/1/

Secara harfiah dan umum istilah katastrof(i/a) [catastrophe] bermakna bencana atau puncak malapetaka yang secara niscaya mengakibatkan atau menyebabkan pelbagai keguncangan mahadahsyat terhadap tata atau keteraturan (great disruption of order). Bahkan menimbulkan keterputusan (discontinuity), yang di dalamnya terkandung rangkaian krisis yang mulai terpetakan dan didapatkan jalan keluarnya.

Sebelum digunakan di pelbagai bidang seperti sekarang, setahu saya, istilah katastrofi tersebut sudah dipakai oleh Aristoteles dalam buku Poetics yang terbit Abad III Sebelum Masehi. Dalam Poetics, sebermula istilah katastrofi digunakan untuk menyebut tahapan alur cerita drama tragedi Yunani setelah klimaks atau puncak konflik pada satu pihak dan pada pihak lain sebagai tanda berakhirnya cerita.

Dalam drama tragedi Yunani, katastrof ditandai oleh ditemukannya jalan penyelesaian (resolusi) atas klimaks atau puncak konflik pada satu sisi dan pada sisi lain lazimnya ditandai oleh matinya tokoh utama secara tragis dan atau traumatis sebagai bagian akhir cerita (yang merupakan puncak bencana dalam drama tragedi). Inilah yang disebut katastrofi atau denouement dalam struktur dramatik tragedi Yunani.

Dalam drama tragedi Yunani, katastrof ditandai oleh ditemukannya jalan penyelesaian (resolusi) atas klimaks atau puncak konflik pada satu sisi dan pada sisi lain lazimnya ditandai oleh matinya tokoh utama secara tragis…

Lihat saja lakon-lakon Sophocles, sang maestro drama-drama tragedi Yunani, semisal Oedipus Sang Raja, Oedipus di Colonus, dan Oedipus Berpulang, bahkan juga Antigone dan Electra. Betapa tragis dan traumatisnya kematian sang tokoh utama Oedipus, bahkan jalan hidup Oedipus. Di samping itu, juga tokoh-tokoh lain terutama ratu Jocasta, Antigone, dan Eelectra. Struktur dramatik pentalogi tragedi masyhur tersebut sungguh-sungguh menyuguhkan rangkaian bencana dahsyat, mencekam, menegangkan, meremukkan, dan tragis yang harus dijalani dan dialami oleh Oedipus (selain Jocasta, Antigone, dan Electra, bahkan warga kerajaan Thebes).

Ujungnya, kematian Oedipus yang teramat menyesakkan dada dan traumatis. Jalan dan ujung kematian yang sungguh tak tertanggungkan. Namun, seiring dengan itu, kehidupan warga Thebes mengalami katarsis, yaitu sebuah pencucian diri yang membuahkan pembaharuan ruhaniah dan pelepasan diri dari ketegangan tak tertanggungkan. Inilah intisari siklus katastrofi dalam lakon Sophocles.

/2/

Sesudah itu, dengan makna relatif sejajar atau paralel, istilah atau makna katastrofi tersebut dipakai untuk menyebut bermacam-macam bencana mahadahsyat atau malapetaka tak tertanggungkan dan tak terbahasakan yang menguncang tata atau keteraturan alam semesta, bumi, ekologi, dan atau kebudayaan manusia. Misalnya, sekarang sudah makin lazim digunakan istilah katastrofi geologis, katastrofi kosmis, katastrofi alam [tsunami atau badai Tornado, katastrofi lingkungan, katastrofi iklim, katastrofi manusia [genosida], dan katastrofi ekonomi dan finansial.

Pelbagai istilah frasal tersebut menggambarkan malapetaka atau bencana mahadahsyat yang berdaya merusak, menghancurkan, meruntuhkan, dan atau memunahkan. Bidang ilmu geologi, astronomi, klimatologi, dan ilmu lingkungan sekarang paling serius memakai istilah atau makna katastofi untuk menyebut bermacam bencana kosmis, galaksi, bumi, dan lingkungan yang luar biasa dahsyat yang mengakibatkan guncangnya atau rusaknya tata atau keteraturan kosmis, alam semesta, bumi, dan atau lingkungan.

