1

Dulu saat mendengarkan lagu “Bojo Galak” terutama tepat pada lirik “Kuat dilakoni, Yen ra kuat ditinggal ngopi” entah dinyanyikan oleh Nella Karisma maupun Via Vallen, saya menangkap desir paradoks yang tak terseleseikan. Sebuah paradoks, yang juga beserta penyelesaian atasnya, bisa jadi merupakan kunci untuk mencandra filsafat masyarakat kita yang menghunjam secara kuat dalam nalar kesadaran. Sebuah paradoks yang layaknya dangdut (koplo) itu sendiri tidak berusaha ingin didamaikan, melainkan menarik kita terlibat dan menjalaninya dengan riang. Lagu sesedih apapun ketika dinyayikan dalam irama koplo, ia tak ingin dilaruti. Ia hanya ingin dinikmati dalam gerak joget yang mengundang. Sebuah paradoks yang ingin dilampaui.

Jika beratnya sebuah masalah atau bahkan hidup, tak kuat kita pecahkan dalam usaha spekulasi keterbatasan nalar pikiran kita, ya kita jalani saja (kuat dilakoni), tapi jika merasa tak kuat, kita tinggalkan saja untuk sementara (ditinggal ngopi).

Dalam beberapa bait liriknya seolah tersirat preposisi begini: jika beratnya sebuah masalah atau bahkan hidup, tak kuat kita pecahkan dalam usaha spekulasi keterbatasan nalar pikiran kita, ya kita jalani saja (kuat dilakoni), tapi jika merasa tak kuat, kita tinggalkan saja untuk sementara (ditinggal ngopi). Ringkasnya ia mengundang kita dalam usaha memecahkan atau memahami hidup, untuk tak terlalu jumawa berusaha memecahkan, memahami dan merengkuhnya dalam dimensi kemenyeluruhannya. Ia meminta kita untuk sumeleh atas kompleksitias hidup, sembari sabar menjalaninya dulu, juga berharap dalam suatu tahapan perjalanan lebih lanjut kelak mendapat sedikit petunjuk maupun hikmah yang memberi makna. Kita diminta melakoni. “Dipikir karo mlaku bro,” ucap sebuah meme.

Mungkin ini selaras dengan apa yang saya rasakan, dibanding merumuskan dalam sebuah  spekulasi pikiran yang mengambil jarak obyektif tertentu atas hidup (olah filsafat), masyarakat kita mungkin lebih memilih menjalaninya atau melakoninya dalam arus lelakon yang mendalam dan intim. Ini persis seperti masyarakat kita yang lebih memilih mengungkapkan perasan cinta mereka tidak pertama melalui perkataan verbal, melainkan mengungkapkannya dalam wujud tindakan dan perbuatan.

2

Kata melakoni, yang secara harafiah berasal dari kata “laku” “mlaku”, “lelaku” dalam bahasa Jawanya, senyatanya berarti “berjalan” yang juga dari turunannya memunculkan kata “menjalani”. Karena, bagaimanapun memang hidup ini sendiri adalah perjalanan. Sebuah Lelakon. Atau dalam istilah tasawufnya disebut “suluk”, sebuah perjalanan. Yang istilah ini, “suluk”, bukan hanya telah diserap dalam bahasa Indonesia, melainkan telah menjadi istilah penting dalam genre tembang macapat berisi ajaran esoterik tasawuf Jawa.

Makanya, melakoni atau menjalani hidup dalam sebuah perjalan “kembali” itu, seperti sudah banyak dikenal, dilalui melalui tahapan dan jenjang menaik hidup yang bertahap empat, (1) syariat, (2) tarekat, (3) hakikat, dan (4) ma’rifat. Atau dalam konsep tahapan “laku” perjalanan pada Serat Wedhatama dalam bentuk jenjang tahapan (1) raga, (2) cipta, (3) jiwa, (4) rasa, yang keempatnya dinamai dalam term sembah.

3

Dalam tahapan ini, agar kita memahami sedikit demi sedikit makna hidup, kita pada periode tahap awal perjalanan dipandu oleh (1) koridor hitam-putih, haram-halal, baik-benar, atau koridor normatif syariat yang membantu kita untuk mendisiplinkan raga dan dorongan kehendak (karsa) yang muncul darinya, yakni agar kita punya arah awal, meskipun kita belum tahu akan rasionalisasinya. Lalu kemudian meningkat dengan (2) mengaktifkan cipta dan pikiran kita untuk memahami rasionalisasinya, yang juga (3) harus dibarengi kejernihan hati dan jiwa kita terkait arah orientasi ultim hidup ini, dan dengan itu(4) rasa atau aspek terdalam fakultas kita bisa pelan-pelan menangkap irama dan tujuan hidup.

Makanya kadang-kadang dalam skema empat perjalan ini, hidup sering dikeluhkan sulit dijelaskan dan direngkuh oleh pikiran rasional kita. Karena memang aspek rasional dari hidup hanya salah satu bagian bidang parsial dari kemenyeluruhannya. Dan kita diminta meningkatkan level perjalanan.

Apalagi jika aspek rasional atau yang dibayangkan rasional ini, masih muncul dari pikiran orang yang belum mampu mendisiplinkan tubuh jasmani dan menundukkan dorongan subyektif kehendak, keinginan, dan nafsunya. Yang rasional ataupun “yang benar” menurut prasangka pikirannya, yang ingin ia desakkan pada hidup, pada kenyataannya, tak lain adalah semata rasionalisasi atau pembenaran dari keinginan dan nafsunya. Ia ingin mengatur “hidup” sekehendak, sekeinginan, juga seturut kebenaran dari sudut kemauannya sendiri. Ini diperparah dengan kondisi jiwa dan hati yang masih keruh (akibat dua tahapan sebelumnya yang ia alfakan) sehingga tidak ingat orientasi paling puncak hidup (zikir).

Makanya Serat Wedhatama mungkin benar, bahwa “ngilmu iku kelakone kanthi laku,” yakni ilmu untuk memahami keutuhan hidup ini tercapai dengan cara menjalaninya atau melakoninya, atau menyesap sedikit-demi sedikit dalam tahapan perjalanan lelakon hidup yang kita diminta bersabar mencicipi maknanya dalam jenjang laku yang menaik.

4

Saya kadang-kadang tergoda untuk berkesimpulan, bahwa untuk mencapai makna “hakikat hidup”–ingat kata “hakikat” adalah tahapan ke-3 dalam jenjang lelakon yang telah saya sebutkan sebelumnya–mungkin bukan pertama memikirkannya dalam olah pikiran berjarak seperti dilakukan dalam filsafat, melainkan cukup menjalani dan melakoninya dalam koridor laku tasawuf dalam pengertian terluasnya. Hidup itu bukan pertama untuk dipikirkan, melainkan dijalani saja, begitu kata banyak orang. Atau meminjam istilah dalam salah satu lirik lagunya Nella Karisma, “pikir keri”.

Hidup itu bukan pertama untuk dipikirkan, melainkan dijalani saja, begitu kata banyak orang. Atau meminjam istilah dalam salah satu lirik lagunya Nella Karisma, “pikir keri”.

Dalam logika ini, makna hidup didapatkan sedikit-demi sedikit dalam laku perjalanan yang meninggi. Dan selalu saja makna itu kita rasa terus saja dalam kondisi tak utuh, yang dengan sendirinya mengundang kita, mau tak mau, terus berjalan dengan rendah hati. Dan tentu dengan cara itu kita semakin lebih “arif” menyikapi hidup beserta misteri dengan segala kompleksitasnya.

