Setiap kali, selepas bertemu dengan Mbah Sutandharu, Wisagenit selalu dilanda prahara susah tidur. Ada saja yang memaksa matanya untuk tetap melek dan pikirannya untuk terus berjaga. Ya, hampir setiap pulang berkunjung dari rumah Mbah Sutandharu, Wisagenit mengalami itu. Masuk dunia ambang sekaligus bimbang. Dari zaman bujang sampai sekarang tetap saja. Istrinya, Yuantiwedi, kalau sudah seperti itu tak henti-henti nggedumel: wis gek turu! Selalu kalimat itu yang diserukan, saking sudah mentok mau ngomong apa kepada lelakinya itu.

Mbah Sutandharu adalah orang yang hampir satu dasawarsa dikenal Wisagenit. Setidaknya dalam lima tahun terakhir ini ia sering berinteraksi, ngobrol, gojek dan sesekali ngangkring bersama.

~~~

Pada awalnya, pertemuan dengan Mbah Sutandharu itu memang tanpa sengaja. Kejadian ‘kebetulan’ itu lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

Lewat puisi. Ya, puisi-lah yang telah mempertemukan mereka. Ketika itu Wisagenit lagi birahi, sedang hot-hotnya ingin jadi penyair, sehinga apa pun ia tulis menjadi puisi. Demo tentang penghijauan, jadi puisi. Membaca berita korupsi, jadi puisi, membayangkan bersalaman dengan gadis ayu, lahir puisi. Pokoknya madhep ngalor jadi puisi, madhep ngidul muncul puisi. Dan lewat apa yang ia sebut puisi itulah pertemuan dengan Mbah Sutandharu itu terjadi. Akhirnya, lewat puisi-puisi ora muni karyanya, pada suatu malam, di sebuah pendapa temaram, wisagenit bersalaman, berkenalan dengan Mbah Sutandharu yang sebelumnya ia kenal, juga lewat puisi. Wisagenit grogi dan hanya terdiam.

Rumahmu menghadap ke mana?  Lalu kalau masjid ke mana ia menghadap? Terus, kalau lokomotif menghadap ke mana? Perhatikan rumah, masjid juga lokomotif itu, jangan hanya membaca pikiranmu sendiri! Lalu dipuncaki dengan sebuah atraksi lemparan korek api di hadapannya.

Di pertemuan perdana itu pula pelajaran pertama tentang puisi ia dengarkan lewat pertanyaan-pertanyaan: “omahmu madhep menyang ngendi?” Rumahmu menghadap ke mana? “Banjur yen mesjid kuwi madhep menyang ngendi?” Lalu kalau masjid ke mana ia menghadap? Terus, kalau lokomotif menghadap ke mana? “Delengen omahmu, mat no mesjid lan lokomotif kuwi, aja mung pikiramu!” Perhatikan rumah, masjid juga lokomotif itu, jangan hanya membaca pikiranmu sendiri! Lalu dipuncaki dengan sebuah atraksi lemparan korek api di hadapannya. Di situlah, wisagenit mendapat pelajaran pertama dari Mbah Sutandharu. Yang kemudian ia sebut dan catat sebagai pelajaran pertama tentang puisi.

Wisagenit hanya klecam-klecem, Dlongap dlongop, ora isa umbal. Lalu bergaya sok paham dengan apa yang disampaikan Mbah Sutandharu.

Pelajaran pun berlanjut dengan teori “mangan kacang godhog” makan kacang rebus, yang menyadarkan betapa gelar yang disematkan Mbah Sutandharu padanya malam itu benar adanya. “Puisimu kuwi puisi cah TK, durung ana sik mentes!” Haha! Ya, ijazah TK malam itu didapatkan wisagenit. Sah! Lumayan. Gumamnya getir. Pulang dari pertemuan, wisagenit pun mulai menyadari tentang banyak hal. Soal puisi, pilihan ‘kacang’, dunia penyair, kelas puisi, dan banyak hal lain yang membuatnya ndomblong semalaman.

~~~

Hari, bulan, tahun berlalu. Dan tetap saja, selepas bertemu Mbah Sutandharu, semalaman wisagenit susah untuk tidur. Ada saja yang membuatnya berpikir ulang dan menguji dirinya sendiri. Hingga pada suatu ketika wisagenit datang ke tempat Mbah Sutandharu. Ia kembali mendapatkan pelajaran tentang puisi dan penyair. Lagi-lagi, wisagenit mak plenggong, terbengong.

Puisi itu bertebaran di banyak tempat. Di jalan, di kebun binatang, di sawah, di sekolah, di mata gadis gunung, di pucuk-pucuk pohon kelapa, di nama-nama tumbuhan, di barisan semut. Semua tergelar di sana. Dan tugas seorang penyair itu haruslah waspada melihat sekitar, mengamati lalu mencatat apa yang ia tangkap dan memberinya makna.

“Puisi itu bertebaran di banyak tempat. Di jalan, di kebun binatang, di sawah, di sekolah, di mata gadis gunung, di pucuk-pucuk pohon kelapa, di nama-nama tumbuhan, di barisan semut. Semua tergelar di sana. Dan tugas seorang penyair itu haruslah waspada melihat sekitar, mengamati lalu mencatat apa yang ia tangkap dan memberinya makna. Itu, jika kamu hendak belajar lagi tentang puisi dan penyair.”

Dengan suara bulat, tenang, tanpa tekanan nada berlebihan, Mbah sutandharu mengucapkan itu.

Sampai di rumah, berkali-kali, Yuantiwedi mengulang lagu di atas dipan kayu itu: wis gek turu! Dan Wisagenit tetap acuh dengan kata-kata istrinya. Wisagenit terpejam, tapi tidak tidur. Pikirannya bergerak jauh, melayang masuk kembali ke dunia ambang. Ia ingat akan puisi-puisinya yang masih saja belum berbunyi sampai hari ini. Ia merasakan banyak hal sehari-sehari lepas dari pandang mata dan hatinya. Ia ingat akan cita-citanya yang terpendam. Tiba-tiba saja suara cicak mengusik pejamnya. Ia pandangi cicak di dinding kamarnya yang mulai kusam dimakan cuaca. Ia melihat dinding kamarnya dipenuhi judul-judul buku, bergerak-gerak diikuti puluhan sampul-sampul buku puisi yang pernah ia baca selama ini. Tiba-tiba saja, pikirannnya terhenti, terantuk pada kata-kata sakti dari seorang penyair Iman Budhi Santosa: Menulis puisi itu mudah, tetapi menjadi penyair itu tidak gampang.

Seketika kamar menjadi gelap. Wisagenit tenggelam dalam kalimat itu. Di luar pintu, meteran listrik berbunyi berulang kali.

 

Berbah, Januari 2018