Ijazahan Amalan Ilmu Hikmah-Tarekat di Kalangan Pesantren Jawa (Bagian II-Habis)

Kitab Rujukan dan Penjelasan Tentang Ilmu Hikmah

Kitab-kitab yang dijadikan rujukan dalam amalan-amalan wirid hikmah di pesantren, selain amalan tarekat dan hizib-hizib dari guru tarekat mereka, adalah kitab-kitab yang terkenal dipelajari, dibaca, dan diperjualbelikan sebagai kitab kuning di kalangan pesantren. Di antara kitab-kitab ini, pertama, yang disusun oleh Imam Ghozali berjudul Al-Aufaq, berisi berbagai khasiat wifiq untuk berbagai keperluan.

Kedua, Syaikh Ahmad bin Ali bin Yusuf al-Buni (w. 1225 M.) sangat terkenal di kalangan ahli hikmah dan menyusun dua kitab penting: Syamsul Ma`arif al-Kubro dan Manba’u Ushulil Hikmah. Kitab Syamsul Ma`arif  di antaranya berisi silsilah keilmuan pengarang; berbicara huruf-huruf dan rahasianya; membahas susunan alam; membahas huruf dan keutamaan waktu-waktu; dan banyak lagi yang lain. Kitab al-Buni kedua berjudul Manba’u Ushulil Hikmah terdiri dari 4 jilid: berisi dasar-dasar dan dhowabith ilmu hikmah; marifat tentang pembuatan wifiq-wifiq (semacam rajah); syarah al-Burhatiyah; dan syarah Al-Jaljalutiyah al-Kubro, yang berisi penjelas khowash, fadhilah, dan kaifiyah membaca bait-bait dalam doa Al-Jaljalut al-Kubro.

Ketiga, Syaikh Muhammad Haqqi Nazili menyusun Khazinatul Asrar, juga banyak dijadikan rujukan ilmu hikmah, termasuk rujukan di dalam menjawab berapa pertanyaan di dalam Bahtsul Masail yang diadakan para ahli tarekat NU. Versi yang diterbitkan Al-Haramain, ada 194 masalah yang dibahas di kitab ini, dan di antara yang dibahas adalah keutaman dan khasiat Ayat Kursi, Basmalah, surat-surat Al-Qur’an, sholawat, Khatam Khawajikan, dan lain-lain.

Keempat, Ibnul Hajj at-Tilimsani al-Maghrabi menulis Syumusul Anwar  yang berisi rahasia-rahasia huruf dan khowash-nya;  khowash Asmaul Husna, ayat-ayat Al-Qur’an;  khowash niat, dan banyak lagi yang lain.

Kelima, Syaikh Ahmad ad-Dairabi juga menyusun Mujarrobat dairobi yang dikenal dengan kitabnya Fathu Mulkil Majid al-Mu’allaf li Naf`il Abid wa Qam`i likulli Jabbarin `Anid berisi banyak petunjuk dan khowash yang dikemukakan soal basmalah, surat Al-Fatihah, Ayat Kursi, Surah Yasin, Al-Mulk, Al-Waqiah, al-Qadar, al-Fil, dan beberapa surat lain; khowas asma ya Lathif, Lafdzul Jalalah, doa awal tahun-akhir tahun, doa penolak rihul ahmar, dan lain-lain.

Keenam,  Sayyid Muhammad al-Maliki menulis Abwabul Faraj, termasuk kitab belakangan  di antara kitab-kitab hikmah yang dibaca. Kitab ini menghimpun berbagai doa dan wirid tentang kelapangan hati dan menghapus berbagai kesulitan; ada yang dihubungkan untuk doa-doa memenuhi kebutuhan mendesak; menyembuhkan berbagai sakit dan upaya menolak berbagai kesulitan; ada yang diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an, khowash istighfar, bab sholat istikhoroh, dan diakhiri dengan pembahasan sholawat kepada Nabi.

Beberapa kitab yang banyak dibaca dalam referensi ilmu hikmah di atas, belum lagi 2 kitab sholawat karangan Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani: Afdhalush Sholawat `ala Sayyidis Sadat dan Sa`adatud Darain. Meski mereka membaca kitab-kitab di atas, atau kitab-kitab lain yang memuat amalan hikmah, di dalam pengamalannya, para pengamal di kalangan pesantren tetap mengacu pada apa yang diberikan para pengijazah di kalangan guru-guru mereka: misalnya tentang kaifiyah dan jumlahnya. Kitab-kitab tersebut dibaca sebagai referensi dan pengaya dari berbagai amalan yang telah dimiliki.

Amalan ilmu-ilmu hikmah ini, adalah sesuatu yang dilakukan oleh guru-guru besar yang sangat dipandang di kalangan masyayikh sufi, termasuk masalah ilmu-ilmu huruf, wifiq-wifiq, dan lain-lainnya.  Hal ini diakui oleh Syaikh Al-Buni di dalam kitab Syamsul Maarif, pada bagian akhir, menjelaskan sanad yang dimilikinya dalam pengambilan ilmu haqiqat dari Imam Ali melalui guru-guru seperti Imam Jafar ash-Shodiq, ilmu batin diambil dari Imam Ja’far Shodiq dari Qosim bin Muhammad dari Sayyiduna Abu Bakar dari Rosulullah. Sedangkan ilmu-ilmu rahasia huruf, disebut berasal dari berbagai masyayikh sufi, termasuk tentang ilmu-ilmu wifiq, juga demikian.