Di samping itu, istilah katastrofi juga digunakan untuk menggambarkan bencana yang menciptakan ketidaksetimbangan, ketakselarasan atau kekacauan, bahkan berdampak menghancurkan, meruntuhkan, dan atau memunahkan tata-semesta (kosmologi), tata-bumi, tata-lingkungan, tata-sosial, dan bahkan tata-kebudayaan. Mungkin dalam imajinasi kita, sebuah katastrofi geologi, katastrofi bumi, dan katastrofi ekologis-lingkungan seperti perang Baratayudha: bukan hanya menghancurkan semesta, tetapi juga membinasakan kehidupan semua makhluk di bumi.

Temuan kajian bidang geologi, astronomi, ekologi, arkeologi, mitologi, naratif, dan bahkan juga sejarah kebudayaan telah menggambarkan malapetaka luar biasa atau bencana kosmis-ekologis-lingkungan mahadahsyat sudah berkali-kali terjadi dan berlangsung sepanjang sejarah (umur) alam semesta khususnya bumi. Secara ringkas hal tersebut dapat disebut katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan.

Hal tersebut sudah beratus-ratus kali terjadi. Di samping itu, telah berlangsung dengan tingkat atau skala kedahsyatan dan kerusakan berbeda-beda dalam sepanjang umur jagat raya yang sudah jutaan tahun. Namun, terbukti jagat raya atau bumi kita tidak hancur lebur dan luluh lantak untuk kemudian berakhir (kiamat) begitu saja, melainkan memulai kembali dan memperbaharui diri secara evolutif-kreatif-inovatif

Buku The Upside of Down: Catastrophe, Creativity, and the Renewal of Civilazation karya Thomas Homer-Dixon (2006, Island Press, Washington) dan buku Encyclopedia of Disarters: Enviromental Catastrophes and Human Tragedies (2008, Greenwood Press, London) memberikan ilustrasi bagaimana katastrofi merusak dan menghancurkan bagian-bagian tertentu dari alam semesta (planet), bumi, dan ekologi-lingkungan. Selain itu, juga memunahkan atau membinasakan manusia beserta kebudayaan dan peradabannya. Namun, kemudian menumbuhkan diri, memperbaharui diri, dan membangkitkan diri kembali.

Setelah mengalami katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan, sudah tentu pertumbuhan kembali dan pembaharuan diri (bagian-bagian tertentu) jagat raya atau bumi memakan waktu lama.

Setelah mengalami katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan, sudah tentu pertumbuhan kembali dan pembaharuan diri (bagian-bagian tertentu) jagat raya atau bumi memakan waktu lama. Di samping itu, juga berbeda-beda (tidak sama) dalam rentangan umur jagat raya atau bumi. Hal tersebut tampaknya merupakan perintah historis kehidupan alam semesta, bumi, dan lingkungan pada satu sisi dan pada sisi lain merupakan perintah historis kemanusiaan, kebudayaan, dan peradaban

/3/

Berbagai informasi geologis, astronomis, ekologis, arkeologis, historis-kultural, mitologis, dan atau naratif memperlihatkan bahwa katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan telah menimbulkan rangkaian tragedi kosmis-ekologis-lingkungan (sekaligus rangkaian trategi kemanusiaan). Seperti rangkaian tragedi lakon drama Yunani yang bersifat siklis, rangkaian  tragedi kosmis-ekologis-lingkungan tersebut berlangsung secara siklis, yaitu sebuah kejadian berangkai-ulang (simak buku The Cycle of Cosmic Catastrophe karya Richard Firestone, Allen West, and Simon Warwick-Smith, 2006, Bear and Company, Vermont).

Disebut demikian karena dalam sepanjang umur alam semesta terutama galaksi dan bumi (yang sudah terentang jutaan tahun) sudah pernah terjadi berbagai macam malapetaka atau bencana kosmis-ekologis-lingkungan mahadahsyat tak tertanggungkan dan tak terbahasakan. Hal ini mengakibatkan tiga hal pokok. Pertama, kolapsnya dan luluh lantaknya bagian-bagian alam semesta, bumi, ekologi, dan lingkungan. Kedua, kolapsnya dan musnahnya beratus-ratus kebudayaan dan peradaban di pelbagai penjuru dunia atau bumi. Ketiga, punahnya pelbagai golongan manusia (bisa ras, etnis, dan lain-lain) yang menghuni muka bumi atau malah umat manusia pada umumnya.

