Sebuah pertunjukan tari Bedhaya di pesantren mungkin jarang kita temui sebelumnya, malam itu Sabtu (30/8), Pondok Pesantren Budaya Kaliopak, Piyungan, Bantul, untuk pertama kalinya mementaskan tari klasik Yogyakarta di pendapa pondok yang nampak gagah. Dengan tujuan doa dan refleksi cinta untuk negeri, tari Bedhaya dengan kesakralanya menjadi pralambang doa di tengah situasi negara yang sedang dilanda krisis moralitas dan bencana pandemi yang sedang terjadi.

“Awalnya saya tidak percaya ada tari Bedhaya di pesantren, tapi malam ini kita menyaksikan bersama. Sepertinya, dalam sejarah, baru sekarang ada pagelaran tari Bedhaya di dalam pesantren, dan saya cukup terkejut dengan hal ini,” ungkap Al-Makin Guru Besar UIN Sunan Kalijaga yang juga Rektor UIN Sunan Kalijaga, duduk berdampingan dengan Susetiawan dan Rm. Pramutomo menyaksikan dengan khidmat tarian Bedhaya.

Malam itu, langit disekitaran Desa Klenggotan, Piyungan nampak begitu cerah. Rembulan yang baru setengah membelah kegelapan menerangi emperan Pondok Kaliopak. Beberapa orang nampak memadati area disekitaran pendapa pesantren itu. Awalnya acara dimulai dengan pembacaan kidung rumeksa ing wengi, salah satu karya sastra Jawa berupa doa dari Sunan Kalijaga. Kidung dibacakan dengan indah nan haru, oleh bapak Kadi seorang penggiat macapat yang sudah tenar namanya di Yogyakarta. Setelah pembacaan kidung selesai, seorang santri berprawakan lugu Ridho, kemudian membacakan pembukaan UUD 1945 dimana pembacaan tersebut mengingatkan semua yang hadir malam itu, terkait apa sebenarnya tujuan diciptakan negara oleh para pendiri bangsa untuk kita semua.

Terlihat sembilan perempuan muda memakai pakaian kebaya putih lengkap dengan sanggul dan kain jarik yang begitu anggun saat dilihat mata. Di belakang jejeran perempuan muda tersebut, diikuti beberapa orang dewasa memegang kendi kecil berisi air dari sumber peninggalan Sunan Kalijaga. Mereka berjalan mengiringi seorang laki-laki berperawakan tegap berpakaian prajurit pembawa bendera merah putih beriringan dengan seorang perempuan yang terlihat tenang membawa nasi tumpeng sega gurih yang melambangkan kesucian niat yang dijalankan.

Foto: Dokumentasi Pribadi Pondok Pesantren Kaliopak

Dari arah pendapa kemudian terdengar suara tabuhan gamelan gending Ladrang Gati dari pengeras suara yang mengisyaratkan rasa semangat dan keberanian. Dari arah Barat rombongan kemudian perlahan berjalan mendekati pendapa. Mereka memutari pendapa dengan posisi masing-masing, jajaran pembawa kendi berada pada titik tiang untuk meletakan kendi di samping tiang. Pembawa bendera Merah-Putih dan nasi tumpeng meletakan simbol negara dan simbol budaya tadi, pas di tengah bagian Utara pendapa. Jajaran penari kemudian bersiap masuk ke area tengah pendapa. Dengan laku anggun diiringi Gending Ketawang. Sembilan Perempuan tersebut menari tarian Bedhaya Lambangsari, di bawah pendapa yang nampak gagah dengan sorot lampu berwarna yang membuat semakin sendu malam itu.

Dengan laku anggun diiringi Gending Ketawang. Sembilan Perempuan tersebut menari tarian Bedhaya Lambangsari, di bawah pendapa yang nampak gagah dengan sorot lampu berwarna yang membuat semakin sendu malam itu.

Mereka para penari, kemudian memulainya dengan gerak yang pelan tapi terlihat pasti mengayunkan kedua tangan mereka yang lentik secara beriringan. Semuanya nampak begitu kompak harmonis dengan ritme gending yang jika kita coba dengarkan, secara seksama selalu mengajak kita untuk menyelam kedalaman jiwa yang dalam. Tak hanya itu, dengan apik mereka juga membentuk rakit (kata lain dari koreografi), dalam beberapa bagian. Selama mereka menari yang ada hanya keheningan dibalut kesakralan dimana ritual doa sedang dipanjatkan.

