Saya tak tahu sejak kapan Ijah akrab dengan (kata) Pasemon. Yang saya tahu, hidupnya, terutama separuh hidupnya terakhir, penuh dengan gejala-gejala yang membuat orang sekelilingnya menangkap bahwa ia hidup dan menghidupi lelakunya dalam pengertian penuh kata Jawa itu.

Kata itu, Pasemon, memang sering merujuk pada semacam cara ekspresi dalam Kebudayaan Jawa, bisa dalam sebuah cakapan verbal, tingkah, gestur, tindakan, atau sindiran, yang orang diminta menangkap pesan di balik apa yang tampak. Kata “semu” sendiri—sebagai kata dasar Pasemon/Pasemuan—memang berarti “samar” atau “yang mirip seperti (mengacu) itu, tapi (sekaligus) bukan itu”. Ya apa yang ada dibalik peristiwa, apa yang dibalik perbuatan juga pernyataan.

Mungkin ijah tak sendiri. Orang Jawa—mungkin juga sudah merembes dalam kebudayaan Indonesia secara umum—dari sejak dini dikenalkan untuk menerobos apa yang tampak. Ia dipaksa mengakrabi yang tersirat, metafora, sasmita, ketaklinieran, dan sanepa. Wujud puncak pasemon ini termanifes dalam bangun utuh Kesusasteraan Jawa yang sering ditembangkan secara populer di desa-desa itu. Ijah sepertinya tertanam dalam kebudayaan tersebut, dan sepertinya ia menyesap habis “kearifan” itu.

Beberapa momen, sejauh saya ingat, menunjukkan tanda yang menunjuk “gejala” itu. Dulu, ia sering bercerita, setiap orang, seperti diyakininya, mau tak mau harus memanen buah dari hasil perbuatannya. Ngunduh wohing pakerti, katanya. Mirip konsep kausalitas moral bernama “Karma” itu. Bukan dalam pengertian awam, jika anda mencuri, besok Anda akan dicuri. Melainkan, setiap perbuatan baik (pasti) akan memberi dampak baik atau menghasilkan konsekuensi baik, baik dalam waktu bersamaan maupun di kemudian hari. Begitu juga sebaliknya. Ringkasnya, setiap perbuatan—bahasa kerennya “Karma”—pasti akan menumbuhkan buah (phala, pahala): Karmaphala. Dan orang pasti memanen buah dari setiap perbuatan yang dijalankannya. Sebuah hukum kausalitas moral universal.

Pernah suatu kali, ia bercerita bahwa tetangga yang dulu menjadi aktor jagal PKI tahun ‘65 mati dengan cara mengenaskan. Ada yang mati terjatuh, menelungkup di kandang tahi bebek, menderita stroke yang melumpuhkan sekujur tubuhnya selama puluhan tahun, dan lain-lain. Menurutnya ini adalah pasemon dari perbuatan. Orang harus pintar-pintar menyesap pasemuan yang merentang dan terpapar dalam urip.

Mungkin Tuhan hendak mengajari kita dengan menyediakan lanskap agung semesta ini, sebagai sebuah pasemon Agung, sebagai sebuah sanepa, sasmita, serta tanda (baca: ayat), agar orang menembus yang tampak, agar orang tak berhenti pada yang tampak. Ijah selalu merindukan sasmita ini. Ya sebuah pasemon yang bisa mengantarkan pada-Nya.

Di sebuah acara pernikahan anaknya di Kebumen, misalnya, ia memarahi rombongan tetangga yang diajaknya ngiring manten di kota itu. Pasalnya, para rombongan tetangga, yang secara otomatis mewakili rombongan keluarganya, menyantap dua kali makan dan dengan bersemangatnya mengambil apa saja segala ragam jenis makanan yang tersedia.

Bagi Ijah, tindakan ini adalah pasemon yang buruk bagi keluarga besannya. Namun, kita tak tahu persis, apa respon besan itu apakah sedih, merendahkan, atau malah cukup senang. Bagi Ijah apa yang akan disiratkan dari sebuah tindakan harus dijaga sebaik mungkin agar tak menimbulkan siratan pasemon yang buruk oleh lawan. Dan itu sudah cukup alasan, dan orang-orang dituntut menerima logika itu.