Di dalam pengamalan ilmu-ilmu hikmah, beberapa penjelasan penting di antaranya diwasiatkan oleh para penyusun beberapa kitab tersebut, di antaranya begini:

Pesan Syaikh Ahmad Dairabi

Dalam pembukaan Mujarrobat Dairobi, disebutkan:

“Tatkala seorang zhalim merintangiku dan merintangi orang-orang terdekatku dengan mengambil tanah milik kami, maka aku putuskan untuk memohon dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri kepada Alloh, dengan berbagai doa dan istighotsah, yang akan dijelaskan dalam kitab ini. Aku juga mengamalkan Surat Yasin dan amalan lainnya sebagaimana yang akan dijelaskan pada bab yang membahas  perihal amalan untuk menaruh rasa iba dalam diri seseorang, sehingga orang zhalim itu merasa iba kepada kami dan terjadilan perdamaian antara kami dan dia sebaik-baiknya.”

Penjelasan ini menagaskan bahwa para ahli hikmah yang sesungguhnya, adalah mereka yang tidak meninggalkan usaha (untuk melakukan perdamaian dan usaha-usaha lain yang perlu ketika menyangkut apa yang diperlukan), dengan tetap mengokohkan perjalanan mereka dengan berbagai wirid untuk istighotsah. Kedua-duanya dijalankan; dan pemilihan atas aurad tertentu itu sampai dimengerti pada asrar-nya, dan pengembalian semua kepada Alloh adalah kunci keselamtaan dalam melakoni ilmu-ilmu ini, seperti dijelaskan Syaikh Ahmad ad-Dairabi di atas, sebagai istighotsah, merendahkan diri kepada Alloh.

Pesan Syaikh Muhamamd Haqqi Nazili

Dalam Khazinatul Asrar, Syaikh Muhammad Haqqi Nazili pada bagian-bagian awal kitabnya menjelaskan demikian:

“Ketahuilah sesungguhnya ayat ini dan hadits-hadits itu penjelasan bagi asrar Al-Qur’an, menjadi peringatan,  anjuran, dan pengingatan, pengajaran, bagi setiap orang untuk menekuni membaca Al-Qu’an, pengingat bagi orang-orang lupa, dan ancaman, pencelaan, bagi orang-orang yang menekuni (semata-mata wirid-wirid) selain dari Al-Qur’an. Berkata Imam Ad-Dainuri di kitab Kasyful Kunuz, lihatlah wahai akyas, dan berfikirlah wahai manusia, bahwa banyak aurad dan dzikir-dzikir yang mereka menyibukan dengannya di zaman ini, dari pengajaran masyayikh…”

Apa yang dikemukakan Syaikh Haqqi Nazili ini diperhalus lagi dengan sentuhan: “Dikatakan: “Seorang murid tidak akan menjadi murid sampai ia menemukan di dalam Al-Qur’an apa yang dicari, dan mengerti darinya kekurangan-kekuarangan dari adanya kelembihan-kelebihan, dan merasa cukup dengan Kalamul Maula (Al-Qur’an) daripada Kalamul Abid (perkataan syaikh misalnya)” (hlm. 3).

Meski begitu, maksudnya bukan berarti wirid-wirid dari syaikh ditinggal sama sekali, tetapi difahami jangan sampai meninggalkan wirid Al-Qur’an dan segala yang terkandung di dalamnya, semisal wirid tahlil, asmaul husna, ayat-ayat tertentu, istighfar, tasbih, tahmid, hauqalah, sholawat, dan rangkaian wirid yang diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Di Jawa dan di pesantren, mantra-mantra Jawa dan hizib-hizib dilakukan, dengan tidak meninggalkan hal-hal fardhu, membaca Al-Qur’an, dan sejenisnya.

Pesan Syaikh Muhammad Al-Buni

Dalam kitab Syamsul Maarif wa Lathoiful Ma`arif Syaikh Al-Buni di bagian awal-awal, mensyaratkan wudhu untuk berinteraksi dengan kitabnya:

“Maka haram bagi orang yang meletakkan kitab ini di tangannya, atau memberikannya kepada orang yang tidak ahlinya (tidak layak diberi soal ilmu hikmah), atau menceritakannya bukan pada tempatnya (di dalam forum dan lingkaran orang), maka sesungguhnya yang melakukan itu semoga Alloh mengharamkan manfaat-manfaatnya, mencegah faedah-faedahnya, barokah-barokahnya, dan tidak memegangnya kecuali engkau dalam keadaan suci…” (jilid I: 2)

Penjelasan ini menegaskan bahwa untuk berintraksi dengan kitab ini saja harus dimulai kesucian, dan karenanya dimulai badan fisiknya bersuci, dan batinnya hanya diorientasikan untuk mencari ridho Alloh. Maka lebih lagi, dalam melakoni ilmu-ilmu hikmah yang diwariskan para wali di zaman dulu, di kalangan kyai-kyai pesantren, disadari tidak boleh didasarkan untuk hal-hal lain kecuali memohon kepada Alloh melalui amalan-amalan itu, adalah suatu pagar penting, agar tidak terpeleset di tengah jalan.

Ijazahan Amalan dari Guru yang Masih Hidup

Meskipun dalam tradisi sufi ada jenis guru yang membibing murid ketika sudah wafat, melalui metode Uwaisyi atau kelompok Uwaisy, sebagaimana disebut Syaikh Abdurrahman jami dala Nafahat al-Uns min Hadhratil Quds, tetapi di kalangan pesantren yang menghidupi Islam Jawa, amalan wirid banyak berhubungan dengan ijazahan dari seorang guru yang masih hidup, dan berhubungan dengan tradisi berdzikir agar semakin dekat dengan Alloh, tanpa harus menafikan sebagian di antara mereka telah mencapai penglihatan dan pertemuan dengan  mereka yang sudah mati, termasuk dengan sebagian guru yang dikenal dengan Khidr.

