Sejarawan, Boneka, Bacaan

Sejarawan rutin bersama buku-buku terbuka dan lembaran kertas memuat catatan-catatan. Pemandangan biasa saat sejarawan memasuki masa-masa melalui bacaan, menuliskan hal-hal ingin direnungi dan dituliskan. Kesibukan rutin mungkin dalam hening atau “keterasingan”. Ia mengembara jauh, menghadirkan masa lalu. Buku-buku beragam bahasa adalah dunia tergelar. Ia membaca dan menata. Sejarawan bertugas sebagai “penata” agar publik mau membaca dan menikmati sejarah, dekat atau jauh.

Sartono Kartodirdjo selama puluhan tahun bersama buku-buku itu lumrah. Ibadah membaca itu khas dengan kacamata tebal. Ia memang mengalami “derita”, kemampuan penglihatan semakin berkurang. “Derita” tak diratapi atau menghentikan gairah “melihat” masa lalu, menjadikan “menu-menu sejarah” bagi pembaca. Mata itu tak melulu untuk buku. Ia pun memandangi boneka-boneka. Selama puluhan tahun, ia tak jemu-jemu memandangi boneka meski orang-orang selalu menginginkan predikat terpenting adalah sejarawan. Orang-orang jarang mengetahui sejarawan itu kolektor. Sartono Kartodirdjo dalam usia tua masih memiliki ketakjuban “kebocahan” untuk mengumpulkan, menata, dan melihat boneka-boneka, tahun demi tahun. Sejarawan memiliki bab sebagai kolektor boneka.

Kita menemukan dua halaman di Matra edisi Oktober 1999. Dua halaman mungkin terlewatkan bagi pembaca setelah terpesona foto Sophia Latjuba di kulit muka majalah dan halaman-halaman memuat rubrik-rubrik “memanjakan” kaum lelaki. Di bagian belakang, dua halaman itu berjudul “Boneka-Boneka Sang Profesor”. Kita ingin menjadikan dua halaman mungkin tak lagi terbaca kalangan sejarawan untuk membuat peringatan seabad Sartono Kartodirdjo (15 Februari 1921-15 Februari 2021). “Sejarawan sepuh ini mulai mengoleksi boneka sejak 37 tahun silam,” tulis di Matra. Ia serius memiliki penghiburan dan kenikmatan dengan mengoleksi boneka-boneka berasal dari pelbagai negara.

Pembaca mungkin kaget. Tahun demi tahun, kita membaca artikel-artikel dan buku-buku garapan Sartono Kartodirdjo tak pernah mendapatkan tanda-tanda (keseriusan) berkaitan boneka untuk tema penting. Di Indonesia, Sartono Kartodirdjo sudah mengajak orang-orang memikirkan petani di Banten, Ratu Adil, priyayi, Perhimpunan Indonesia, dan lain-lain. Ia tak pernah pamer sebagai sejarawan bertema boneka, menulis esai-esai mengungkapkan boneka berkaitan sejarah kekuasaan, seni, agama, gaya hidup, industri, atau pendidikan. Boneka sengaja berada di luar kesibukan menulis artikel dan buku sejarah.

Keterangan termuat dalam dua halaman: “Koleksi boneka Sartono Kartodirdjo mencapai 115 buah dalam pelbagai ukuran, bentuk, dan bahan.” Ia sengaja memilih mengoleksi boneka-boneka kecil atau mini. Pada saat berada di negeri-negeri jauh, ia membeli boneka-boneka. Ia pun menitip ke teman-teman bila sedang berada di luar negeri atau pulau-pulau di Indonesia. Tahun-tahun berlalu, Sartono Kartodirdjo menikmati masa tua sebagai pensiunan. Ia mampu bercerita boneka, bukan melalui artikel-artikel memukau. Ratusan boneka berasal dari lebih 20 negara. Ingatan masih kuat untuk masalah boneka, selain tema-tema besar sudah dikerjakan selama puluhan tahun. Boneka-boneka berasal dari Turki, Jepang, Filipina, Hong Kong, Swedia, Jerman, Spanyol, Arab, Belanda, dan lain-lain. Ia mengaku itu hobi, tak terlalu memaksa harus bisa mendapatkan dengan anggaran dan misi khusus. Sartono Kartodirdjo pun tak “memaksa” menulis sejarah boneka di Indonesia atau dunia. Di rumah, boneka-boneka ditata rapi dalam lemari-lemari. Pemandangan menakjubkan bagi lelaki tua telah menunaikan kerja besar dalam penulisan sejarah.

Sartono Kartodirdjo pun tak “memaksa” menulis sejarah boneka di Indonesia atau dunia. Di rumah, boneka-boneka ditata rapi dalam lemari-lemari. Pemandangan menakjubkan bagi lelaki tua telah menunaikan kerja besar dalam penulisan sejarah.

