Ketika akhir bulan Maret 2020 saya menulis dengan tajuk “Revolusi Covid-19,”banyak komentar/pertanyaan yang saya terima. Semampu saya, komentar/pertanyaan itu sudah saya jawab satu persatu dalam tulisan berikutnya “Revolusi Covid-19: Konfirmasi“. Dalam jawaban tersebut, saya menyandarkan argumen pada SARS-CoV-2, virus penyebab wabah Covid-19, sebagai aktor non-manusia (actant). Namun, saya menyimak bahwa banyak dari komentar atau pertanyaan tersebut berasal dari kelompok yang memiliki konsumsi bacaan kritis, misalnya studi tentang kapitalisme. Satu benang merah dari banyak pertanyaan/komentar itu yang dapat saya lihat adalah titik tolak pertanyaan yang berangkat dari (kepentingan) manusia. Misalnya, kalau bukan oleh manusia, atau lebih spesifik manusia yang dianggap progresif, maka susah diterima akan lahir sebuah revolusi. Saya dapat memahami ketika tulisan bertajuk “Revolusi Covid-19” itu diluncurkan, banyak komentar yang cenderung kontra terhadapnya.

Tidak ada yang salah dalam hal itu. Sesuatu yang sangat normal karena yang bertanya/berkomentar adalah manusia. Bagi saya, namun, semua komentar/pertanyaan tersebut hanya menambah bukti terhadap bagaimana saya melihat klaim-klaim yang selama ini beredar. Bahwa meskipun secara retoris manusia selalu dikatakan sebagai bagian dari ekologi, manusia selalu dikatakan sebaiknya jangan melihat semuanya berpusat di manusia (antroposentris), pada kenyataannya semuanya itu cenderung menjadi seruan-seruan di atas kertas, yang susah untuk dijadikan sebagai kerangka untuk menganalisis sesuatu. Ketika dihadapkan pada satu persoalan seperti Covid-19, sudut pandang yang dikampanyekan itu rontok, dengan atau tanpa disadari oleh manusia yang melontarkan komentar/pernyataan itu sendiri.

Bahwa meskipun secara retoris manusia selalu dikatakan sebagai bagian dari ekologi, manusia selalu dikatakan sebaiknya jangan melihat semuanya berpusat di manusia (antroposentris), pada kenyataannya semuanya itu cenderung menjadi seruan-seruan di atas kertas…

Selain karena susah menerima non-manusia sebagai aktor pembeda, saya melihat sudut pandang seperti yang muncul dalam pertanyaan/komentar tersebut berasal dari satu sistem pemikiran yang dalam tradisi Marxis disebut sebagai proses produksi nilai-lebih dalam pabrik. Saya akan membuka lapisan ini.

Marx (terutama dalam Capital I) merumuskan proses produksi nilai-lebih dalam pabrik melalui suatu rumus K = k + V. Saya sebut ini sebagai rumus I. K di sini mengacu pada total kapital yang dimiliki oleh seorang kapitalis ketika memulai usahanya dalam pabrik; k adalah kapital konstan yang menyimbolkan alat-alat produksi seperti mesin-mesin dan bahan mentah; dan V adalah kapital variabel yang merupakan elemen dari kerja buruh.

Kapital disebut kapital karena kemampuannya berkembang (valorisasi kapital). Proses penganakan kapital dalam produksi mengubah formula di atas menjadi K’ = k + V + N. Saya sebut ini sebagai rumus II. Dimana K’ adalah total kapital setelah proses produksi dimana di dalamnya terdapat nilai-lebih. K’ lebih besar dari K. Itulah sebabnya disebut bahwa kapital mengalami valorisasi atau penganakan. Berikutnya adalah k, kapital konstan, dengan komposisi seperti yang dipaparkan di atas. V adalah waktu kerja buruh yang dibayar oleh kapitalis. N adalah nilai-lebih yang dieksploitasi oleh oleh kapitalis melalui waktu kerja-lebih buruh. N menjadi selisih antara K’ dengan K.

