Pada tahun 1997, seorang saintis modern bernama Fritjof Capra menulis buku tebal berjudul The Turning Point: Science, Society, and the Rising Culture. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, artinya kurang lebih “Titik Balik Peradaban; Sains, Masyarakat, dan Kebangkitan Kebudayaan”. Fritjof Capra yang juga penulis buku The Tao of Physics memproyeksikan pandangan baru tatanan dunia ke depan. Ia bereksperimen menggabungkan pendekatan sains modern dengan mistisisme Timur. Konsep dalam fisika contohnya, pengembangan teori tentang materi telah membawa perubahan yang sangat mendasar bagi dunia hari ini.

Perubahan dari konsep Descrates dan Newton yang mekanitis-antroposentris kepada pandangan dunia yang holistik dan ekologis. Fritjof Capra berpendapat bahwa pandangan tersebut memiliki berbagai kesamaan dengan pandangan mistisisme dari semua tradisi di sepanjang zaman. Contoh objek kajian dan pola bertindak “Dua-sakarupa” dalam tradisi kosmologi Sunda, bahwa keduanya adalah objek kajian yang tidak selalu terdikotomikan sebagaimana para saintis modern Cartesian dan Newtonian membangun kosmik-antroposentriknya.

Arthur Eddington misalnya, membagi ilmu alam secara garis besar menjadi dua: ilmu fisis (physical science), dan ilmu biologis (biological science). Eddington berpandangan dan menempatkan ilmu fisis sebagai objek kajian benda-benda tak-hidup. Benda tak-hidup itu mencakup Fisika, Kimia, Astronomi, dan ilmu bumi. Dalam bukunya Philosophy of physical science, Eddington mencoba menjawab problem filosofis dari ilmu fisis. Apa hakikat pegetahuan yang diperoleh oleh ilmu fisis tentang objeknya. Oleh karena Arthur berpandangan physical sebagai benda tak-hidup, maka dalam buku tersebut Arthur tidak menemukan keharmonisan antara filsafat yang mencakup signifikansi pengalaman manusia yang lebih luas dengan filsafat ilmu fisis terspesialisasi bernama fisika.

Fisikawan lain bernama Lawrence K. Krauss menawarkan alternatif untuk manusia modern memahami fisika sebagai gerak hidupnya sehari-hari. Ia selangkah lebih maju dengan menawarkan bahwa fisika bukanlah semata-mata monopoli para fisikawan. Semua orang harus mengerti dan menyadari bahwa fisika adalah pengetahuan umat manusia, dan selayaknya dimiliki oleh seluruh umat manusia pula. Ia menekankan bahwa fisika adalah aktivitas kognisi-kreatif manusia, seperti seni dan musik. Karena fisika pula telah membantu menempa pengalaman budaya, baik itu seni, musik, sastra, dan sains. Dengan begitu, manusia bisa mengalami kegembiraan, kesenangan, keindahan, misteri, dan petualangan. Pada akhirnya, semua manusia bisa mengetahui di mana ia berada dan berkonsentrasi pada apa yang menuntunnya untuk menuju ke mana ia akan pergi. Karena misteri awal yang mengikuti setiap perjalanan manusia adalah bagaimana manusia itu mencapai titik awalnya di tempat pertama.

Pada akhirnya, semua manusia bisa mengetahui di mana ia berada dan berkonsentrasi pada apa yang menuntunnya untuk menuju ke mana ia akan pergi. Karena misteri awal yang mengikuti setiap perjalanan manusia adalah bagaimana manusia itu mencapai titik awalnya di tempat pertama.

Fritjof memiliki pandangan berbeda dengan Eddington dan K. Krauss. Fritjof memiliki pandangan baru dalam fisika, pandangan yang telah membawa perubahan yang sangat mendasar bagi perkembangan dunia hari ini yaitu, dari konsep Descrates dan Newton yang mekanistik kepada pandangan yang holistik dan ekologis. Suatu pandangan yang menurutnya memiliki berbagai kesamaan dengan pandangan mistisme dari semua tradisi di sepanjang zaman.

