Ibnu Arabi di Jawa

https://britishlibrary.typepad.co.uk islamic-humanities

Sejak peristiwa eksekusi Seh Siti Jenar juga Hamzah Fansuri, banyak orang menautkan ajaran “manunggaling kawula gusti” atau “wahdatul wujud” dengan tokoh sufi syahid Al Hallaj yang masyhur. Bahkan orang macam Michael Feener berusaha keras untuk membuktikan jejak-jeak ajaran Al Hallaj di Nusantara. Namun, dari berbagai temuan dan pembacaan naskah, justru menunjukkan secara kuat sebaliknya ihwal pengaruh kuat gagasan sufi Ibnu Arabi, sang syaikhul akbar yang tak kalah sohor.

Martabat Tujuh

Di sebuah naskah popular yang sering diatribusikan pada nama besar “pujangga panutup” Ronggawarsita sebagai pengarangnya, Serat “Wirid Hidayat Djati” atau dengan nama “Serat Makripat” menurut salinan P.W. Van Den Broek, ajaran tentang “martabat tujuh”, yakni ajaran ihwal tujuh tahap tajalliat Allah sebagaimana dialamatkan sebagai ajaran sufi agung Ibnu Arabi itu, benar-benar terpapar secara gamblang. “Istilah-istilah” kunci tiap martabatnya bahkan meminjam secara harafiah dari konsep martabah tujuh, atau di Jawa dikenal dengan nama “martabat pitu”, seperti (1) ngalam Ahadiyat, (2) Ngalam wahdat, (3) ngalam wahidiyat, (4) ngalam arwah, (5) ngalam misal, (6) ngalam Ajsam, dan (7) ngalam insan kamil. Atau juga diterangkan pada halaman lain dengan penjelasan, (1) sajaratu yakin/kayun atau atma, (2) Nur Muhammad atau nur (3) Miratul Kyai atau rahsa (4) Roh ilapi atau suksma, (5) kandil atau nafsu, (6) dharrah atau budi, dan terakhir (7) kijab atau jasad.

Bahkan secara eksplisit, terutama di halaman awal “Serat Wirid” ini, tiap-tiap “martabat” dijelaskan, diwariskan, dinisbahkan, dan diwejangkan oleh para wali tanah Jawa—selepas meninggalnya Kanjeng Sunan Ampel Denta—seturut dengan jenjang dan “pangkat” tiap martabat yang disandang oleh delapan wali Jawa, yang terus tergantikan dari zaman Demak, hingga zaman Pajang dst. Dimulai dari Sunan Giri yang bertugas mengajarkan keber-‘ada’-an Dzat (baca: martabat ahadiyat), Sunan Tandhes, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Kajenar, Sunan Geseng, dan seterusnya.

Bahkan sang Pujangga Ronggawarsita, penyusun serat ini, mengaku hanya menyampaikan ajaran para wali tanah Jawi dalam membabar “wiji” ngelmu kasampurnan (baca: martabat insan kamil) yang didasarkan pada dalil, kadis, ijma, dan kiyas—seperti kita kenal sebagai dasar keyakinan ke-Islam-an Ahlussunnah wal Jamaah. Hal ini sekaligus menepis tuduhan Syi’ah yang sering dilontarkan masyarakat terhadap keyakinan para Wali.

Di dalam “Suluk Wujil” karangan Sunan Bonang, bahkan disebutkan terdapat seorang guru yang mengajar seorang santri bernama Wujil—sering diidentifikasi sebagai sosok Sunan Bonang sendiri—disebut dengan gelar “Ratu wahdat” (martabat kedua)–diterjemahkan secara salah oleh Prof. Poerbatjaraka sebagai “Raja selibat” (wadat)—sebuah gelar yang mengacu pada jenjang “martabat kedua” dalam konsep gradasi ruhani keberadaan semesta dalam relasinya dengan wujud Allah (martabat tujuh). (Pada 1&2, Suluk Wujil).

Beberapa sarjana telah berusaha menjelaskan bagaimana konsep ajaran “martabat tujuh” ini beredar dan mempengaruhi tokoh-tokoh semisal Hamzah Fansuri di Aceh, Raja Ali Haji di Riau, Hasan Mustapa di Sunda, maupun Ronggawarsita di Jawa. Konon, dalam karya-karyanya Saikhul Akbar Ibn Arabi tidak pernah secara eksplisit memaparkan tentang konsep “martabat tujuh”.

