Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai salah satu mata pencaharian utama rakyatnya. Kekayaan alam dengan kesuburan Indonesia membuat berbagai macam tanaman tumbuh subur dan menjadi sumber penghidupan. Masing-masing wilayah memiliki tata cara tersendiri dalam mengolah bumi, khususnya masyarakat Jawa. Tata kehidupan pertanian masyarakat seiring berjalannya waktu menjadi sebuah sistem pola tata prilaku atau budaya yang diturunkan pada generasi selanjutnya. Binford (1968 dalam Keesing, 2014) menyebutkan bahwa budaya merupakan cara atau pola tingkah laku yang secara tidak langsung diturunkan dalam social kehidupan sebagai penghubung antara individua atau kelompok terhadap lingkungannya. Keterikatan yang erat antara kebudayaan dan masyarakat membentuk hubungan dwitunggal yang tak terpisahkan dan tentunya saling mempengaruhi dan mendukung.

Keragaman tradisi dan budaya membentuk corak-corak yang khas antar masing-masing komunitas masyarakat. Tradisi dapat menjadi wujud tindakan maupun sikap dalam menghadapi segala persoalan masyarakat, dimana keberlanjutan tradisi biasanya sangat bergantung terhadap eksistensi dan efektifitasnya. Masyarakat Jawa sebagai bagian dari wilayah nusantara memiliki corak tradisi yang khas diantara sekian banyak tradisi yang ada di Indonesia. Herawati (2012) menjelaskan bahwa Budaya Jawa selalu menjunjung tinggi kebenaran dan kebersamaan yang menjadi cerminan dari masyarakat Jawa itu sendiri. Kebersamaan yang tercermin pada masyarakat Jawa ini ditunjukan dengan beberapa upacara-upacara adat yang sering dilaksanakan. Keragaman tersebut tentunya juga menunjukan bahwa masyarakat Jawa cenderung majemuk dan plural.

Mark R Woodwrad (2008) juga mengatakan bahwa masyarakat Jawa memiliki unsur subtansial dalam hidupnya yang mereka sebut sebagai jagat cilik dan jagat gede, atau bisa kita pahami sebagai mikro kosmos dan makro kosmos. Apa yang mereka sebut dengan jagat cilik  disini, adalah diri pribadi atau kondisi batin, jiwa manusia, yang mesti dipahami dan dikendalikan dengan laku tirakat. Sedangkan jagad gede  merupakan jagat yang tergelar atau alam semesta di luar manusia. Biasanya menjaga jagat gede ini dengan mengharmoniskan tiga relasi utama antara manusia, alam dan Tuhan. Keharmonisan diantara unsur-unsur di dalam diri dan di luar diri manusia inilah yang diyakini oleh masyarakat Jawa akan memberi keselamatan tidak hanya di dunia namun juga akhirat nantinya. Dari konsep ini juga kemudian ritual dan trasdisi masyarakat Jawa dibentuk.

Keharmonisan diantara unsur-unsur di dalam diri dan di luar diri manusia inilah yang diyakini oleh masyarakat Jawa yang akan memberi keselamatan tidak hanya di dunia namun juga akhirat nantinya

Sedangkan Saksono dan Dwiyanti (2012) mengatakan, bahwa masyarakat Jawa mencari  keselamatan hidup melalui ritual dan upacara yang telah dilakukan sebelum masyarakat mengenal agama yang kini ada. Hal tersebut dilakukan dalam upaya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan lingkungan alamnya. Manusia hidup selalu membutuhkan lingkungan ekologi yang mendukung kehidupannya. Begitu pula dalam tatanan kehidupan pertanian masyarakat Jawa yang menggunakan sistem atau cara tradisional dalam menjaga keseimbangan tersebut. Dalam hal ini salah satu tradisi pertanian yang masih bertahan sampai hari ini adalah wiwitan, walaupun eksistensinya semakin terancam.

Dewi Sri sebagai Dewi Padi

Wiwitan merupakan salah satu bentuk ritual yang dilakukan masyarakat Jawa pada saat sebelum panen dimulai. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan bentuk rasa terimakasih kepada bumi sebagai “sedulur singkep”. Disini Sedulur singkep mempunyai arti bahwa bumi dan manusia merupakan saudara yang saling melengkapi dan menghormati untuk kelestarian yang berkelanjutan. Selain itu wiwitan juga sering disebutkan sebagai bentuk rasa terimakasih kepada Dewi Sri atau Dewi Padi atas hasil panen yang diperoleh.