Yang dimaksud waktu kerja-lebih buruh dapat saya pahami sebagai berikut. Untuk hidup, misalnya, pada dasarnya seorang buruh hanya perlu bekerja katakanlah 6 jam dalam sehari. Pada kenyataannya, misalnya, dia bekerja selama 8 jam. Yang dibayar di pabrik adalah waktu-kerjanya yang 6 jam. Ini disebut kerja-perlu. Sementara sisanya yang 2 jam lagi adalah kerja-lebih. Kapitalis, salah satunya, mengambil/mengeksploitasi keuntungan dari kerja-lebih 2 jam yang tidak berbayar, dan ini yang membentuk nilai-lebih (N).

Untuk hidup, misalnya, pada dasarnya seorang buruh hanya perlu bekerja katakanlah 6 jam dalam sehari. Pada kenyataannya, misalnya, dia bekerja selama 8 jam.

Dari penjelasan itu, maka segera terlihat bahwa dalam rumus II, nilai-lebih (N) dieksploitasi oleh kapitalis dari waktu kerja-lebih buruh. Dengan demikian, dapatlah disebutkan bahwa dalam rumus II, buruh memiliki peran sentral memproduksi nilai-lebih dalam proses penganakan kapital.

Lantas, dimana peran non-buruh dalam proses produksi nilai-lebih? Dalam rumus II seperti di atas, non-buruh ada di k, kapital konstan, tapi tidak terlihat berperan sebanyak buruh dalam memproduksi nilai-lebih. Atau dengan kata lain, dapat saya sebutkan bahwa rumus II adalah suatu proses produksi nilai-lebih yang sangat berpusat pada buruh. Orang menyebutnya labour-centred. Nilai-lebih dilihat datang dari eksploitasi terhadap buruh. Saya menyebut konsepsi kapitalisme seperti ini sebagai “konsepsi kapitalisme model tunggal”.

Saya menduga bahwa komentar/pertanyaan terhadap tulisan bertajuk “Revolusi Covid-19” di atas, mereka sadari atau tidak, bersumber dari, atau setidaknya ada hubungannya dengan, pemahaman yang berakar pada rumus I dan II tentang proses valoriasi kapital di dalam pabrik.

Rumus II di atas pula, saya duga berdasarkan hasil bacaan saya terhadap banyak buku David Harvey, yang menjadi akar tulisan-tulisannya, sehingga dia, seperti yang saya kritik dalam tulisan “Revolusi Covid-19”melihat revolusi masih akan datang. Sementara saya, dalam tulisan itu melihat revolusi sedang berlangsung, yang saya sebut dengan “Revolusi Covid-19”. Dengan kata lain, bagi David karena konsepsi kapitalismenya adalah “model tunggal” dimana peran buruh vital, elemen revolusioner terutama adalah buruh.

Meski dalam beberapa kesempatan David menulis tentang kota dan urbanisasi dan melihat kota sebagai situs perlawanan anti-kapitalisme masa kini, saya tidak melihatnya secara rigid menjelaskan, atau melahirkan suatu rumusan, tentang bagaimana produksi nilai-lebih di kota atau dalam proses urbanisasi sebagai varian spesifik dalam moda produksi kapitalisme, berbeda dengan produksi nilai-lebih di dalam pabrik. Dengan kata lain, teori produksi nilai-lebih yang dibayangkan oleh David ketika ia menulis tentang kota, kemungkinan besar adalah teori produksi nilai-lebih dalam pabrik. Sehingga, karena elemen revolusioner dalam teori produksi nilai-lebih dalam pabrik adalah buruh, maka, meskipun sudah mengidentifikasi kota dan proses urbanisasi sebagai situs anti-kapitalisme masa kini, saya sedikit berani “berspekulasi” bahwa isi kepala David tentang produksi nilai-lebih adalah rumusan produksi nilai-lebih di dalam pabrik. Ini yang saya lihat, salah satunya, membuat dia susah untuk menafsirkan bahwa non-Marxis macam SARS-CoV-2 juga punya revolusi.

