Menziarahi Muharto, Sosok ‘Jawa-Islam’ dari Kasepuhan Kalitanjung

“Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah,” tulis Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran. Dalam sepenggal larik puisi yang terkenal sebagai Lembah Mandalawangi itu, Gie seolah menantang pilihan-pilihan yang dianggap luhur oleh orang lain: berhaji di Mekkah atau berjudi di Miraza—tempat-tempat manusia dimabuk kesenangan duniawi dan surgawi.

Di tengah dunia yang jenuh akan orang-orang yang mabuk itu, Gie secara romantis dan berapi-api itu justru bilang, “Tapi aku ingin menghabiskan waktuku di sisimu, sayangku.”

Siapa pun kekasihnya, keseriusan pilihan Gie patut dipuji. Mempertahankan prinsip di tengah dunia yang gampang terombang-ambing bukan hal mudah. Begitu juga pilihan Muharto, ketua adat Kasepuhan Kalitanjung di Desa Tambaknegara, Banyumas. Saya menziarahi rumahnya pada Rabu siang (02/06) bersama dua reporter ARENA yang lain.

Leganing dunya, menurut Muharto, berarti tidak mengambil apa-apa yang bukan haknya. “Ada dompet jatuh, ya jangan diambil. Diumumkan atau dicari dompetnya siapa,” ujarnya.

Muharto menampuk diri menjadi ketua adat Kasepuhan saat masih 55 tahun. Tentu, pilihan tersebut diiringi konsekuensi. Sebab katanya, menjadi ketua adat ada rambu-rambunya: leganing dunya, lilaning ati, susila among raga.

Muharto lantas mengilustrasikan arti dari lilaning ati dengan mengambil kaleng rokok punya saya. “Misalnya kalau Anda bawa rokok, sebenarnya saya ingin, tapi kalau ditawarin ya (saya) enggak mau. Sebab hukumnya makruh, takutnya yang punya nggrundel,” ucapnya sambil menyelipkan beberapa kata maaf kepada saya bila merasa tersinggung karena dituduh nggrundel.

Adapun, susila among raga berarti menjaga kesopanan, toleransi, tenggang rasa. Hanya dengan sikap ini orang bisa selamat, di mana pun ia berada, demikian jelas Muharto.

Menjadi ketua adat Kasepuhan di umur kepala lima juga pilihan jarang. Ketua adat Kasepuhan Kalitanjung sebelumnya kebanyakan memulai kepemimpinannya di atas umur 60. Sebab, di umur itu pula anggota adat dibolehkan masuk tarekat Kalitanjung. Semua ketua adat disumpah sebelum menjabat. Kalau menyalahi sumpah, “Mengko ngunyung. Tahu ngunyung? Wong urip tapi kayanu urip-uripan. Orang hidup tapi kayak orang mati,” jelas Muharto.

***

Desa Tambaknegara berada di sisi selatan Kabupaten Banyumas tak jauh dari perbatasan Kabupaten Cilacap. Kebanyakan warga di sana bertani. Sekilas, tak ada yang istimewa dari desa ini.

Namun, di sinilah masyarakat adat Kasepuhan Kalitanjung berada. Mereka beranggotakan 235 dan tersebar di tiga dusun dari empat dusun yang ada. Di sanalah terdapat dua kasepuhan yang berada di sisi barat desa bernama perguruan kulon, dan yang di sisi timur bernama perguruan wetan.

Kendati terbelah menjadi dua perguruan, Muharto mengaku keduanya tak berbeda. Mereka punya acara rutin setiap tahun yang djgelar di hari-hari tertentu berdasarkan penanggalan Jawa. Pada hari Senin atau Kamis yang dekat dengan tanggal satu suro, mereka mengadakan renungan malam.

Di bulan Suro pula, ada acara ruwat bumi dan sedekah bumi. Dalam ruwat bumi, mereka akan menggelar pertunjukan wayang dan melakukan prosesi adat sedekah bumi. Dalam sedekah bumi esok harinya. Warga akan menanam kepala kambing, bunga, bahan makanan seperti beras, sayur-mayur, lauk dan sebagainya. Konon, tradisi itu adalah simbol harapan Kasepuhan Kalitanjung agar desa dihadiahi kesuburan dan kemakmuran.

Berbagai tradisi ini, mungkin akan mengingatkan sebagian orang yang punya keakraban dengan tradisi Kejawen. Antropolog Koentjaraningrat, dalam bukunya Kebudayaan Jawa, menyebut Kejawen sebagai Agama Jawi, suatu kompleks keyakinan dan konsep-konsep Hindu-Buddha yang cenderung ke arah mistik. Namun, kepercayaan itu seiring waktu menjadi padu dengan beberapa agama di Indonesia, termasuk Islam.

