Saya, Keimanan, dan Keindonesiaan

Indonesia adalah rumah bersama bagi beragam manusia. Sedangkan manusia sendiri adalah ejawantah dari sejarah pemahaman dan pengalaman yang terbatas atas dunia yang dijalaninya. Ada kelindan paradoks yang melekati manusia negeri ini, ketika tiba pada identitas kultural. Apakah manusia-manusia unggul semisal Sultan Agung, para wali, para pahlawan kemerdekaan dapat merepresentasikan kebudayaan Indonesia? Ataukah orang-orang magak (tanggung) yang hidup asal hidup—tidak kaya, tidak miskin, tidak bodoh, tidak cerdas, tidak terbelakang, tidak pula maju, lebih mewakili plakat budaya kita?

Sebagai negara, Indonesia memang baru berusia 76 tahun, tetapi secara kultur dan pengalaman peradaban, manusia yang tinggal di dalamnya telah merentang ratusan bahkan ribuan tahun panjangnya. Indonesia saat ini adalah titik henti dari laju sejarah kebudayaan berikut tata kearifan yang tak pendek (M. Natsir, 1954; Sukarno, 1963; Mochtar Lubis, 1980). Jejak peradaban Pasai, Sriwijaya, Majapahit, Mataram Islam, adalah beberapa penggalan dari rentangan historisitas kultural itu.

Secara antropologi, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang nyaris mustahil diaudit, karena saking banyaknya. Ruang sosial di negara ini tergelar di pesisir, pegunungan, bantaran, perdesaan, perkotaan. Gambaran religiusitas pun tersusun dari banyak rona. Belum lagi ketika menyoal etnisitas dan kebinekaan sudah tersumsum sebegitu resap. Namun semua itu sekarang seperti merepih sebagai artefak yang mati suri. Penetrasi global menjadi mambang kultural yang tidak sepele (Radar Panca Dahana, 2015).

Secara antropologi, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang nyaris mustahil diaudit, karena saking banyaknya. Ruang sosial di negara ini tergelar di pesisir, pegunungan, bantaran, perdesaan, perkotaan. Gambaran religiusitas pun tersusun dari banyak rona.

Saya menyaksikan langsung, petani-petani garam sempoyongan bertahan hidup dari serbuan garam (impor) dari Australia. Berdampingan dengan itu, banyak orang tua kewalahan berkomunikasi dengan anaknya yang keranjingan K-Pop. Situasi sosial dewasa ini menciptakan jurang-jurang kesenjangan transgenerasi yang semakin hari semakin berbiak mereplikasi diri, akibat dari masuknya teknologi dan pengetahuan global. Teknologi dan pengetahuan tersebut tidak datang sendirian, mereka membawa serta weltanschauung dan budaya asalnya. Memang tidak melulu berimbas buruk, tetapi tidak bisa dipungkiri pula bahwa semua itu menciptakan gegar budaya yang tidak ringan.

Kita dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan non retoris, yang berkaitan dengan perihal memaknai keindonesiaan secara otentik di pusaran kultur global? Atau bagaimana hubungan kesadaran lokalitas, kebangsaan dan keglobalan dianyam? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang berujung pada bagaimana meneguhkan kedaulatan diri seorang manusia Indonesia di era digital dan sistem kapital sekarang ini.

Saya yang tumbuh di lingkungan pedesaan, sempat menjalani kehidupan di pesantren, sampai akhirnya bermukim di Yogyakarta, merasakan betul betapa negosiasi-negosiasi budaya dan tata nilai berlangsung begitu alot. Walaupun demikian, di tahap eksistensial terkini, akhirnya saya menemukan rumah batin kebudayaan yang menjadikan rasa keindonesiaan menyala-nyala secara konstan. Rumah batin ini terbangun dari pengalaman dan penghayatan “diri” sebagai bagian dari asuhan kearifan budaya Indonesia.

