Bulan separo, langit cerah, bintang-bintang bertaburan. Indah. Malam itu Wisagenit kebetulan mendapat undangan untuk menyaksikan sebuah pergelaran sendratari yang mengangkat legenda Jonggrang, seorang putri prabu Boko. Konon kabarnya, karena tidak cinta kepada Bandung, kemudian sapata, bersumpah. Dia tidak akan mau melayani sebagai istri. Lalu dikutuklah ia menjadi Arca. Demikin kira-kira singkat kisahnya. Sebuah kisah tak tertulis yang hadir lewat lisan para leluhur akan dipanggungkan.

Dingin angin di halaman panggung terbuka semakin terasa. Bintang-bintang masih saja setia, semakin malam kerlap kelipnya nampak semakin indah. Wisagenit duduk di pojok belakang. Kisah Jonggrang akan dimulai.

Tiba-tiba saja, duduk di sampingnya seorang lelaki setengah baya. Wajahnya tampak begitu akrab di mata Wisagenit. Wisagenit tersenyum. Tegur sapa dimulai. Seperti biasa, Wisagenit menyapa dengan bahasa Jawa ala kadarnya. Dan diketahui orang separo baya di sampingnya itu bernama kang Sanak. Berdandan rapi, bersepatu. Rambutnya tertata rapi. Wisagenit terpaku, melihat dirinya sendiri: sandal jepit, jaket mbladus dan kaos oblong. Hmm. Batinnya.

Di panggung, di sisi belakang sebuah kelir tergelar. Tampak bayangan gunungan. Sebuah kayon sedang digerakkan sang dalang. Tampak meliuk-liuk, tatah ukiran di kulit gunungan begitu nyata. Mistis

Di panggung, di sisi belakang sebuah kelir tergelar. Tampak bayangan gunungan. Sebuah kayon sedang digerakkan sang dalang. Tampak meliuk-liuk, tatah ukiran di kulit gunungan begitu nyata. Mistis. Wisagenit begitu menikmati adegan itu, penari-penari di panggung tak begitu ia hiraukan. Liukan gunungan yang disorot lampu baginya tampak sangat indah, lebih imajinatif dan menakjubkan.

“Kenapa itu bernama gunungan mas?”

Sambil melirik, tiba-tiba Kang Sanak melemparkan pertanyaan.

“Bentuknya seperti gunung mas,” Wisagnenit menjawab sekilas.

Ia masih terpukau dengan bayangan gunungan yang dimainkan sang dalang. Pada sulur-sulurnya, pada bayangan hiasan-hiasannya. Kemudian, ia menata duduknya. Hadir di hadapannya semesta gunung, pohon kehidupan. Wisagenit teringat buku yang pernah dibacanya, Suta Naya Dhadhap Waru : Manusia Jawa dan Tumbuhan.

“Gunungan adalah penanda, penegas tentang manusia Jawa mas, mereka yang senantiasa bersidekat, selibat  dengan hutan dan gunung, pun mungkin tergantung dengan tumbuhan,” Wisagenit menyambung jawaban.

Gunungan adalah penanda, penegas tentang manusia Jawa mas, mereka yang senantiasa bersidekat, selibat  dengan hutan dan gunung. Dalam gunungan ada rumah, gapura, sulur-sulur, binatang hutan, binatang piaran dan banyak lainnya.

“Panjenengan perhatikan Mas, dalam gunungan ada rumah, gapura, sulur-sulur, binatang hutan, binatang piaran dan banyak lainnya. Gunungan, disebut demikian karena bukan gunung betulan kan Mas? Tapi, bukankah ketika leluhur kita menggambarkan itu, melukiskan dengan begitu detail seperti itu, menandakan ada hal di baliknya? Bukankah kemudian bisa disepakati bila mereka sudah punya pengalaman, empirisme terkait keberadaan mereka yang ada dalam Gunungan itu?” sambung kang Sanak.

Wisagenit terdiam. Membayangkan siapa sebenaranya pencipta pertama gunungan, Kayon itu. Jan elok tenan je. Ya, bisa jadi itu empirisme. Batinnya.

“Jawa itu jawata mas, dewa. Jadi kita memiliki kekayaan karya yang tak terperi, yang bisa menjadi referensi bagi bangsa lain. Orang mesir, mereka pernah ke sini, mereka ingin sekali memiliki gunung-gunung seperti di Jawa. Maka mereka kemudian membuat piramid.”

Wisagenit masih tertegun, kaget mendengar pernyataan dari kang Sanak. Apa iya. Batinnya lagi.

