Desa ini beraroma manis. Terik matahari menguapkan asiri dari kulit-kulit pohon kayu manis yang dijemur di halaman rumah. Wanginya menyambut di mulut desa. Jangan tanya aromaku. Masih bisa aku ingat lengketnya baju di tubuh karena peluh. Aku tak yakin tetesan Chloe sanggup melawan odorprint tubuhku yang berkeringat karena terpanggang matahari sejak pagi. Tapi para perempuan berkulit terang yang beraktivitas di teras rumah itu tak hirau. Meski gerah, mereka terus memukul-mukul biji kemiri dan mengulitinya untuk mendapat upah 2.500 rupiah per kilogram. Suara palu memecah kulit kemiri dari beberapa rumah sekaligus terdengar seperti tetabuhan selamat datang.
Beberapa kali langkahku terhenti karena babi peliharaan dengan tubuhnya yang gemuk dan berkaki pendek melenggang seenaknya. Ada sedikit rasa cemas menaikkan waspada. Ini babi! Tidak ada dalam kamus pengetahuanku bagaimana sebaiknya bersikap jika bertemu babi di jalan. Apakah harus lari, diam saja, jongkok, atau bagaimana? Instingku mengatakan untuk berhenti saja, dan diam. Rupanya babi itu menganggapku tak ada, melirik pun tidak. Babi belang itu fokus mengendus entah apa, yang mestinya lebih menarik, lalu menjauh.

Aku meneruskan langkah dan bertandang di empat rumah. Salah satunya di rumah seorang perempuan yang hendak bahuma (berladang). Ia membawa parang dan uba rampe menginang di tas punggungnya. Ia pamerkan cepuk tempat kapur, aku pamerkan foto-foto di gawaiku. Kuajari dia memotret dengan telepon genggam. Semula dia ragu, tapi lalu terkekeh melihat hasilnya.

Rumah berikutnya adalah milik perempuan pemecah kemiri. Cincin, gelang, kalung, berukuran serba besar dan tampak berat menghias pergelangan jari, tangan, dan lehernya yang telah keriput. Ia tak muda lagi, tapi kecantikannya tak pudar dikikis usia. Apalagi saat ia tertawa lebar dan matanya tinggal segaris. Aku bertanya banyak hal padanya, tapi ia menanyaiku lebih banyak lagi. Haduh!

Biji-biji kemiri yang telah ia pecah akan dikuliti oleh perempuan-perempuan lain. Saya mampir ke rumah ibu, anak dan cucu yang sedang mengupas kemiri-kemiri itu. Mereka berkisah padaku tentang keteguhannya memeluk Kaharingan -kepercayaan tradisional suku Dayak. Sementara beberapa tetangga dan kerabat berganti keyakinan, menjadi muslim atau pengikut Kristus. Mereka masih rutin melaksanakan ritual Aruh setiap bulan 6 dan 9, sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang baik. Tradisi ini diselenggarakan di Balai Adat Malaris yang terletak di ujung desa. Bangunan panggung dari kayu dan berdinding anyaman bambu sepanjang 45 meter itu sekarang hanya digunakan untuk melaksanakan upacara adat. Mereka tak lagi tinggal di sana. Tidak seperti orang-orang terdahulu yang hidup bersama di rumah panjang. Rumah, bagi mereka bukan lagi berdimensi komunal, tetapi individual. Maka kini mereka membangun pondok dan membentuk teritori untuk keluarganya sendiri.

Saya bergeser ke rumah perempuan sepuh yang sedang menganyam butah atau tas punggung untuk bahuma dari kulit bambu. Ia sedang merapatkan jalinan dengan tangannya yang terampil. Aku takjub dengan jemarinya yang lincah dan sikap tubuhnya yang tekun.Ia terlihat cantik dengan aktivitasnya itu. Saat kubilang ia sangat cantik, senyumnya mengembang malu-malu. Aku melihatnya lagi, mata perempuan Dayak yang tinggal segaris, nyaris terpejam saat tertawa. Cantik nian!

Desa adat Malaris di Lok Lahung, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan ini sungguh sibuk di siang hari. Saking banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan, mereka tidak minum kopi. Demikian kata salah seorang perempuan yang menguliti kemiri. Kopi hanya akan membuat mereka tak bisa tidur di malam hari, padahal mereka butuh istirahat agar mendapatkan energi yang cukup untuk bekerja keras di siang hari. Ini pernyataan yang menarik. Lalu aku melirik kepada diriku sendiri. Apakah aku minum kopi agar terjaga di malam hari, sehingga tak mendapat tidur yang berkualitas, lalu tidak bisa bekerja maksimal di siang hari? Perlu diteliti.

Terakhir, aku mampir ke rumah seorang kakek pembuat gelang dan cincin simpai terbuat dari akar dan rotan. Aku membeli satu gelang untuk mengikat kenang tentang sebuah pemukiman orang-orang Dayak di pegunungan Meratus. Aku akan mengingatnya sebagai penjaga garda terdepan paru-paru dunia. Mereka menganggap sakral Pegunungan Meratus, karena telah memenuhi seluruh kebutuhan hidup sejak generasi-generasi terdahulu. Mereka sadari atau tidak, sikap ini telah memelihara kekayaan alam di dalamnya tetap lestari, sebagai benteng ekologis terakhir di Kalimantan. Semoga mereka selalu tangguh menghadapi desakan yang kian menghimpit. Terutama oleh perizinan menambang di tiga kabupaten di sisi lain kawasan pegunungan ini, yang dikeluarkan oleh kementerian ESDM tahun 2017 dan gagal digugat oleh Walhi setempat di tahun 2018.

#SaveMeratus

2 Desember 2019
Loksado, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan