin) yang dipercaya diciptakan pada abad ke 19 di Kediri.

Selain sumber Babad Kadhiri yang kontroversial, Quinn sempat mengutip pula bagaimana kontradiksi sejarah berlangsung dalam narasi Serat Darmagandhul[1] dan Serat Gatholoco[2]. Serat Darmagandul bercerita tentang bagaimana Sunan Bonang digambarkan sebagai orang yang mudah naik pitam dan orang yang menyandang misi untuk membasmi budaya Hindu-Buddha yang masih bercokol kuat di pedalaman pulau Jawa. Dalam sumber tersebut pula, Sunan Bonang menghabisi masyarakat yang tak mau masuk Islam dengan cara menumpahkan air bah dari aliran Sungai Brantas. Konon, aliran Sungai Brantas berubah setelah peristiwa ini.

Dua teks tersebut ditambahi pula dengan teks Babad Kadhiri (Kronik Kediri) yang ditulis pada tahun 1870-an. Pada masa ini, banyak muncul naskah-naskah serat yang menyerang praktik berislam di tanah Jawa sebagai praktik terpengaruh bangsa Atasangin (Bangsa Asing, red). Setelah berakhirnya Perang Jawa/Perang Diponegoro yang meluluhlantakkan tatanan Jawa Lama menuju tatanan Jawa Baru, timbullah suatu keterbelahan kultural antara masyarakat Islam yang berbasis pada tiga kelompok kultural yaitu kelompok bangsawan, kelompok santri dan kelompok masyarakat awam. Dapat kita kaitkan bahwa setelah Perang Jawa, ketiga kelompok tersebut renggang, tercerabut dari sebuah integrasi yang telah dimulai ketika Mataram di bawah Sultan Agung. Kelompok priyayi kehilangan akar keagamaan dan cenderung menjadi kelompok yang terbaratkan; kelompok santri menjaga jarak terhadap kekuasaan politik istana / keraton; dan masyarakat awam menjadi agak berjarak dengan pembelajaran keagamaan model pesantren yang kian dianggap sebagai jaringan pemberontakan pasca Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.

Secara garis besar, Quinn menyajikan pengamatannya sepanjang situs-situs keramat yang berasal dari era pra-Islam hingga era Islam yang ditandai dengan Makam Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang menjadi sebuah benteng pertahanan muslim tradisional terhadap berkembangnya arus utama ekstrimisme Islam yang memiliki tendensi puritan dan anti terhadap kebudayaan lokal. Praktik berlebihan yang bagi sebagian orang dianggap menyimpang, mendekati kesyirikan dan kekufuran justru menjadi penanda kesalehan spiritual di tengah kegersangan modernitas. Hal itu juga menjadi salah satu penjelas mengapa terjadi kenaikan angka peziarah pada era Pasca Reformasi.


[1] Darmagandul secara harfiah berarti kantong buah pelir kemaluan laki-laki, nama seorang tokoh yang kemudian dijadikan nama sebuah Serat (hal 80)

[2] Gatholoco secara harfiah berarti kemaluan laki-laki yang bergantungan dan dikocok. Sebuah nama yang sangat vulgar sebagai sebuah serat yang muncul sebagai kritik atas berkembangnya Islam sebagai sebuah kekuatan kebudayaan dan politik menggantikan Hindu-Buddha. (hal 80)