LATAR | THURSDAY, 1 OCTOBER 2026 | 16:07 WIB

Ahmad Arinal Haq

Mahasiswa semester akhir Sastra Arab UGM. Tertarik di kajian sastra...

Usaha Bermain-Main dengan Sejarah

Alkisah, suatu ketika pernah timbul sebuah pertanyaan dalam diri saya, bagaimana menulis sebuah karya fiksi dengan basis sejarah yang kuat, tapi tak mengesampingkan emosi dari...

Alkisah, suatu ketika pernah timbul sebuah pertanyaan dalam diri saya, bagaimana menulis sebuah karya fiksi dengan basis sejarah yang kuat, tapi tak mengesampingkan emosi dari karya itu. Pertanyaan itu berakar dari hasil pembacaan saya atas salah satu karya Iksaka Banu, yakni Semua untuk Hindia. Saya rasa keseluruhan kisah-kisah di dalamnya tak pelak dirangkai dengan apik. Karena jika hanya mengandalkan basis data dan referensi yang kuat saja, karya itu tak lebih hanya akan menjadi kisah masa lalu yang membosankan atau barangkali menjadi esai sejarah yang akan ditelan oleh zaman.

Rasa-rasanya, dengan segala jerih payah yang masih mentah ini, saya pun mencoba mengulik beberapa karya fiksi sejarah lainnya. Dan setelahnya, saya hanya mendapatkan rasa takjub sekaligus rasa gamang. Saya takjub dengan para penulis yang rela menghabiskan waktu untuk membaca ulang fragmen-fragmen sejarah yang berserakan. Ditambah cara pengolahan ceritanya yang rapi, mereka mampu menyedot saya dalam cerita seakan-akan fakta dan fiksi itu sudah tak ada batasnya. Di sisi lain, saya gamang dengan segala jerih payah saya yang tak seberapa ini, bakal sampai kapan saya bisa membuat karya, yang setidaknya bisa mendekati karya penulis yang saya kagumi.

Di titik itulah, ketika segala pertanyaan soal formulasi menulis fiksi terus berkecamuk, waktu untuk belajar menulis itu akhirnya datang. Sebuah beasiswa sastra dari kerja sama Narasi, Warung Sastra, dan Ilmu Komunikasi UII syukurnya bisa saya dapatkan. Meski situasi dan kondisi hidup sedang tidak baik-baik saja,  saat poster beasiswa ini mencuat di publik, saya begitu antusias sekaligus penasaran untuk ikut berpartisipasi di dalamnya. 

Selain kemampuan yang tentu saja masih mentah, ada rasa penasaran juga karena tema beasiswa kali ini tentang menulis fiksi Orde Baru. Keterbukaan informasi hari ini tentu membuat saya beberapa kali membaca tentang realitas Orde Baru. Akan tetapi, sebagai generasi yang tak pernah mengalaminya secara langsung, saya penasaran bagaimana cara mengolah sebuah kisah yang hanya bermodal teks sejarah atau kisah masa lalu orang lain tanpa sekalipun memiliki pengalaman personal terhadap Orde Baru.

Jika membuka lagi kredo lama Seno Gumira Ajidarma (SGA), “jika jurnalisme dibungkam, sastra berbicara”, maka hal ini sah-sah saja, sebab kredo itu hidup di masa penyensoran yang tak masuk akal.

Di satu sisi, jika ditelaah lebih jauh, apa signifikansi sastra dalam langkap sejarah, terkhususnya soal Orde Baru? Jika membuka lagi kredo lama Seno Gumira Ajidarma (SGA), “jika jurnalisme dibungkam, sastra berbicara”, adalah sah itu terjadi di masa penyensoran yang tak masuk akal. Pun begitu, SGA lantas merevisinya bahwa kredo itu barangkali hanyalah sebuah obsesinya selaku sastrawan sekaligus wartawan. Sedang hari ini, jurnalisme saja kalah dengan media sosial dan influencer, apalagi sastra? Ada dimanakah posisinya di masa kini?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menghinggapi saya ketika beasiswa sastra ini saya terima. Selayang pandang, beasiswa ini berupa kelas selama dua sesi dalam dua hari dengan pemateri Romo Sindhunata dan Dian Vita Ellyati di hari pertama. Sedang hari kedua, kelas diampu oleh Dwicipta. Singkat cerita, kegiatan beasiswa itu pun menuju waktunya. Kelas pertama berlangsung di Omah Petroek, Minggu 28 Juni 2026. 