Kita mengutip penjelasan Sartono Kartodirdjo: “Boneka merupakan hasil dari kebudayaan tertentu suatu bangsa. Katakanlah sebagai salah satu contoh hasil budaya. Hampir setiap negeri punya boneka. Seperti hasil budaya lainnya, boneka juga mengalami perkembangan. Melalui boneka, terkadang kita bisa melihat ciri kebudayaan tertentu, meski hanya selintas. Perhatikan saja pakaian dan ciri bonekanya.” Penjelasan itu dituturkan, bukan terbaca di tulisan dimuat di jurnal ilmiah atau makalah untuk seminar internasional. Kita justru tergoda mencari “pembenaran” ketekunan sejarawan mengoleksi boneka tapi tak menulis tentang sejarah dan boneka.

Dua halaman di Matra tak mencukupi bagi kita ingin mengerti boneka, sejarah, dan tokoh. Kita sembrono saja menggunakan kegemaran Sartono Kartodirdjo mengoleksi boneka untuk bergerak membuka lembaran-lembaran sejarah dan seni. Kita wajib mengutip buku berjudul Engineers of Happy Land (2006) garapan Rudolf Mrazek. Kita menemukan paragraf-paragraf tentang boneka dan sejarah kolonialisme. Kita mulai menduga koleksi boneka milik Sartono Kartodirdjo mungkin berkaitan cara “melihat” sejarah dan kepekaan seni.

Paragraf membuka sejarah: “Pada 1893, koleksi sekitar 150 boneka dengan penuh hormat dipersembahkan kepada Ratu Belanda oleh ‘putri-putri Hindia Belanda’. Boneka – di rumah-rumah boneka, di kamar anak-anak, di salon-salon – menjadi mode masa itu. Koleksi boneka Hindia Belanda, sebagaimana disarankan oleh katalognya, mencakup seluruh Kepulauan Hindia Belanda, dan lebih lagi.” Boneka menjadi benda bercerita pada abad XIX. Boneka dalam imajinasi kolonialisme, menghadirkan seni, kerajinan, gagasan, dan adat dalam tatapan mata terpukau. Koleksi boneka itu membawakan cerita-cerita etnis dan lapisan sosial di tanah jajahan.

Boneka itu referensi. Rudolf Mrazek fasih mengisahkan dan mengajukan argumentasi bahwa boneka tak cuma benda mainan. Sumber-sumber bacaan dan foto diperoleh mengingatkan kebermaknaan boneka tak bisa dianggap sepele. Dulu, kita berpikiran segala benda telah dibawa dari Nusantara menuju Belanda: naskah, senjata, busana, kerajinan, dan segala hal mengisahkan-menjelaskan Nusantara. Boneka turut bercerita. Rudolf Mrazek mengungkapkan: “Boneka-boneka dan pakaiannya sebagaimana dibuat dan diperankan itu menyampaikan kebenaran sebagaimana itu dianggap sebagai kebenaran, di Timur maupun di Barat.” Boneka tak lagi mainan bagi bocah-bocah. Boneka di tatapan politik. Boneka-boneka terbuat dari tanah liat dan kayu dengan beragam pakaian memungkinkan pengimajinasian manusia-manusia dan sekian peristiwa di Nusantara.

Boneka tak lagi mainan bagi bocah-bocah. Boneka di tatapan politik. Boneka-boneka terbuat dari tanah liat dan kayu dengan beragam pakaian memungkinkan pengimajinasian manusia-manusia dan sekian peristiwa di Nusantara.

Di Indonesia, bonek condong berkaitan seni dan industri mainan bocah, jarang menjadi urusan besar dan resmi dalam seminar sejarah atau publikasi artikel-artikel dalam jurnal sejarah. Sartono Kartodirdjo pasti mengerti peran boneka dalam sejarah Indonesia. Ia pernah meneliti teks-teks sastra Jawa dan peradaban priyayi. Boneka mungkin bukan masalah terpenting tapi terduga diketahui meski tanpa pembahasan. Boneka-boneka bercap tradisi dan ritual memang masih jarang ditekuni untuk penulisan sejarah. Di penulisan buku-buku mengenai seni, antropologi, hiburan, adat, dan lain-lain sudah dikerjakan para pakar asal Indonesia dan negara-negara asing.

Dua halaman di Matra mengingatkan tentang wayang golek, boneka di Sunda. Sartono Kartodirdjo suka mengoleksi boneka-boneka kecil dari pelbagai negara, tak melupa bahwa di Indonesia ada golek. Kita berlanjut bertemu buku garapan sarjana asing, Sarah Anais Andrieu. Kita mengaku saja masih sulit membahas boneka-boneka di Nusantara. Para sarjana asing berdatangan menceritakan pada kita. Sarah Anais Andrieu dalam buku berjudul Raga Kayu, Jiwa Manusia: Wayang Golek Sunda (2017) terlalu serius mengisahkan dan menjelaskan. Kita menjadi pembaca merasa malu. Jean-Loup Amselle memuji “buku itu berada di pusat antropologi dunia kontemporer.” Kita mungkin bertambah malu.