Berkembanglah kemudian sebuah semboyan yang penulis temukan di kalangan mereka ini: “Barang siapa yang tidak memiliki guru, gurunya adalah syetan dan jin”.  Semboyan ini, ditanamkan kepada murid dan masyarakat pesantren. Semboyan ini, ternyata ada juga dalam kitab Khozantul Asrar, yang ditulis oleh Syaikh Haqqi Nazili; ada juga dalam kitab Risalah Alussunnah Waljamaah yang dikarang oleh Syaikh Hasyim Asyari; dan dalam kitab Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

Murid berdzikir harus memiliki guru ini, membedakan ijazahan kalangan pesantren dengan sebagian mereka yang tidak dari kalangan pesantren-pesantren Islam Jawa dalam menjalankan wirid. Di kalangan mereka ini, wirid-wirid tertentu dijalankan sebagai hasil dari membaca dari buku dan kitab-kitab hadits, lalu menemukan amalan wirid tertulis di situ, lalu diamalkan untuk wirid harian dan personal, dengan keketatan berdasarkan kitab-kitab hadits tertentu. Bagi kalangan Islam Jawa, kecuali untuk wirid bakda maktubah (setelah sholat lima waktu), sebelum sebuah wirid yang ditemukan dari kitab hadits misalnya, atau dari kitab-kitab Fadha’ilul a’mal itu diujicoba dan telah dipraktikkan oleh guru-gurunya, belum secara langsung dimalkan sebagai wirid.

Prinsip kehati-hatian itu diterapkan berkaitan dengan semboyan yang berkembang di atas: “Barang siapa yang tidak memiliki guru (yang masih hidup), gurunya adalah syetan dan jin.” Semboyan ini ditanamkan karena telah dipraktikkan dan diujicobakan sebagai pengalaman dalam menjalankan tirakat (laku prihatin lewat metode dan cara-cara tertentu, dengan wirid-wirid tertentu), sampai-sampai Ibnu Arabi al-Hatimi dalam kitan Al-Hikam-nya, mengatakan begini: “man lam ya’khud ath-thariq `anirrijal, fahuwa yantaqilu min muhalin ila muhalin (Ibnu Arabi, “al-Hikam al-Ilahiyah”, dalam Syarhu Hikam asy-Syaikh al-Akbar, hlm. 153).

Dalam konteks itu, amalan wirid adalah bagian dari ath-thariq, jalan menuju Alloh. Dengan bimbingan guru yang hidup, sang murid yang telah memperoleh ijazah dapat terus berkonsultasi dan dibimbing untuk mencapai tahap tertentu. Guru-guru di alam barzakh juga ikut mendoakan sang murid, dan dengan demikian barokah guru yang telah dianggap melakukan tirakat dan menjalani wirid secara mudawamah itu, bisa memberikan manfaat batin dan peningkatan spiritual. Sampai akhirnya seorang murid mampu berjalan sendiri dan mudawamah dalam berdzikir, termasuk dalam ukuran dosis, jumlah dari bacaan-bacaan wirid itu, sang guru pun masih tetap dihormati sampai ia meninggal. Setelah meninggal pun tetap dikirimi al-Fatihah.

Dikatakan min muhalin ila muhalin, adalah berdasarkan pengalaman-pengalaman dari berbagai praktik yang telah ada. Seorang guru bercerita, bahwa wirid apa pun kalau dilakukan secara ajeg dengan jumlah tertentu, akan memberikan warid. Ada yang puas misalnya, hanya memperoleh mimpi-mimpi yang baik, tetapi ada juga mereka yang tidak hanya berhenti di situ.  Warid adalah sesuatu yang datang ketika orang sudah menjalankan wirid secara ajeg dalam jangka waktu tertentu. Imam al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin mengemukakan, kadang-kadang muncul bisikan-bisikan dari suara ghaib, dari berbagai jenis suara ghaib. Menurut cerita seorang guru tadi, kadang-kadang suara itu datang terus menerus dan energinya kuat, sampai taraf mengganggu.

Seorang guru menceritakan bahwa, betapa luas dan dalamnya samudra alam spiritual di dunia batin. Kadang-kadang seorang yang telah mudawamah wirid, baik yang ijazahan atau langsung mengamalkan dari buku sekalipun, pada taraf tertentu ada yang sampai mendapatkan warid, lalu terbuka olehnya sebagian kecil alam ghaib karena rahmat Alloh, baik dengan jalan melihat lewat bilqalbi, bisikan suara dalam hati yang keras dan hebat, atau memperoleh mimpi-mimpi tertentu.

Apalagi ketika hati seseorang telah dihidupkan oleh Alloh lewat mujahadah dzikir dan amalan wirid, akan banyak gangguan dari jenis alam-alam ghaib, sehingga orang tersebut harus bisa melawan dan menutup jalan-jalan suara itu; atau membedakan mana yang benar-benar dan mana yang tidak. Belum lagi kalau ia dihinggapi rasa ketakutan dan menjadi kecil berhadapan dengan alam raya semesta yang telah terbuka dalam hatinya, akan menjadikan orang-orang tertentu akan memerlukan seorang guru yang hidup untuk membimbingnya.

Bagi mereka yang tidak sampai dibukakan pintu hatinya menjadi hidup, dan juga tidak memiliki  guru yang hidup tetapi mempraktikkan amalan wirid yang tidak ijazahan, akan mudah bosan dan pindah dari satu wirid ke wirid lain, karena memandang wirid yang dilakukannya tidak membuahkan hasil apa-apa, kecuali menemukan keraguan dan keraguan, dari keraguan ke keraguan lain, atau yantaqilu ila wirid ke wirid lain, yantaqilu ila muhalin ila muhalin yang lain. Ketika menghadapi situasi-situasi sperti itu, konsultasi dengan ahlinya, aka lebih menyelamatkan, yaitu guru yang masih hidup tadi.