Bedhaya Lambangsari dan Filosofinya di Jawa

Hampir 45 menit sembilan perempuan muda itu menari klasik Bedhaya Lambangsari. Dengan kebersihan jiwa dan segenap ketulusannya, membuat orang yang hadir menyaksikan peristiwa ini hening terpesona, dan sesekali alam juga merespon dengan hembusan angin yang juga ingin menjadi saksi dari peristiwa budaya yang terjadi.

Tari Bedhaya sendiri selama ini memang lekat dengan kesenian yang berada di balik dinding keraton. Tari Bedhaya Lambangsari merupakan sebuah tari yang mempunyai makna filosofis sebagai perlambang cinta kasih. Di samping itu, tari ini diciptakan pada era Sultan Hamangku Buwono VII oleh maestro gendhing keraton KRT Purbaningrat. Biasanya tari Bedhaya dipentaskan oleh sembilan perempuan muda yang masih terlindung kesuciannya. Sembilan penari ini melambangkan sembilan unsur dari diri manusia.

Foto: Dokumentasi Pribadi Pondok Pesantren Kaliopak

Seperti dijelaskan panjang oleh RM Pramutomo seorang penggiat tari tradisi dari keraton Yogyakarta sekaligus Dosen tari ISI Surakarta, bahwa tari Bedhaya sebenarnya memuat makna tentang keutuhan jalan manunggal kepada Tuhan. Tari Bedhaya sendiri ciri khasnya adalah rakit, yang sebenarnya berbeda dengan koreografi, karena istilahnya rakit lebih tua dari koreografi itu sendiri. RM Pramutomo juga menjelaskan pada acara sarasehan, bahwa tari ini awalnya diciptakan oleh raja Mataram Islam Jawa yaitu Sultan Agung Hanyakrakusuma setelah menciptakan sastra gending, terkait makna filosofisnya tari Bedhaya memuat ajaran sangkan paraning dumadi. Yaitu terkait hidup manusia atau gelegering manungsa di alam dunia.

“Maka jika kita lihat di dalamnya sembilan penari itu melambangkan sembilan unsur dalam diri yang terdiri dari batak (kehendak), endhel (hati), jangga (gulu), ngapit ajengan, apit wingking, dhdha, endhel dalem ngajeng, endel wedhalem wigking dan buntil, jadi  batak itu kehendak  kemudian endhel itu kata hati, dimana keduanya itu selalu berkonflik, dari sanalah dibutuhkan kemanungalan untuk memunculkan keseimbangan,” tutur RM. Pramutomo.  

“Maka jika kita lihat di dalamnya sembilan penari itu melambangkan sembilan unsur dalam diri yang terdiri dari batak (kehendak), endhel (hati), jangga (gulu), ngapit ajengan, apet wingking, dhdha, endhel dalem ngajeng, endel wedhalem wigking dan buntil, jadi  batak itu kehendak  kemudian endhel itu kata hati, dimana keduanya itu selalu berkonflik, dari sanalah dibutuhkan kemanungalan untuk memunculkan keseimbangan” Tutur RM Pramutomo.

Ia juga menambahkan bahwa bleger Bedhaya yang terdiri dari sembilan penari tadi menggambarkan wujud manusia. Kemudian mengapa tari Bedhaya menjadi puncak dari tari klasik di Jawa karena muaranya dari sastra gending. Hal ini bagian dari ajaran yang dalam istilah Jawa basa sesandining joget itu ada dalam kedua tari yaitu Bedhaya dan Serimpi. Selanjutnya muncul kitab Adammakna oleh Sultan HB V Yogyakarta dimana pecahan dari Bedhaya tadi menjadi Serimpi Lima disitulah nanti memunculkan ajaran yang masyhur di Jawa yaitu sedulur papat lima pancer.

Lebih Jelas RM Pramutomo berpendapat bahwa Sultan HB V ini memperbarui atau memberikan manivestasi baru dari ajaran Sultan Agung dengan menjebol dua pasang serimpi tadi, menjadi lima dengan satu pancer sebagai wujud dari kemanunggalan dari makro kosmos dan mikro kosmos. Sehingga dalam Bedhaya ada rakit tiga-tiga, yang berjajar di tengah sementara ketika dilihat dari atas terlihat seperti kotak, tapi sebenarnya lingkaran karena cakramanggilingan itu lingkaran, jadi seperti tumpeng itu melingkar dari bawah ke atas menjadi titik. Ini adalah bentuk dari puncak kemanunggalan ketika manusia menyatu dalam jagat ageng dan jagat alit, persis seperti dalam ajaran di dalam sastra gendhing sampai penciptaan-penciptaan lainnya.