“Serat Centhini” juga menguatkan koherensi ini. Misalnya di halaman terkahir Jilid I “Serat Centhini” terbitan Yayasan Centhini Yogyakarta (1985, Jilid I: hal 332)), Ayah seorang tokoh bernama Mas Cebolang, yang tinggal di daerah Sokayasa, Banyumas, dikenal dengan sebutan “Seh Akadiyat” (Martabat pertama). Atau di bagian halaman lain “Serat Centhini” juga menyebutkan seorang wiku yang tinggal di gunung Argapura, yang tiba-tiba muncul seketika di hadapan Jayengsari dan Niken Rancangkapti saat beristirahat di gunung itu, yakni seorang asketis bergelar “seh wahdat” (martabat kedua), seorang wiku Argapura yang akan memberi wejangan pada Jayengsari terkait pengetahuan dzat, sifat, asma, dan af’al Allah, serta jalan menuju-nya (pupuh 72 Dhandhanggula, pada 28 & pupuh 73 Asmaradana, pada 1-47, hal. 259 & 261-5).

Malah dalam bait-bait lebih rinci di Serat Centhini, khususnya pada tembang Asmaradana ke-48 (jilid 1), Jayengresmi saat masih tinggal di gunung Tanpomas bahkan sempat menerangkan secara detil satu-persatu rincian konsep “martabat tujuh” (kasapta martabah) kepada Niken Rara Ruhkanti, yang wejangannya terkait tiap martabat memenuhi hampir seluruh isi tembang yang terdiri dari 40 bait penjelasan, yakni untuk menghibur Niken Ruhkanti yang sedang dirundung kesedihan setelah di tinggal wafat sang ayah (hal. 160-164).

Beberapa sarjana telah berusaha menjelaskan bagaimana konsep ajaran “martabat tujuh” ini beredar dan mempengaruhi tokoh-tokoh semisal Hamzah Fansuri di Aceh, Raja Ali Haji di Riau, Hasan Mustapa di Sunda, maupun Ronggawarsita di Jawa. Konon, dalam karya-karyanya Saikhul Akbar Ibn Arabi tidak pernah secara eksplisit memaparkan tentang konsep “martabat tujuh”. Baru kemudian oleh para muridnya lah gagasan-gagasan ini menemukan bentuk secara lebih defenitif yang kemudian hari menyebar dan dikenal di Indonesia. Awalnya adalah kitab “Insan Kamil” yang dikarang oleh “murid” Ibnu Arabi di India yang bernama Abd Alkarim Al Jilli, dan kemudian mendapat skematisasi dan sistemasi yang final di tangan seorang “murid” Jilli, Alburhanphuri, yakni dengan judul; “Tuhfatul Mursalah Ila ruh in Nabiy” atau sering disebut secara singkat dengan “tuhfah”.

“Serat Centhini” menyebut kitab “Insan Kamil”—merujuk pada karya Al Jilli di atas–sebagai salah satu kitab yang dipelajari dan dikuasai oleh Seh Amongraga, tentu selain kitab tasawuf lain yang juga disebutkan seperti Adkiya dan Holomoddin. Yang pertama berjudul lengkap “Hidayatul Adzkiya ila Tariqil Auliya” karangan Zainuddin Al Malibari, sedangkan yang kedua maksudnya “Ihya Ulumuddin” karya Imam Ghazali yang terkenal. Selain itu, A.H. Jhons telah menemukan manuskrip “Serat Tuhfah” atau “Serat Tupah” yang merupakan terjemahan atau gubahan “Tuhfatul mursalah Ila Ruhin Nabiy” karya Burhanpuri yang telah digubah oleh orang Jawa dalam bentuk tembang macapat yang terdiri dari empat pupuh (tembang), dan 131 ‘pada’ (bait). Kitab tipis ini baru saya dapatkan akhir-akhir ini, sekitar 4 bulan kemarin. Bahkan, jika ini diterima, di serat lain yang judunya hampir mirip, berjudul “Kitab Topah” yang diterbitkan Penerbit Soemodidjoyo Mahadewa, Yogyakarta (1957), Ali bin Abi Thalib sendirilah yang datang (secara ruhani) ke Jawa menerangkan ilmu “martabat tujuh” di pulau ini.