Tak hanya perbuatan, bahkan baginya, kebenaran hanya, dalam konteks tertentu, selalu hadir dalam keadaan sublim juga subtil. Orang yang tak akrab dengan pasemon, alias selalu melihat dalam nuansa hitam-putih, akan gagal menerjemahkan ayat tuhan, sebuah pasemon agung semesta. Dengan cara itu tidak hanya keadilan akan direnggut, melainkan kearifan juga bisa disesap.

Ia pernah rasan-rasan tetangganya, yang menurutnya gagal menyerap kearifan dari peristiwa kecil. Tetangganya, seperti diceritakannya, suatu kali memperingatkan tetangga lain perihal ranting besar pohon yang menjuntai di atas gentingnya. Ia meminta ranting tersebut dipapras, karena takut patah menimpa gentingnya. Belum sempat terpotong, peringatannya terbenarkan, ranting patah menimpa deretan genting hingga pecah. Sang empu genteng menuntut. Dan sang tetangga lain segera mengganti genteng baru. Permasalahan selesei. Namun Ijah melihat, sembari menyindir sang korban genting yang juga merupakan pemuka agama, gagal berlaku arif. Ia, menurut ijah, seharusnya mengganti sebagian uang sebagai kompensasi berubahnya genteng lawas ke genteng baru.

Tindakan tokoh agama tersebut benar, tetapi kurang trap dan pener, alias kurang tepat, ungkapnya dalam sebuah kesempatan berbincang dengan saya.

Saya tak tahu persis kearifan apa yang sebenarnya ia ingin ajarkan pada saya. Saya samar-samar mencoba menangkapnya. Tak benar-benar bisa utuh. Mungkin bagi Ijah, kebenaran, dalam patrap tertentu, memang samar, seperti samar-nya Al Haqq, alias Tuhan itu sendiri. Belum lagi, pengetahuan manusia selalu berusaha menjerat ide-ide agung, layaknya kebenaraan, keindahan, kesusilaan, cinta, dan lain-lain, dalam bentuk definisi, yang sebenarnya pada saat bersamaan merupakan kategori yang memilah dan mengekslusi kenyataan bahkan kehidupan yang sebenarnya satu-kepaduan konsep yang tak terpilah.

Oleh karenaya, mungkin Tuhan hendak mengajari kita dengan menyediakan lanskap agung semesta ini, sebagai sebuah pasemon Agung, sebagai sebuah sanepa, sasmita, serta tanda (ayat), agar orang menembus yang tampak, agar orang tak berhenti pada yang tampak. Ijah selalu merindukan sasmita ini. Ya sebuah pasemon yang bisa mengantarkan pada-Nya.

Waktu dulu menunaikan haji, Ijah sering bercerita mengenai visi-visi spiritual. Tak semua gamblang ia ceritakan. Tapi, samar-samar ia bercerita, perilaku seluruh teman dan saudara yang berangkat bersama ke tanah haram menampilkan pasemon perilaku, tahapan, dan level perjuangan membakar ego yang telah tercapai, dan itu tergambar jelas saat mereka di kota suci ini. Ada seorang yang sering meningggalkan rombongan untuk memenuhi dan memperbanyak ibadah-ibadah yang diserukan, ada yang sibuk berbelanja, ada yang sibuk mengurusi sertifikat haji hingga obat perkasa khas tanah Arab.

Ijah bahkan bercerita tentang rombongan malaikat yang berjalan dengan gemuruh di atas-nya. Terlepas itu, ia sampai punya refleksi yang apik: orang yang tak menangkap pasemon saat menunaikan haji di tanah haram, bukanlah seorang Haji yang “mabrur”. Saya tak tahu apakah Ijah berkata dalam nada menyimpulkan, atau ia sedang ingin berbagi pengalaman.

