Dulu saat mengkopi untuk pertama kalinya (sebagian) buku yang sering disebut banyak orang sebagai “ensiklopedia Jawa” atau sering dikenal umum sebagai “Serat Centhini” ini, saya mendapati pengalaman yang unik. Teman saya yang waktu ikut membuka lembar-lembar serat dengan ketebalan 12 jilid ini sempat sedikit heran ihwal beberapa kutipan berbunyi Arab yang cukup mudah ditemukan, deretan nama tarekat yang muncul di beberapa bait, maupun nama-nama kitab khasanah ilmu pesantren yang beberapa kali menghiasi baris-baris “pada” dalam format tembang Macapat yang memang dipilih untuk menuliskan keseluruhan ajaran serat ini.

Teman saya mengira, Centhini adalah sejenis Kamasutranya Jawa atau minimal kitab kuliner Jawa (ingat karya E. Inandiak yang telah mengeksplorasi seksualitas Centhini yang baru-baru ini sempat beredar). Atau setidaknya, menurut dugaannya, serat ini adalah karya heterodok yang menyimpang dari Islam, atau malah ajaran kebatinan yang bersumber pada ajaran Hindu-Buda pada zaman Majapahit, yang masih terus dirawat oleh masyarakat Jawa yang tak terlalu rela warisan spiritual nenek moyangnya, hilang karena fajar Islam mulai menjelang di tanah Jawa. Setidaknya ia merupakan warisan “sinkretik”, tentu dengan nada peyoratif, imbuhnya. Banyak orang memang sering salah duga. Dan itu wajar.

Th. Pigeaud dalam “Literature of Java”-nya menyebut inti sebenarnya dari Serat Centhini adalah tembang mistik Islam Jawa yang berjudul “Suluk Centhini”

Para pakar kajian Jawa telah bersepakat bahwa serat ini masuk dalam kategori genre “suluk”, alias tembang mistis (tasawuf) Jawa. Bahkan dalam pengantar awal terbitan lengkapnya (1985), oleh penerbit Yayasan Centhini, nama sebenarnya serat ini adalah “Suluk Tambangraras”. Seperti dijelaskan Nancy K. Florida, ternyata kesusateraan Jawa mengenal dua genre sastra bernama “suluk” atau tembang/puisi, dan genre “wirid” atau berarti ajaran/prosa/gancaran. Ingat dua kata ini, “suluk” maupun “wirid” merupakan istilah kunci yang dalam tasawuf (tarekat). Dan dari identifikasi awal ini, kita sebenarnya sudah mulai bisa menduga—meski kata suluk mulai dicerabutkan dari akar sufismenya—bahwa karya ini memang dimaksudkan untuk menyampaikan ajaram mistik jawa (islam), ajaran paling puncak ihwal kesempurnaan hidup Jawa.

Belum lagi, menurut Poerbatjaraka, Serat Centini sebenarnya merupakan eksplorasi baru dari karya suluk yang lebih tua, yakni Suluk Djatiswara, sebuah karya tembang mistisisme (sufi) Jawa di zaman PB III. Artinya serat ini ada dalam galur kesusatraan mistik (Islam) Jawa, atau lebih khusus sufisme yang berkembang di tanah Jawa. Bahkan orang sekelas Th. Pigeaud dalam “Literature of Java”-nya menyebut inti sebenarnya dari Serat Centhini adalah tembang mistik Islam Jawa yang berjudul “Suluk Centhini”. Lalu bagaimana ihwal isinya?