Dari sana saya mewawancarai Bapak Joko warga Desa Margomulyo, Seleman, yang juga menjadi abdi dalem Keraton Yogyakarta yang  sampai sekarang masih melaksanakan tradisi wiwitan. Beliau menceritakan bahwa  wiwitan bermakna memberi dhaharan Mbok Dewi Sri yang mbahu rekso sawah padi tersebut. Pemberian rezeki tersebut sebagai upaya menjaga hubungan baik dengan seluruh makhluk termasuk yang tak terlihat, karena setiap tempat pasti ada yang nempati atau biasa disebut sing mbahu rekso. Wiwit disini sebagai upacara mantenan untuk boyong Mbok Sri.

Sementara menurut Suyami (2001) sejarah turunnya ajaran wiwitan sendiri dimulai dari cerita rakyat Dewi Sri yang datang ke tanah Jawa saat mengalami paceklik hingga masyarakatnya tidak mengerjakan sembhayang karena dalam kondisi kelaparan. Mereka memohon kepada Tuhan untuk diberikan rezeki dan terbebas dari paceklik yang saat itu melanda. Dewi Sri dan Ki Sedana merupakan makhluk surga yang diutus Tuhan ke bumi dengan membawa benih rezeki berupa kekayaan dan benih padi. Mereka dijemput atau “diboyong” oleh Malaikat Jibril dan dibawa ke tanah Jawa untuk mengatasi paceklik. Seh Sahluke merupakan seseorang yang ditunjuk Hyang Sukma untuk menanam benih yang merupakan pantun atau padi. Dewi Sri dan Ki Sedana selanjutnya ke tanah Jawa menemui She Sahluke dan memberitahu bahwa saat menanam benih harus disertai “selamatan” agar tanaman kuat dan membawa berkah karena nanti akan banyak hama yang memangsanya.

Rangkaian uborampe Tradisi Wiwitan

Tradisi wiwit sendiri awalnya memiliki kelengkapan uborampe yang komplit meliputi empon-empon, tukon pasar, dan berbagai biji-bijian atau woh-wohan. Nasi yang dipakai pun merupakan nasi yang harum. Secara rinci uborampe dalam prosesi wiwitan meliputi tok-tok salak, daun salam, daun kluwih, daun beringin, daun awar-awar, daun pulutan dun dadap serep dan janur kuning. Masing-masing daun juga memiliki symbol tersendiri dimana daun awar-awar dipakai sebagai penawar dari hama, daun pulutan supaya keket hasil panennya, daun ringin supaya rejeki rembuyung atau banyak, daun kluwih supaya rejeki yang diperoleh lebih banyak dan janur kuning bermakna nur atau cahaya. Rangkaian tradisi wiwitan yang dilakukan pun untuk setiap tempat memiliki perbedaan. Menurut Bapak Joko sendiri, terdapat tempat-tempat khusus dengan aura mistis kuat atau diyakini “angker” biasanya dilakukan wiwitan menggunakan tambahan ingkung, sambel gepeng, untup-untup dan pisang raja.

Pelaksanaan tradisi wiwitan yang dilakukan masyarakat pada umumnya berbeda-beda dan mengalami modifikasi pada beberapa bagian. Perbedaan tersebut dalam hal uborampe yang digunakan, lokasi pelaksanaan dan doa yang dipanjatkan. Menurut penuturan dari Ibu Dukuh Gondangan, Seleman, banyak uborampe yang diganti dalam pelaksanaan tradisi wiwitan yang disesuaikan dengan kemampuan. Selain itu tradisi wiwitan hanya dilakukan pada sawah-sawah yang dirasa memiliki aura mistis “singup” saja, sedangkan lahan persawahan yang berada pada tempat strategis sudah tidak pernah dilakukan wiwitan. Dukuh Kamal Kulon dan Kamal Wetan juga mengatakan hal yang sama, modifikasi sebagian besar dilakukan dalam hal uborempe, dimana terkadang tidak menggunakan ayam ingkung dan penggantian jenis pisang (pisang raja menjadi pisang jenis lainnya). Doa yang dipanjatkan pada saat wiwitan sendiri tidak sama antar masing-masing orang karena tidak ada ketentuan dalam pelantunan doa.