Omah Petroek berada di daerah Kaliurang atas, begitu jauh untuk saya yang bermukim di daerah Jogja kota. Dengan acara yang dijadwalkan mulai pukul 10.00 WIB, setidaknya saya mesti bersiap dan berangkat satu jam sebelumnya. Meskipun pada akhirnya, saya tetap telat karena lupa bahwa Jogja di hari Minggu adalah ujung dari kesesakan akhir pekan.

Meski ini bukanlah kunjungan pertama saya, Omah Petroek tetap saja menakjubkan sekaligus menyejukkan. Tidak ada lampu-lampu lalu lintas, gedung-gedung menjulang, suara keluh kesah kemacetan jalan raya, atau suasana terik matahari yang melahirkan kemarahan. Sepertinya, memiliki tempat atau bisa berdiam di tempat semacam Omah Petroek bisa mendatangkan kejernihan pikiran atau mungkin kelahiran suatu inspirasi.

Saya pun tiba dan segera mencari tempat duduk yang kosong. Tanpa menunggu waktu lama, kelas pun dimulai dengan dibawai oleh Akhyat Sulkhan selaku pembawa acara sekaligus penyelenggara. Dari pendek pengamatan saya, ia cakap dan mengerti tema apa yang bakal tersaji di kelas ini. Setelahnya, prakata kelas oleh Holy Rafika Dhona, yang coba menjelaskan mengapa tema kelas ini adalah Orde Baru. 

Orde Baru memang menjadi satu kisah kelam yang kompleks dan banyak hal bisa dikaji, begitu kata orang yang akrab dipanggil Mas Holy. Narasi yang dominan kerap kali fokus terhadap komunisme atau bentuk otoritarianisme negara. Padahal, banyak kisah-kisah keseharian yang patut disorot lebih jauh, seperti soal SD inpres, transmigrasi, atau bahkan kisah aktivis masjid yang menjadi ulama-nya keluarga Cendana. Akan tetapi, kisah Orde Baru itu mudah dilupakan sehingga terpilihlah presiden yang sekarang. “Ya ini salah kita, kenapa kita tidak terus mengingatkan tentang Orde Baru seperti Eropa atau Jerman mengingatkan masyarakatnya tentang Nazi atau Hitler atau Italia dengan Mussolini,” terang Mas Holy.

Saat bagian ini, saya rasa masih belum kuat keterkaitan guna sastra dalam menggali sejarah. Karena mau bagaimanapun, soal keterbukaan sejarah adalah urusan institusi pendidikan, baik dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Terlepas kesalahan pun layak disematkan oleh masyarakat, pemerintah dan segala lininya yang pantas bertanggung jawab atas kebobrokan yang sistemik ini. Dan saya mesti menggarisbawahi bahwa pemerintah yang saya maksud adalah orang-orang yang andil menggerakkan negara dari era lampau hingga sekarang.

Pada sela-sela pikiran yang berkecamuk itu, kelas berlanjut dengan pemaparan dari Dian, editor beberapa buku Sindhunata. Ia menjelaskan, sebagai seorang produk Orde Baru, bagaimana Romo Sindhunata, lewat karyanya yang bertajuk Ratu Adil, berusaha memelihara ingatan dengan membangun ulang perjuangan rakyat kecil dari sudut pandang yang tak pernah disajikan di buku sejarah formal. Katanya, meski sejarah memakai akurasi data dan ketajaman analisis, tapi ia tidak bisa mendalam emosi-emosi manusia yang berkutat di sebuah peristiwa.