Sarah Anais Andrieu menjelaskan acuan mengurusi wayang golek bermula dari penciptaan wayang golek Sunda sendiri yang menjadi pokok perhatian kami berasal dari perintah Bupati Wiranatakusumah III, 1845. Sekian dalang dilibatkan untuk membuat wayang dari kayu, gamelan, dan repertoar. Wayang golek itu sintesa dari ikatan masa lalu dominasi Jawa, penguatan identitas Islam, pengukuhan bahasa Sunda, dan lain-lain. Tahun demi tahun berlalu, wayang golek pun berkembang. Pada masa 1920-an, wayang golek disebarkan di desa-desa memasuki tata ritual-tradisional. Deretan peristiwa membuat wayang golek memiliki pemaknaan beragam sampai ke masalah-masalah politis dan penciptaan identitas. Pasang-surut dan gejolak paling terasa sejak awal abad XX sampai “pemanfaatan” oleh rezim Orde Baru.

Tahun demi tahun berlalu, wayang golek pun berkembang. Pada masa 1920-an, wayang golek disebarkan di desa-desa memasuki tata ritual-tradisional. Deretan peristiwa membuat wayang golek memiliki pemaknaan beragam sampai ke masalah-masalah politis dan penciptaan identitas.

Pada suatu masa, boneka asal Sunda itu bernasib lain gara-gara F Widayanto. Ia membuat golekan. Kita tinggalkan buku garapan Sarah Anais Andriau berasal dari disertasi di Ecole des Hautes en Sciences Sociales, Paris, 2010. Kita berpindah mengikuti garapan golekan oleh F Widayanto, diceritakan dan ditafsirkan oleh Sindhunata dalam buku-katalog pameran di Bentara Budaya Jakarta, 24-31 Oktober 1997. Seni menghindari perintah dan kutukan rezim Orde Baru telah menjadikan golek sebagai “politik-kebudayaan” untuk tebar pesan-pesan pembangunan nasional dan kemauan macam-macam berkiblat kekuasaan.

F Widayanto pun seperti bergerak jauh dari sejarah golek dengan memperhitungkan adegan, busana, sosok, dan penjudulan. Kita tak mengetahui Sartono Kartodirdjo pernah membaca berita mengenai golekan atau sengaja tak ada ketertarikan turut mengoleksi golekan, babak perkembangan mengejutkan dari wayang golek atau boneka kayu. F Widayanto memilih membuat golekan dengan bahan lempung batuan. Ia mengartikan golekan: “Kata lain dari boneka yang biasanya terbuat dari kayu, berbaju, berkain sarung dengan wajah menggunakan watak yang diberikan kepadanya.” Garapan golekan bereferensi golekan Cirebon.

Golekan berbeda dari koleksi boneka dikirimkan dari tanah jajahan sebagai persembahan untuk Ratu Belanda, ratusan tahun lalu. Sejarah itu mungkin tak lagi teringat. Golekan justru memikat dengan kesadaran busana. Sindhunata mengomentasi: “Widayanto mendandani golekan-nya bagaikan mendandani seorang peragawati.” Sosok-sosok perempuan dalam penampilan seksi dan tebar godaan-fantasi. Tafsir penting dari Sindhunata: “… golekan Widayanto bukan sekadar simulasi dari peragawati tapi ilusi dan fantasi tentang peragawati itu. Maka jika diamati benar, golekan-golekan Widayanto sebenarnya adalah narasi karikatural yang kritis terhadap pelbagai aspek kehidupan model yang biasanya kita terima tanpa kekritisan sedikit pun jua.”

Kita pun berhenti, setelah mengetahui Sartono Kartodirdjo mengoleksi boneka dan bergerak sembrono sampai bertemu sejarah dan seni. Kita kembali mengingat sejarawan sebagai kolektor boneka tanpa pamrih-pamrih atau kesibukan menulis sejarah boneka. Ia memiliki kesenangan tak wajib berkaitan rutinitas mengurusi sejarah selama puluhan tahun. Kita justru digoda mencari jalan-jalan lain mengerti boneka. Begitu.

 

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi, Solo. Ia rutin menulis esai-esai kebudayaan yang sering menghiasi di berbagai surat kabar. Beberapa buku yang telah diterbitkannya antara lain: Ralat: Sastra Bergelimang Makna (2017), Pemetik Cerita (2017), dan Sepah Sahaja (2018).