Ketika Covid-19 merebak, pemerintah gencar mengkampanyekan protokol kesehatan untuk melawan penyebaran virus tersebut. Salah satu anjuran yang terus digalakkan oleh pemerintah dan pakar kesehatan adalah meminta masyarakat untuk rutin cuci tangan. Kalau bisa cuci tangan sesering mungkin, tiap kali selesai memegang sesuatu. Apalagi seusai memegang benda-benda yang dijamah banyak orang, misalnya gagang pintu, tiang pegangan saat berdiri di transportasi umum, dan barang-barang di supermarket. Benda-benda tersebut bisa menjadi sumber penyebaran virus yang tak kasat mata.

Instruksi rajin mencuci tangan ini akhirnya melahirkan inisiatif para warga. Kini di tiap-tiap sudut gang, kita mudah menjumpai sarana cuci tangan. Entah itu dari keran yang disusun dari pipa-pipa atau bahkan tempat cuci tangan yang dirancang secara kreatif oleh para warga. Sekarang juga lumrah sekali kita melihat depan rumah orang-orang ditaruh tempat cuci tangan untuk orang yang melintas ataupun untuk memfasilitasi tamu sebelum berkunjung ke rumah.

Para warga tidak kehabisan akal dalam menciptakan sarana cuci tangan. Soalnya harga wastafel cuci tangan, harganya berkisar antara Rp1.500.000 hingga Rp3.000.000. Harga ini saya ketahui setelah menjelajah laman e-commerce. Biaya yang terbilang tidak murah. Akhirnya para warga secara swadaya membuat sendiri tempat cuci tangan yang sederhana.

Bahan-bahan yang sering dimanfaatkan untuk membuat tempat cuci tangan adalah galon tidak terpakai, keran plastik, guci yang tidak terpakai, bekas kemasan cat yang berbentuk ember, ember dilubangi yang berfungsi sebagai wastafel, dispenser, gentong, dan banyak lainnya. Kreativitas para warga ini setidaknya bisa menekan biaya dan menjadikan tempat cuci tangan semakin banyak ketersediaannya.

Inisiatif para warga patut kita apresiasi. Pasalnya, apa yang digagas warga merupakan bentuk kesadaran mereka bahwa Corona ini dampaknya begitu luas dan telah menelan banyak kerugian di berbagai sektor kehidupan kita. Ekonomi semakin lesu. Orang-orang menghadapi depresi berkepanjangan dan banyak lagi imbas negatifnya.

Penyediaan sarana cuci tangan ini sekaligus supaya para warga yang belum tergerak untuk hidup bersih, mau beralih menerapkannya. Warga menginisiasi gerakan-gerakan mandiri yang menjangkau audiens lebih banyak. Mengubah pola pikir seseorang dengan memberikan contoh nyata.

Saya kemudian teringat, kebiasaan mencuci tangan dalam setiap kesempatan ini sebenarnya sudah diajarkan para tetua sejak saya kecil. Kebetulan saya tinggal di perkampungan dengan banyak para sesepuh seperti seumur nenek saya. Orang-orang yang berusia lanjut ini kerap membagikan filosofi hidup yang mereka pegang. Mereka pun masih memegang teguh setiap ajaran hidup warisan para leluhur dari mulai mempertahankan bentuk rumah tinggal yang masih asli sejak puluhan tahun lalu hingga penerapan laku hidup yang penuh filosofis. Hingga tradisi cuci tangan yang sudah digalakkan sejak lampau.

Di lingkungan RT saya memang masih masih mudah dijumpai rumah-rumah berlanskap tradisional. Ada ciri khas dari rumah lawas di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Menggunakan kayu sebagai bagian dindingnya lalu memakai anyaman bambu untuk langit-langitnya. Sedangkan bagian depan rumah memiliki tiga pintu sebagai jalur masuk. Tiap jalurnya terpasang dua pintu. Pintu yang menjulang tinggi dan pintu yang seukuran dada orang dewasa. Kemudian masing-masingnya terpasang dua daun pintu.

Selain keunikan arsitekturnya, saya juga takjub dengan tradisi menaruh gentong atau tempayan berbahan tanah liat. Di bagian perut gentong yang menggembung terdapat lubang untuk mengalirkan air (semacam pancuran). Biasanya pemilik rumah akan memasukkan air melalui bagian atas gentong yang terbuka. Air yang terkumpul dan terwadahi di gentong digunakan untuk membilas tangan dan kaki sebelum akhirnya memasuki rumah.

Karena zaman dulu sumur masyarakat Jawa terletak di luar rumah, maka padasan ditaruh di area depan rumah dekat sumur.

Karena zaman dulu sumur masyarakat Jawa terletak di luar rumah, maka padasan ditaruh di area depan rumah dekat sumur. Untuk memudahkan saat cuci tangan atau mengisi kembali padasan yang kosong. Gentong gerabah tersebut ditempatkan di tiang tinggi yang biasanya terbuat dari batu bata. Jika ditempatkan di tempat rendah, malah tidak bisa digunakan untuk cuci tangan. Air yang mengalir justru membentuk genangan.