Walaupun demikian, di tahap eksistensial terkini, akhirnya saya menemukan rumah batin kebudayaan yang menjadikan rasa keindonesiaan menyala-nyala secara konstan. Rumah batin ini terbangun dari pengalaman dan penghayatan “diri” sebagai bagian dari asuhan kearifan budaya Indonesia.

Desa: Ibu dan Modal Sosial Awal

Desa memberi saya seluruh potensi memulai kehidupan. Ia memberikan pada saya keluarga, ruang bermain sekaligus isinya, serta lembaran kebersamaan dengan alam. Desa saya, di ujung utara Pati, merupakan pesisir utara yang lebih sering kering daripada basah. Tambak garam lebih memberi penghidupan daripada sawah dan tegalan. Dari sinilah keindonesiaan saya dimulai. Keindonesiaan anak garam.

Saya bercerita tentang masa-masa 1990-an. Masa ketika desa melahirkan dan mengasuh sebagaimana ibu. Saban hari, masyarakat bekerja di siang hari. Malam hari, bercengkrama dengan keluarga sembari makan dan menonton televisi. Langgar yang walaupun tak seramai di era 60-an atau sebelumnya, masih menjadi pusat berkumpulnya anak-anak di waktu maghrib, sampai mereka pulang untuk tidur.

Masa kecil bagi kami hampir serupa. Sehari-hari habis untuk kejar-kejaran atau permainan-permainan musiman. Di musim kemarau, anak-anak manjer layangan, berburu jangkrik, adu kelereng. Saat musim hujan datang, permainan berganti jeburan di sendang, hujan-hujanan, memancing. Ketika tiba musim gawe, anak-anak yang ikut ke resepsi atau hajatan lain bermain kejar-kejaran dengan para sebaya. Anak-anak berkumpul tidak hanya fisik, tapi juga minat dan emosi-emosi alami mereka.

Garam adalah poros kehidupan desa kami. Bagi masyarakat, saban hari habis di rumah dan tambak. Setiap masuk musim kemarau, petani menggarap kowen (tambak garam) untuk mengolah garam dan memanennya setiap hari. Walaupun hanya berlangsung selama musim kemarau, garam bisa mencukupi kebutuhan hidup setahun. Bahkan bila cukup mujur bisa untuk ongkos naik haji.

Masyarakat desa mencukupi kebutuhan keluarga dengan “keringat asli”. Tradisi desa maupun tradisi keagamaan dikukuhi dengan kuat. Misalnya, saban kamis sore, para lelaki berziarah ke kubur keluarga yang sudah wafat, membacakan surat Yasin dan tahlil. Di saat-saat tertentu orang-orang bergotong royong saling bantu mendirikan rumah, mempersiapkan dan menyelenggarakan gawe nikahan, sunatan, dan lain-lain.

Mungkin hanya orang-orang yang hidup langsung bersama kami yang bisa menangkap nuansa (bertahan) hidup di desa. Saat bulan Ramadhan, misalnya. Para bapak—beberapa sekalian istrinya—bekerja seperti biasa, sembari berpuasa sepanjang hari selama sebulan penuh.  Mereka berangkat ke tambak sebelum matahari terbit. Menjelang dhuhur, pulang rehat. Selepas dhuhuran, mengayuh kaki ke tambak lagi sampai menjelang maghrib. Keringat, matahari, dan kekukuhan tradisi menjadi identitas kultural kami.

Pesantren: Tradisi Kesalehan, Keilmuan dan Mikro Sosial

Persis serampung Sekolah Dasar (SD), saya meninggalkan desa. Meninggalkan keluarga dan seluruh kerekatan komunalnya, menuju ke pesantren. Tinggal di pondok yang penghuninya tidak sekampung halaman. Ada santri yang berasal dari Buton (Sulawesi), Riau, Jambi, Tasikmalaya, Jakarta, Cirebon, Jombang, Gresik, Pontianak, dan lain-lain dari hampir seluruh negeri pertiwi.

