Merawat Ingatan Tentang Pasar

Pasar, sebuah tempat yang selalu saya senangi tatkala si Mbok sudah bertitah untuk mengajak berbelanja. Bagi saya, pasar tak ayal adalah tempat dimana saya menemukan hingar-bingar keramaian, mulai dari orang berdagang, warung-warung berjejeran, suasana pedagang dan pembeli berhimpitan, sampai sekedar delman berlalu lalang. Semua begitu mengasyikkan.

Tahun 2005, saya masih ingat dimana saya saat itu mulai sering diajak si Mbok untuk menemaninya berbelanja di pasar. Dalam gambaran pikiran saya saat itu, berangkat ke pasar adalah sebuah tamasya termurah. Saya bebas meminta apa yang saya mau pada si Mbok dan sepulang dari pasar selalu ada buku bergambar, ataupun majalah Bobo yang saya beli. Dulu majalah Bobo sangat popular, seminggu sekali saya menambah koleksi dan sebagai kebanggaan untuk saya pamerkan ke teman sekelas di taman kanak-kanak. Bahkan tak lupa kaset-kaset pita yang berisikan shalawat dan lagu-lagu Pop Indonesia juga tak luput dari perhatian saya. Ya, sekiranya sebulan sekali saya membeli satu kaset untuk diputar di rumah. Saya sampai hafal beberapa peta pembagian lapak pasar secara garis besar kala itu. Yang saya ingat di pasar kecamatan yang saya kunjungi silam, rata-rata di pasar tradisional kala itu pada bagian depan diisi oleh penjual yang memiliki lapak khusus seperti penjual pakaian, penjual emas, penjual kaset pita, penjual mainan, sampai dengan penjual koran. Sedang semakin masuk disitu mulai terkumpul para penjual buah-buahan, penjual daging, penjual ikan, sampai penjual sayur dan warung-warung di dalam pasar yang menurut saya memiliki citarasa makanan yang khas. Khas enaknya. Kemudian di bagian terluar pasar berdekatan dengan parkiran delman dan becak, biasanya banyak terlihat sederet penjual unggas, mulai dari burung hias, ayam, dan bahkan sampai para blantik wedhus menjajakan dagangannya, benar-benar deretan ruang perkumpulan bapak-bapak yang bergaya makelar keelas kakap. Tidak lupa suasana yang sangat khas dengan pasar, suara bising, sesak penjual dan pembeli, asap, hingga bau menyengat antara bau asap-asap mesin selep kelapa, daging, ikan, hingga tumpukan sampah.

            Pasar bagi masyarakat Indonesia adalah ruang perjumpaan yang menghapuskan sekat identitas. Saya rasa ini yang perlu diingat, di zaman dulu siapapun anda dan seberapa tinggi pangkat anda di tengah masyarakat, jika membutuhkan sesuatu, ya belilah di pasar. Jangan harap apa yang dibutuhkan bisa datang sendiri seperti dewasa ini. Kondisi pasar yang tak memberikan aturan-aturan baku tentang syarat pakaian juga menunjukkan bahwa pasar menjadi satu ruang kemajemukan manusia. Kita belum pernah mendengar kan outfit baju yang cocok untuk ke pasar, justru kalau kita memakai baju yang bagus, mahal, serta melengkapinya dengan semprotan parfum malah terlihat aneh dan diluar kewajaran, “lha wong cuma ke pasar kok”. Bahkan sempat saya pikirkan jikalau pasar adalah salah satu latar tempat bertemunya dua budaya yang saling mengakulturasi. Walau sebuah pasar kadang memiliki papan nama “Pasar Kecamatan A”, bukan berarti masyarakat B tidak boleh kesana kan?. Menarik sekali memang.

Kondisi pasar yang tak memberikan aturan-aturan baku tentang syarat pakaian juga menunjukkan bahwa pasar menjadi satu ruang kemajemukan manusia. Kita belum pernah mendengar kan outfit baju yang cocok untuk ke pasar, justru kalau kita memakai baju yang bagus, mahal, serta melengkapinya dengan semprotan parfum malah terlihat aneh dan diluar kewajaran, “lha wong cuma ke pasar kok”.

            Dari semua ingatan yang saya tulis, sejatinya saya ingin menyorot soal budaya pasar yang saat ini mungkin sudah banyak ditinggalkan. Pertama, persoalan kebesaran nama pasar. Seperti yang saya katakan di awal, berangkat ke pasar adalah sebuah tamasya termurah, semua orang tertuju pada pasar, karena memang disana semua lengkap tersedia. Coba bayangkan, betapa mudahnya kita mengakses semua kebutuhan dan keinginan kita haya dengan anggapan “semua pasti ada di pasar”. Walaupun kita tetap harus berkeliling mencari ke semua lapak penjual, tetapi di masa itu saya yakin jika semua penjual juga memiliki pikiran yang sama, “kalau ingin berjualan ya berangkat ke pasar”.

            Selanjutnya budaya mental untuk berinteraksi sosial secara nyata. Ya, pasar adalah tempat ter-ampuh jika kita ingin meningkatkan skill dan kemampuan untuk itu. Saya rasa orang-orang yang dibesarkan dengan keseharian hiruk pikuk keramaian pasar adalah orang-orang bermental baja. Sering kita lihat, ibu kita pandai dan piawai menawar sayur untuk harga yang jauh lebih murah. Atau bahkan sering juga kita lihat bapak-bapak makelar kambing menjajakan dagangannya dengan tawaran-tawaran yang saling berahut-sahutan. Saya rasa semua itu tak mungkin kita temui jika melihat realita belakangan ini banyak proses belanja hanya sekedar pencet tombol keranjang di aplikasi.

