Madura di Tahun 124 Saka/202 Masehi

Sejarah Madura belum banyak ditulis. Maksud saya, belum banyak penulis pribumi yang melakukannya. Semenjak kajian paska kolonial terus diminati, sejak itu pula skeptisisme pada sumber-sumber orientalis menguat. Satu-satunya jalan keluar untuk mengobati rasa haus akan sumber rujukan adalah kembali pada serat, suluk, kakawin, kidung dan babad yang sepenuhnya karya leluhur Nusantara.

Tentang sumber sejarah Madura yang bisa diandalkan, salah satunya Kakawin Desa Warnana atau Nagara Krtagama.  Kakawin ini ditulis Mpu Prapanca tahun Saka 1287 (Adrigajaryyana) atau 1365 Masehi. Ia telah diterjemahkan ke dalam versi bahasa Indonesia oleh seorang Guru Besar I Ketut Riana, Jakarta: Kompas, 2009.

Selain Nagara Krtagama, ada juga sumber lokal yang membahas hal-hal, tokoh, peristiwa, dan tahun berkaitan dengan Madura, seperti Kidung Panji Wijayakrama, Kidung Ranggalawe, Pararaton, Kidung Harsawijaya, Kidung Sorandaka, dan Serat Damarwulan. Namun, Nagara Krtagama memiliki keunggulan dibanding sumber sejarah lain dalam hal menyebut angka tahun paling tua tentang Madura, tahun 124 Saka/202 Masehi.

Sementara sumber-sumber lain bercerita peristiwa yang berhubungan dengan Madura pada abad 13 Masehi. Seperti yang dikisahkan dalam Pararaton bahwa adanya penyerbuan Ranggalawe ke Majapahit tahun 1295. Ranggalawe sendiri, adalah putra Arya Wiraraja, Raja Sumenep. Sementara dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe memang dibuat untuk menjelaskan dua tokoh tersebut.

Dalam Nagara Krtagama, sejarah Madura dimulai sejak 124 Saka/202 Masehi. Peristiwa besar kala itu adalah terpisahnya Pulau Madura dari Pulau Jawa akibat meluapnya air lautan. Dalam terminologi Candrasengkala, peristiwa itu dikenal dengan sebutan Samudrananggungbhumi (lautan merangkul daratan), yang terjadi pada tahun 124 Saka.

Dalam terminologi Candrasengkala, peristiwa itu dikenal dengan sebutan Samudrananggungbhumi (lautan merangkul daratan), yang terjadi pada tahun 124 Saka.

Keterangan Nagara Krtagama di atas mengoreksi tulisan Zainalfatah, yang menyebutkan tidak ada katerangan manuskrip atau prasasti tentang proses pemisahan Pulau Madura dan Pulau Jawa. Parahnya lagi, Zainalfatah menyebut pemisahan Pulau Madura dari Pulau Jawa terjadi pada tahun 929 Masehi, ditandai meletusnya salah satu gunung di Jawa (Budi Susanto, Penyam(b)un(g) Suara Lidah Rakyat, Yogyakarta: Kanisius, 2008: 129).

Dalam hal ini, tentang sejarah kuno Madura, belum ada keterangan waktu yang lebih tua dari abad kedua masehi tersebut.

Madura, Titik Balik Siklus Kaliyuga

Catatan penting lain dari Mpu Prapanca, perpisahan Pulau Madura dari Pulau Jawa merupakan tahun-tahun awal titik balik zaman Kaliyuga. Pengertian “titik-balik” di sini berarti tahun-tahun awal setelah tahun-tahun sebelumnya telah berakhir. Misalnya, Mpu Prapanca menyebut awal zaman Kaliyuga terjadi pada tahun Gogendutrilawan, 3179 Saka/3101 SM. Tahun itu bertepatan dengan wafatnya Raja Pandawa.

Tahun 3179 Saka ini berjalan mundur hingga paruh pertama selesai di tahun 0, lalu bermula lagi tahun 1 Saka. Paruh kedua zaman Kaliyuga terus berjalan, hingga tiba pada tahun 124 Saka. Saat itulah, Pulau Madura terpisah dari Jawa.

Tentang awal zaman Kaliyuga, pernyataan Mpu Prapanca dalam Nagara Krtamaga terkonfirmasi oleh peneliti orientalis Egbert Richter-Ushanas. Zaman Kaliyuga dimulai sejak tanggal 18 Februari 3102 Sebelum Masehi, atau sejak Kresna wafat.