Hal ini nampaknya ingin ditampik Muharto. Beberapa kali, tanpa ditanya, ia mencoba menjelaskan bahwa apa yang ia yakini adalah Islam, tak berbeda dengan Islam yang lain pada umumnya. Saat menjelaskan soal iket yang membalut di kepalanya, ia berkata “Kalau orang yang belum tahu, (akan bilang) orang yang memakai ikat kepala begini mirip seperti bukan Islam. Tapi ini sebenarnya Islam.”

Muharto lantas menerangkan, orang yang memakai iket di Kasepuhan Kalitanjung tak lagi memiliki kewajiban untuk berhaji. “Sudah haji di sini,” ujarnya sambil menunjuk kepala.

Iket itu juga menjadi awal perbincangan kami tentang keunikan Kasepuhan Kalitanjung dibanding ajaran-ajaran lain. Kendati memeluk agama Islam, mereka, anggota Kasepuhan, tidak memiliki kewajiban berziarah ke Mekkah.

Melalui Fatan, reporter ARENA yang berasal dari Banyumas, saya tahu bahwa masyarakat Banyumas kerap menyebut warga di Kasepuhan Kalitanjung sebagai abangan.

Abangan, menurut KBBI, berarti penganut agama Islam yang tidak melaksanakan ajarannya secara keseluruhan. Definisi ini senada dengan maksud Clifford Geertz, antropolog asal California, yang pernah meneliti sistem kepercayaan orang Jawa dalam bukunya The Religion of Java. Bahwa abangan lebih dominan melaksanakan tradisi Jawa dibanding ibadah Islam sendiri.

Dalam buku tersebut, Geertz juga menyebut terdapat tiga agama di Jawa: abangan, santri, priyayi. Buku tersebut belakangan sudah banyak dikritik, salah satunya tentang kesalahpahaman Geertz menyebut priyayi sebagai agama. Padahal, ia adalah status sosial.

Dilansir dari langgar.co, Verena Meyer, peneliti Islam Jawa dari Columbia University, juga melontarkan kritik kedua terhadap dikotomi Geertz atas abangan dan santri. “Sepertinya yang dimaksudkan oleh Clifford Geertz itu bahwa ada dua pilihan: Jawa atau Islam, dan dua-duanya berlawanan,” jelas Verena

Akibatnya, kaum Jawa yang “murni” (abangan) harus menolak Islam. Begitu pun sebaliknya, Islam yang “murni” mesti berlawanan dengan kejawaan.

Akar dari pemisahan Islam dan Jawa ini, belakangan dapat terlacak oleh beberapa akademisi yang menelusuri latar belakang Geertz. Sebelum mendarat ke Jawa, diketahui, Geertz mendapat pengaruh dari peneliti kolonial Belanda. Akibatnya, dia sudah memiliki keyakinan tentang Jawa, yang tak bisa dilepaskan dari pengaruh politik kolonial Belanda, sebelum ia menginjakkan kakinya di pulau itu.

Nancy K. Florida, dalam bukunya “Jawa-Islam di Masa Kolonial” (Buku Langgar 2020), menyebut pengaruh politik itu berupa penyangkalan terhadap kesatuan Islam dan Jawa. Mengapa penyangkalan ini menjadi agenda politik yang mendesak?

Tahun 1825-1830, berlangsung Pertempuran Diponegoro. Perang antara Belanda dan masyarakat Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro didukung oleh tokoh pesantren dan kyai. Ini berakibat pada tewasnya 200.000 orang Jawa dan 15.000 pihak Belanda. Perlawanan sengit itu datang dari masyarakat Jawa yang mengangkat senjata di bawah panji Islam. Belanda trauma akan hal itu. 

***

Sejak muda ia melakoni hidup sebagai petani dan pedagang. Hasil taninya mulai dari beras, singkong, dan buah-buahan. Lalu, pada umur 24 ia menikah. Ia berhenti berdagang untuk membantu mertuanya. Beberapa tahun kemudian, ia kembali bertani pada tahun 2000. Di tahun itulah, ia berhenti berdagang sepenuhnya.

“Cuma nyangkul, nanem,” ujar Muharto

“Yang dicangkul apa, Pak?” tanya Fatan.

“Ya tanah.”

Kami tergelak.

Muharto pun menjelaskan komoditas yang dia tanam berupa durian, rambutan, cengkeh dan lain sebagainya. “Kalau saya sebut semua nanti saya dikira orang kaya,” ujarnya lalu tertawa.

Ia memiliki empat orang anak, tiga laki-laki dan satu perempuan. Namun, anaknya yang perempuan meninggal pada umur kurang dari dua tahun. Anak bungsunya juga meninggal saat masih 20 bulan. Dua anaknya yang masih hidup kini bekerja di Jakarta sebagai supir dan pegawai hotel di Banyumas.