Seperti dikatakan Seyyed Hossein Nasr, doktrin kesatuan (baca: tauhid) atau sering dikenal sebagai “manunggaling kawula gusti” dalam kasus kita, sebenarnya, bukan persatuan wujud—karena yang benar-benar ‘wujud’ hanya Allah.

Dari karya-karya murid Ibnu Arabi inilah, atau juga dari sebagian kutipan karya sang syeikh sendiri, ajaran martabat tujuh atau kadang sering dikenal dengan ajaran “wahdataul wujud” menyebar ke Nusantara secara umum, termasuk di Jawa. Ajaran ini menyebar awalnya mungkin, setidaknya yang bisa kita identifikasi, melalui jalur tarekat Syattariah (juga Isbandiyah atau Naqsabandiyah), sebuah tarekat yang diikuti oleh Seh Amongraga seperti diceritakan Centhini (hal. 56, jilid 6). Kita juga mendapati bahwa Sang Pangeran Diponegara, sang tokoh Perang Jawa, seperti dicatat Peter Carey, juga membaca secara giat “Serat Topah” dari jalur Guru Syattariahnya, Kyai Taptojani, Mlangi. Bagan “daerah” (denah mistik terkait zikir) yang digambar Pangeran Diponegara di buku Babad Tanah Jawi beliau (1838) menunjuk pada keterkaitan tarekat Syattariah dan Naqsabandiyah (Carey: 2014, 38), seperti dalam kasus Seh Among raga. Hal ini persis seperti dijalani Paman ronggawarsita, Ronggasasmita, yang juga mengamalkan wirid syattariah dengan tekun, atau bahkan mungkin juga malah Sang Pujangga sendiri.

Ajaran martabat tujuh inilah yang kemudian membentuk struktur pandangan dunia kejawaan, ihwal manusia, alam, dan Tuhan, yang sayangya justru oleh para pakar seperti Zoetmulder dan Harun Hadiwiyono, justru masih dipautkan dengan konsep Hinduisme yang jauh seperti aliran Vedanta, Sankara, hingga Ramanunja, yang sebenarnya tak punya riwayat dan bekas pemikiran nyata di Pulau ini. Akibatnya, kejawaan mengalami beban sebutan peyoratif “panteisme” yang tak punya padanan pas dalam khasanah pemikiran tasawuf Islam Jawa karena benar-benar mereduksi gagasan padat seperti dirumuskan para wali tanah Jawi.

Seperti dikatakan Seyyed Hossein Nasr, doktrin kesatuan (baca: tauhid) atau sering dikenal sebagai “manunggaling kawula gusti” dalam kasus kita, sebenarnya, bukan persatuan wujud—karena yang benar-benar ‘wujud’ hanya Allah. Ia melainkan hanya semata penjabaran konsep “kedekatan” (qurb) seperti tergambar konsep lapis-lapis syahadat (baca: sadat Jati) seperti yang diterangkan di “Serat Tuhfah” versi macapat. Ia hanya jalan mendekat, melalui (1) faraid (ibadah fardu), (2) nawafil (ibadah sunnah), (3) qoba qausain (dua busur panah), dan (4) au adna (atau lebih dekat)—(Sinom, hal. 78). Karena pada dasarnya, menurut lapis dan tingkatan syahadat kita, pada akhirnya keber-‘ada’-an mahluk bukanlah wujud, melaikan maujud, dan oleh karenanya selalu dalam kondisi “faqir” akan status “ada”.

Seperti telah dirumuskan oleh leluhur orang Jawa, pada akhirnya memang secara hakiki “ora ana apa-apa kejaba dudu”. La maujuda illallah.

Allahu A’lam.

Irfan Afifi, Senin 16 April 2018

Irfan Afifi
Budayawan muda Indonesia, pendiri Ifada Initiatives dan Langgar.co, sekaligus seorang pelajar Kawruh Jiwa.