“Anda tahu Mas, di Jawa, setiap makhluk, memiliki dimensi dan bisa diajak untuk berkomunikasi. Semisal tentang awan. Anda tahu, bahwa ada sosok yang bisa diajak bekerjasama untuk menggiring awan agar tidak hujan untuk sementara? Sosok itu, badannya manusia, namun kepalanya berujud sapi Mas. Dialah yang mampu menggiring mendung untuk pindah sementara agar tidak hujan di suatu tempat. Dialah yang bernama Aldaka, sosok yang bisa kita ajak dialog untuk ‘nyang-nyangan’ terkait hujan itu.

Anda tahu, bahwa ada sosok yang bisa diajak bekerjasama untuk menggiring awan agar tidak hujan untuk sementara? Dialah yang bernama Aldaka, sosok yang bisa kita ajak dialog untuk ‘nyang-nyangan’ terkait hujan itu.

Wisaganit terus saja diam, menyimak dan tidak banyak paham. Batinya bergolak, penuh tanya. Bukankah Aldaka itu nama lain dari Gunung, sebagaimana Ardi, Giri? Batinnya.

“Dan Aldaka itu bersemayam di utara sana Mas… “ lanjut kang Sanak sambil menunjuk ke arah Gunung Merapi.

Wisagenit mengerenyutkan keningnya. Baru pertama kali ia mendengar dongeng yang ini.

“Jadi, Jawa itu mempunyai kekayan sejarah Mas. Banyak kisah sejarah yang tidak tercatat di buku-buku yang ditulis oleh para cendekia, Doktor,  Pofesor, di Kampus-kampus. Saya sering terlibat bersama beberapa orang, mengulas kisah-kisah dari sejarah yang itu Mas. Tentang Borobudur misalnya, bagaiamana dibangun, cara membuat siku bangunan candi, arahnya yang pas dan susunan batu-batunya. Dari mana mereka memulai membangunnya. Semua kami diskusikan dan cermati mas. Dan sejarah itu, kami tidak menyebutnya sebagai Purbakala mas, kami menyebutnya Purbaraya…”

**

Kang Sanak tampak antusias mendongengkan pengalaman-pengalamannya. Termasuk ketika menyoal koleksi dan riwayat keris-kerisnya. Tentang keris Buntel Mayit, Nyi Brojol dan lainnya, dan lainnya, yang membuat wisagenit tambah ndomblong. Termasuk tentang riwayat bahwa Sleman, kabupaten tempat di mana Wisagenit numpang tinggal sekarang.

“Sleman itu selo dan liman mas, batu dan gajah, jadi apa batu dan gajah itu?

Wisagenit  menahan jawabannya.

“Ganesha Mas” sambil tersenyum Kang Sanak menegaskan.

Wisagenit masih saja diam. Di panggung terbuka Sendratari Jonggrang telah tiba pada adegan perang antara Bandung dengan Prabu Boko. Berlanjut dengan kekalahan Boko. Dan puncaknya pada adegan sumpah Jonggrang. Selesai. Lampu padam sebentar, lalu kembali terang. Penonton berfotoria, hilir-mudik para pemangku acara. Kursi-kursi, panggung, gamelan, dibereskan.

Di panggung terbuka Sendratari Jonggrang telah tiba pada adegan perang antara Bandung dengan Prabu Boko. Berlanjut dengan kekalahan Boko. Dan puncaknya pada adegan sumpah Jonggrang. Selesai.

Wisagenit baru menyat dari duduknya ketika kursinya harus segera diambil oleh petugas.

“Terima kasih Kang, untuk kisah dan dongengya.” Katanya sambil menyalami kang Sanak.

Mereka pun berpisah, saling mendoakan dan berjanji bisa omong-omong bersama lagi.

Di sepanjang jalan, kepala Wisagenit dipenuhi kisah sekaligus pertanyaan-pertanyaan. Terbentur ingatannya pada berita di media sosial tentang riuh rendah perbincangan sejarah maha patih Gadjah Mada, dongeng Majapahit dan lainnya.

Sampai di rumah, Wisagenit diam sejenak, dibukanya sebuah buku perihal Jawa, tertulis dan terbaca di sana : “Sing ngati-ati, aja nganti kesandhung ing rata kebentus ing tawang. Bener durung mesti pener, salah durung mesti kalah, becik bisa kuwalik. Awit dalane ora mung siji…”

Hmm. Ya, kebenaran ada di mana-mana dan bisa datang dari mana pun. Dan kebenaran dan kesalahan yang hidup di sini tak pernah tunggal adanya.

Matur nuwun kang, matur nuwun untuk dongengnya. Gumam Wisagenit sambil mancal sarung.

 

***

Sukandar (Cak Kandar)
Sukandar adalah seorang penyair serta merupakan punggawa utama di Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta.