Warisan terbesar yang ditinggalkan para wali tanah Jawi (baca: Islam di Nusantara), yang mungkin akan susah diterima oleh para muslim hari ini, sebenarnya adalah wayang (kulit) dan bukan “peradaban teks”. Selain Para wali kita tidak meninggalkan teks—kecuali sedikit yang itupun dalam bentuk huruf Hanacara—peradaban teks hanya bisa menyingkap secara terbatas “olah kebudayaan” proses Islamisasi awal, yang sebenarnya telah memanifes dan membentuk “diri” kita, dalam tata ontologi (tauhid) sufisme-Islam yang ingin diperjuangkan.

Mungkin para wali, menurut saya, sangat sadar peradaban teks seberapapun agung dan besar kontribusinya terhadap hidup ini, ia pada akhirnya tak mengantarkan kita pada “akhlak” atau “budi utama”, alias mengantarkan manusia menuju diri paripurna atau utuh-nya (baca: janma utama/insan kamil).

Wayang dengan komponen unsur tembang, cerita, teater, sastra, gending, seni rupa, musik, dan suaranya, seperti dirumuskan Kalijaga, adalah sarana “tanpa menggurui” masyarakat Jawa dan sekitarnya untuk melihat “diri” mereka sendiri. Ia seolah mengajak kita melihat sembilan “fakultas” dalam diri kita (baca: babahan hawa sanga), yang memanifes dalam diri wujud Pandawa, Sembadra, Karna, dan Kresna, agar sisi gelap “kecenderungan” jahat kita tidak tergelar dalam wujud Kurawa yang berjumlah 100 itu. Wayang dengan begitu merupakan eksempalar yang diperlambat ihwal “perang besar” manusia mengalahkan diri-nya sendiri (baca: Jihad Akbar). Inilah cara mengenali diri, seperti diserukan secara kuat oleh “tasawuf”. Man ‘Arafa Nafsahu, Arafa Rabbahu. Siapa mengenal dirinya, Ia akan mengenal Tuhannya. Atau dalam istilah Jawa disebut “mulat sarira”; melihat dirinya sendiri.

 

Dalam pupuh ke-8 “Serat Cebolek” karangan Yasadipura, hal ini terkonfirmasi:

Punapa malih rasaning Kawi

Bima Suci kalihan Wiwaha

Pan sami keh sasmitane

Ngenting rasaning ngelmu

Yen patitis kang mardikani

Kadyangga Kawi Rama

Punika tesawuf

 

Apalagi “rasa”-nya (makna) Kawi

Bima Suci dan Arjuna wiwaha

Sungguh penuh pralambangnya

Sebuah “makna” ilmu yang sangat dalam

Jika tepat (dalam) menguliti maknanya

Seperti halnya Kawi Rama(yana)

Itu merupakan Tasawuf

 

Peradaban teks dengan begitu, dalam kerangka ontologi sufisme (baca: tauhid wujudi), hanya membantu sedikit—atau malah secara deontologis mengkerangkeng “laku” manusia (baca: suluk) yang sebenarnya berjumlah sebanyak jumlah manusia di bumi ini, seperti disitir oleh sebuah perkataan “hikmah” seorang sufi di awal abad Islam. Karena semakin manusia berhasil menderet dan mengeksplisitasi larangan dan seruan dari ajaran, maka semakin terpapar pada mata kita “pelanggarannya”. Ini seolah membenarkan aksioma, “Tidak ada satu koruptor pun yang pada dasarnya menolak bahwa perbuatannya itu tercela dan melanggar agama.” Ini bukan ihwal ketidaktahuan “pengetahuan” akan benar-salah, melainkan cermin “diri” yang telah kotor atau sebentuk kegagalan mewujudkan “diri” kemanusiaannya yang memang tak pernah ia “gulawentah”.

Akhirnya saya sedikit mafhum, warisan terbesar kita sebenarnya jikapun ia terselip dalam peradaban teks kita—yang sebenarnya bukan hanya teks “logis-rasional”, karena berwujud bahasa metafora “sastrawi” yang ditembangkan—hanya merupakan pandu awal agar kita menerjunkan diri dalam olah diri atau riyalat dalam bahasa Jawanya (baca: riyadhoh), sebagai ejawantah ilmu “Kasidan Jati”, “kasampurnan”, atau “ma’rifat”. Olah diri atau tepatnya “olah budi” (mesu budi) tersebut dimulai dengan cara mengenali diri, yang dalam bahasa kita, disampaikan dalam bentuk beragam ungkapan dari sejak zaman Yasadipura hingga Suryomentaram, yakni dari mulai term “mulat-sarira”, “mawas-diri”, “nanding-sarira”, “tepa-sarira”, “nyawang-karep”, hingga “pangawikan pribadi”.

Olah diri, lelaku, atau olah budi dengan begitu adalah “(le)laku” sekaligus proses “budaya” (baca: budi-daya) alias mendayakaan seluruh komponen bagian diri kita yang berjumlah empat itu yang berujud (1) Karsa [Raga], (2) Cipta, (3) Jiwa,  dan (4) Rasa kita—yang dengan sendirinya berbeda dengan “kebudayaan” seperti didefinisikan Kuntjaraningrat yang lebih menekankan sebagai semata “hasil” dari cipta-rasa-karsa dan bukan pada “proses” mengolahnya—agar diri kita menuju keadaan kesempurnaan, keutuhan, atau mencapai keutamaan hakiki manusia (Kasidan Jati/ngelmu kasampurnan) dalam mengemban tugas “kekhalifahan” di muka ini untuk menyebarkan rahmat bagi semesta. Hal ini dirumuskan para leluhur dengan ungkapan indah, “Manunggaling Karsa, Cipta, Jiwa, dan Rasa Agawe Rahayuning Bumi”.