Lantas sistem produksi nilai-lebih seperti apa yang saya bayangkan ketika mengatakan bahwa non-buruh juga dapat melakukan revolusi?

Dalam hal ini saya banyak membaca buku dan artikel-artikel Jason W. Moore, dimana dia mengembangkan apa yang saya sebut sebagai “kapitalisme model ganda”. Di dalam tulisan bertajuk “Krisis, Ketidakadilan, dan Keadilan Sosial-Ekologis” di majalah PRISMA yang terbit pada tahun 2019, saya sudah menguraikan (menjelaskan, menotasikan, dan menggunakannya sampai keluar nilai moneter) rumusan-rumusan Jason W. Moore dalam bagaimana saya menganalisis krisis air di Yogyakarta. Jadi, apabila ada keingintahuan lebih lanjut dari pembaca tentang detil-detil seperti sumber pustaka, saya sarankan untuk membuka tulisan itu.

Dalam tulisan itu, saya berusaha menunjukkan bahwa non-buruh juga memiliki agensi/materialitas, sama dengan buruh. Sehingga, saya menyebut krisis air di Yogyakarta sebagai krisis sosial-ekologis. Yang membentuk krisis bukan hanya aktivitas manusia, dalam hal ini buruh, seperti yang banyak disampaikan dalam teks soal krisis kapitalisme. Konsepsi-konsepsi krisis dalam kapitalisme biasanya membayangkan suatu produksi komoditas (barang jualan) yang berkelebihan. Sehingga dia disebut krisis “overproduction”. Karena akibat dari produksi yang berlebihan adalah juga PHK, maka semakin banyak terjadi pengangguran buruh. Sehingga krisis model ini sering juga disebut sebagai krisis “pengangguran”. Di dalam pemodelan krisis seperti ini, buruh memegang peran penting sebagai agen yang bekerja memproduksi komoditas. Saya melihat ini sebagai elemen “manusia” atau “sosial” di dalam krisis kapitalisme.

Dalam model krisis sosial-ekologis, saya melihat non-manusia juga berperan penting. Misalnya dalam krisis air di Yogyakarta seperti yang saya jelaskan dalam tulisan di PRISMA itu, saya melihat pasokan air dari aquifer (batuan sarang) yang kalah banyak dari tingkat ekstraksi air tanah oleh manusia. Kekurangan pasokan ini adalah sumbangan dari non-manusia terhadap krisis yang timbul. Jadi, krisis dalam kapitalisme juga dapat terjadi karena kekurangan pasokan (“underproduction”). Ini yang saya maksud sebagai dimensi “ekologi” dalam krisis kapitalisme. Penting disampaikan, saya tidak melihat manusia terpisah dari ekologi. Yang saya maksud “ekologi” dalam konteks ini adalah non-manusia. Sehingga, elemen manusia + elemen non-manusia, sosio + ekologi, membentuk krisis sosial-ekologis.

Penting disampaikan, saya tidak melihat manusia terpisah dari ekologi. Yang saya maksud “ekologi” dalam konteks ini adalah non-manusia. Sehingga, elemen manusia + elemen non-manusia, sosio + ekologi, membentuk krisis sosial-ekologis.

Model konsepsi kapitalisme yang dapat melihat peran non-buruh, atau lebih umum, non-manusia, seperti ini adalah “kapitalisme model ganda”. Kapitalisme model ganda membayangkan bahwa produksi nilai-lebih bukan hanya berpusat pada eksploitasi terhadap waktu kerja-lebih buruh, namun juga apropriasi terhadap non-buruh. Jadi, “ganda” yang dimaksud di sini adalah proses apropriasi dan eksploitasi.