Beberapa resep untuk menstabilkan keterbukaan terhadap dimensi dunia lain itu, masing-masing guru memiliki resep yang telah diujicoba oleh guru-gurunya. Ada yang mengawali amalan wirid-wirid lakunya dengan membaca 41 x surat al-Ikhlas, 41 x surat al-Falaq, 41 x surat an-Nas, dan 41 x ayat Kursi. Ada juga yang menggunakan surat al-Fatihah 100 x, dan ada juga yang menggunakan sholawat 100 atau 1000 x, mendawamkan lipatan jumlah istighfar,  dan berbagai resep lain, dengan tetap munajat kepada Alloh. Dengan sendirinya, dapat dibayangkan apabila tidak memiliki guru yang masih hidup itu, bukan hanya yantaqilu min min muhalin ila muhalin, tetapi bisa dibimbing oleh jin; dan bila tidak demikian akan mengalami kebosanan berpindah-pindah amalan, dan sampai pada keadaan yang terparah, melayani jin; dan seterusnya.

Akan tetapi suatu yang jelas perlu disadari pula, bahwa ada juga mereka yang kadang mencoba dan merasa tidak memiliki efek buruk apa-apa dalam menjalankan sesuatu amalan wirid yang didapat dari buku, atau kitab. Hal seperti ini, menurut sebagian pengamal, dapat difahami dari dua hal: kalau hanya diamalkan dalam rentang waktu yang pendek, dan tidak diamalkan lagi tentu tidak akan berefek, saroir-nya belum kelihatan; tetapi kalau diamalkan dalam jumlah berlipatdalam jangka waktu yang panjang, tentu akan mendatangkan saroir amalan. Manakala dia dapat menguasai saroir dan efek-efeknya dari amalan, memang tidak masalah, tetapi menurut sebagian pengamal, ketika sudah seperti ini, mereka akan memerlukan guru di tengah jalan karena saror yang datang “sering tidak dapat dikuasi”, kecuali amalan itu dilepas dan tidak diamalkan lagi.

Makna Amalan Wirid Hikmah-Tarekat Bagi Para Pengamal di Pesantren Jawa

Mereka yang mengamalkan ilmu-ilmu hikmah dan wirid secara tekun, memberikan penjelasan-penjelasan, paling tidak dalam tiga hal penting: makna amalan-amalan itu sendiri bagi pengamal; hubungan amalan-amalan itu dengan penghayatan tauhid; dan beberapa peringatan sebagian untuk tidak hanya mengamalkan banyak hizib tanpa menekuni istighfar, sholawat, membaca Al-Qur’an yang tekun atau berbaiat tarekat.

Benteng Pengandel Ati dan Perahu

Diakui bahwa setiap pesantren, memiliki ciri-ciri tertentu dari sudut keilmuan yang dikembangkan, sekaligus berbeda dalam cara merespon dunia baru: berbeda-beda antara satu pesantren dengan pesantren lain. Meski begitu  ada satu hal yang penting dilihat, bahwa pesantren di kalangan Islam Jawa bisa tetap eksis, bertahan, dan mengembangkan diri di tengah sistem sosial yang tidak sederhana dan terus berubah, adalah juga berhubungan dengan laku tirakat, dan laku rohani yang dimiliki oleh kyai, kolektif santri-santri pesantren, dan masyarakat yang berhubungan dengan pesantren, seperti telah disebutkan di muka.

Para kyai yang kyai, untuk bisa menjadi kyai di pesantren di kalangan muslim Jawa, berdasarkan pengamlaman bergaul dengan mereka, bukan hanya karena: sang kyai telah mampu mengaji kitab-kitab kuning tertentu; atau membangun gedung pesantren; atau mampu menata manajemen pesantren yang lebih baik; atau mampu merekrut santri yang berdatangan dari berbagai daerah. Lebih dari itu, selalu dan sering, seorang kyai pesantren dan masyarakat pesantren yang diasuhnya mengembangkan tradisi amalan wirid-ilmu hikmah dan tarekat yang dimiliki oleh pengasuhnya, kyainya, yang diperoleh dari guru-gurunya.

Aspek ini menggambarkan satu pandangan bahwa mengasuh anak didik dan mengembangkan pesantren, adalah bagian dari dimensi luarnya dari laku tirakat yang dijalani seorang kyai (disamping berkiprah di masyarakat dengan berbagai variasinya), di dalam mengarungi samudra kehidupan, dalam mempertahankan keilmuan pesantren dan cita-cita ideal masyarakat muslim yang diupayakan di tengah amsyarakat Jawa, dimana mereka hidup. Sementara tirakat batinnya adalah melakukan mujahadah terus menerus agar bersambung dengan Alloh dan Kanjeng Nabi Muhammad lewat amalan wirid-ilmu hikmah dan tarekat, yaitu praktik dzikir terus menerus yang dilanggengkan, disertai dengan cara, waktu, dan dosis jumlah yang harus dilajalankan; dan pembersihan jiwa terus menerus melalui akhlak-akhlak baik.

Oleh karena itu, meskipun dunia luarnya mengalami perubahan, di kalangan berbagai pesantren juga mengalami perubahan sendiri secara luas, atau dalam dimensi di luar mereka tampak berubah, sejauh mereka masih dan menjadi penyangga tradisi pesantren yang menginduk pada keyakinan-keyakinan sunni Asyari, dan menjadi penerus tradisi para walisongo; bukan mengganti baju mereka dengan wahhabi salafi dan berbagai variasinya, maka pesantren-pesantren dan kyai-kyai pesantren akan tetap mempertahankan amalan-amalan ilmu hikmah-tarekat. Ilmu-ilmu ini disertai dengan berbagai riyadlahnya adalah benteng pengandel ati, sekaligus perahu mereka dalam menjalani samudra kehidupan, agar tetap selamat dalam perjalanan ke akhirat, dengan tidak melupakan amal-amal di dunia.