Pesantren memiliki tata sosial yang khas mereka sendiri. Saya tinggal di sebuah pesantren tradisional yang sangat membatasi diri dari televisi, keluyuran dan keluangan waktu profan. Di pesantren, orbit waktu berkisar di domain ibadah dan keilmuan (khususnya agama). Pesantren seperti dunia di dalam dunia yang secara antropologis bisa dikatakan sebagai sub kultur, tetapi meminjam istilah Gus Dur, “tidak juga persis seperti itu” (Abdurrahman Wahid, 2001). 

Dunia yang benar-benar baru terjelang. Keseharian berlangsung di asrama. Ruang mukim (privat) terbatasi dinding kamar seukuran 3 x 4 meter. Satu kamar saat itu terisi antara belasan sampai 20-an penghuni. Jika seluruh orang tidur di kamar, jelas tidak muat. Kamar ini lebih untuk menyimpan baju, buku, dan peralatan mandi. Ketika tidur, ada yang di emperan kamar dan mushala. Di sini kami hidup semandiri mungkin: mencuci baju sendiri, mengelola keuangan sendiri.

Pesantren kami (saat itu) tidak besar, hanya berjejer sembilan kamar di depan dan samping ndalem pengasuh. Itu pun satu kamar khusus ditinggali santri ndalem. Yaitu mereka yang mengabdikan diri pada kiai atau pengasuh pesantren. Mereka tinggal gratis, bebas dari segala ongkos tinggal dan biaya kegiatan. Tetapi tidak sama sekali kehilangan hak untuk mengikuti seluruh kegiatan kesantrian.

Secara umum, di pesantren kami ada dua jenis santri. Pertama, santri sekolah yang bertujuan mondok untuk menopang pendidikan formal. Kedua, santri Al-Quran. Mereka ini mondok untuk menghafalkan Al-Quran. Bagi santri Al-Quran—sekarang mungkin lebih familiar dengan sebutan santri tahfidz—tidak ada ukuran waktu khusus terkait kelulusan. Ada yang bisa rampung dua-tiga tahun, ada yang sampai belasan tahun. Sedangkan santri sekolah kebanyakan boyongan setelah lulus sekolah Aliyah (SMA).

Bagi santri sekolah, seluruh kegiatan di pesantren berorientasi pada pendalaman ilmu agama. Sedemikian itu, maka di luar jam aktif sekolah, diselenggarakan kajian kitab tambahan selain yang telah diajarkan di kelas sekolah. Malam harinya berlangsung diskusi kitab dan rapat-rapat pengelolaan pondok.

Terdapat perpustakaan pondok, etalase koran dan media penampung keliterasian santri. Walaupun kecil, dan koleksi buku yang tak banyak, perpustakaan tersebut sudah terbilang “cukup”. Melalui perpustakaan ini kami mulai bersentuhan dengan khazanah sastra, baik karya penulis dalam maupun luar negeri. Saat itu sudah ada Ahmad Tohari, Mustofa Bisri, Cak Nun, Rendra, Chairil Anwar, Andrea Hirata, Jostein Gaarder, J.K. Rowling, Agatha Christie, dan lain-lain di rak buku. Walaupun tak banyak, ada juga buku-buku serius seputar sejarah, psikologi, dan pemikiran.

Di pesantren, pengamalan dan penghayatan keagamaan berlangsung secara rutin dan mandiri. Sholat berjama’ah dan mengaji Al-Quran adalah rutinitas utama selain sekolah. Iklim dan etos intelektualitas berlangsung dengan lebat. Selain praktik keagamaan (ritual), hampir saban harinya berlangsung diskusi dan telaah kitab-kitab klasik. Pengenalan wawasan keilmuan non agama murni, juga mengemuka sebagai kewajaran belaka.