Ensiklopedia Jawa

Serat Centhini yang kita kenal sekarang ini dalam 12 jilid yang terdiri dari 772 satuan bait (baca: “pada”) dikarang di zaman Pakubuwana V di tahun jawa 1742 atau 1814 M. Kemungkinan besar pangeran mataram yang kelak bergelar Pakubuwana V inilah yang menunjuk dewan penulis yang terdiri dari: R.Ng Yasadipura II, Raden Ranggasutrasna, serta Raden Sastradipura. Kita tahu, Yasadipura II, sang pujangga keraton tersebut, adalah santri Kyai Kasan (Iman) Besari di Pesantren Gebang Tinatar, Tegalsari, Ponorogo, tempat pelarian PB II saat pemberontakan Cina pecah. Ronggasutrasno pujangga Istana terkemuka penggubah beberapa tembang, sedangkan R. Ng. Sastradipura pernah pernah tercatat mengganti namanya menjadi Ahmad Ilhar setelah kepulangan Haji dari tanah Mekkah, serta mengarang berbagai suluk terkemuka.

Saya sendiri tak tega mengabaikan tafsiran “Islam” dalam serat ini, yakni hanya dengan melihat latar pesantren yang dilakoni Yasadipura II saat menghabiskan masa “ngaji”-nya di pesantren Kyai Imam Besari, Ponorogo, dan sempat menelurkan “Serat Dewa Ruci” yang terkemuka itu. Atau terkait Ronggasutrasno yang dikabarkan pernah mengarang “Serat Kidungan”, sebuah naskah “suluk” yang mengajarkan perlambang “ngelmu Islam sajati” ajaran wali tanah Jawa yang masyhur: Sunan Kalijaga. Atau Raden Ngabehi Sastradipura menganggit ”Suluk Rupa-rupi” juga kitab “Lungguhing Sipat Kalih Dasa Wonten Ing Badan.”(Tempat Sifat Duapuluh (Allah) Dalam Badan).

Bahkan beberapa riwayat—terutama pada Centhini versi Kamajaya (Yayasan Centhini)—menyebutkan, bahwa Kyai Kasan (imam) Besari sendiri plus Kyai Ahmad Kategan (ulama besar Surakarta) ikut terlibat dalam dewan penyusunan naskah serat ini, selain tiga tokoh yang telah disebut di atas. Dari latar demikian, kita—tepatnya saya—sepertinya perlu memberi ruang tafsir yang cukup bagaimana term-term islam—tepatnya sufisme—menghiasi bait-bait secara menyeluruh dalam serat ini.

Ada beberapa pakar yang telah mengeksplorasi, khasanah literatur pesantren yang memenuhi wajah Centhini secara keseluruhan. Dr. Soebardi, misalnya, dalam sebuah International Conggress of Orientalist di Australia tahun 1971, telah banyak membahas ihwal ini. Saya hanya akan mengulang temuan-temuannnya.

Suluk Centhini sebenarnya adalah cerita tentang “santri lelana”, santri yang mengembara. Tokoh kuncinya bernama Syekh Amongraga (Jayengresmi) selain tokoh-tokoh lain seperti Ki Baji panutra, Rancangkapti, Ken Tambangraras beserta pembantunya (cethi abdi) bernama Centhini, maupun tokoh bernama Jayengraga. Tokoh kunci Amongraga bersama dua saudaranya Jayengsari dan Niken Rancangkapti ini adalah anak keturunan Sunan Giri III (Giri Prapen) yang terpaksa harus meninggalakan kedaton-nya, saat penyerangan Sultan Agung dan Pangeran Pekik Surabaya, yang membuat kocar-kacir seluruh keturunan Giri.