Namun, Egbert Richter-Ushanas menambahkan bahwa Zaman Kaliyuga ini terdiri dari 432.000 tahun (Egbert Richter-Ushanas, The Indus Script and the Rg-Veda, Delhi: Motilal Banarsidass Pubishers, 1997: 16).

Tentang lamanya zaman Kaliyuga ini, para peneliti mempunyai pandangan yang tidak sama. Para penafsir memiliki pandangan masing-masing. Sementara Harun Hadiwijono menyatakan bahwa lamanya zaman Kaliyuga 360.000 tahun. Perhitungan zaman demikian disebut Manwantara, yakni setiap ada air bah/banjir, yakni zaman Pralaya, pasti ada seorang Manu yang tertolong (Harun Hadiwijono, Agama Hindu Dan Budha, Jakarta: Gunung Mulia, 2008: 35).

Dalam hal ini Edward Reaugh Smith mengatakan, terjadi tendensi cara berpikir antara Barat dan Timur. Salah satu contohnya adalah tentang memahami Kaliyuga yang terdiri dari 5000 tahun, yang bermula sejak 3.101 SM dan berakhir tahun 1899 M. Jadi, menurut Edward Reaugh Smith, Kaliyuga sudah berakhir.

Dalam terminologi peradaban Barat, zaman Kaliyuga ini disebut Deukalion. Dalam bahasa Yunani, Deukalion berarti zaman kegelapan (Edward Reaugh Smith, The Soul’s Long Journey: How the Bible Reveals Reincarnation, Great Barrington: SteinerBooks, 2003: 162).

Dalam kancah perdebatan intelektual tentang awal dan akhir zaman Kaliyuga inilah, pandangan Nagara Krtagama oleh Mpu Prapanca sangat menarik. Untuk memahami logika Mpu Prapanca tersebut, kita perlu memahami bagaimana cara Nagara Krtagama mengurutkan peristiwa dan angka tahun dalam periode sejarah.

Untuk memahami logika Mpu Prapanca tersebut, kita perlu memahami bagaimana cara Nagara Krtagama mengurutkan peristiwa dan angka tahun dalam periode sejarah.

Pertama, Mpu Prapanca menyebut permulaan zaman Kaliyuga berawal dari tahun Gogendutrilawan, 3179 Saka /3101 SM. Peristiwa sejarah yang terjadi saat itu adalah wafatnya Raja Pandawa.

Kedua, Mpu Prapanca menyebut tahun samudrananggungbhumi, 124 Saka/ 202 M. Peristiwa yang terjadi adalah terpisahnya Pulau Madura dari Pulau Jawa akibat luapan air laut. Sampai di sini, kita melihat satu abad di paruh kedua zaman Kaliyuga.

Ketiga, Mpu Prapanca menyebut bahwa Penulisan Kakawin Desa Warnana atau Nagara Krtagama selesai tahun Adrigajaryyana, 1287 Saka/1365 M. Jadi, bila dihitung sejak era Mpu Prapanca, akhir paroh kedua zaman Kaliyuga masih kurang 1736 tahun lagi. Atau, bila dihitung sejak tahun 2020 di zaman kita ini, akhir zaman Kaliyuga masih kurang 1081 tahun lagi.

Dengan menjadikan peristiwa berpisahnya Pulau Madura dari Pulau Jawa sebagai abad-abad paruh kedua zaman Kaliyuga, dimana paruh pertamanya sudah berakhir dan paruh keduanya baru bermula, maka total lamanya zaman Kaliyuga dalam pandangan Mpu Prapanca 3179×2 = 6358 tahun.

Begitu juga kita dapat menghitung tahun pembuatan naskah Nagara Krtagama  dan perpisahan Pulau Madura dalam rentangan waktu zaman Kaliyuga. Sejak kematian Raja Pandawa sampai selesainya naskah Kakawin Nagara Krtagama berarti 3179 + 1287 = 4.466 tahun Saka di zaman Kaliyuga. Sementara terpisahnya Pulau Madura dari Jawa berarti 3179 + 124 = 3303 tahun Saka di zaman Kaliyuga.

Perhitungan Mpu Prapanca dalam Nagara Krtagama ini sangatlah penting. Salah satunya untuk menandai Hari Jadi Pulau Madura. Di tahun 2020 ini, Pulau Madura sudah memasuki usia yang ke 1740 Saka/1818 Masehi, terhitung sejak pertama kali terpisah dari Jawa