Entah kenapa saat melihat judul fabel “Si Jlitheng” dengan gambarnya yang menarik nan sendu, saya tiba-tiba ingin membacanya, lebih jauh ingin mengulasnya. Terlepas memang buku ini katanya laris di pasaran, saya pribadi seperti dihinggapi rasa ketertarikan yang lebih terkait dongeng bahasa Jawa yang pada masa kecil sulit saya dapatkan. Ketika saya berusaha mengingat masa kecil saya, benar, saya belum pernah langsung bersentuhan dengan dongeng bahasa Jawa yang utuh seperti Si Jlitheng ini.

Ketertarikan saya dengan salah satu karya Impian Nopitasari ini, mugkin juga aneh di usia saya yang beranjak menuju dewasa. Tapi saya harus jujur, bahwa ada semacam kekosongan di masa kecil saya terkait sastra Jawa yang tumbuh di telatah Pantura. Terkait sastra Jawa saya mungkin hanya sayup-sayup pernah merasakan di buku-buku LKS pada saat SD, SMP. Itupun sepotong-sepotong dan saya tak merasakan sensasi getaranya. Kemudian di fase selanjutnya di SMA, imajinasi terkait sastra berbahasa Jawa bahkan hampir hilang di alam fikir saya. Semenjak itu yang saya tahu karya fiksi selalu apa yang sedang viral dipasaran, mulai yang bergenre Islami dan motivasi, dan kisah percintaan yang membuat hati saya patah walaupun tidak benar-benar merasakannya.

Setelah melewati fase pilu itu, saya juga tak kunjung bersentuhan dengan sastra Jawa, bahkan lebih gila saya dipaksa untuk memahami sastra yang membuat jiwa pembrontak saya tumbuh liar. Karya-karya Pramoedya Ananta Toer cukup membuka kesadaran saya atas penindasan dan keterjajahan yang membuat tangan saya selalu ingin mengepal dan maju ke muka. Setelah hampir lelah dengan itu semua, saya bahkan lebih jauh ditarik dalam wacana sastra dunia, mulai dari sastra Amerika Latin, Borges, Paulo Coelho, Garcia Murquez, Pablo Neruda, pindah lagi ke sastra dari daratan Eropa Hamingwai, Nietzsche, Marxim Gorky, Leo Tolstoy, dan beberapa yang lain dari daratan Asia seperti Murakami, Kawabata, dari Jepang dan ada dari Timur Tengah yang malas lagi saya untuk mengingatnya.

Perjalanan berliku yang cukup bulet tersebut, harus saya sadari bahwa saya ternyata tidak benar-benar bisa menikmatinya. Mungkin dalam hal lain, segudang bacaan tersebut hanya sebagai gengsi personal saja di tengah krumunan mahasiswa yang berlomba-lomba dalam membaca.  Sehingga saya hanya mendapatkan prestise sosial di tengah teman-teman, karna saya pernah membaca ini dan itu, tapi senyatanya setelah saya sadari bahwa itu semua tidak terlalu signifikan, untuk membentuk mentalitas dan cara berfikir saya. Karna bagaimanapun saya tetap orang Jawa, dimana hampir setiap hari saya masih menggunakan bahasa Jawa dengan setandar minimalis tentunya dilingkungan saya tumbuh sekarang.

Karna bagaimanapun saya tetap orang Jawa, dimana hampir setiap hari saya masih menggunakan bahasa Jawa dengan setandar minimalis tentunya dilingkungan saya tumbuh sekarang.

Tetapi mengatakan pengalaman bacaan dari litas benua tersebut, sebagai ketersia-siaan agaknya juga tidak bisa dibenarkan. Karna dari proses tersebutlah saya merasakan ada semacam lubang dalam diri saya, yang hendaknya kemudian saya sadari untuk segera menambal dahaga imajinatif dari proses tumbuh kembangnya jiwa dan akal saya.

Padahal setelah baru-baru ini saya mulai tertarik untuk membaca sastra Jawa, ternyata banyak majalah-majalah sastra Jawa seperti Djaka Lodang, Jaya Baya, Panjebar Semangat dan beberapa yang lain tumbuh di kota-kota besar seperti di Yogya dan Solo. Tetapi sayang hal tersebut tidak pernah saya dapatkan seperti yang ungkapkan di awal tadi.

Pertemuan saya dengan fabel dongeng berbahasa Jawa yang mungkin diperuntukan oleh pengarangnya untuk anak-anak ini, kiranya untuk mengagit kembali keterputusan imajinatif dari bahasa ibu saya, dalam hal ini bahasa Jawa mulai terbuka. Dengan mengunakan bahasa ngoko halus khas Solo, karya ini menggeret saya ke dalam alam imajinatif masa lalu saya dihamparan sawah yang luas, dengan bersenjatakan sabit untuk mencari rumput untuk kambing bapak saya. Saya seperti dipaksa untuk menikmati dialog dengan hewan-hewan yang akrab dengan dunia kecil saya, seperti katak, ayam, bekicot, burung drekuku, yang dulu teman bermain saya.