             Ketiga, Pasar adalah poros ketertiban masyarakat. Ya, tidak banyak yang beranggapan demikian. Saya tidak melihat tentang kondisi  pasar yang saya temui silam penuh dengan hiruk pikuk keramaian, kumuh, dan juga polusi. Saya justru melihat dengan adanya sebuah pasar yang berdiri serta terpusat, menjadikan budaya masyarakat kita tertib untuk melakukan sesuatu pada tempatnya. Ya, semua tentang mengkhususkan tempat untuk jual-beli. Saya teringat salah satu potongan novel Pak Kuntowijoyo tentang Pasar,

                   “Ternyata , lebih banyak pedagang yang berjualan di jalanan muka pasar daripada masuk ke los-los. Pak Mantri Pasar sudah menggiring mereka ke dalam, tetapi sia-sia. Makin hari los-los makin sepi. Dengan bermacam-macam alasan seperti ‘lebih enak di jalan, lebih dekat dengan pembeli’ sampai ‘peruntungan saya di jalan, bukan di pasar’, itu membuat jengkel Pak Mantri saja. Akhirnya orang tua itu menyerah. Bahkan akhir-akhir ini orang telah menjual kambing di jalanan juga dan bukannya di pasar hewan…..”

          Saya rasa kalau sekarang, jangankan jalan, di depan masjid, sekolahan, hingga di tengah taman kota pun semua sepertinya sudah selayaknya pasar. Bahkan dulu kanjeng nabi Saw kalau berdagang itu selain berjualan di pasar-pasar Mekkah, juga rela merantau ke pasar-pasar kota lain seperti di Syam. Kanjeng Nabi melarang para pembeli membeli barang dagangan para penjual yang masih dalam perjalanan, khawatirnya terjadi aksi penimbunan barang sampai muncul nantinya sebuah fenomena kelangkaan barang. Dan akibatnya adalah barang-barang yang ditimbun laku dengan harga tingggi.

Saat ini muncul kekhawatiran-kekhawatiran baru dikalangan para penjual jika ia tak bisa menjangkau pelanggan jika terus berdiam di dalam pasar. Belum lagi faktanya, sekarang rumah pun bisa jadi pasar. Saya rasa bisnis online itu juga secara tidak langsung menunjukkan jika kita bisa berjualan dimana saja dan kapan saja. Sampai sini saya merasa bahwa budaya-budaya baru tentang pasar sudah semakin bertambah dan beragam.

          Permasalahan nama besar pasar juga terkoyak, apalagi jika sekarang sudah ada penisbatan kata tradisional, jadinya “Pasar Tradisional”. Ya, apa-apa yang berbau tradisional seakan-akan sudah sangat lampau dan tertinggal. Alih-alih sekedar terbilang lampau dan tertinggal, justru sering dari kita terutama saya pribadi sudah jarang singgah ke pasar. Mencari sayur hijau yang lazimnya sudah tergambar di lapak-lapak pasar yang sedikit kumuh bersandingan dengan daging ayam, dan bau menyengat, kini justru gambaran itu beralih pada sebuah gedung tinggi di tengah-tengah perkotaan, yang adakalanya parkir kendaraannya harus mengantri di basement, kita semua menyebutnya “Mall”. Sangat menarik dan menggelitik memang jika kita pikirkan diri kita sekarang membeli bumbu masak memilih bumbu sachet di supermarket, membeli daging memilih membeli di supermarket, sayur, buah-buahan, dan segalanya semua serba “tersedia di Mall”. Tapi ingat, Mall tidak cocok dengan penisbatan sebutan “Tamasya Murah”.

          Kemajuan teknologi juga  memanjakan masyarakat kita saat ini. Berbagai pilihan aplikasi jual beli online tersedia menjamur di daftar unduhan playstore. Tinggal klik beli, semua sudah bisa diatur semudah mungkin. Kita tidak perlu lagi berjumpa dengan pembeli secara langsung. Tak ada lagi proses transaksi tawar-menawar hingga makelar-makelar yang seperti saya ceritakan di atas. Bahkan, kita juga tak perlu sibuk-sibuk merogoh uang dari dompet, dan sebaliknya penjual tak perlu lagi repot-repot menyiapkan uang recehan sebagai kembalian. Semua sudah tertata rapi dalam dompet-dompet virtual yang bisa digunakan untuk segala jenis transaksi pembayaran. Begitulah kiranya pemandangan dewasa ini, pasar seakan kabur dari gambaran saya. Kemajuan teknologi membawa dampak kemajuan peradaban  manusia akan tetapi juga tidak sedikit pula membawa kita pada ingatan-ingatan budaya lampau yang sudah perlahan berusia renta.

          Begitulah pasar. Banyak budaya yang menurut saya sangat Indonesia sekali, terutama sebutan Pasar Tradisional. Dalam pasar, masyarakat majemuk yang berkumpul menjadi satu, saling menyapa berinteraksi, melahirkan budaya baru, hingga kebersahajaan lahir disana. Itu hanya satu pasar yang saya gambarkan di waktu masa kecil saya, belum lagi pasar-pasar tradisional di seluruh penjuru wilayah Indonesia dengan segenap budayanya yang beragam. Pasar terapung di Banjarmasin semisal, sangat seru jika dibayangkan proses jual-beli dilakukan di atas sampan yang mengapung di prairan yang tenang. Mereka saling bersalipan untuk menyapa dan menjajakan dagangan. Contoh lain Pasar Kaget yang berada di tengah hutan Wamena, serta Pasar Bisu di Sumatera Barat, dan masih banyak lagi pasar-pasar tradisional yang dimiliki Indonesia. Dan suatu saat, adakalanya di masa mendatang kita menyebut pasar tradisional adalah warisan budaya leluhur kita yang masuk dalam daftar pelestarian budaya.