Di titik inilah, perbedaan antara penulis biasa dan sastra adalah kelihaiannya menyentuh persoalan manusia dalam setiap karakter yang ia buat, entah problematikanya, kegelisahannya, atau perasaan-perasaan karakternya. Yang membuat saya takjub adalah bagaimana Dian yang memosisikan dirinya sebagai pembaca yang menuntut. “Saya sebagai pembaca saya sudah sampai hampir sampai di titik ya udah saya nggak akan beli buku baru gitu,” ungkap Dian. Alasannya, karya-karya baru sekarang ia anggap tak lagi menyentuh dirinya sedalam karya Pramoedya Ananta Toer atau Ahmad Tohari.

Kelas pun berganti dengan Romo Sindhunata sendiri, yang membuka pembicaraan lewat kisah pertemuannya dengan Dian melalui sebuah bacaan. Kala itu, Dian membaca karya Anak Bajang miliknya dan mendapati banyak typo, dan kemudian mengirimkan catatan tangan lengkap dengan nomor halamannya. “Di sini saya melihat pentingnya seorang pembaca dan editorial yang teliti betul,” katanya.

Dari situ Romo Sindhu beralih ke intin pembicaraan yang ingin ia sampaikan soal pentingnya sebuah ingatan. Ia merasa prihatin, sebab menurutnya pendidikan dan situasi bangsa ini justru mematikan ingatan itu. Apalagi media sosial yang menjadikan generasi hari ini punya rentang ingatan yang pendek. Sesuatu yang, dengan mengutip Emmanuel Kant, pada akhirnya membentuk ingatan seseorang. Kemudian ini menyinggu teori Walter Benjamin tentang ingatan, lewat gambaran malaikat sejarah dari lukisan Paul Klee yang ingin menatap penderitaan masa lalu, tetapi terus terdorong maju oleh angin kemajuan. “Kita mempunyai hutang sejarah,” dan turut mengingatkan bahwa itu, “adalah sesuatu perjuangan yang tidak mudah.”

Di poin ini, Romo menerangkan mengapa sastra itu dibutuhkan untuk berdampingan dengan sejarah, bukan sebagai penggantinya. “sejarah sejauh ditulis oleh sejarawan, yang saya alami juga itu, ya hanya sekadar berhenti pada data. Dia tidak berani berimajinasi,” ujarnya. Ia pun bercerita soal bagaimana proses kepenulisan karyanya Ratu Adil dengan berusaha menghidupkan kembali jeritan-jeritan masa lalu yang tak pernah tercatat sebagai data.

Kemudian, bagi Romo, sastra tidaklah menafikan sejarah, justru ia melengkapi sejarah itu sendiri agar sejarah menjadi suatu yang hidup, bukan suatu pelajaran yang mati. Ia lalu bercerita ihwal kehati-hatian sastrawan Orde Baru dalam merangkai simbol. Bagaimana ketakutan justru memaksa mereka mencari jalan lain untuk berbicara. Sebuah laku yang menurutnya lebih sulit dilakukan generasi hari ini sebab fakta sebegitu vulgar keberadaannya. Sehingga simbol yang menjadi amat sukar ditemukan di era banjir data.

Yang paling saya ingat adalah ketika Romo Sindhu membagikan istilah yang menurutnya ini dari semua yang telah ia kerjakan sebagai penulis, yakni historical imagination. Ia mencontohkan pengalamannya menulis soal ludruk dan berjumpa langsung dengan Kirun dan Kartolo. Sesuatu yang, jika tidak didokumentasikan saat itu, tidak akan ditulis ulang oleh siapa pun 20 tahun kemudian. Ia turut menyinggung pengalamannya menulis Putri Cina, ketika sensor tidak hanya datang dari pemerintah, tapi juga juga agama. Ia pun mengakhiri dengan mengingatkan kembali bahwa reformasi tak serta-merta membebaskan kita dari pengulangan sejarah. “Kita ini bebas mengatakan apa saja, melakukan apa saja, tapi kita tidak berbuat apa-apa, itu kan ironis sekali, kan?” tegasnya.

Kelas itu berlanjut dengan makan siang bersama dan diskusi kecil soal kerangka cerita pendek yang ingin dibuat. Waktu itu, pikiran saya masih melayang dan penuh tanda tanya karena mempertanyakan soal sejarah ingatan yang dikatakan oleh Romo. Sebagai generasi yang lahir di tahun 2000-an, saya tak punya ingatan-ingatan itu. 