Kata “arif” yang telah terserap dalam bahasa kita–seakar kata dengan “ma’rifat” dalam bahasa Arabnya–sebenarnya ingin menunjuk capaian seseorang yang telah sampai kepada ma’rifat, alias telah sampai kepada penilaian “rasa terdalamnya”, ingat padanan empat tahapan yang telah saya kutip dari Wedhatama sebelumnya (raga, cipta, jiwa, rasa). Yakni orang yang telah memahami, bersikap, dan menilai hidup bukan semata dari sisi normatifnya semata (syariat), atau semata mengandalkan penalaran dirinya sendiri yang bisa jadi masih terbelenggu keinginan dan egotismenya (tarikat), yang bisa jadi muncul karena dan dari diri yang belum bersih jiwanya (hakikat). Pendeknya ia, sang arif, adalah orang yang telah melampaui penilaian hitam putih dan benar salah, yang hidup ini tak mungkin bisa diringkus segamblang dan sesederhana dalam rumusan itu.

Karena bagaimanapun setiap yang buruk, jelek, salah, juga derita yang kita sangka buruk dan  tidak baik dalam hidup, ia menyimpan “hikmah” yang bisa kita petik dan sesap. Begitu biasanya yang disampaikan para arif kita.

5

Ijinkan saya mengutip beberapa bait lirik lagu “Suci Dalam Debu”-nya Salim Iklim, agar ilustrasinya menjadi agak gamblang.

“Namun hakikat cinta kita, Kita yang rasa,” begitu kata lirik lagu ini. Hakikat cinta, begitu juga hidup, dalam tafsiran ringkas saya, pada akhirnya digapai melalui perjalanan bertahap yang mengubah diri melalui capaian “rasa” terdalam diri. Karena penilaian normatif kita bisa jadi menyederhakan (“hina jadi mulia”), juga tafsir rasional pikiran dan pandangan kita bisa jadi juga tidak utuh (“cinta bukan hanya dimata, cinta hadir di dalam jiwa, zahirnya kotoran itu terlihat, kesucian terlindung jua, antara kita”).

Hakikat cinta, begitu juga hidup, dalam tafsiran ringkas saya, pada akhirnya digapai melalui perjalanan bertahap yang mengubah diri melalui capaian “rasa” terdalam diri.

Oleh karenanya kita diminta dengan kerelaan dan sikap rendah hati bersabar menerima lelakon perjalanan hidup yang bisa jadi kadang terasa pahit dan getir yang jauh dari jangkauan rumusan nalar kebenaran pikiran kita (“kuharap engkau kan terima walau dipandang hina”). Namun dengan tekad untuk terus menjalaninya, hakikat hidup akan sedikit-demi sedikit terbuka dan bersinar serta datang dalam cahaya pemahaman baru (“di situ kita lihat, bersinarlah hakikat, debu jadi permata, hina jadi mulia”).

Dan dari laku perjalanan seperti ini, bukan hanya akan mengantarkan kita pada “pengetahuan”, namun juga akan menggeret kita pada “kebenaran” yang meneguhkan diri dalam sebuah tugas hidup (derma). Sebuah kebenaran yang akan menambah dan mengokohkan “keyakinan” diri dalam menapaki perjalanan (“bukan hayalan yang aku berikan, tapi keyakinan yang nyata”).

Dan terakhir saya baru sadar bahwa yang bisa meneguhkan perjalanan hidup ke tujuan ultimnya ini tak lain adalah “cinta”, yang secara indah dibahasakan Salim Iklim dengan bait lirik, “karena cinta lautan berapi, pasti akan kurenang jua.”. Dengan cara ini paradoks hidup beserta misterinya bisa kita atasi dan lampaui dengan siap tawaddu’. Meminjam bahasa Nella Karisma “tetep cinta, senajan bojoku galak.”

~~~

 


 

 

Irfan Afifi
Budayawan muda Indonesia, pendiri Ifada Initiatives dan Langgar.co, sekaligus seorang pelajar Kawruh Jiwa.