Pandangan baru tersebut tentu tidak muncul begitu saja dan menjadi baru. Pandangan itu lahir dari pengamatan pelik atas krisis global yang sedang terjadi higga hari ini. Fritjof berpadangan bahwa krisis multidimensional yang melanda dunia hari ini, secara esensial adalah krisis persepsi eksistensial. Perubahan dunia atom dan sub-atomik menyeret para ilmuwan fisika (khususnya) bertemu dengan realitas yang tampaknya tidak dapat dijelaskan dengan deskripsi yang koheren yakni, hakikat materi serta hubungannya dengan jiwa manusia. Untuk menjelaskan dunia tersebut, manusia modern memerlukan sebuah perspektif ekologis-holistik yang tidak ditemukan dalam pandangan dunia Cartesian.

Kita semua tahu, dunia Eropa mengalami abad pencerahannya ketika Imanuel Kant mendapati rasio sebagai kritik atas akal budi. Maka subjek manusia memisahkan diri dari objek alamnya. “Aku berfikir maka aku ada” yang digelorakan oleh Rene Descratres adalah babak baru yang menempatkan manusia sebagai pusat dari segalanya. Ia melepaskan diri dari realitas kealaman-manusianya itu sendiri. Pandangan antroposentris tersebut menempatkan manusia sebagai entitas yang bertumpu pada kemampuan rasio kognitif. Ia berdiri sebagai subjek (hidup) dan menempatkan di luar dirinya sebagai objek (tak hidup). Dan demikian pula, sains modern terproyeksikan beriringan dengan revolusi industri yang mengubah tatanan dunia Eropa menjadi mekanik, dan dunia itulah yang menjadi tatanan dunia global hari ini.

Pandemi yang sedang melanda dunia hari ini, mungkin salah satu titik klimaks dari berbagai titik klimaks kerusakan alam-lingkungan yang melanda bumi hari ini. Bahkan David Wallace Wells, seorang aktivis lingkungan asal Amerika yang mengkampanyekan soal Climate Change memberi judul buku terbarunya Bumi yang Tak Dapat Dihuni.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana manusia modern memproyeksikan gerak hidupnya sebagai tanda dan dasar pijakan keber-ada-an hidup duniawinya. Dengan kata lain, bagaimana manusia itu bisa bergerak jika tidak digerakkan oleh keinginan yang menggerakan keber-ada-an kehidupannya itu sendiri.

Filsuf modern bernama Arthur Scopenhauer dalam aktivitas filsafatnya mengatakan, bahwa setiap kondisi kesejahteraan dan perasaan puas (terpenuhinya keinginan) adalah negatif dalam karakternya; artinya, terlebih dulu manusia harus merdeka dari rasa sakit (setelah terpenuhi keinginan) yang memang elemen dasar dalam hidupnya. Karena itu, kebahagiaan dari kehidupan harus diukur, bukan dari kegembiraan dan kesenangannya (terpenuhinya keinginan), tetapi oleh sejauh mana ia telah terbebas dari penderitaan­­-kejahatan positif (keinginan itu sendiri).

Cara kerja filsafat kehidupan Arthur Schopenhauer adalah usaha menyelaraskan keinginan diri dengan keinginan (gerak) alam. Artinya, keinginan itu digerakkan dan diseleraskan oleh kosmos kemeng-ada-an manusia yang menyatu dengan kosmos dunianya. Namun bagaimanapun juga, aktivitas filsafat hidup Schopenhauer yang mewarisi tradisi filsafat Yunani sejak era Plato, tidak sepenuhnya bisa menyentuh (apalagi menyeluruh) kehidupan inti-dasar alam pikiran manusia Indonesia yang memiliki lokalitas yang berbeda-beda dan telah mewarisi alam pikiran serta jalan hidup leluhur Nusantara.

Salah satunya manusia Sunda yang mengenal konsep berfikir Dua-Sakarupa. Dua-Sakarupa adalah bagian dari konsep Tritangtu yang hidup dalam alam pikiran manusia Sunda, yaitu; Tilu-Sapamulu, Dua-Sakarupa, Nu Hiji-Eta keneh. Secara harfiah, artinya kurang lebih Tiga yang beruntun, Dua yang Serupa, Yang Satu itu juga (masih sama). Dua Sakarupa tertanam dalam prinsip alam Buana Alit dan Buana Ageung. Buana Alit adalah prisip kosmik yang melingkupi alam rasio-transedental manusia. Ia tidak memisahkan diri dengan Buana Ageung sebagai alam kosmik jagat raya. Artinya, rasio manusia tidaklah terpisah dengan kosmik-alam manusianya itu sendiri. Karena kedua alam tersebut adalah yang serupa (Dua Sakarupa). Alam luar (yang dalam tradisi filsafat barat diletakkan dan dinamakan sebagai objek) menyatu dengan alam dalam. Dengan demikian, keduanya adalah subjek hidup.