Disebut benteng pengandel ati, menurut sebagian mereka yang saya temui, karena amalan-amalan itu, menjadi benteng yang dapat menjadi wasilah hatinya dapat bertahan menjalani hidup yang baik dari pasukan-pasukan nafsu, berupa hawa yang berwarna-warni untuk mengajak ketidaktaatan, dalam segala maknanya: ada hawa dendam, iri, mencintai dunia tanpa ingat akhirat, kesombongan, dan kekotoroan-kekotoran lainnya. Di dalam ilmu-ilmu hikmah, mereka ini adalah pasukan-pasukan digerakkan oleh setan yang selalau ingin menjerumuskan.

Sedangkan disebut kendaraan bersenjata, karena dengan amalan-amalan itu, sang pengamal di kalangan pesantren menaiki kendaraan-kendaraan amalan dalam mengarungi kehidupan, dan menjadi senjata batin ketika pasukan-pasukan hawa datang menyerang mempengaruhi nafsu, sehingga nafsu bergejolak tidak bisa dikontrol. Dengan amalan-amalan ilmu hikmah dan tarekat, pasukan hawa itu dikalahkan melalu peperangan untuk menenangkan control atas nafsu, sehingga nafsu tidak dikuasai hawa. Ini adalah hikmah yang didapat setelah para pengamal mencapai tingkat pengetahuan atas saroir amalan-amalan dan saroir dalam gejolak nafsu, dan mengetahui adanya saroir pasukan-pasukan hawa yang dilihatnya di dalam dimensi batin.

Amalan sebagai Jalan Bertarikat Para Pejalan

Seorang guru pesantren mengatakan kepada saya, yang redaksinya kurang lebih begini: “Di dunia ini, tidak hanya ada dimensi lahir, tetapi juga batin. Mengarungi samudra hidup ini, masing-masing orang memiliki maqam atau kedudukan, dan kedudukan itu berkaitan dengan bintang yang diraihnya. Kedudukan seorang pemimpin dan kyai berada dalam area perang bintang. Jadi harus kuat tirakat. ” Belum lagi kalau dihubungkan dengan dimensi di luar pesantren, yang juga memiliki khazanah spiritual dari jenis lain. Bintang mana yang akan bisa dipakai untuk mengarungi samudra hidup ini, selalu berkaitan dengan kekuatan pengetahuan yang bisa diraih dan dianugrahkan Alloh: ada yang bintangnya itu dihubungkan dengan ilmu-ilmu lahir dalam dimensi pengetahuan lahiriah, tetapi juga ada yang menghubungkannya dengan dimensi batin yang menggabungkan keduanya, dengan jenis-jenis wirid tertentu, yang di masing-masing pesantren bisa berbeda-beda.

Kecenderungan di kalangan pesantren di kalangan muslim Jawa, menggabungkan dua hal itu dipandang sebagai jalan terbaik: ilmu-ilmu lahir dan ilmu-ilmu batin. Dengan jalan lahir, dia akan bisa memiliki pengetahuan lahir untuk melihat, menganalisa, dan berinteraksi dalam tatatanan sistem sosial lahir di tengah umat Islam, dengan adanya patokan-patokan tertentu. Dengan jalan ilmu batin, dia akan memiliki kemampuan untuk memperkuat energi dalam  diri di tengah kehidupan lahir yang sering menghempaskan manusia ke jalan yang tidak benar. Amalan-amalan wirid itu dijadikan salah satu kekuatan batin memperbagus akhlak budi luhur dengan menghancurkan kekuatan-kekuatan hawa nafsu yang bersarang dalam diri manusia, diganti dengan akhlak hati yang baik. Sebab diyakini, sikap seseorang dalam lahir memiliki hubungan yang kuat dengan akhlak batin: tentang keikhlasan, sabar, syukur, dan sejenisnya.

Dalam hal demikian, amalan wirid yang ditekuni itu berfungsi sebagai thariqat. Amalan wirid itu diibaratkan seperti jalan untuk menyelam menemukan hakikat ke dalam samudra untuk menggali dan memperoleh mutiara hidup. Menjalani amalan lahir dalam dimensi Islam dipandang sebagai syariat, yang dalam praktinya menurut para guru di kalangan pesantren Islam Jawa, masih harus dibarengi dengan praktik bertarekat, atau memiliki amalan wirid yang akan menghantarkannya menyelami hakikat hidup manusia itu, yaitu untuk mencapai, dalam bahasa mereka disebut ma’rifat dan ilmu hakikat.

Oleh Imam al-Qusyairi di dalam ar-Risalah al-Qusyairiyah, pencapaian itu didefinisikan: “Sifat orang-orang yang mengenal Alloh melalui Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya, kemudian ia membenarkan-Nya dalam melaksanakan ajaran-ajaran-Nya dalam perbuatannya. Ia membersihkan dirinya dari akhlak yang rendah dan dosa-dosa, sehingga ia memperoleh sambutan Alloh yang indah.” Tanda seorang telah ma’rifat, menurut Imam al-Qusyairi dengan mengutip sebagian guru sufi, adalah dikarunia haibah dari Alloh: ada yang berbentuk ilmu-ilmu tertentu, istiqamah, kedermawanan, wibawa, dan lain-lain.

Sebagian kyai yang pernah saya temui, meyakini jalan yang demikian adalah tugas penting menjadi manusia, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an: “wama khlaqatul jinna wal insa illa liya’budun” (QS. Adz-Dzariyat ayat 56). Sebab, menurut Ibnu Abbas yang dikutip oleh Imam al-Qusyairi, makna illa liyabudun itu, adalah illa liya’rifun. Untuk sampai pada pengetahuan dan ada di maqam yang demikian, seseorang harus memiliki perahu tarekat/amalan wirid yang diijazahkan dari seorang guru, agar bisa menyelam dalam samudra hakikat hidup di dunia ini dengan selamat.