Tiga hal tersebut senantiasa bertali-temali sehingga katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan tidak melulu menempuh jalan tunggal. Namun, juga selalu menimbulkan dampak multi-wajah, multi-arah, dan multi-sektor yang saling berkaitan erat [terutama antara alam semesta (bumi), kebudayaan, dan umat manusia]. Sekadar contoh, katastrofi supervulkano gunung Toba tua (74.000 tahun lalu) tak hanya meruntuhkan atau merusak tata alam semesta, melainkan (secara serempak) juga menghancurkan atau memunahkan kebudayaan dan manusia di berbagai belahan dunia. Demikian juga, sekadar contoh yang dekat dengan kita, katastrofi letusan vulkanik Gunung Tambora (1815 M) tak hanya menguncangkan keteraturan tata-alam secara global, melainkan juga telah membinasakan atau memunahkan manusia dan kebudayaan di sekitarnya (terutama manusia dan kebudayaan Bima/Mbojo, bahkan juga pertambangan-purba emas di sekitar wilayah Batu Hijau yang sekarang menjadi Newmont-Sumbawa).

Selain daya dan kemampuan alam semesta terutama bumi  ‘menyembuhkan diri sendiri’ secara alamiah-organik, daya dan kemampuan manusia yang tersisa dalam katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan tersebut akan sangat menentukan munculnya, tumbuhnya, bangkitnya, dan atau berkembangnya kebudayaan dan peradaban baru sesudah terjadinya tragedi kosmis-ekologis-lingkungan. Di sinilah kita dapat menyaksikan siklus hancur-bangkitnya dan punah-tumbuhnya umat manusia atau golongan manusia beserta kebudayaan dan peradabannya.

Dengan cukup gamblang hal tersebut sudah dipaparkan dalam buku The Upside of Down: Catastrophe, Creativity, and the Renewal of Civilazation karya Thomas Homer-Dixon (2006, Island Press, Washington) dan buku Encyclopedia of Disarters: Enviromental Catastrophes and Human Tragedies (2008, Greenwood Press, London). Kedua buku tersebut secara analitis telah memaparkan betapa tiap-tiap katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan atau bencana mahadahsyat senantiasa mengakibatkan tragedi kebudayaan dan manusia. Di samping itu, juga kreativitas-inovasi manusia yang masih tersisa (tak ikut punah) menentukan pembaharuan, pertumbuhan, dan perkembangan kebudayaan dan peradaban baru.

Selain itu, dalam tiga bukunya yang sangat mengesankan, yaitu Guns, Germs, and Steel (2013), Collapse (2014), dan The World until Yesterday (2015), Jared Diamond telah mengisahkan perkara jatuh-bangunnya dan punah-tumbuhnya beratus-ratus kebudayaan dan peradaban di bumi akibat katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan. Pada sisi lain, juga daya dan kemampuan manusia membangun, membangkitkan, (dan kemudian memajukan kembali) kebudayaan dan peradabannya melalui pelbagai revivalisasi, revitalisasi, atavisasi, rejuvinasi, dan kreasi-inovasi kebudayaan dan peradaban.

Temuan Jared Diamond dalam Collapse (2014) memperlihatkan bahwa lima faktor yang lazim meruntuhkan atau menumbangkan kebudayaan dan peradaban. Kelimanya adalah (a) kerusakan alam dan lingkungan, (b) perubahan iklim bumi, (c) pengaruh peradaban musuh, (d) pengaruh peradaban sahabat, dan (e) yang terpenting tanggapan masyarakat terhadap masalah alam semesta dan lingkungan.

Hal tersebut menunjukkan, siklus tragedi katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan selalu berkorespondensi dengan tragedi manusia sekaligus tragedi kebudayaan dan peradaban. Di samping itu, juga selalu diikuti oleh transformasi alam semesta (bumi, ekologi, lingkungan, dan lain-lain) sekaligus transformasi manusia beserta kebudayaan dan peradabannya. Di sini seperti terbentuk dialektika antara penghancuran dan pembaharuan, perusakan dan pemulihan, pemusnahan dan pertumbuhkembangan bagian-bagian tertentu dari alam semesta, bumi, dan lingkungan sekaligus manusia beserta kebudayaan dan peradabannya.