Kita tahu, dunia sains modern hingga sekarang belum mampu menjawab pandemi yang terjadi hari ini. Dengan begitu, dapatlah kita berpendapat bahwa bumi sedang memulihkan dirinya sendiri. Artinya bumi itu sebagai subjek yang sama-sama hidup. Ketika pada ujung batas kemampuan manusia tidak mampu menjaga dan menyelaraskan keseimbangan alam dirinya, maka alam pun menyeimbang dan menyelaras dengan sendirinya.

Ketika pada ujung batas kemampuan manusia tidak mampu menjaga dan menyelaraskan keseimbangan alam dirinya, maka alam pun menyeimbang dan menyelaras dengan sendirinya.

Maka diperlukan cara berfikir baru untuk menyelaraskan antara logika leluhur dari keterpisahannya oleh logika modern pada manusia Indonesia hari ini. Bahwa akal budi dan jiwa itu adalah dua yang serupa untuk mencapai yang luhur Hyang-suci. Di Nusantara terdapat konsep Satwika, istilah tersebut bermakna kejernihan (suci/murni) berfikir yang bervibrasi Tuhan. Alam pikiran ini dalam tradisi Hindu adalah pertemuan antara akal budi dengan jiwa kosmik manusia. Kejernihan berfikir menyatu dengan kesucian laku hidup, ialah rasa ikhlas yang murni.

Kendatipun konsep Satwika dalam pengetahuan hari ini disebut sebagai warisan dari tradisi Hindu, sepintas dasar memang benar. Namun itu semua adalah arkeologi pengetahuan yang dibangun oleh para orientalis Barat. Kita tahu, dasar dari orientalisme adalah menundukkan Timur. Tujuannya tiada lain adalah kekuasaan. Kuasa atas sumber daya alam dan kuasa pada manusianya. Pandangan para orientalis tidak bisa dilepaskan dari bangunan logika oposisi-biner Cartesian, termasuk dalam memandang budaya dan agama. Keduanya dibiaskan pada batas primordial. Ia tidak berpijak pada lokalitas transendentalnya. Bahwa di situlah letak universalitas manusia (subjek) itu mulai meng-ada, hidup dalam keber-ada-an dan membentuk kemeng-ada-annya. Pengertian subjek ini menurut Slavoj Zizek, mengalami patahan imaginer simbolik dalam realitas kebudayaan manusia modern hari ini.

Pertanyaan yang mencuat kemudian adalah bagaimana kita bisa mengurai alam pikiran lama (leluhur) untuk menempatkannya pada masa yang baru (modern) hari ini. Jika diibarat kata sebuah puzzle yang telah disusun sampai pada batas masanya dan kita kehilangan gambaran besar untuk meneruskan kepingan puzzle yang masih kosong tersebut. Bahkan tidak tahu bagaimana medapatkan kepingan-kepingan baru.  Hingga kemudian yang terjadi sekarang, kita telah terlepas dari bangunan puzzle besar itu. Katastropi budaya yang melanda adalah bukti kuat untuk memperlihatkan itu semua. Namun demikian, katastropi ibarat gunung berapi yang meletus sebagai puncak dari bencana dan malapetaka. Di balik letusan dahsyat itu, tanah serta iklim setelahnya menjadi subur dan segar kembali. Begitu pula dengan katastropi budaya yang menyebabkan pelbagai keguncangan maha dahsyat terhadap tata atau keteraturan, bahkan menimbulkan keterputusan. Di dalamnya terkandung rangkaian krisis yang mulai terpetakan dan didapatkan jalan keluarnya.

“Setelah sebuah masa kehancuran datanglah titik balik. Cahayanya penuh daya yang dahulu hilang kini bersinar kembali. Segala sesuatu adalah gerak, namun bukan oleh tenaga… gerak itu alami, mengalir spontan. Karena itulah pergantian menjadi mudah. Yang lama berakhir, yang baru terlahir. Keduanya berlangsung dalam saat yang telah ditentukan, karenanya tidak ada luka yang ditimbulkan”.

~I Ching