Setelah kelas pertama itu rampung, seharian saya masih belum menemukan titik temunya. Saya tentu bisa menerima segala hal materi yang disampaikan di kelas pertama itu. Dorongan untuk menulis sebuah fiksi sejarah belum kuat untuk saya lakukan. Karena sekali lagi apa signifikansinya untuk hari ini? Lebih-lebih dengan menjamurnya sastrawan, tetapi tidak dibarengi wadah yang kokoh. Berusaha menulis sastra sebagai kesenangan saja sudah lebih dari cukup, alih-alih mesti memikirkan sebuah ide perjuangan yang besar lewat sastra.

Esoknya, sesi kedua kelas sastra pun berlanjut. Kali ini bertempat di Warung Sastra, pada waktu sore hari, perjalanan menuju tempat itu lebih menyesakkan. Sore yang penuh hilir mudik kendaraan, muka-muka kusam sekaligus lelah di jalan raya, dan sisa-sisa pertanyaan yang belum terjawab. Sesampainya di tempat, halaman Warung Sastra sudah disulap menjadi kelas yang siap dimulai.

Kelas ini diisi oleh Dwi Cipta, seorang sastrawan yang saya dengar pertama kali di esai Mahfud Ikhwan yang bercerita tentang seluk-beluk di balik Ulid. Dari situ, saya mengerti bahwa Dwi Cipta merupakan sosok pembaca sekaligus penulis yang teliti dan perfeksionis. Asumsi ini saya kira divalidasi ketika ia mulai menerangkan proses kreatifnya atas cerita pendeknya Renjana, yang masuk dalam salah satu cerita pendek terbaik Kompas tahun 2012.

Dwi Cipta menceritakan tentang proses kreatifnya dengan personal bahwa draf awal Renjana ia tulis pada 2008 sebagai sebuah tulisan hasil patah hati ditinggal seorang perempuan yang pernah membuatnya jatuh hati memilih menikah dengan orang lain. Draf ini lantas bergerak ke perenungan soal sejarah sosial-politik era Soeharto dengan memotret kehidupan pasca-Orde Baru lewat tokoh di dalam cerita.

Yang paling menarik perhatian saya adalah soal cara Dwi Cipta mengaitkan renungan soal keruntuhan Orde Baru dengan sejarah Spanyol pasca-Rezim Franco. Ia mengutip seorang wartawan yang menuliskan tentang kekhawatiran bagaimana sebuah bangsa yang sudah dua generasi diatur segala aspek kehidupannya sampai di titik subtil, harus bisa mengatur dirinya kembali. Analogi ini, baginya, menyerupai apa yang terjadi setelah Soeharto tumbang.

Setelah prakata yang ia tuturkan, sesi tanya-jawab pun dimulai. Saya mencoba menyusun segala pertanyaan yang telah berkecamuk sebelum-sebelumnya. Ketika pertanyaan itu saya lontarkan, saya kira jawaban Dwi Cipta cukup memuaskan. Baginya, dorongan menulis sejarah fiksi cukup dengan ketertarikan atas sejarah itu sendiri. Sebagai seorang pembaca sejarah juga, ia suka melihat fakta-fakta yang tak terjelaskan secara gamblang, sehingga baginya fiksi bisa mengisi ruang itu. Atau mudahnya, laku ini bisa dikatakan sebagai bentuk “bermain-main” dengan sejarah.

Dari jawaban itu, saya mulai mengerti bahwa semuanya pada akhirnya kembali pada sebuah ketertarikan akan sesuatu. Dorongan menulis tak melulu soal mimpi atau harapan yang besar. Ia berangkat dari kemauan dalam diri sendiri. Meski tak punya ingatan itu dan tak mengalami masa itu, meski sastra esok hari nanti tak berarti lagi, meski perjuangan kata-kata benar-benar usang. Toh tak ada salahnya menjadikan kerja-kerja kepenulisan sebagai taman bermain di tengah dunia yang tak terpahami ini.

26
Rekomendasi