Sebab itu, dapat dikatakan, katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan tidak pernah berlangsung singular, linier, dan mengikuti hukum kausalitas tunggal; melainkan berlangsung secara sirkular-siklis dan multi-kausalitas. Hukum linieritas, singularitas, dan kausalitas-tunggal tampaknya tidak berlaku dalam punah-tumbuhnya dan runtuh-bangkitnya kebudayaan dan peradaban yang ada di sepanjang sejarah bumi dalam kaitannya dengan katastrofi kosmis-ekologis. Sejarah kebudayaan dan peradaban manusia tidak pernah lurus dan tunggal maju ke depan (linier, singular, dan progresif). Tetapi, justru selalu penuh tikungan tajam (linguistic turn) dan bahkan terpatah-patah (diskontinu) dan menyebar secara acak (multipolar, multiversal).

Dalam sepanjang kehidupan bumi kita dapat menemukan tikungan dan patahan sejarah kebudayaan-kebudayaan dan peradaban-peradaban besar-ternama yang dikenal oleh manusia. Kata para ahli, kita menyaksikan diskontinuitas kebudayaan dan peradaban sekaligus multipolaritas—multiversalitas siklus kebudayaan dan peradaban. Demikianlah, sekadar contoh, kita bisa menemukan tikungan tajam dan patahan sejarah kebudayaan dan peradaban di Sumeria, Persia, Yunani, Cina, Timur Tengah, Eropa, Amerika Latin (Aztec, Maya), dan lain-lain.

Tikungan tajam dan patahan sejarah kebudayaan dan peradaban tersebut senantiasa meninggalkan puncak-puncak pencapaian kebudayaan dan peradaban, yang sekarang lazim kita kemodernan (modernitas)

Tikungan tajam dan patahan sejarah kebudayaan dan peradaban tersebut senantiasa meninggalkan puncak-puncak pencapaian kebudayaan dan peradaban, yang sekarang lazim kita kemodernan (modernitas). Ini mengimplikasikan, masing-masing kebudayaan dan peradaban di bumi, sebelum tumbang-tumpas dihempas katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan, selalu memiliki kemodernan (modernitas) masing-masing, yang bisa mirip, bisa pula berbeda. Karena itu, dalam sepanjang umur kehidupan alam semesta (bumi), sesungguhnya dapat kita temukan pelbagai kemodernan kebudayaan dan peradaban (modernitas) sehingga di bumi terdapat multi-modernitas (bukan mono-modernitas), trans-modernitas, multi-versalitas (bukan uni-versalitas) dan transversalitas.

Implikasinya, dalam sepanjang umur jagat raya ada bermacam-macam modernitas baik secara historis-geologis maupun geokultural. Di sinilah kita bisa mengatakan ada modernitas Sumeria (Babylonia), modernitas Aztec, modernitas India Kuno, modernitas Cina Kuno, modernitas Yunani Kuno, modernitas Abbasiyah, dan lain-lain. Modernitas pada masa lampau tersebut dapat disebut sebagai paleomodernitas [paleomodernity] (saya meminjam istilah dari John David Ebert, The Age of Catastrophe, 2012, hlm. 17). Dalam pada itu, modernitas-modernitas pada masa sekarang yang bertebaran di pelbagai penjuru bumi (yang tumbuh dan berkembangnya sesudah katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan tertentu) dapat disebut sebagai multimodernitas atau transmodernitas [transmodernity] (saya pinjang istilah dari Enrique Dussel dan Maria Rosa Rodriques).

Sudah barang tentu modernitas kebudayaan dan peradaban yang dimaksud tidak sama dengan modernitas dalam pengertian-pemahaman kita sekarang (yang sangat bercorak eurosentris-kontinental, singular, linier, dan posivistis). Namun, masing-masing kebudayaan dan peradaban yang dimaksud dapat disebut modern.