Centhini dengan sangat apik melukiskan bagaimana tiga keturunan Giri bersama beberapa santri yang mendampinginya bisa lolos dari peperangan, saling terpisah, dan mengembara menelusur ke seluruh penjuru Pulau Jawa. Arah pengembaran yang berbeda dari ketiga keturunan ini justru memberi lanskap cerita yang kaya akan tradisi, topografi, busana, musik, bahasa, paramasastra, etika, katuranggan, petung, etika, erotisme, gaya hidup, serta khasanah “ngelmu” Jawa. Syaikh Amongraga sebagai tokoh kunci misalnya digambarkan sebagai “santri” sekaligus “guru” Islam yang mengembara menyusuri pertapaan, petilasan, gunung, hutan, gua, candi, dan pesantren di seluruh daratan pulau Jawa, setelah peristiwa penaklukkan Kedaton Giri. Ia menyusuri tempat suci dan pesantren Jawa ke arah barat hingga sempat berguru pada Syeikh Karang, Banten, Jawa Barat, kemudian menyusur hingga ke Timur menemui Ki Baju Panurta, dan sempat menyesap seluruh ilmu dari Guru pesantren di Wanamarta ini (Jawa Timur), dan menikahi salah satu anaknya Ken Tambangraras, serta selanjutnya memutuskan meninggalkan istrinya untuk mengembara ke pedalaman Jawa Timur, bersambung mengunjungi tempat suci, gua, petilasan, serta menemui para pertapa, ajar, wiku, dan guru-guru pesantren ke pedalaman Jawa Tengah selatan.

Hasil yang kita bisa baca, terbingkai dari cerita dari latar berbagai Pesantren kampung dan Perdesaan di sepanjang dataran pulau Jawa yang bisa dibayangkan di abad 17, Centhini merajut jalinan tenun verbal beribu-ribu helai pemikiran, adat, kebiasaan, sejarah, dan kesusasteraan, dan mistisisme ke-Islam-an Jawa. Atau secara ringkas bisa dikatakan, Centhini adalah—mengutip Nancy K. Florida—“untaian indah khasanah ‘ngelmu’ dunia pesantren Jawa yang kaya di abad 19 awal”.

Suluk Centhini sebenarnya adalah cerita tentang “santri lelana”, santri yang mengembara.

Selain itu, dalam babak-babak awal pengembaraan Syeikh Among Raga, Centhini memberi tekanan lebih pada kualitas spiritual tokoh ini—dengan memberi nama panggilan “syeh”—melebihi Ki Baju panurta, Ken Tambangraras, juga Djayengraga, yang berturut-turut merupakan tokoh-tokoh agama yang begitu dipandang di komunitas santri Desa Wanamarta. Gelar ini merujuk kualitas seperti digambarkan secara baik dalam Centhini, ihwal penguasaan disiplin ilmu-ilmu keislaman utama seperti “Fikh” (hukum Islam), “Usul” (Teologi Islam), dan mistisisme (tasawuf).

Bahkan tidak hanya dianggap santri-guru terpelajar yang taat menjalankan sholat lima waktu, melainkan Amongraga juga digambarkan santri yang cakap membaca Qur’an, mengutip Sunnah, dan menjalankan dzikir. Ia lebih dari semua, merupakan “santri-guru” par-excellent yang telah menyesap pengetahuan rahasia “ma’rifat” (mistisisme) Islam.

Beberapa kitab dalam khasanah pesantren yang beberapa kali Syeikh Amongraga sebut dalam bait-bait Centhini, khususnya dalam bidang Fikh diantaranya Mukarrar, Sudjak, Kitab Ibnu Kajar, Ilah, Sukbah, dan Kitab Sittin. Selain kitab-kitab Fikh, Syeikh Amongraga juga menyebut beberapa kitab dalam bidang Teologi (Usul) dalam bait-bait Centhini diantaranya, Semarakandi, Kitab Durat, Talmisan, Asanusi, Patakul Mubin, Bayan Tasdik, Sail, and Djuahiru. Selain Kitab Fikh dan Kalam (teologi), pada bait-bait Centhini juga beberapa kali menyebut kitab-kitab tafsir Qur’an seperti Tepsir Djalalen (“Tafsir al-Jalalaini”) Tepsir Baelawi (“Tafsir al-Jalalaini”). Baik kitab fikih, usul, maupun tapsir yang disebut di awal sebagian (besar) hingga hari ini masih dipelajaari di pesantren-pesantren kita.