Yang dilakukan dalam membangun konsepsi “kapitalisme model ganda” adalah “membuka” kapital konstan sehingga elemen-elemennya terlihat menjadi lebih eksplisit. Saya memformulasikannya sebagai K’ = Mu + Ba + P + V + N. Saya sebut ini rumus III. K’ dalam rumus III ini adalah total kapital setelah valorisasi. Mu adalah elemen-elemen murah yang diapropriasi oleh kapitalisme. Dapat kita masukkan ke dalam Mu adalah calon buruh, bahan mentah, bahan makanan, dan energi murah. Semuanya disebut murah karena kapitalis tidak melakukan investasi untuk memproduksi mereka untuk siap diapropriasi. Jadi murah di sini adalah murah bagi kapitalis. Saya ambil contoh, buruh.

Katakanlah seorang buruh bekerja di satu pabrik pada usia 18 tahun. Kapitalis pemilik pabrik merekrutnya, mempekerjakannya, dan kemudian membayar gajinya. Pertanyaannya, siapa yang menanggung semua biaya, merawat, dan membesarkan buruh hingga berusia 18 tahun, atau hingga siap untuk bekerja di pabrik? Jawabanya adalah: orang tua atau keluarga si buruh. Intinya, kemungkinan besar bukan kapitalis. Kapitalis tidak mengeluarkan apa-apa selama 18 tahun hingga buruh dapat dipekerjakan. Inilah sebabnya, calon buruh yang sudah siap bekerja di pabrik ini disebut “buruh murah.”

Katakanlah seorang buruh bekerja di satu pabrik pada usia 18 tahun. Kapitalis pemilik pabrik merekrutnya, mempekerjakannya, dan kemudian membayar gajinya. Pertanyaannya, siapa yang menanggung semua biaya, merawat, dan membesarkan buruh hingga berusia 18 tahun, atau hingga siap untuk bekerja di pabrik?

Hal yang sama terjadi terhadap bahan mentah, bahan makanan, dan energi murah. Saya ambil satu contoh lagi, misalnya energi minyak bumi. Kapitalis minyak bumi tidak ikut berinvestasi dalam menciptakan minyak bumi melalui proses geologis selama jutaan tahun. Bumi yang melakukannya. Kapitalis hanya datang dan mengambil begitu saja (mengapropriasi) minyak dari dalam Bumi. Ba dalam rumus III di atas adalah biaya untuk mengambil begitu saja (biaya apropriasi). Selanjutnya P adalah peralatan untuk produksi. V dan N masing-masing adalah kapital variabel dan nilai-ebih, sama seperti dalam rumus II.

Jadi, dengan membuka kapital konstan, sekarang kita dapat melihat bahwa sumber nilai-lebih ada dua yaitu apropriasi non-buruh dan eksploitasi buruh – “kapitalisme model ganda”.

Konsepsi kapitalisme model ganda memungkinkan percakapan yang lebih sambung dengan isu-isu yang selama ini berada di luar kapitalisme model tunggal, seperti isu lingkungan, feminisme, dan “sektor informal perkotaan”. Isu lingkungan, seperti perhitungan atas kerja Bumi menghasilkan minyak bumi dan juga dampak lingkungan yang muncul karena pengambilan minyak bumi, tidak ada dalam neraca perhitungan produksi nilai-lebih kapitalisme model tunggal. Demikian juga segala kerja merawat dalam diskursus feminisme. Atau juga “sektor informal perkotaan”. “Sektor informal perkotaan” diletakkan dalam tanda kutip karena ini adalah bahasa kekuasaan dan sampai sekarang saya belum menemukan istilah yang lebih fungsional. Dia disebut “informal,” sependek bacaan saya, karena tidak memiliki izin dari otoritas dan tidak membayar pajak. Logika “informalitas” kekuasaan, dengan demikian, ujungnya adalah “formalisasi” lewat izin dan kemudian pembayaran pajak. “Sektor informal perkotaan” tidak ada dalam neraca produksi nilai-lebih kapitalisme model tunggal, tapi diakui berperan penting menopang sektor formal yang tercatat dalam neraca ekonomi kapitalisme. Di kota macam Jakarta misalnya, sektor informal perkotaan menyediakan makanan yang relatif murah. Banyak pekerja kantoran yang disebut sebagai sektor formal membeli makanan di warung sektor informal.