Saya seperti dipaksa untuk menikmati dialog dengan hewan-hewan yang akrab dengan dunia kecil saya, seperti katak, ayam, bekicot, burung drekuku, yang dulu teman bermain saya.

Menariknya, cerita-cerita sedehana dari kisah hewan-hewan tersebut, ada suatu yang subtil berupa nilai-nilai yang dulu sering menjadi ajaran-ajaran pokok terkait hidup yang sering kita dengar dari mbah-mbah yang tak lelah dengan wejanganya. Nilai-nilai tersebut melintas ruang dan waktu yang bersumber dari ajaran para Wali Sanga sampai mampu dicecap laku hidup masyarakatnya hingga menciptakan kebudayaan, yang termuat dalam tatanan, tuntunan, juga tontonan.  Beberapa contoh misalnya terekam dalam kisah Kodhok lan Bekicot, ada ungkapan yang menarik seperti;

“Hus…, aja ngomong ngono. Awakhe dhewe kudu tansah sukur marang Sing Gawe Urip. Apa-apa sing mbokarani ala, durung karuwan ala kanggo kowe ngono suwalike”, (hal. 18). (Hus jangan ngomong seperti itu, diri kita harus selalu syukur pada yang membuat hidup. Apapun yang kita anggap jelek, belum tentu jelek menurut kita begitupun sebaliknya).

Masih dalam kisah yang sama, “Gusti ngripta titahe ora mungkin ora ana gunane. Ana wadhi kang ora bisa kechandak dening nalare titah urib kang sarwa winates”. (Tuhan ketika menciptakan tidak mungkin tidak ada gunanya. Ada rahasia yang tidak bisa kita nalar terkait hidup yang serba terbatas).

Dari penggalan paragraf di atas saja, saya bisa membayangkan jika pesan-pesan moral yang mempunyai akar kultural yang kuat tersebut, jika dibacakan oleh para ibu sebelum anak tertidur pulas di pangkuanya. Bisa jadi nilai-nilai yang dikemas di dalam cerita yang menarik tersebut, akan membentuk mentalitas juga visi dan jelas akan mengkerangkai moralitas diri sang anak sepanjang hidupnya. Bahkan tidak berhenti disana, sang anak akan mempunyai kedekatan emosional melalui teks dan bahasa yang terus hidup dengan tradisi masyarakatnya.

Karna disadari atau tidak bahwa bahasa adalah pintu masuk untuk mengenal tradisi masyarakat, lebih jauh alam fikir manusia di dalamnya. Dalam hal ini jika orientasi tradisi masyarakat Jawa adalah arah menuju sang pencipta “sangkan paraning dumadi”, dan lebih lanjut arah menuju Tuhan juga merupakan arah untuk mengenali diri sendiri. Maka kemampuan bahasa Jawa dalam hal ini, adalah tool utama untuk mencapai ketinggian kebudayaan kita sebagai masyarakat Jawa. Dari sanalah sebanarnya kenapa ketinggian karya sastra selalu mendapat porsi utama dalam setiap peradaban besar dunia.

Maka kemampuan bahasa Jawa dalam hal ini, adalah tool utama untuk mencapai ketinggian kebudayaan kita sebagai masyarakat Jawa. Dari sanalah sebanarnya kenapa ketinggian karya sastra selalu mendapat porsi utama dalam setiap peradaban besar dunia.

Maka karya fabel “Si Jliteng” dongeng bocah bahasa Jawa ini, mesti harus mendapat porsi lebih dalam konteks sastra Indonesia, lebih khusus sastra daerah agar bahasa daerah tidak terus di desak ke pinggiran dari bahasa formal di pendidikan kita. Mengingat urgensi, bahasa daerah sebagai penjaga tatanan imajenasi moralitas dari generasi kita kedepanya.

Terakhir, bahwa saya selalu yakin ketika seorang ibu membacakan dongeng dengan cinta dan khasih pada anak sebelum tidurnya. Disanalah seorang anak akan menyerap berbagai peristiwa sastrawi yang selalu akan dikenang sepanjang hidupnya. Menjadikan hal tersebut sebagai “labirin impian” seperti dikatakan Borges untuk tumbuh kembangnya jiwa manusia. Dan begitu juga yang telah diajarkan oleh leluhur kita, bahwa pembacaan kidung saat malam tiba, sudah menjadi laku keseharian masyarakat kita dulunya. Terus kita akan kemana?