Yang jelas di puluhan hari terakhir kehidupannya, Ijah bahkan mulai “meninggalkan” teks fikih yang dulu menjadi panduan yang menuntun detail-detail kehidupannya. Ini tak harus mengandaikan aktivitas mendaras Qur’an di sepanjang pagi dalam hampir seluruh hidupnya, ia tinggalkan. Juga aktivitas nafilah-nafilah yang lain, yang ia perlakukan sebagai kewajiaban. Ia ingin menilai kehidupan dengan pasemon-pasemon yang melingkunginya. Dan ia sadar fikih tak menjangkau pasemon-pasemon itu.

Di setiap penghujung malam, seperti diceritakannya, ia sering meminta pandu dan penilaian dari Tuhan, yang tidak ia peroleh lagi dari pendapat fikih, kyai desa di sekelilingnya, juga tokoh-tokoh agama yang dulu ia sangat hormati. Sinar hijau, merah, putih, dan kuning yang sering ia minta sebagai tanda percakapannya dengan Tuhan, sering ia dapatkan.

Puluhan tanda-tanda lain sering mengintrupsi keheningan riyadhoh ruhaniyah malam-malamnya. Namun lagi, meski begitu, Tuhan pun selalu menuntut kita tak berhenti pada “kejelasan”. Toh Tuhan selalu menantang hambanya, dalam sebuah tanda tanya yang tak pernah selesei. Sebuah pasemon berlapis, dan hamba diminta terus mengelupasnya, pelan-pelan, istiqomah, penuh takut dan penuh harap. Mungkin agar tuhan selalu hadir dan “menggetarkan” juga sekaligus “memesona” hati kawula-Nya. Ia adalah misteri yang menggetarkan yang terus mengundang sahaya-Nya (bandingkan dengan kata Saya) untuk menangkap keindahan juga kebenaran-Nya dalam lokus (madh-har) yang berpendar dari seluruh predisposisi (isti’dad) makhluk dan elemen semesta, tempat ejawantah-Nya.

Menjelang hari-hari wafatnya, Ijah memanggil salah satu anaknya: “Kamu hendak pulang ke Magelang kapan?” “Seminggu lagi, Buk,” jawab Nanang putra lanangnya. “Mbok jangan keburu, dua hari lagi keluarga kita ada gawe (acara).” Sang anak tak terlalu menghiraukan. Ia merasa ibu sudah lupa tanggal, karena tidak ada jadwal acara di hari itu. Waktu Bulik Sumil bertandang, Ijah juga bercerita dengan bungahnya: “Wah, saya gembira, seminggu lagi kita ada acara.” Bulik Sumil membalas senyuman Ijah dengan tanda tanya. Bulik Sumil buru-buru menemui putri Ijah, Titin, dan menanyakan apakah acara tadarus keliling puasa tiba pada minggu dan tanggal seperti disebutkan oleh Ijah. Titin menggeleng. Bukan.

Di hari terakhir, saat kalut karena gerakan-gerakan Ijah yang tak normal, yakni seperti tangannya yang bergerak seperti melakukan gerakan takbiratul ikhrom, kepala yang mengangguk layaknya bersujud, juga engah nafas yang mulai sengal, anak-anaknya memutuskan membawanya ke rumah sakit. Anak-anaknya yang mengerubunginya di pembaringan melihat dengan jelas di detik-detik terakhir saat mereka menuntun kalimah tayyibah di kupingnya, Ijah meneteskan air mata sembari tersenyum. Ia bahagia.

Setelah kepergian Ijah, anak-anaknya mulai paham di hari seperti yang disinggunggnya, yakni di sepuluh akhir hari-hari puasa, Keluarga besar Siti Chadijah punya gawe. Doa tahlil dan tadarus keliling yang dibarengkan. Dan seperti diutarakan sendiri, Ia bahagia dengan acara itu. Saya tak tahu sebenarnya ia sedang memberi pasemon apa?

Irfan Afifi
Tempursari, 4 Oktober 2015
Mengenang 100 hari kepergian Ibunda Siti Chadijah.

Irfan Afifi
Budayawan muda Indonesia, pendiri Ifada Initiatives dan Langgar.co, sekaligus seorang pelajar Kawruh Jiwa.