Malam itu saya harus turun dari bus. Rasanya tidak sanggup melanjutkan perjalanan dari Yogyakarta menuju Rembang karena mual. Saya cari sebuah halaman di samping sebuah masjid. Di situ, saya muntah. Saat itu, sepertinya orang-orang sedang melaksanakan salat. Belakangan saya tahu, tanah yang saya muntahi adalah tanah pesantren. Dan tempat orang-orang yang melakukan Salawat Diba’ sesudah Isya adalah masjid hibah atas nama seseorang yang beberapa tahun lalu dipenjara karena menikahi anak di bawah umur. Di dalam masjid itu, di Kecamatan Jambu, saya merebahkan diri setelah berbincang dengan seorang kakek bermata galak. Dingin, dua sarung saya ambil dari lemari di samping. Di luar, suara kendaraan berat terus lewat. Suara yang hanya bisa dikalahkan oleh lelapnya seorang hamba atau azan Subuh.

Entah kenapa setelah subuh saya tak jadi kembali ke Yogyakarta seperti keinginan saya sebelumnya setelah muntah, tapi malah melanjutkan perjalanan ke Semarang, kemudian berganti bus menuju Rembang. Demak, Kudus, Pati tentu saya lewati. Lasem dan pantai yang ada di sebelah kiri memberi desir akan masa kecil saat saya tumbuh di lingkungan nelayan dan syiar Islam.

Seingat saya, saya belum pernah ke Rembang sebelumnya. Ke pertigaan Pandangan, Kabupaten Rembang lah, saya harus turun dari bus yang terus menuju Surabaya.

Saya kemudian membeli buah dan bertanya ke ibu pedagang tentang arah tujuan yang ingin saya datangi. Debu-debu pembangunan harus saya lewati untuk mendapatkan kendaraan umum demi bisa melanjutkan perjalanan. Bau ikan yang menyebar di dalam angkutan kecil bukanlah hal yang asing bagi saya sebagai orang yang bersahabat dengan laut. Yang asing, yang selalu terjadi di tempat baru adalah saat komunikasi dimulai. Tak peduli seberapa besar penguasaan kita pada sebuah bahasa, jika kita tak bisa mengikuti “gelombang bahasa” yang ditawarkan, maka kita akan tenggelam dalam kebingungan.

Ke sebuah pesantren adalah tujuan saya. Hanya sekitar 7 menit dari pertigaan ke arah selatan. Saya waktu itu agak kebablasan. Turun, bertanya, berjalan, bertanya lagi dan lagi, itu yang saya lakukan sampai menemukan tujuan.

Di sana: saya ungkapkan tujuan kedatangan saya kepada seorang santri, saya serahkan sedikit oleh-oleh buah pir—buah yang kelak saya saksikan masih terbungkus di ruang tamu tempat saya duduk bersila, berhadap-hadapan sekitar dua jengkal dengan seseorang yang kemudian memberikan saya sarung saat pulang. Adegan di ruang tamu itu, mungkin hanya tiga orang yang menyaksikan: saya, beliau, dan seorang tua yang mungkin bagian dari keluarga beliau.

Dengan sarung itu, saya kemudian berziarah ke makam ayahnda beliau yang terletak di sebelah utara rumah, di timur masjid yang berdinding putih. Setelah itu, saya kembali bercelana denim murahan, sebelum diantar seorang santri menggunakan motor menuju pertigaan Pandangan.

Dari pertigaan itu, saya sedikit berjalan ke arah timur. Ada dua warung mangut berhadap-hadapan. Saya pilih menu “ikan iris” sebelum melanjutkan perjalanan ke Sarang. Di Sarang, di timur Masjid Jami’ nya, para santri bergerombol di sebuah papan. Dempet-dempetan seperti orang yang haus akan. Itu adalah papan koran. Mungkin mereka sekedar ingin tahu keadaan dunia luar setelah bosan belajar, belajar, dan belajar.

Ke dalam, saya masuk ke dalam. Bukan ke dalam asrama yang berada di belakang papan, tapi ke dalam gang yang ada di barat masjid. Di sana ada rumah sederhana almarhum Mbah Maimun, berhadap-hadapan dengan mushola yang tak kalah sederhananya, yang di atasnya terdapat apartemen mewah para santri yang di balkoninya bergelantungan kemeja, sarung, dan mungkin sedikit celana dalam. Jika Anda pernah berjalan di lorong kota New York pada abad ke-19, mungkin kira-kira begitulah gambarannya.

Masuklah sebentar ke dalam mushola, cobalah berwudhu di belakang. Tips: 1. Jangan sekali-kali Anda berniat menutup mata ketika berjalan agar terhindar dari ludah para santri. 2. Jangan sekali-kali melompati kolam tempat cuci kaki meski warna airnya telah hitam. 3. Jangan sekali-kali berharap jika Anda terluka, maka yang akan menolong adalah santriwati.

Di utara mushola ini juga ada papan. Tak seperti di papan sebelumnya, mungkin hanya ada satu dua santri yang sambil lalu membacanya setelah usai makan siang atau jika bosan di kamar–seperti burung-burung dalam sangkar yang banyak terdapat di Sarang. Kala itu isinya petuah-petuah agama dan sedikit pojokan untuk tidak menonton film “The Santri”. Ajakan tidak—meski ada salah satu kyai yang memuji film ini—adalah juga berarti tak mungkin film ini diputar untuk ditonton bareng di atas pasir pantai yang hanya berjarak setengah rokooan dari papan itu.

Dari Sarang, saya pulang. Mampir makan sebentar di warung mangut yang telah saya ceritakan. Kali ini lauknya iwak pe. Ikan parinya dilebihin sama penjualnya. Antara toko sudah mau tutup, daging pari yang akan mengeluarkan bau menyengat jika terlalu lama disimpan, atau rasa kasihan? Mungkin campuran semuanya.

Ke arah pulang, kulihat laut bermesra sore di sebelah kanan, seorang ibu muslimah yang mengayuh malam, melewati rumah-rumah tionghoa di Lasem, jamaah haul Mbah Santri di bawah pohon jati yang dipasangi lampion merah putih di Rembang, pedagang ikan asap yang memberi harga sangat rendah di pasar Tayu, serta keambyaran pembangunan di pinggiran jalan Pati, Kudus, Demak, apalagi Semarang.

Ke arah pulang kubawa kenangan dan sarung pemberian salah satu murid Mbah Maimun.

Bantu aku jawab, kenapa sarung?

Muhammad Antakusuma
Muhammad Antakusuma adalah seorang pewawancara.