Saya kecil dulu sempat bertanya kepada para tetangga yang sudah sepuh juga ke nenek saya. Apa maksud ditaruh gentong seperti itu? Bukankah malah rawan jadi sarang nyamuk? Mereka menjawab, supaya tidak jadi sarang nyamuk, bagian atas gentong yang sudah terisi penuh ditutup dengan nampan atau penutup. Paling hanya dibuka saat akan mengisinya kembali.

Kata nenek dan para tetangga yang sudah sepuh, padasan ini merupakan sarana pembersihan diri sebelum seseorang memasuki rumah. Supaya kotoran yang menempel seusai beraktivitas di luar rumah tidak terbawa masuk. Dan mereka menganut kepercayaan, mencuci tangan, kaki, dan membasuh wajah di padasan juga mencegah terkena sawan. Sawan sendiri diartikan sebagai penyakit atau kotoran dari luar.

Setelah diberitahu hal tersebut, saya memang tak pernah melewatkan cuci tangan sebelum masuk rumah. Soalnya, konstruksi yang dibangun para tetua memang menyeramkan soal sawan itu. Mereka berhasil memberi pemahaman yang begitu menancap kepada saya bahwa sawan itu akan mendatangkan malapetaka yang tidak bisa hilang sepanjang hidup. Jelas saya takut. Apalagi saya masih kecil, tidak ingin cepat-cepat meninggal dan berharap panjang umur supaya bisa memberi manfaat ke sesame.

Dulu memang orang-orang benar-benar takut terkena sawan. Karena ada juga yang berpedoman bahwa sawan itu merupakan bentuk ketempelan makhlus halus yang akan menguntit ke manapun kita pergi. Dan kehadirannya bisa menghilang jika kita mengguyur anggota tubuh dengan air. Kepercayaan mistis semacam ini memang ampuh untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Setelah saya besar, saya pun memahami bahwa sawan bisa diartikan sebagai penyakit yang sukar disembuhkan. Jadi lebih baik melakukan upaya pencegahan, salah satunya mencuci tangan. Apalagi dunia kesehatan zaman dulu belum seberkembang sekarang. Pengobatan untuk beberapa penyakit berat belum ditemukan. Sehingga apabila diserang penyakit tersebut, akan makin memperpanjang penderitaan hidup.

Selain karena faktor kesehatan, ada nilai tenggang rasa yang coba diajarkan dari kebiasaan menaruh padasan di depan rumah. Padasan ini bisa digunakan untuk memudahkan para orang yang melintas jika membutuhkan air untuk berwudu. Bisa juga membantu orang lain mendapatkan kesegaran setelah melakukan perjalanan baik jalan kaki atau berkendara. Orang zaman dulu mempersilakan orang lain untuk mengambil air di padasan untuk membasuh muka supaya tidak tegang dan sedikit melepas penat. Jika musim hujan, air di padasan juga bisa dimanfaatkan untuk membilas dan membersihka anggota tubuh atau pakaian yang terkena cipratan tanah atau tetesan air hujan.

Nenek dan para sesepuh di kampung tidak menaruh curiga kepada orang yang meminta air dari padasan. Soalnya, mereka juga tidak pernah menjumpai ada orang yang sengaja membawa jeriken untuk menampung air padasan. Toh, misalnya ada yang membutuhkan air karena debit air di rumahnya sedang menipis, mereka tidak segan untuk memberikan air padasan.

Dari padasan inilah saya memahami bahwa tradisi cuci tangan ala orang Jawa juga menyimpan filosofi yang mendalam. Sayangnya padasan sempat menghilang keberadaannya setelah masyarakat Jawa membangun rumah bergaya arsitektur modern. Sumur sebagai sumber untuk mengisi air di padasan juga letaknya bukan lagi di depan rumah. Sumur menyatu dengan area dalam rumah, atau bahkan sama sekali tidak ada sumur karena keterbatasan lahan serta kelangkaan mata air. Orang zaman sekarang mengandalkan air PAM supaya lebih praktis.

Pamor padasan kembali lagi semenjak wabah Corona merebak.

Pamor padasan kembali lagi semenjak wabah Corona merebak. Orang-orang kembali timbul kesadaran untuk menyediakan sarana cuci tangan di depan rumahnya sebagai langkah antisipasi penularan virus Corona. Selain memburu wastafel dari alumunium, orang-orang juga melirik padasan dari gerabah. Karena dianggap lebih bernilai estetik dan mengingatkan kembali pada ajaran leluhur masa kuno. Kesan tradisionalnya juga lebih terpancar.

Tak masalah mau wastafel atau padasan, esensinya adalah bisa untuk cuci tangan. Yang terpenting, kita tidak melupakan pentingnya cuci tangan karena itu menjadi tameng pelindung dari virus, kuman, bakteri, dan kotoran yang akan menyerang sistem imun tubuh. Tak sekadar cuci tangan dengan air saja, tapi juga harus disempurnakan stepnya dengan pakai sabun.

Shela Kusumaningtyas
Shela Kusumaningtyas, gemar membaca, menulis, berenang, dan jalan-jalan. Tulisannya pernah dimuat di berbagai media massa. Telah menerbitkan dua buku Racau (kumpulan puisi) dan Gelisah Membuah (kumpulan opini di berbagai media massa).