Dalam buku Serat Cariyos Dewi Sri karya Suyami (2001) terdapat pesan yang memperkuat adanya uborampe yang merupakan permintaan Dewi Sri sebagai wujud rasa syukur pada saat panen telah tiba. Sesaji atau uborampe yang dimaksud berupa nasi tumpeng, panggang ayam, sambal gebel, jangan menir, terancam terung, dadar telor, rujak manis, pisang pulut, pisang emas, berbagai jenis umbi, ketupat lepat dan sekerat tebu. Prosesi wiwitan dilakukan dengan mengelilingi sawah sembari membaca sholawat agar hama menyingkir yang dilanjutkan dengan membakar kemenyan. Selain itu berapa bulir padi biasanya akan dibawa pulang dan dilanjutkan dengan menuai padi.

Tradisi Wiwitan dan Perhitungan Mathematis

Acara wiwitan sebetulnya tidak sembarang dilaksanakan, perlu dilakukan perhitungan hari yang dinilai baik agar hasil yang diperoleh semakin berkah. Biasanya hari yang dipakai menurut kalender Jawa yaitu (pon, wage, kliwon, legi, pahing), dari sana kemudian digunakan sebagai perhitungan jumlah padi yang akan dipetik pertama kali dan diboyong pulang. Semisal dilakukan pada hari selasa pahing, maka selasa dihitung tiga dan pahing sembilan dimana hasil tersebut ditambah dan dikalikan dua. Makna dikalikan dua sebagai bentuk pasangan penganten. Setelah dikalikan dua, ditambahkan dua lagi sebagai bentuk pengiring pengantin sehingga hasil akhirnya 26. Berikut persamaannya bila dituliskan secara matematis:

a = 3 (nilai untuk selasa)

b = 9 (nilai untuk pahing)

c = a+b (nilai untuk selasa pahing)

maka

  • a + b = c
  • c x 2 = d (dikali 2 sebagai makna pasangan pengantin)
  • d + 2 = e (ditambah 2 sebagai makna pengiring pengantin)

Hari yang dipilih merupakan hari dengan jumlah nilai perhitungan yang besar seperti Rabu Pon atau Sabtu Legi. Namun meskipun demikan, hari yang dipilih juga tidak selalu tentang besarnya hasil perhitungan, tetapi pemilihan hari juga disesuaikan silsilah hari baik agar kualitas hasilnya baik “menthes”. Pada hari baik tersebut padi dipanen dan disiram air dari kendhi dengan kembang turi supaya padi hasil panen memiliki kualitas yang baik “menthes”. Tidak hanya berhenti disitu saja, sawah juga diputari atau diubengi dengan arah ke kanan dan masing-masing pojok sawah ditanami simbol wayang pethruk sebagai bentuk penjagaan terhadap sawah padi tersebut.

Akulturasi Keislaman dan Nilai-nilai yang terkandung di Dalamnya

Menurut sejarahnya, masyarakat Jawa melakukan wiwitan mengikuti ajaran para Wali Songo di tanah Jawa. Makna tradisi wiwitan sendiri sebagai bentuk berbagi kebahagiaan dan rezeki kepada sesama mahluk Tuhan di muka bumi. Karna dalam keyakinan masyarakat Jawa, disetiap sawah terdapat penjaga yang mereka sebut sing mbahu rekso yang merupakan makhluk ghaib atau tidak terlihat. Keyakinan seperti ini pada dasarnya bagian dari ekspresi penghormatan yang dilakukan oleh masyarakat terhadap mahluk Tuhan yang lainnya. Biasanya mahluk tersebut disimbolisasikan dengan sosok Nyai dan Kyai Amongsari yang dipercaya sebagai makhluk utusan Tuhan untuk menguatkan dan menghidupkan tumbuhan. Dalam hal ini, kepercayaan tersebut tidak lantas bisa kita maknai sebagai wujud kepercayaan yang mutlak terhadap selain Tuhan yang Esa. Namun seperti disebutkan tadi, hal itu hanya perantara atau simbolisasi atas bentuk keyakinan kepada Tuhan. Bahwa kepercayaan terhadap mahluk-mahluk Tuhan juga bagian dari ajaran dari Tuhan itu sendiri.

Sehingga sajen atau sesaji disini yang biasanya disajikan saat ritual wiwitan  bisa dimaknai sebagai rasa terimakasih atas hasil panen yang memiliki makna sosial sebagai wujud sedekah. Sebagai bentuk sedekah maka, sesajen tak ubahnya tradisi lainya pada msyarakat Jawa seperti kenduranslametan  yang telah banyak kita kenal.