Satu fakta penting dari sisi pesantren kala itu adalah adanya keluruhan tekad dan disiplin diri dalam mengasup pengetahuan secara mandiri. Kemandirian ini muncul dari intensi dan inisiatif pribadi, bukan karena tekanan sistem. Misalnya, santri tahfidz yang terdorong untuk bertirakat matangpuluh sebelum pulang meninggalkan pondok, kembali ke kampung halaman. Matangpuluh ini adalah praktik menghatamkan Al-Quran setiap hari, beruntun, selama empat puluh hari empat puluh malam. Satu praktik penempaan diri yang ketat.

Yogyakarta: Buku dan Pengalaman Multikultural

Dari pesantren yang eksklusif dan intensif, saya melangkah ke Yogyakarta. Sebuah kota di mana kebebasan meruang begitu lazim. Tidak ada lagi aturan yang mengikat, tidak ada lagi komunitas keagamaan ketat di lingkaran saya. Kompleksitas identitas bergemuruh.  Saya tinggal di masjid, karena keterbatasan finansial. Melalui santunan bulanan, saya bertahan hidup. Di sini saya bersentuhan langsung dengan warga kampung, ikut bergeguyub di acara-acara rutin warga.

Yogyakarta mengenalkan saya dengan kidung literasi yang gemanya terus bertalu sampai kini. Waktu itu, di seberang Ring Road (jalan raya yang melingkari kawasan pusat Yogyakarta), tak jauh dari masjid tempat saya tinggal, ada toko buku (Togamas) besar. Selepas Isya’, saya biasa mangkal di sana sampai toko tutup. Buku-buku sample yang tak bersegel, saya manfaatkan sepuasnya. Sebuah kemewahan yang tak tersedia sebelum-sebelumnya.

Ketika berkuliah, saya terkesiap dengan perpustakaan kampus. Sehingga saya lebih nyaman di perpustakaan dari pada di kelas atau di tongkrongan kantin. Buku, adalah pesona pertama Yogyakarta bagi saya.

Setahun setelah berkuliah, saya berganti mukim. Dari masjid pindah ke kosan. Dari sini saya lebih leluasa menyusur Yogyakarta. Mengenalkan saya kepada pesona kedua dari kota istimewa ini: perjumpaan multikultural.

Perjumpaan dan kesosialan dengan liyan begitu wajar di sini. Berbuka puasa Ramadhan di kompleks biarawati Katholik level Provinsian, hanya saya alami di kota gudeg ini. Panorama sarung longgar dan celana cekak berlalu lalang, bukan lagi kelangkaan. Jilbab, kalung salib, style hedon, anak kampung, penulis, aktivis tongkrongan, tetangga level RT, penjual gorengan, plaza, hotel, membaur. Di selatan alun-alun misalnya, muslim literalis dan tradisionalis bertetangga. Di dekat kontrakan saya dulu, di Cantel, selatan kampus UIN Sunan Kalijaga, ada gereja Raja Baciro (besar) berseberangan dengan masjid dan sekolah Islam Terpadu.  

Tepat bila dikatakan bahwa Yogyakarta adalah manifestasi sosial dari fakta perbedaan yang mencair, memadu. Bangunan-bangunan ekonomi—mal, super market, mini market, hotel, pasar—berdampingan dengan kampus seni dan pusat-pusat pendidikan. Di Malioboro, bisa dinikmati pertemuan mal, pasar, pedagang keliling, pengasong seni, kantor pemerintahan, berjejer dan saling mengisi bersama wisatawan cum warga asli. Pecel berdampingan dengan fast food, wedang uwuh dengan soft drink, angkringan dengan waralaba internasional (KFC, Mac Donald, Starbuck).  Tentu saja Yogyakarta lebih luas dari yang saya alami. Misalnya, tentang wisata dan jelajah-jelajah alamnya. Tetapi rumah batin saya belum cukup tempat menampungnya.

Rumah Batin Kultural: Jeda Diri Setelah Berjalan

Rumah batin seluruhnya berada di ruang batin. Tetapi terbentuk, tersusun dari seluruh persentuhan dengan dunia “di luar” diri. Dalam skala bangsa atau masyarakat, perwujudan dari pertemuan itu menjadi energi budaya (S. Takdir Alisjahbana, 1986).