Tari Bedhaya Sebagai Wujud doa

Acara ini pada dasarnya memang diagendakan tidak hanya sebagai pentas pertunjukan semata, namun lebih dalam dari hal itu adalah ekspresi doa atas datangnya bulan Muharram tahun baru Islam atau lebih akrab dengan sebutan bulan Sura. Seperti diyakini masyarakat Jawa mungkin juga masyarakat di tempat lainya, bahwa pada tanggal 10 Sura banyak peristiwa-peristiwa penting terjadi dalam sejarah umat Islam. Seperti halnya peristiwa bahtera banjir besar ribuan tahun yang lalu yang melanda kaum Nabi Nuh AS dimana pada tanggal itu mereka selamat dari bencana. Tidak hanya itu padamnya nyala api yang akan membakar Nabi Ibrahim AS sehingga menyelamatkannya dari keangkaramurkaan Namrudz, lalu selamatnya Nabi Musa dari kejaran Fir’aun beserta balatentaranya, serta yang tak kalah mengharukan hati umat Islam sampai saat ini adalah peristiwa syahidnya Sayidina Husain RA di padang Karbala dalam menjaga kesucian kebenaran dan keadilan Islam.

Foto: Dokumentasi Pribadi Pondok Pesantren Kaliopak

Dalam rentetan momentum tersebut, menjadikan bulan Muharram (Sura) disyakralkan bagi kalangan umat Islam di Nusantara terutama masayarakat Jawa. Banyak orang pada bulan Sura itu sendiri melakukan puasa, tapa bisu, kungkum, tirakat, jamasan serta memanjatkan doa-doa baik semata untuk merefleksikan peristiwa yang sudah terjadi sekaligus memohon keselamatan di tahun yang akan tiba.

Dari semangat dan nafas tersebutlah sebenarnya acara Lambangsari Bakti Cinta Doa Untuk Negeri digelar. Hal ini seperti disampaikan oleh Kiai M. Jadul Maula selaku pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak dalam sesi sarasehan budaya. Kiai Jadul mengungkapkan bahwa di tengah situasi pandemi yang hampir setengah tahun kita rasakan bersama ini, bagaimanapun telah menyentak kesadaran kita bersama. Peristiwa besar yang sebelumnya belum pernah terjadi ini, secara tidak langsung menghentikan segala aktivitas kemanusiaan kita, baik yang bersifat sosial, politik, budaya dan paling utama adalah ekonomi. Dari hal itulah layaknya kita hari ini berfikir, kemudian merefleksikan ulang hakikat hidup yang kita jalani selama ini.

Foto: Dokumentasi Pribadi Pondok Pesantren Kaliopak

Di tengah kondisi tersebut, justru jika kita hayati bersama seringkali berbanding terbalik dengan arus informasi yang mencerminkan perilaku kita dalam konteks berbangsa dan bernegara. Masih banyak kita lihat kekacuaan dari para elit politik kita, mulai perebutan kekuasaan dengan saling menjatuhkan, ketidakadilan yang dipertontonkan, dan laku koruptif, seperti tidak ada habisnya. Dalam situasi seperti itu kita bisa sebut kondisi ini sebagai ironi di dalam tubuh negara kita yang harus kita akui. Bagaimana bangsa ini sedang menghadapi ancaman resesi kemanusiaan serta ekonomi, masih saja terdapat para elit politik berfikir untuk kepentingan pribadi maupun kelompok sendiri.

Melihat kondisi tersebut, tentu berbanding terbalik dengan niat tulus para founding father (pendiri bangsa) kita terdahulu. Mereka merelakan jiwa raga dan hartanya untuk keutuhan dan berdirinya negara ini. Bahkan merelakan kepentingan dirinya sendiri, keluarga dan kelompoknya, demi kepentingan bersama dalam naungan bangsa Indonesia dengan cita-cita luhur disematkan di dalamnya. Sehingga terbentuklah tatanan, bentuk dan sistem negara yang bisa kita rasakan sampai hari ini.