Perkembangan tradisi wiwitan sendiri juga turut mendapat akulturasi dari nilai-nilai Islam yang masuk di tanah Jawa. Makna dan tujuan yang awalnya berdasarkan mitos leluhur, kini mulai diarahkan pada nilai-nilai Islam, sehingga tata cara yang dilakukan lambat laun mulai bernafaskan ajaran Islam. Doa yang dilantunkan dalam ritual wiwitan merupakan doa-doa bernafaskan Islam sesuai kemampuan dari masyarakat. Beberapa ada yang melantunkan doa dibarengi sholawat dan tahlil, dan ada yang hanya melakukan doa saja. Bahasa sebagai media komunikasinya pun disesuaikan masyarakat, beberapa menggunakan doa dalam bahasa Arab, Indonesia dan Jawa sesuai dengan kemampuan masing-masing orang.  Meskipun demikian, makna dari doa yang dilantunkan tetap sama yaitu sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas segala nikmat dan rezeki yang diberikan. Dari hal tersebut bentuk tradisi ini diharapkan dapat menjaga hubungan antar manusia dan lingkungannya.

Seperti yang sudah banyak dituliskan dalam masing-masing sub bab bahwa tradisi wiwitan memiliki nilai pemaknaan yang tinggi dengan nilai-nilai budaya yang luhur. Nilai yang tekandung dalam tradisi wiwitan sangat luas baik dari segi lingkungan, sosial, edukasi, dan spiritual. Lingkungan sebagai tempat tinggal manusia memiliki peran utama dalam pemenuhan segala kebutuhan hidup manusia baik dalam hal kehidupan dan penghidupan. Tradisi wiwitan dalam hubungannya dengan lingkungan tentu memberikan dampak positif seperti refleksi diri dalam menghormati alam dan makhluk hidup lainnya. Lingkungan dengan faktor abiotic, biotic dan culture merupakan satu kesatuan yang perlu perhatian dimana tradisi wiwitan merupakan bentuk culture dalam hubungan manusia dengan alam (abiotic dan biotic).

Nilai yang tekandung dalam tradisi wiwitan sangat luas baik dari segi lingkungan, sosial, edukasi, dan spiritual.

Pelaksanaan tradisi wiwitan juga membawa nilai positif dalam kehidupan sosial manusia. Banyak pihak terlibat dalam pelaksanaan tradisi wiwitan yaitu pemilik sawah, penggarap sawah bahkan masyarakat yang kebetulan saja lewat dan ikut dalam prosesi wiwitan. Interaksi sosial antar elemen terlibat tentunya memberikan dampak positif dalam hubungan tali silaturahim antar warga yang melahirkan kondisi sosial yang tentram dan penuh kerukunan. Selain dalam sisi sosial.

Nilai edukasi sendiri tentunya sangat banyak terdapat dalam tradisi wiwitan, salah satunya sebagai  media belajar generasi muda. Pemahaman generasi muda sangat penting dalam menjaga kelestarian tradisi wiwitan sendiri. Tata perilaku sebagai Pendidikan moral banyak sekali terkandung dalam pelaksanaan wiwitan. Selain menumbuhkan rasa syukur dan rasa ikhlas tentunya tradisi wiwitan sendiri dapat melahirkan keselarasan kehidupan manusia dan alam.

Dalam tradisi wiwitan sebenarnya tidak ada unsur paksaan dan kewajiban, melainkan hanya kesadaran manusia dalam menghormati alam. Namun disadari atau tidak melalui tradisi ini jika dihayati manusia akan lebih mengenal Tuhan yang telah memberikan banyak kenikmatan. Selain itu tradisi ini juga bagian dari wujud keselarasan dari ajaran Islam yaitu Hablum Minallah (hubungan makhluk dengan Allah), Hablum Minannas (hubungan manusia dengan manusia) dan Hablum Minal ‘alam (hubungan dengan alam sekitar).

Dinamika Tradisi Wiwitan di Desa Margomulyo

Tradisi wiwitan sebagai salah satu manisfestasi dari fenomena demitologi (Khoironi 2007) sebenarnya masih dilakukan oleh masyarakat di Desa Margomulyo Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman meskipun dengan pemaknaan yang berbeda-beda. Luas Desa margomulyo sendiri, 5,18 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 12.045 jiwa. Secara morfologi Desa Margomulyo terletak pada dataran kaki Gunungapi Merapi sehingga memiliki tanah dengan tingkat kesuburan yang cukup tinggi akibat pengaruh dari aktivitas vulkanik. Tidak hanya tanahnya, ketersediaan air di Desa Margomulyo juga cukup melimpah dengan sistem irigasi yang cukup baik sehingga kegiatan pertanian berkembang di wilayah ini.