Di balik penampilannya yang sederhana, saya cukup terkejut ketika tahu ia memiliki hobi yang cukup mahal. Memasuki rumahnya, saya melihat empat sarang burung yang bertambat di langit-langit. Di dalamnya ada burung perkutut, sesekali terbang dan menabrak sangkar. Bunyinya tabrakan itu mengiringi obrolan kami. Salah satu perkutut itu berharga 500 ribu, tak murah bagi mahasiswa seperti saya.

Muharto juga gemar membaca buku. Salah duanya tentang dzikir dan makrifat Sunan Kalijaga juga manunggaling kawula gusti Syaikh Siti Jenar. Saat kami meminta izin untuk melihat bukunya, ia pun masuk ke dalam rumah dan mengambilkan setumpuk buku tebal. Ada dua jilid buku primbon, buku-buku tentang Syaikh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga yang ia sebut di awal, dan satu buku bersampul logo BRI.

“Buku BRI” itu, ketika saya buka, berisi huruf aksara Jawa yang ditulis tangan. “Itu namanya kitab menyuri,” jelas Muharto. “Me itu menuju, Nyu itu sunyi, Ri itu ruri (langgeng-red). Artinya, menuju ke alam kelanggengan”.

Muharto menyalin sendiri dari sebuah kitab yang konon ditulis Raden Watiswara, keponakan Ratu Demak sekaligus murid Syaikh Siti Jenar. Ia pun membacakan buku itu, dan tak satu pun kami mengerti.

Dalam beberapa kesempatan, Muharto membacakan beberapa kutipan dari kitab Raden Watiswara yang ia salin.
Muharto juga mencoba mengajarkan kami bagaimana cara menulis dan membaca tulisan aksara Jawa, namun percuma kami tetap tak bisa.

“Maksudnya kayak begini, manusia itu harus tahu sangkan paraning dumadi. Innalillahi wa innailaihi rajiun,” jelasnya, menjawab kebingungan kami.

Selain sederhana, ada kesan humoris dalam diri Muharto. Dalam obrolan kami tentang buku, ia beberapa kali melempar lelucon. Lelucon itu kerap berbentuk respons ketika kami bertanya begitu lugu. Misalnya, ketika Fatan bertanya, “Jenengan nek maca mboten kalih kacamata, Mbah?” (Anda kalau membaca tidak pakai kacamata, Mbah?)

Mboten, tasih saged maca. Tapi nek ningali jarake 10 meter pun mboten genah. Enggak, masih bisa baca. Kalau jaraknya 10 meter sudah enggak jelas.”

Lagi-lagi, kami tergelak. Suasana hangat mengitari obrolan kami. Bahkan ketika ia berbicara tentang pengalamannya sakit. Saat itu kami menanyakan umurnya dan dia menjawab santai, “Umur 73, tapi kemarin hampir mati.”

Muharto mengaku pernah sakit kronis hampir lima tahun. Tapi, ia tak bisa merasakan gejala apapun. Hanya lemas, sebab ia tak pernah bisa makan lebih dari dua sendok. Setiap pagi, siang dan malam ia hanya makan dua sendok. Perutnya lapar, tapi setiap suapan ketiga, ia ingin muntah.

Muharto mencoba memeriksa penyakitnya ke rumah sakit, menjalani proses rontgen. Tak ada tanda penyakit apa pun dalam tubuhnya. Dokter menyimpulkan ia hanya kelelahan karena begadang. Di waktu-waktu itu, Muharto memang mengaku susah tidur. Sehari ia hanya tidur selama satu jam. Ia menghabiskan waktu malam dengan berzikir.

“Kalau sakitnya saya tidak bisa diobati, silakan kalau mau diambil. Nanging menawi larane kula teksih dingapura, nyuwun dijampi. Tapi kalau sakitnya saya masih bisa dimaafkan, tolong disembuhkan,” pasrah Muharto kala itu.

Kini, ia menginjak kepala tujuh dan tetap ramah bagi siapa pun yang mengunjungi rumahnya. Kami pamit setelah hampir tiga jam bercakap-cakap. Sambil mengikat tali sepatu, sebelum beranjak pergi, saya teringat satu larik lain dari Lembah Mandalawangi.

Soe Hok Gie, di bagian akhir puisinya, berkata hanya ingin mati di samping kekasihnya. Hanya itu yang ia ingin setelah menjalani hidup membosankan penuh pertanyaan. Sebab, tujuan hidup, bagi kebanyakan makhluk, amat misterius. “Tak satu setan pun tahu,” kata Gie. Tapi Muharto, Pak Tua yang arif itu, barangkali sudah mendapatkannya.


Reporter Sidra Muntaha, Fatan Asshidqi, Firdan HK | Penulis Sidra Muntaha | Fotografer Firdan HK

Tulisan ini pernah dimuat Lpm Arena.com, kemudian diterbitkan ulang oleh Langgar.co untuk kepentingan publikasi yang lebih luas.