Ndresmo: Kampung Santri yang Kosmopolit

Suasana pesantren yang bersifat religius itu, juga ada di tengah kota metropolitan seperti Surabaya. Di mana banyak pemuda bersarung, suara orang mengaji yang terus menerus mengalun dari speaker, tidak boleh lupa santriwati manis yang berjalan dengan tersipu malu, dan etika sopan santun yang terus dijunjung tinggi masyarakatnya.

Itu semua ada di Ndresmo, sebuah kampung kecil yang berisi 12 pondok pesantren di sana. Kampung ini terletak di Jalan Sidosermo, berada di antara Kecamatan Wonokromo dan Wonocolo. Sebuah komplek pondok pesantren tradisional di tengah Kota Surabaya yang sedang menuju Metropolitan ini.

Cukup menarik memang ada Pondok Pesantren Tradisional yang dihimpit oleh pusat keramaian Surabaya. Di sebelah Utara Ndresmo ada jalan Jagir, di sisi barat ada padatnya lalu lintas jalan Prapen, di selatan ada Plasa Marina, dan di Timur ada ramainya Stasiun Wonokromo beserta pasarnya.

Dari anak-anak Sekolah Dasar hingga mahasiswa di Perguruan Tinggi se-Surabaya, banyak yang nyantrik di sana. Mereka memilih nyantrik, selain karena ingin belajar ber-masyarakat ala Pondok Pesantren, juga ingin belajar ilmu agama dan mendapatkan barokah dari kiai yang sangat dinantikan oleh para santrinya.

Bukan karena apa, Kampung Ndresmo menjadi kampung yang penuh dengan santri. Di sana memang mempunyai sejarah panjang yang terus menerus dirawat hingga mendarah daging oleh masyarakatnya. Sejarah itu terbentuk, berjalan, lestari, dan menjadikan Ndresmo menjadi seperti sekarang ini.

Nama Ndresmo atau Nderesmo ini merupakan sebutan dari kiai pendiri di sana yang melihat ada 5 santrinya yang terus mengaji di kala waktu senggang. Nderes yang artinya adalah membaca yang maknanya tentu adalah mengaji kitab dan Mo itu merupakan 5. Ndresmo merupakan sebuah akronim dari yang “nderes itu ada lima”.

Ndresmo merupakan sebuah akronim dari yang “nderes itu ada lima”.

Kurang diketahui memang siapakah lima santri yang terus mengaji tersebut, tapi yang paling cukup dikenal salah satunya adalah Kiai Hasan Besari di Ponorogo. Setelah nyantrik di Ndresmo, kiai membuat pondok pesantren  yang sangat familiar hingga sekarang.

Belum diketahui, tahun berapa tepatnya Ndresmo mulai ada. Tapi diyakini oleh masyarakat sekitar, adanya jauh sebelum zaman kolonial Belanda. Ketika itu banyak orang Timur Tengah yang ekspansi menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Untuk mengetahui lebih jelas tentang kekayaan apa yang ada di Ndresmo, saya pun menemui KH Masyusuf Muhajir, Pengasuh Ponpes An-Najiyah, satu dari 12 Ponpes yang ada di sana. Beliau adalah keturunan ke-7 dari Kiai Ali Ashor, salah satu pendiri Kampung Ndresmo.

Beliau menjelaskan bahwa Kampung Ndresmo ini merupakan daerah yang tidak langsung  menjadi kawasan pondok pesantren. Kampung ini mempunyai sejarah panjang dengan Timur Tengah. Dengan bukti adanya sebutan Ndresmo pada Kitab Syamsu Dzohiroh dan Kitab Syajarotuzakiah fil Ansab Basiroh Baitun Nubuwah yang menyebutkan ada daerah di Jawa bernama Ndresmo tempat bermukimnya para habaib dan penerus agama Islam.

Banyaknya Masyarakat sekitar yang mempunyai bentuk fisik seperti orang Timur Tengah barangkali memang menjadi bukti otentik tentang adanya persilangan budaya di sana. Rumah-rumah di sekitar Ndresmo juga terlihat arsitekturnya masih sangat klasik meski sudah banyak pemugaran.

Sejarah panjang tentang perjuangan Kemerdekaan Indonesia pun juga ada di Kampung Ndresmo ini. Dari Kiai Hasyim Asyari yang pernah singgah selama 40 hari di sini, Kiai Sedo Masjid yang ada di Masjid Kemayoran, Surabaya yang masih kerabat dengan Ndresmo, tempat tinggal tentara muslim Inggris yang membelot dari Mallaby, hingga perjuangan para santri yang ikut berperang meski tanpa dikomandoi. Orang-orang Ndresmo cukup banyak yang turut serta pada peristiwa perjuangan 10 November 1945. Mereka turut serta bertempur ketika tau Sang Kiai Hasyim Asyari sedang mengobarkan Resolusi Jihad di sana.

Orang-orang Ndresmo cukup banyak yang turut serta pada peristiwa perjuangan 10 November 1945. Mereka turut serta bertempur ketika tau Sang Kiai Hasyim Asyari sedang mengobarkan Resolusi Jihad di sana.

Di Ndersmo terdapat budaya yang cukup menarik. Terdapat 113 KK yang ada di Ndresmo ini, 3 hari sekali mengadakan slametan secara bergantian. Jadi jangan heran ketika ba’da magrib, kampung ini sering terlantun tahlil dan bacaan ayat suci. Karena memang ada tradisi slametan secara bergantian dari masyarakat sekitar. Siapa saja boleh hadir. dari masyarakat sekitar, para santri, wali santri, pendatang, dan lain-lain. Mereka berkumpul bersama dalam rangka untuk mengirim doa kepada orang tua, dan kakek-nenek mereka terdahulu.

Yang paling menarik adalah ketika acara Haul Ali Ashor. Pada setiap 10 Muharram penanggalan Jawa 10 Suro, orang-orang sekitar pawai dengan menggunakan obor sembari mengucapkan sholawat. Lalu pada setiap pojok kampung mereka adzan dengan dilanjutkan berdoa. Siapa saja boleh hadir dan ikut serta. Dari santri hingga masyarakat setempat. Mereka membuat slamatan kampung dalam upaya mereka untuk menjaga kampung. Karena memang ada ajaran Rasulullah yang mengutus ummatnya untuk juga menjaga kampungnya. Jadi jangan heran kalau lewat daerah Sidosermo hingga Bendul Merisi macet saat malam 10 Suro. Saat itu sedang ada pawai.

Tapi sekarang Ndresmo memang lebih terkenal sebagai pondok yang menghasilkan banyak Hafidz, atau penghafal Al-Qur’an. Utusan Menteri Agama saat itu yaitu Surya Dharma Ali pernah melihat keistimewaan tersebut. Maka dari itu saat ini perwakilan hafidz dari Ndresmo mendapat jatah 2 haji gratis setiap tahunnya.

Ndresmo dengan segala potensinya dan halang rintang modernismenya telah membuktikan bahwa mereka tetap eksis mempertahankan budaya agamanya yang bercorak Islam Tradisional. Mereka terus bertahan dan terus menyebarkan agama Islam sebagai rahmatan lil alamin dengan cara mereka. Selamat datang di Kota Santri, Ndresmo. Ramai dan menentramkan hati.