Di Desa Margomulyo tradisi wiwitan beberapa masih sering dilakukan, tetapi pada sisi lain banyak juga yang tidak mengetahui bahkan meninggalkannya. Masyarakat yang masih melaksanakan wiwitan cenderung menjadikannya sebagai kegiatan formalitas sebagai bentuk kebiasaan yang secara turun temurun dilakukan para sesepuh tanpa mengetahui makna lebih dalam terkait tradisi wiwitan ini sendiri. Tradisi wiwit saat ini oleh setiap individu dimaknai dan dilaksanakan dengan tata cara yang berbeda-beda bergantung pada keyakinan masing-masing orang.

Narasumber yang merupakan kepala padukuhan turut menambahkan bahwasannya memang pelaksanaan tradisi wiwitan didasarkan pada kebiasaan para leluhur dalam mengolah sawah. Pemaknaan masyarakat didasarkan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang telah diberikan dan wujud rasa ikhlas atas segala ketetapan yang telah Tuhan berikan bagaimanapun hasilnya. Masyarakat Desa Margomulyo sendiri sudah tidak memandang tradisi wiwitan sebagai bentuk demitologi, melainkan bentuk menjaga hubungan harmonis dengan alam seperti pepatah “dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Keseimbangan hubungan antara manusia dan alam tentunya akan melahirkan keberlanjutan baik dari sisi lingkungan, sosial, budaya bahkan sains.

Meskipun kesimbangan tersebut dirasa perlu, tetapi secara detail sejarah dan makna dari masing-masing prosesi wiwitan sudah banyak yang dilupakan bahkan ditinggalkan. Proses globalisasi dan teknologi yang kini semakin canggih membuat rasionalitas masyarakat pada umumnya berorientasi pada ekonomi saja. Hubungan antara manusia dan alam yang harusnya seimbang kini kian terdegradasi akibat kebutuhan yang semakin mendominasi cara pandang masyarakat.

Desa Margomulyo dengan lokasi yang cukup strategis, kian hari mengalami tingkat perubahan lahan pertanian menjadi lahan terbangun yang tidak dapat dihindari. Pesatnya pertumbuhan penduduk menjadi salah satu pendorong tingginya perubahan lahan pertanian. Dampak perubahan lahan sendiri menjadi salah satu pendorong transformasi masyarakat dalam beraktivitas. Masyarakat petani mulai berkurang, dan hubungan masyarakat dengan alam turut mengalami perubahan. Masyarakat di Desa Margomulyo yang dominan petani sejak jaman dahulu memiliki tradisi wiwitan dengan pemaknaan yang tinggi terkait berhubungan dengan alam. Namun seiring perkembangan zaman tradisi wiwitan mulai ditinggalkan beberapa masyarakatnya.

Tradisi wiwitan ini merupakan bentuk perubahan sosial secara materil, yang salah satu pendorongnya merupakan teknologi.  Pemahaman masyarakat dalam melakukan tradisi ini tidaklah wajib dan hanya dilakukan bagi yang mempercayai saja. Makna yang dahulu dikaitkan akan adanya roh halus dan sekarang sebagai bentuk berbagi kepada sesama. Perubahan dalam bentuk materil tidak begitu terlihat, dan hanya beberapa masyarakat saja yang melakukan perubahan dengan menganti sarana dalam tradisi menyesuaikan kemampuan dan kepercayaan masing-masing individu.


Referensi:

Herawati, N. (2012). Kearifan Lokal Bagian Budaya Jawa. Jurnal Magistra. Vol 7 No 64

Keesing, R.M. (2014). Teori-teori tentang Budaya. Antropologi Indonesia (52).

Khoironi, A. (2007). Tradisi Wiwitan dalam Arus Modernisasi Pertanian, Studi atasMemudarnya Tradisi Wiwitan di Desa Sendangrejo, Tayu, Pati. Skripsi. Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Saksono, I. G. dan Dwiyanto, D. (2012).Faham Keselamatan Dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Ampera Utama

Suyami.(2001). Serat Cariyos Dewi Sri dalam Perbandingan. Yogyakarta: Kepel Press

Mark R Woodwrad (2008) Kesalahan Normatif Versus Kebatinan. Yogyakarta: LKIS