Siang itu, jalan aspal berkilat-kilat karena basah oleh hujan. Selalu begitu, hujan membuat hatiku dingin, dan wajahku merengut, karena baju basah yang lengket di badan. Tapi tak lama. Sebab ini di Tidore, kota cantik yang berhasil membuatku berbinar-binar ketika menceritakannya dengan segala puja-puji. Indah, bersih, rapi, sunyi dan damai -seanggun Kadaton Kasultanan Tidore, tak tampak sisa luka kolonial kecuali benteng-bentengnya yang menua, lapuk, dan bisu.

Di tahun 2016, aku hanya bisa memandangnya dari Ternate. Malam itu sendirian di Tapak, sebelum tetes guraka terakhir, seperti melabuh, kulemparkan janji untuk dipelihara oleh perairan Ternate. Janji akan menyeberang ke Tidore -pulau yang terluka selama 16 abad berperang mempertahankan kemerdekaannya.

Di lembar-lembar manuskrip Pigafetta yang mengagungkan pelayaran pertama bangsa Spanyol mengelilingi dunia, terselip satu nama yang nyaris hilang. Pigafetta mencatat nama dan kontribusinya, tetapi tidak dengan tulisan-tulisan oleh sejarawan-sejarawan berikutnya. Mungkin saya menuduh, demi memurnikan kolonialisme, ia sengaja dihilangkan. Karena ia liyan, yang berkulit gelap, berbahasa Melayu dan berasal dari Ambon. Hampir 500 tahun setelah pelayaran Magellan yang gemilang itu, apakah anda mengenal Enrique Maluku?

Magellan mengambil budak yang memahami bintang-bintang dan berpengalaman menaklukan gelombang samudra itu di Malaka, lalu menjadikannya asisten. Pada saat Magellan mengajukan proposal ekspedisi ke kepulauan rempah-rempah, ia mengajak Enrique untuk turut meyakinkan Raja Portugis bahwa ia membawa orang yang tepat menuntun ke gudang pala dan cengkih. Mereka ditolak. Kemudian mereka mengajukan proposal yang sama ke Raja Charles V di Spanyol, dan disetujui.

 

Kadaton kasultanan tidore. Dok: Ida Fitri
Kadaton Kasultanan Tidore. Dok: Ida Fitri

Ekspedisi itu berangkat pada 10 Agustus 1519 dari Sevilla ke arah barat menuju Maluku dengan 5 kapal: Trinidad, San Antonio, Concepcion, Victoria dan Santiago dengan 241 awak. Di Atlantik, kapal Santiago hancur diserang badai. Sedangkan San Antonio memberontak dan kembali ke Spanyol ketika mereka tiba di Argentina.

Magellan ditakdirkan tak pernah sampai ke kepulauan rempah yang menjadi obsesi pencarian para petualang dan pedagang dunia. Ia dan juga Enrique tewas dalam pertempuran di Mactan, Filipina. Ekspedisi dilanjutkan oleh Sebastian de Elcano dengan kapal Trinidad dan Victoria bersama 75 kru kapal. Concepcion terpaksa dibakar karena tak cukup awak.

8 November 1521, mereka merapat di Pelabuhan Rum Tidore setelah berminggu-minggu mengalami paceklik; kehabisan logistik yang memaksa mereka makan tikus, kulit, dan tali. Di pulau kecil dengan gunung api yang diselimuti pohon pala dan cengkih itu, rombongan Elcano diterima dengan baik oleh Sultan Mansyur yang memerlukan sekutu untuk menghadapi tekanan Ternate yang bekerja sama dengan Portugis.

Sebulan kemudian Elcano kembali ke Spanyol dan meninggalkan kapal Trinidad di Tidore karena rusak. Pigafetta mencatat, kapal Victoria memuat 26 ton cengkih, satu kargo pala, berkarung-karung kayu manis dan bunga lawang. Setibanya di Spanyol, Raja Charles V menghadiahi kapten yang memimpin ekspedisi yang gemilang menemukan rute navigasi ke Maluku dan membawa rempah-rempah yang berlimpah ini. Sebuah lambang diberikan kepada Elcano yang berdesain 3 biji pala, 2 batang kayu manis dan 12 butir cengkih. Ia dijuluki pengeliling dunia pertama, meskipun 17 bulan lebih lama dibandingkan pelayaran Enrique mengelilingi dunia.

Bendera Kasultanan: Kalimat Tauhid Sultan Tidore. Dok: Ida Fitri
Bendera Kasultanan: Kalimat Tauhid dan Sultan Tidore. Dok: Ida Fitri

2021, dunia bersama-sama dengan Indonesia akan memperingati 500 tahun pelayaran Magellan yang gilang-gemilang itu secara besar-besaran di Tidore. Adakah yang akan memberi ruang untuk Enrique agar dikenal dan dikenang sebagai ahli navigasi Magellan yang lahir dari rahim Maluku sendiri?

Perjalanan Tidore, 19 November 2018


Sumber bacaan:

Pulau Run: Magnet Rempah-rempah Nusantara yang ditukar dengan Manhattan, Giles Milton, Alvabet, 2015.

Pengeliling Dunia Yang Pertama Magellan atau Panglima Awang?, Anugerah Nontji, www.oseanologi.lipi.go.id.

Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, Prof. Dr. Slamet Muljana, LKiS, cetakan IX, 2012.

Sumber foto: Dokumen pribadi Ida Fitri.