Seperti sudah saya singgung di (paling) awal, manusia adalah ejawantah atau perlambang dari sejarah pengalaman dan pemahaman atas dunia yang dijalani secara terbatas. Dari sini kita akan kesulitan—bila enggan mengatakan tak mungkin—memahami Indonesia tanpa melalui penelusuran rumah batin di dalam diri masing-masing. Kita akan pontang-panting mendefinisikan budaya bangsa Indonesia sebagai adiluhung atau split orientasi (Ina Satrowardoyo, 1991), melihat dari fakta-fakta dan gejala-gejala yang sama-sama merujuk keduanya.

Dari sini kita akan kesulitan—bila enggan mengatakan tak mungkin—memahami Indonesia tanpa melalui penelusuran rumah batin di dalam diri masing-masing.

Sebagai contoh, satu orang yang sama di kesempatan yang berbeda bisa menegaskan kesimpulan berlainan. “Manusia Indonesia adalah manusia perkasa dan berjiwa besar, karena telah memiliki budaya bahari yang tak kalah dengan bangsa Viking yang mampu menyeberangi Samudera Atlantik dan mencapai Amerika Utara” (Mochtar Lubis, 1980). Sedang di kesempatan lain manusia Indonesia juga hipokrit, tidak bertanggung jawab, koruptif, irasional, dan lain-lain (Mochtar Lubis, 2013).

Bangsa ini tidak tiba-tiba menyembul dari ruang nir-historis. Indonesia tentu akan dengan bangga mengakui Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Sunan Kalijaga, Pattimura, Laksamana Malahayati, dan manusia-manusia unggul lain yang pernah hidup setanah air dengan kita itu sebagai perlambang bangsa ini. Tetapi adanya kasus-kasus tak mengenakkan, seperti lemahnya birokrasi dalam memajukan-memartabatkan bangsa, cenderung masih mandulnya lembaga pendidikan secara umum, serta impotensi-impotensi kultural lain, bukan juga ejawantah dari bangsa kita.

Sebagaimana saya mengalami pengalaman eksistensial, dari desa, ke pesantren, sampai terpungkasi dengan Yogyakarta, di sinilah koordinat Indonesia di dalam rumah batin kutural saya. Bagi saya, negeri ini tidak pernah terlalu miskin dan rendah diri untuk menegakkan kepala di hadapan dunia global. Melalui khazanah perdesaan, kita dapat melihat potensi keuletan, tekad dan cara hidup manusia perkasa. Dari khazanah pesantren, Indonesia terlihat begitu haus ilmu pengetahuan dan penuh dengan ruh spiritualitas. Serta dari Yogyakarta, kita bisa menyaksikan elegansi tata interaksi (sosial) multikultural yang terbuhul di dalamnya etos dan tradisi keilmuan.

Bagi saya, negeri ini tidak pernah terlalu miskin dan rendah diri untuk menegakkan kepala di hadapan dunia global. Melalui khazanah perdesaan, kita dapat melihat potensi keuletan, tekad dan cara hidup manusia perkasa. Dari khazanah pesantren, Indonesia terlihat begitu haus ilmu pengetahuan dan penuh dengan ruh spiritualitas. Serta dari Yogyakarta, kita bisa menyaksikan elegansi tata interaksi (sosial) multikultural yang terbuhul di dalamnya etos dan tradisi keilmuan.

Di mana desa saya dalam peta? Di manakah pesantren berada? Di manakah Yogyakarta? Semuanya berada di dalam rumah pertiwi Indonesia. Bahkan ketiga potongan ruang kultural itu, baru secuplik saja dari hamparan kultural negeri ini.