Kebudayaan atau budaya dari defenisi di atas, yang posisi wayang berdiri di dalamnya, dengan begitu dalam makna utuhnya adalah olah budi (amasah mesu budi) atau katakanlah “proses suluk” atau “lelaku” untuk terus-menerus menyelaraskan atau memanunggalkan karsa, cipta, jiwa, serta rasa kita, yang diujungnya akan termanifes dalam tata-budaya, tata-nilai, tata-masyarakat, tata-negara, juga tata-adat, yang hari ini warisan tersebut lamat-lamat kita tinggalkan dan abaikan.

 

Ngelmu iku kelakone kanthi laku            Ilmu itu tercapai melalui sebuah “laku” (diri)

Lekase lawan kas                                   (yang) permulaannya diawali dengan kesungguhan

Tegese kas nyantosani                           yakni kesungguhan yang membantu memperkokoh  (diri)

Setya budya pangekese dur angkara     terus mengolah budi, agar keburukan dan angkara musnah

(Mangkunegara IV, “Serat Wedhatama”, pupuh ke-3, Tembang Pocung)

 

Dalam kerangka ini pula wejangan Wedhatama ihwal “ngelmu iku kelakone kanthi laku” menjadi sedikit bisa dipahami. Ngelmu itu—jauh dari pengertiannya yang semata dicapai sebatas lewat jalan “praktik” (“learning by doing”) dalam bahasa hari ini—sebenarnya adalah sebentuk capaian atau buah dari olah diri “ruhaniah” untuk mendayakan seluruh potensi dan fakultas dalam diri kita (baca: Karsa, Cipta, Jiwa, Rasa)—yang dengan sendirinya berbeda dengan ilmu yang hanya menekankan aspek kognitif-rasional-diskursif fakultas diri hasil sekolah hari ini. Dan kita tahu dari para sesepuh, olah diri “lelaku” tersebut berujung pada jatuhnya anugerah pengetahuan kesempurnaan (budi) atau ma’rifat (kakenan nugrahaning hyang widhi). Yakni dalam bahasa Wedhatama disebut sebagai ngelmu bangkit mikat reh mangukut, kukutaning Jiwangga—alias berujung pada konsep “ora ana apa-apa kejaba dudu”, sebuah proklamasi ontologis “tauhid” (awas roroning atunggil) tentang tidak ada apapun realitas atau kenyataan yang haq kecuali Allah. La ilaha illallah. La maujuda illallah. Sebuah gerak nafi (menegasi) dan istbat (mengafirmasi). Selain-Nya dalam gradasi wujud adalah “bathil” alias tidak “haq”. Dan hanya manusialah yang bisa mencipta (baca: Cipta) tatanan realitas semesta menjadi “haq” agar ia bisa menjadi cermin atau ayat yang memanifestasikan tajalli “Sang Realitas Haq” (Sang Hakikat)— dalam bahasa Wedhatama wujudollah sumrambah alam sakalir.

Laku Ilmu dengan  begitu—atau sebenarnya “perjalanan” lelaku kita menuju Allah (sangkan paraning dumadi)—adalah (1) mengedalikan keinginan dorongan nafsu keinginan natural diri rendah kita yang bisa menyesatkan (Karsa), (2) menajamkan akal-cipta agar kita mengenali haq-batil dengan cara “waspada” terhadap pamrih diri (Cipta), (3) menggosok cermin hati kita dengan mengisi nama-nama-Nya  yang indah (emut/eling), (4) juga memperindah “rasa” estetik-moral yang akan mengantarkan kita pada hakikat kehidupan (wosing/rosing dumadi), yang dengan itu bisa menjadi bekal manusia sebagai “wakil tuhan” menyebarkan rahmat bagi semesta atau turut memperindah alam semesta (memayu ayuning bawana), serta menebar kasih bagi sesama (memangun karyenak tyasing sesama). Karena kebenaran (agama) harus menjadi pakaian yang mempercantik diri menuju akhlak luhur atau budi utama sebagai Manusia (Agama ageming Aji, mring atining tata karma, nggon anggon agama suci)

Dan hanya dari laku ilmu dalam pengertian di atas, kita akan bisa menyingkirkan kejahatan dan keburukan (baca: Bathil) yang sebenarnya merupakan manifestasi dorongan nafsu egotism yang muncul melalui stimulus pancadriya yang melecut kehendak dan nafsu kita. Agar proses berilmu mau tidak mau harus dimulai dengan—dalam bahasa Wedhatama—memperkokoh dan meneguhkan tekad (nyantosani) serta kegigihan disiplin awal kita (kas) untuk terus-menerus mengolah dan mengutuhkan seluruh aspek kemanusiaan budi kita (setya budya), agar keburukan yang sebenarnya bersumber dalam diri kita dapat diberantas (pangekesing dur angkara). Dengan cara seperti itu, proses perjalanan “berbudaya” dalam mengutuhkan kemanusiaan kita akan bisa memberi dampak dalam usaha mempercantik dan “mengindahkan” dunia (memayu hayuning bawana) juga turut bisa menebar rahmat bagi alam semesta.

Allahu a’lam

Yogyakarta, 21 Oktober 2017

Irfan Afifi
Budayawan muda Indonesia, pendiri Ifada Initiatives dan Langgar.co, sekaligus seorang pelajar Kawruh Jiwa.