Khazanah batin, ijazahan amalan wirid inilah yang mengairi pesantren dan kyai-kyai  di kalangan Islam Jawa. Terjadinya pergeseran dan perubahan sosial, bukan bergeser dalam fondasi pengetahuannya, meskipun satu atau dua kasus mungkin saja menunjukkan ke arah itu. Tetapi pergeseran terjadi pada dimensi luarnya saja, bukan fondasi batinnya. Praktik ijazahan dan amalan-amalan wirid pun tetap dijalankan, dari guru ke murid, dan begitu seterusnya.

Penyempurnaan Tauhid

Dalam pengijazahan amalan wirid ataupun tarekat di pesantren, seringkali  ditekankan pentingnya tauhid dalam setiap amalan. Jangan sampai amalan menjadikan si murid lupa kepada Sang Pemberi rizki sesungguhnya dan sejati, atau Sang Penyembuh penyakit, Sang Pemberi kekuatan sesungguhnya, tidak boleh mempercayai amalan-amalan itulah yang mendatangkan ridzki atau yang menyembuhkan penyakit; apalagi menghamba kepada jin-setan. Ujian ijazahan amalan adalah ujian masalah ilmu tauhid, lebih khusus lagi kalau amalan itu berkaitan dengan amalan berdimensi rizki, ingin hidupnya bertambah baik, dan mampu mengobati penyakit-penyakit tertentu, atau amalan benteng diri, dan sejenisnya.

Para guru dan murid yang telah melakukan riyadhah tertentu, berdasarkan amalan tertentu, selalu diuji oleh ahwal dan keadaan untuk menyandarkan semua karunia yang telah ada dan diberikan Alloh, setelah melakukan amalan tertentu, adalah dikembalikan kepada Alloh; dan antara mereka yang mempercayai amalan-amalan itu yang dapat menyampaikan, sehingga terdengar kalimat-kalimatnya “amalan iki ampuh, amalan iki dari guru yang ampuh,” dan lain-lain. Di pesantren, kadang-kadang orang orang luar juga salah mengerti, perkataan-perkataan, semisal perkataan “amalan iki ampuh, atau amalan iki dari guru yang ampuh”, pada dasarnya difahami majazi. Sama dengan orang mengatakan, manusia punya kekuatan, untuk mengangkat benda-benda berat, yang kekuatan sejati hanyalah dari Alloh; dan perkataan lahir itu majazi.

Demikian pula, penyataan semacam “ilmu ini ampuh” adalah majazi, sedangkan hakikinya, adalah Allohlah yang memberi kekuatan itu. Akan tetapi juga tidak menutup kemungkinan ada yang terjebak mempercayai amalan-amalan itu sebagai memang ampuh, meskipun dia sendiri sering berdoa kepada Alloh. Hal seperti ini, adalah tahapan kesadaran tauhid, yang bertingkat-tingkat di kalangan orang beriman, karena perbedaan anugrah tajalli yang berbeda-beda dari Alloh, karena pencapaian hakikat-hakikat yang dirasakan berbeda-beda. Oleh karena itu, seorang pengamal wirid senantiasa disadari harus terus mencari ilmu, ta’lim, jangan sampai hanya berhenti pada amalan, tetapi mengilmui amalan-amalan itu juga penting.

Sama seperti para pejalan tarekat didalam tarekat, para pengambil amalan-amalan hikmah, juga adalah pejalan, yang meskipun telah berguru kepada kiai-kiai hebat, mereka adalah pejalan yang akan diuji dari detik ke detik, dari hijab ke hijab lain, dari hijab-hijab kegelapan ke hijab nur; dan ahwal ke  kecanggihan untuk mengolah; dan begitu seterusnya. Penekunan mereka tentang pengobatan, jadzbur rizki, dan sejenisnya, tidak terlepas dari sejenis ujian bagi para penempuh di jalan Alloh. Kesadaran antara yang wasilah sebagai yang majazi dan aspek hakikinya sebagai haqiqat, tidak sama antara seorang murid satu dengan murid yang lain, sehingga aspek majazi dan haqiqi dari keampuhan amalan, juga dapat mempengaruhi kesadaran tentang Alloh, atau menunjukkan tingkatn-tentang seorang pengamalan tentang tauhidnya kepada Alloh.

Para guru pesantren yang konsen pada pencapaian kesadaran tauhid dalam amalan wirid dan tarekat, sangat menyadari ini, sehingga ilmu yang perlu dimiliki, oleh mereka ini, bukan semata riyadhah puasa, konsisten wirid, tetapi adalah ilmu kaum tarekat, yaitu ilmu laku hati, dalam tangga-tangga taubat, sabar, ikhlas, qona’ah, tawakkal, faqir, ridha, dan sejenis ini. Karena ahli amalan hikmah ini, telah berinteraksi dengan orang-orang, baik dalam pengobatan, kelancaran redzki, dan sejenisnya, tidak semata-mata tajrid, maka godaan kepada penyempurnaan tauhid, dan godaan untuk hanya fokus mengikis hijab sedikit demi sedikit, semakin besar. Dari riyadhah tajrid beralih berinteraksi dengan masyarakat, apalagi ada dimensi tukar menukar ekonomi, penyandaran diri kepada Alloh itu, memperoleh tantangn yang tidak sederhana.