Memang sejak bangsa ini tersilaukan oleh modernisasi budaya global—utamanya melalui Eropa dan Amerika Serikat—kita seperti kehilangan gravitasi dan orbit budaya ibu. Padahal situasi kemodernan sendiri sangat dinamis dan tidak ajek. Terdapat perbedaan resepsi (penerimaan) yang tidak sama terhadap modernitas pada setiap ruang sosial. Observasi yang dilakukan Jonathan Friedman (1992) mendapati bahwa globalisasi pada akhirnya “dialami dan ditafsirkan ulang” secara khas oleh lokalitas. Modernitas adalah sebuah pengimajinasian dan reka-cipta-ulang secara lokal, nasional, dan internasional atas situasi budaya terkini (Ronald A. Lukens-Bull, 2001).

Jika kita mengingat kembali peribahasa Jawa (Iman Budhi Santosa, 2016), urip ning tanah Jawa, kudu ngerti Jawane (hidup di tanah Jawa/nusantara harus memahami secara penuh tradisi dan nilai-nilai asal), akan membesar kembali semangat menegaskan dan mereka-cipta-ulang nilai dan tradisi bangsa sendiri. Memang agak berat, tetapi gelem dadi manungsa kudu gelem rekasa nguri-nguri kamanungsan (sebagai manusia, harus berani bersumbangsih total atas nama kemanusiaan).

Memang agak berat, tetapi gelem dadi manungsa kudu gelem rekasa nguri-nguri kamanungsan (sebagai manusia, harus berani bersumbangsih total atas nama kemanusiaan).

Sebagai bangsa yang secara budaya sangat gigantik, kita perlu merumuskan kembali, atau minimalnya memikirkan secara penuh sungguh nasib kebudayaan kita. Secara bersama, kita bisa melakukan tiga kiprah. Pertama, penguatan identitas dan rasa kebudayaan otentik Indonesia. Kedua, menerapkan sistem pengetahuan berbasis budaya ibu (asal) kita. Ibu kita bukan Belanda, Amerika, Jepang, ataupun Arab, tetapi ragam serat, babat, suluk, tembang, dan jejak-jejak kebudayaan yang masih tersebar-terserak begitu acak. Ketiga, mengaplikasikan, menggalakkan, mengarus-utamakan nilai dan ruh budaya ke dalam produk kreatif kontemporer. Seni visual, desain grafis, sinematikal, tata kota, bisa digunakan sebagai media.

Inilah Indonesia di rumah batin. Sebuah negeri yang turut berproses langsung bersama kesadaran eksistensial warganya. Dari sini, bolehlah saya berharap kesadaran ini akan terangkai dengan “yang lain” sehingga lahir dan tumbuh kesadaran “kita” bersama yang tidak hanya di ruang batin, tetapi menyulur ke ruang praktis kebangsaan. []


BIBLIOGRAFI

Alisjahbana, S. Takdir. 1986. Antropologi Baru. Jakarta: Dian Rakyat.

Dahana, Radar Panca. 2015. Ekonomi Cukup: Kritik Budaya pada Kapitalisme. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Lubis, Mochtar. 1980. Bangsa Indonesia: Masa Lampau-Masa Kini-Masa Depan. Jakarta: Yayasan Idayu.

Lubis, Mochtar. 2013. Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Lukens-Bull, Ronald A. 2001. “Two Sides of the Same Coin: Modernity and Tradition in Islamic Education in Indonesia”, Anthropology and Education, Vol.32, No. 3.

Natsir, M. 1954. Capita Selecta. Bandung: W. Van Hoeve.

Santosa, Iman Budhi. 2016. Peribahasa Nusantara: Mata Air Kearifan Bangsa. Jakarta: DPP PDI Perjuangan.

Sastrowardoyo, Ina. 1991. Teori Kepribadian Rollo May. Jakarta: Balai Pustaka.

Sukarno. 1963. Di Bawah Bendera Revolusi jilid I. Jakarta: Panitya Penerbit DBR.

Wahid, Abdurrahman. 2001. Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren. Yogyakarta: Lkis.

Buku Langgar Shop
Akhmad Faozi
Penulis adalah peziarah Ki Ageng Suryomentaram. Momong anak lanang dan penikmat literasi. Lahir di Pati, nyantri di Kajen, tinggal di Bantul.