Maka adanya tari Lambangsari menurut kiai M. Jadul Maula juga sebagai wujud dari ketulusan di dalam memberikan yang terbaik, yang paling berharga dalam dari diri kita untuk kepentingan kesejahteraan rakyat dan bangsa dalam jangka yang panjang. Karena Lambangsari itu sendiri adalah jalan cinta/kebudayaan untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan negara sebagaimana terkandung dalam UUD RI 1945.

Sementara itu, Al Makin juga menyatakan dalam sesi saresehan, bahwa adanya pesantren telah menggelar acara tari Bedhaya sebagai suatu yang jarang ditemukan sebelumnya, hal ini juga menunjukan bahwa sikap kosmopolitanisme dalam tubuh agama itu penting untuk disemaikan. Ia yakin bahwa semangat keagamaan harus diwujudkan dalam ekpresi kesenian, seperti semangat Sunan Kalijaga dalam dakwahnya sehingga nilai-nilai agama lebih mudah diterima dan semangat toleransi juga dapat diwujudkan dalam negara kita.

Foto: Dokumentasi Pribadi Pondok Pesantren Kaliopak Dalam Sarasehan Budaya

Al Makin juga menambahkan, bahwa sebagai orang yang belajar filsafat ia melihat hari ini semacam ada kebuntuan berfikir di dalam kehidupan berbangsa kita saat ini, yang diakibatkan dominasi nalar politik dalam perebutan kekuasaan. Hal ini bisa kita lihat seperti tidak ada kejujuran dalam mengapresiasi suatu pemikiran, semua hanya terjebak pada friksi-friksi kepentingan politiknya masing-masing.

Lebih jauh ia menggambarkan bahwa apa yang tercermin dalam arus informasi melalui media sosial kita semua setiap harinya, tidak lagi mencerminkan gagasan pembaharuan yang didasarkan ilmu pengetahuan. Tetapi yang lebih sering adalah ungkapan-ungkapan kebencian yang saling menjatuhkan dan itu mencerminkan suatu peradaban yang dangkal.

“Dan apa yang dilakukan Pondok Pesantren Kaliopak ini mungkin bisa jadi sebuah terobosan alternatif, melalui jalan kebudayaan, pengembangan pemikiran keagamaan melalui elaborasi filsafat yang berakar pada budaya Nusantara dan diungkapkan melalui ekspresi kesenian. Dalam hal ini UIN Suka mengakui ketertinggalannya beberapa abad oleh Pesantren Kaliopak,” kelakar Al Makin yang baru saja dilantik menjadi rektor beberapa waktu yang lalu.

Foto: Dokmentasi Pribadi Pondok Pesantren Kaliopak

Hal di atas juga ditambahkan oleh Susetiawan salah satu Guru Besar di jurusan Sosiologi UGM, yang menyatakan bahwa bangsa kita sedang mengalami krisis jati diri yang mendalam. Adanya gap antara nilai-nilai kemanusiaan luhur dari para leluhur dengan praktik politik sehari-sehari kita yang sangat jauh bertolak belakang.

Menurutnya, hal tersebut juga terjadi di dalam kajian akademis yang cenderung hanya mengutip pemikiran orang Barat dan mengesampingkan filosofi yang dikembangkan para leluhur kita. Hal ini juga ikut memperparah krisis jatidiri yang kita alami sekarang ini. Senada dengan Susetiwan, Oval salah seorang aktivis Aliansi Bela Garuda (ABG) memperhatikan pudarnya nilai-nilai Pancasila terutama semangat persatuan dan kesatuan di dalam keragaman. Sehingga hal itu sering memicu perpecahan dalam melihat perbedaan yang sebenarnya menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam tubuh berbangsa kita.

Dari apa yang diungkapkan di atas, akhirnya tantangan ke depan yang harus kita hadapi adalah bagaimana kita mengekspresikan semangat Bedhaya Lambangsari ini dalam prilaku keagamaan, sosial, politik dan kebangsaan kita, untuk mewujudkan peradaban luhur bangsa yang berketuhanan dan berkemanusiaan.

 

Doel Rohim
Redaktur langgar.co, bergelut di PP Budaya Kaliopak. Bisa disapa via Twiter @doelrohim961 Ig: Doel_96