“Sektor informal perkotaan” tidak ada dalam neraca produksi nilai-lebih kapitalisme model tunggal, tapi diakui berperan penting menopang sektor formal yang tercatat dalam neraca ekonomi kapitalisme.

Sekarang bagaimana kapitalisme model ganda dapat menjelaskan Revolusi Covid-19? Revolusi adalah suatu perubahan sosial-ekologis. Dalam kasus Covid-19, perubahan itu sangat dahsyat. Tanpa saya sampaikan di sinipun tentang perubahan-perubahan itu, saya percaya pembaca sudah paham maksud saya. Yang melakukan revolusi, dalam hemat saya, adalah orang atau elemen yang berada dalam suatu sistem, tapi tidak diuntungkan dari, atau malah justru dirugikan oleh, beroperasinya sistem tersebut.

Sehingga, sangat dapat dipahami, dalam kapitalisme model tunggal, karena yang dianggap berperan besar dalam produksi nilai-lebih adalah buruh, maka yang dibayangkan sebagai elan revolusioner adalah buruh. Sebagai elemen yang tidak diuntungkan dari, atau malah dirugikan oleh, beroperasinya sistem kapitalisme, maka, demikian jalan pemikiran ini bergulir, buruh menghendaki perubahan. Buruh menghendaki revolusi.

Sebagai elemen yang tidak diuntungkan dari, atau malah dirugikan oleh, beroperasinya sistem kapitalisme, maka, demikian jalan pemikiran ini bergulir, buruh menghendaki perubahan. Buruh menghendaki revolusi.

Dalam kapitalisme model ganda, buruh bukan satu-satunya aktor yang berperan dalam produksi nilai-lebih, ada juga non-buruh yang hadir dalam berbagai bentuk “murah” seperti calon  buruh, bahan mentah, bahan pangan, dan energi itu tadilah. Karena mereka ini dalam rumusan dilihat ikut berkontribusi dalam produksi nilai-lebih, maka konsekuensinya mereka juga harus dihitung sebagai agen perubahan. Jadi, memasukkan/menghitung peran mereka dalam rumusan produksi nilai-lebih, pada dasarnya adalah langkah untuk lebih mempertimbangkan mereka sebagai agen yang dapat menciptakan pembeda.

SARS-CoV-2, seperti yang disebutkan di banyak publikasi, secara umum dapat dijelaskan sebagai virus yang bertransmisi ke manusia. Logikanya sederhana. Operasi kapitalisme telah membabat hutan, mengurug laut, menimbun rawa-rawa, menghambat aliran sungai, mencemari udara, dan lain-lain. Intinya, mendegradasi lingkungan. Degradasi lingkungan telah menyebabkan habitat patogen (virus, bakteri, dan mikro-organisme penyebab penyakit) mengalami degradasi. Mereka harus mencari habitat yang baru. Dan manusia adalah target empuk bagi mereka.

Di titik ini, SARS-CoV-2 dapat dilihat sebagai elemen yang berada dalam sistem kapitalisme, namun dia tidak diuntungkan dari, atau justru dirugikan oleh, beroperasinya kapitalisme. Kerugian baginya adalah degradasi terhadap habitatnya. Maka, sangat rasional kemudian kalau kita melihatnya menginginkan perubahan, atau yang dalam hal ini saya sebut sebagai revolusi.

Maka, sangat rasional kemudian kalau kita melihatnya menginginkan perubahan, atau yang dalam hal ini saya sebut sebagai revolusi.

Akhirul kalam, dengan mendudukkannya dalam teori produksi nilai-lebih, saya berharap tulisan ini dapat membuat lebih jelas tentang kapitalisme model tunggal dan ganda, bagaimana perbedaan di antara keduanya berkonsekuensi terhadap cara kita memahami dunia, misalnya dalam hal ini adalah memahami/menjelaskan Covid-19, dan tentu saja mungkin akan membantu kita untuk merumuskan dunia seperti apa yang kita inginkan sejak sekarang ke depan.