Akan tetapi sebagian guru amalan yang saya temui, mengemukakan bahwa seorang ahli yang memiliki laku tarekat, tidak boleh tertipu oleh semata-mata penampakan lahir, karena amal-amal tergantung niatnya; meskipun tidak boleh mengabaikan amal-amal lahir. Kedua-duanya perlu seimbang. Ketika menjalani ilmu hikmah dan berhubungan dengan orang lain, yang penting niatnya, dan dalam praktiknya tidak bertentangan dengan kepatutan syariat lahir. Dengan jalan dikembalikan kepada niat yang baik ini, dan tawajjuhnya sebelum dzikir amalan untuk memperkokoh niat, hal-hal yang mungkin membelok-belokkan, dapat kembali disaksikan oleh nafs dan hawanya, juga ruh dan aqalnya, sebagai niat-niat yang lurus, atau sebaliknya, sebagai niat-niat yang berbelok. Penyempurnaan tauhid melalui ijazah-ijazah amalan, pada akhirnya juga akan menghantarkan seseorang pada keharusan untuk menjalani laku tarikat dalam hidup batinnya dan membenarkan niatnya.

Guru yang seperti ini, ketika didatangi murid, dan mengungkapkan persoalan kehidupannya dan meminta bantuan doa kepada sang pemberi ijazah, biasanya memberikan dua hal: Pertama, diberi nasehat-nasehat agar sabar dan sregep menjalani perintah-perintah fardhunya, memngqadhai yang sudah ditinggal, lalu diberi tulisan yang sudah di-asma’i, atau air yang sudah di-asma’i, atau media lain yang sudah di-asma’i. Kalau dalam bentuk tulisan, tulisan tersebut bisa diletakkan di depan rumah bagian pintu depan, atau di pintu belakang, atau disiramkan setelah digerus dengan air. Setelah itu orang yang datang itu diberi amalan dzikir tertentu, menurut jenis wirid dari guru yang memberikan. Kedua, diberi nasehat-nasehat tentang masalahnya, lalu diberi amalan dzikir untuk dijadikan benteng hidupnya, agar tidak putus asa dan selalu berdoa kepada Alloh, tanpa diberi air atau media.

Guru amalan yang memberikan nasehat, biasanya memberikan nasehat penting, bahwa setiap masalah yang datang, baik berupa sakit, kepailitan, dan sejenisnya, pada dasarnya adalah ujian yang diberikan Alloh kepada seorang yang sangat disayanginya. Ketika orang masih diuji, berarti dia masih disayangi Alloh. Ujian itu memiliki maksud agar yang tertimpa kepayahan (atau balaul mihnah, dalam bahasa Syaikh Namjmudidn Kubro), mampu mengambil hikmah. Di antara hikmahnya, dari yang sebelumnya tidak bersilaturahmi dengan guru, menjadi bersilaturahmi; dari yang sebelumnya belum berdzikir, jadi berdzikir; dan begitu seterusnya. Ujian itu untuk menguatkan diri seseorang yang diuji agar tahan uji dan tahan banting mengarungi kehidupan. Dzikir yang dilakukan adalah untuk memperkuat diri, hatinya tidak kosong, tetapi diisi dengan dzikir dan amalan-amalan lain, dengan selalu munajat kepada Alloh.

Tentang intensitas pengambilan ijazah, pada saat-saat situasi sosial genting, bisa karena ada ketegangan sosial, atau karena sesuatu dalam kekacauan sosial yang memungkinkan terjadi gesekan sosial, guru-guru pengijazah biasanya lebih banyak didatangi oleh para peminta ijazah. Contoh yang saya saksikan soal ini, adalah ketika terjadi pembantaian guru ngaji di Banyuwangi, yang berkedok pembantaian dukun santet, dimana-mana terjada ijazahan amalan tertentu atau peng-asma’-an. Jumlah peminta ijazah lebih banyak dari hari-hari biasanya. Setelah situasi sosial mereda dan normal, di antara para pengamal ijazah ini ada yang bertumbangan dan meninggalkannya, tetapi juga ada yang meneruskannnya.

Pengambilan ijazah murid dari guru amalan, akan memberi manfaat kepada pengambil ijazah, yang amalannya diteruskan oleh murid-muridnya kelak. Selain itu, amalan yang dijalaninya, akan menambah bacaan jumlah Fatihah yang dikirim murid kepada guru, karena bertambah jumlah murid yang mengambil ijazah, yaitu pembacaan surat Fatihah dalam kiriman wasilah-wasilah. Dalam keadaan seperti itu, penetapan dan konsistensi dzikir amalan, pada akhirnya disadari para pengamal sebagai anugrah dari Alloh, karena banyak pengamal yang sama jenis amalan dan gurunya, ada yang berhenti; dan juga tergantung niat-niat yang dimasukkan dalam amalan-amalan itu.

Pesantren yang menjadi basis dari guru-guru pemberi ijazah amalan yang disebut ampuh, banyak tersebar di pesantren di pesantren-pesantren kecil dan pesantren-pesantren besar. Selain itu ada pesantren-pensatren yang mengkhususkan belajar ilmu-ilmu hikmah dan tirakatan. Akan tetapi perkembangan pesantren yang sperti ini, seiring dengan banyak pesantren yang mengadopsi sistem sekolahan, muridnya semakin sedikit, dan tidak popular. Hanya orang-orang tertentu yang mengerti dan amau menganggap ilmu-ilmu semacam amalan tertentu dalam ilmu hikmah, itu menjadi penting, dia akan memburunya. Sedangkan bagi murid-murid yang pada umumnya hanya ta’lim,  pesantren yang sudah banyak mengadopsi ilmu sekolah, dan semakin termodernisasi, minat terhadap ilmu-ilmu amalan ini semakin kecil, kecuali wirid-wirid standar

Di luar pesantren, juga banyak guru-guru yang mengajarkan dan memiliki ilmu-ilmu hikmah seperti di atas, meskipun kadang-kadang di tengah kampung, hanya menjadi guru TPQ, ngimami sholat di masjid, dan sejenisnya. Mereka ini juga kadang diminta bantuan untuk menghadapi kesulitan gangguan jin-santet, kelancaran kelahiran, dan memimpin ritual kampung, tetapi juga mampu melihat dunia barzakh, membuka menutup, dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia seperti itu.