Selain itu, dalam Serat Centhini juga disebut kitab tasawuf yang merupakan dasar ajaran “Kesempurnaan Hidup” yang menjadi puncak ilmu makripat Jawa, diantaranya Ulumuddin, Adkia, dan Kitab Insan Kamil. Kita dengan sangat mudah mengidentifikasi Ulumuddin sebagai nama Arab kitab “Ihya’ Ulumuddin” karya masterpiece Hujjatul Islam Al-Ghazali (1111 M). Kitab ini sangat popular dalam lingkungan pesantren hingga hari ini. Khusus terkait bab etika yang dijelaskan di sepertiga kitab ini malahan begitu popular. Kiai Saleh Darat Semarang (gurunya Kartini) misalnya pernah membuat ringkasannya dalam aksara Jawa pegon. Bahkan di tahun 1936, seorang Kiyai Hardjadarsana Purwokerta menggubah ringkasan ini dalam bentuk tembang dengan nama Serat Mundjijat.

Untuk Adkiya, sebagaimana disebutkan dalam Centhini sebenarnya merujuk judul kitab “Hidayat al-Adhkiya’ ila Tharïk al-Auliya’ (Petunjuk Orang-orang Pandai atas Jalan Para Wali), yang dikarang oleh Zain al-Din Ali al-Malaibari (1522 M).

Sedangkan terakhir Kitab Insan Kamil tidak lain adalah kitab yang dikarang oleh ‘Abd al-Karim b. Ibrahim al-Djïlï (antara tahun 1406-1417 M), dengan judul lengkap ”al-Insan al-Kamil fï Ma’rifat al-Awakhir wa’l-Awa’il”I. Manuskrip kitab ini pernah ditemukan di Banten. Kita tahu, Kitab “Insan Kamil” adalah usaha ekplisitasi ajaran wahdatul wujudnya Syaikh Ibn Arabi yang tersohor itu. Setidaknya, melalui karya murid Al Jilli, Al Burhanfuri, yang berjudul “Tuhfatu al-Mursalah ila ruh an-Nabi” yang banyak beredar di Nusantara, gagasan wahdatul wujud ibn Arabi menyebar ke Aceh dan Sumatera, serta menghiasi hampir secara menyeluruh gagasan pandangan dunia “manunggaling Kawula Gusti” di banyak literatur mistik Jawa.

Seluruh literatur pesantren yang disebut dalam Centhini di atas, sungguh menegaskan posisi Tokoh kunci Amongraga, yang begitu mekankan keseimbangan harmonis “sarengat” (syari’a) dan “tarekat” (thariqa) di satu sisi, “hakekat” (Haqiqa) dan “makripat” (ma’rifah) di sisi lain. Ia menunjuk “Syaria” dan “ma’rifa” sebagai “wadah sakalir”, sedangkan Ma’rifa dan Haqiqa sebagai “buah/biji anugerah” (widji nugaraha). Biji yang ditaruh di tempat yang tidak layak, hanya akan menjadikan kemurahan Tuhan tak lagi berarti. Oleh karenanya biji dan wadah adalah sesuatu yang tak terpisahkan. Hubungan harmonis antara keduanya akan mengantarkan pada kesempurnaan hidup (kasidan), atau sering disebut dengan “ngelmu kasampurnan”.

Namun lagi-lagi, warisan khasanah “ngelmu” yang terajut indah dalam Serat Centhini—yang senyatanya merupakan warisan khasanah Pesantren yang begitu berharga, tidak lagi diakrabi oleh santri-santri pesantren hari ini di satu sisi. Dan si sisi lain, orang-orang Jawa yang masih menekuni khasanah ngelmu ini begitu kewalahan menafsirkan term-term mistik Islam di dalamnya. Dan akhirnya, saya tak terlalu tahu, kapan kedua kelompok ini saling bersapa dan bekerjasama.

Wallahualam.

***

Irfan Afifi
Budayawan muda Indonesia, pendiri Ifada Initiatives dan Langgar.co, sekaligus seorang pelajar Kawruh Jiwa.