Tantangan dan tugas para ahli dan peneliti berbagai bidang ilmu (di sini geologi, astronomi, arkeologi, ilmu sejarah, antropologi, sosiologi, dan lain-lain) untuk menggali dan merumuskan sosok atau karakteristik modernitas-modernitas yang pernah ada di bumi kita. Di sinilah kita perlu membangun ilmu-ilmu baru (hybrid science) karena bidang ilmu lama yang sangat disipliner dan partikular tidak akan sanggup merumuskan secara komprehensif corak-corak modernitas di berbagai zaman dan tempat (tak heran Gayatri Spivak menulis buku The Death of Disciplines).

/4/

Berhubung kehidupan di bumi ini mustahil bermula dari creatio ex nihilo, ada kemungkinan besar bangkit-tumbuh-kembangnya kebudayaan dan peradaban tertentu setelah katastrofi kosmis-ekologis-lingkungan didasarkan atas tapak-tapak atau tilas-tilas kebudayaan dan peradaban modern yang pernah ada sebelumnya di samping didasarkan atas kreasi-inovasi baru umat manusia. Di sinilah modernitas (puncak pencapaian) pelbagai kebudayaan dan peradaban yang pernah ada di bumi saling memberi kontribusi bagi kebudayaan dan peradaban bumi.

Saling bergantung, saling pengaruh, silang budaya, dan saling menyerbuki (fertilisasi budaya) kebudayaan dan peradaban dalam rangka revitalisasi, rejuvinasi, atavisasi, revivalisasi, konservasi, dan atau transformasi kebudayaan dan perabahan merupakan hal lumrah dan tak terelakkan dalam sejarah. Dalam kenyataan konkreat sehari-hari, tidak ada kemurnian dan keaslian kebudayaan dan peradaban modern di pelbagai penjuru bumi. Kebudayaan dan peradaban modern di suatu tempat, ruang, lokasi atau kawasan merupakan sedimentasi pelbagai kebudayaan dan peradaban – yang terlebur atau terpadu di dalam mangkok kebudayaan dan peradaban tertentu.

Meminjam konsep Jacques Derrida, semua modernitas kebudayaan dan peradaban selalu saling berkontaminasi sehingga tidak perlu dipulangkan kepada kemurnian dan keaslian.

Meminjam konsep Jacques Derrida, semua modernitas kebudayaan dan peradaban selalu saling berkontaminasi sehingga tidak perlu dipulangkan kepada kemurnian dan keaslian. Kemurnian dan keaslian hanyalah ilusi atau utopia orang-orang yang tak berpijak di bumi, senantiasa selalu mengawang-awang di alam fantasi, yang kemudian menjadi politik identitas chauvinistik yang dibayangkan kekal dan abadi. Jika ditelaah secara cermat, serat-serat atau sedimentasi-sedimentasi pelbagai kebudayaan dan peradaban tertentu dapat menginformasikan bahan-bahan “bangunan” kebudayaan dan peradaban yang berkonstribusi membentuknya.

Saling-memberi, saling-menyerbuki, saling-menumbuhkan, dan saling-mewariskan itulah yang memungkinkan bangkit dan berkembangnya suatu kebudayaan dan peradaban setelah dilanda tragedi kosmis-ekologis-lingkungan. Di sinilah umat manusia tidak layak jumawa, angkuh, dan congkak. Tetapi, senantiasa harus rendah hati dan saling-menghormati dan saling-menghargai. Ekstresmisme, eksklusivisme, narsisme, dan sikap-sikap anti-sosial bisa jadi merupakan akar kerapuhan dan kerusakan kelangsungan kehidupan di bumi. Dalam jangka panjang – langsung atau tak langsung – hal tersebut menyumbang bagi terjadinya tragedi kosmis-ekologis-lingkungan sekaligus patahan sejarah kebudayaan dan peradaban.

Untuk itu, pandangan-pandangan dan pikiran-pikiran yang condong merasa paling benar atau benar-sendiri dan anti-sosial ekologis dan anti-sosial kultural harus ditolak. Kita harus menumbuhkan pikiran dan pandangan saling mengakui, saling menghormati, dan saling menghargai demi kelangsungan kehidupan di bumi agar tragedi kosmis-ekologis-lingkungan tidak memusnahkan umat manusia pada masa depan. Berani? Mari kita selamatkan bumi, kita rawat bersama alam semesta.