Dan, menjadi jelas, keberadaan para guru amalan ilmu-ilmu hikmah, dan murid-murid yang mengambil amalannya adalah salah satu aspek penting dari penyangga Islam Jawa tetap lestari, meskipun di sana sini terjadi kehidupan modern di kalangan masyarakat muslim Jawa. Semua ini  berbarengan dengan semakin bergesernya makna-makna filosofi pada arsitektur, makna-makna filosofi pada busana dan kecantikan, terkomersialiasinya resep-resep herbal, mudahnya jangkauan komunikasi individual di kalangan masyarakat karena ada jaringan nirkabel, dan ekses-ekses lain yang berpengaruh terhadap tatanan Islam Jawa sendiri. Para guru amalan ilmu-ilmu nhikmah dan murid-muridnya masih saja banyak didatangi orang dari kalangan dekat dan jauh, bahkan seringkali dari mereka yang sudah bergelimang dengan modernitas dan kaum sekolahan.

Walhasil dan Peringatan

Sebagian pengamal ilmu-ilmu hikmah, karena sudah berpengalaman melihat saroir dari amalan-amalan itu, menceritakan kepada saya agar tidak fokus kepada hizib-hizib tanpa menekuni wirid-wirid yang berisi istighfar,  sholawat, membaca Al-Qur’an, atau wirid yang diambil dari ayat Al-Qur’an, dan baiat tarekat.  Seorang mubtadi, pemula di jalan ilmu-ilmu seperti ini ini, menceritakan pengalamannya, ketika mengamalkan wirid-wirid seperti ini, berefek pada kesombongan-kesombongan halus yang menggangu dalam berinteraksi dengan orang; dan kontrol terhadap emosi sulit dilakukan; dan menurutnya, berefek pada malas belajar, sehingga ditinggalkan dan berganti kepada ta’lim.

Sebagian lain, yang cukup lama berkecimpung di dalam ilmu seperti ini, dengan fokus pada hizib tertentu, terutama pada hizib yang dikenal keras, berefeka pada hadirnya pasukan-pasukan ghaib kadang berseliweran di sekitar rumah abagi yang diperlihatkan, dan membuat orang-orang lain, yang pernah melihat menjadi takut. Selain itu, tidak jarang ketika sang pengamal yang sudahpada tahap memperoleh sedikit khowash-nya, ketika agak marah atau membentak, berefek pada sakit atau tidak baik kepada orang yang dibentak. Karena sering seperti ini, sang pengamal yang menceritakan kepada saya ini, kemudian meninggalkan wirid hizib sejenis ini, dan lebih menekuni kepada wirid yang lain, yang tidak berefek seperti itu, seperti ke sholawat, istighfar, dan sejenisnya.

Meski begitu, sebagian pengamal yang bercerita kepada saya, dengan amalan wirid yang sama dari jenis kedua tadi, dalam jangka waktu tertentu, merasa memperoleh manfaat dan ketika berdoa banyak dikabulkan oleh Alloh. Karena efek yang baik ini, kemudian dia mudawamah dan meneruskan, amalan wirid-hizib yang diamlkan oleh orang lain dengan jenis amalan hizib sama, berefek tidak baik. Dengan demikian, pengamalan wirid tertentu di dalam ilmu-ilmu hikmah, harus sampai pada tingkat mengerti saroir dari amalan-amalan wiridnya itu, sampai dia memperoleh kesimpulan; dan mampu menguasai  efek-efek dari wirid yang dilakukan, kapan dia tetap melanjutkan dan kapan dia bisa meninggalkan wirid, sang pengamallah yang harus bisa mengolah, meskipun sama-sama semua memperoleh dari seorang guru pemberi ijazah yang sama sekalipun.

Dari pengalaman bertemu dengan para pengamal wirid ilmu-ilmu  hikmah, kebanyakan mereka mengakui bahwa amalan-amalan yang dapat menjadi wasilah, menjadi tambah baik hidupnya, tambah barokah, adalah amalan-amalan yang berhubungan dengan pembacaan wirid-wirid dari ayat Al-Qur’an, istighfar, sholawat, tasbih, baiat tarekat, dan sejenisnya. Kalaupun menggunakan amalan hizib, diteruskan dengan mengambil tarekatnya sekalian; atau diimbangi dengan lipatan jumlah sholawat dan istighfar yang banyak. Setelah itu, bagaimana menjalani hidup, dengan tetap berkiprah di masyarakat, tetapi juga tetap melakukan istighotsah melalui wirid-wirid dan amalan-amalan; mengganti keluhan-keluhan kepada manusia, dijadikan munajat-munajat hanya kepada Alloh, dan tetap memiliki harapan di tengah berbagai goncangan hidup yang pernah ia hadapi.

Mereka yang telah melewati ini, menyadari lebih baik mengumpulkan menjadi ahli ilmu-ilmu zhahir dan ilmu-ilmu batin sekaligus, bukan hanya menjadi ahli batin saja; dengan terus beramal diperkokoh niat-niat yang baik, disertai munajat untuk meminta istiqomah dzikir, meminta selamat iman dan Islam, bertambah rizqi barokah, dimudahkan urusan, dijadikan umurnya barokah, menjadi khusnul khatimah, dan doa-doa lain yang baik.

Wallohu alam.

Nur Kholik Ridwan
Pernah menjadi anggota PP. RMI NU dan Peneliti di ISAIS UIN Sunan Kalijaga. Karya yang pernah diterbitkan : Suluk Gus Dur : Bilik-bilik Spiritual Sang Guru Bangsa (2013); Negara Bukan - Bukan : Prisma Pemikiran Gus Dur Tentang Negara Pancasila (2018); dan NU dan Neoliberalisme ; Tantangan dan Harapan Menyongsong Satu Abad (2014).