Mari saya ceritakan tentang cara berpakaian nenek, ibu dan saya di tahun 80-an. Waktu itu, setiap awal bulan baru, nenek dari kampung Bojong, Garut, akan datang ke rumah keluarga saya yang berada di kota Bandung. Nenek rutin datang untuk mengambil uang pensiun. Sepulang dari sekolah, saya terbiasa menemukan nenek tengah beristirahat sambil mengobrol dengan ibu. Nenek selalu duduk dengan santai di atas sofa mengenakan kebaya berbahan tipis dengan corak bunga-bunga. Untuk melengkapinya, kain samping digunakan sebagai bawahan. Rambutnya yang panjang disanggul secara sederhana. Bagian dada kebayanya berpotongan agak rendah sehingga kalung emas yang dikenakannya akan tampak dengan jelas berkilauan. Tak jauh dari tempatnya duduk, sehelai kain persegi panjang atau selendang dari jenis bahan tipis tersampir di leher kursi. Sebagai orang Sunda, kami menyebut kain yang disampirkan di kepala tersebut sebagai tiyung. Saat dikenakan, kami akan berkata ditiyungkeun atau artinya “disampirkan” di kepala untuk menutupi rambut seperlunya saja. Lekukan dada tetap terlihat yang sesekali tertutup tiyung yang tergerakkan oleh angin atau gerak tubuh.

Sebagai orang Sunda, kami menyebut kain yang disampirkan di kepala tersebut sebagai tiyung.

Kedatangan nenek yang berpenampilan sangat berbeda dengan ibu dan saya menjadi ingatan yang tak lekang oleh waktu. Penampilan nenek bahkan sering menjadi inspirasi bermain peran atau sandiwara.  Saya dan kakak perempuan akan membuat semacam panggung lalu di atasnya kami bergantian mengenakan tiyung dadakan yang diambil dari bahan apa saja yang tersedia di rumah. Setelah dikenakan, kami akan berlenggak-lenggok seperti nenek. Lantas kami akan tertawa berderai-derai jika merasa puas memeragakan tokoh nenek yang bertiyung. Kami juga akan memeragakan cara menggunakan tiyung santai yaitu dengan cara melilit tiyung di kepala agar lebih praktis. Walau sebenarnya praktis, tetapi lilitan tiyung ini bagaikan mahkota di kepala yang harus dijaga agar tidak terjatuh.

Sementara itu, nenek dari pihak bapak yang tinggal di Bandung pun mempunyai tata cara berpakaian yang kurang lebih sama dengan nenek dari Garut. Tetapi saat bertandang ke rumahnya, saya kerap menyaksikan nenek berpakaian “tidak lengkap” yaitu hanya mengenakan baju dalam bernama kemben saat memasak. Saya tidak diberi pengertian tertentu oleh ibu jika kebetulan menyaksikan nenek hanya mengenakan kemben. Tetapi saya paham bahwa nenek adalah seorang ibu yang dihormati baik oleh keluarga maupun lingkungannya. Tetapi nenek tidak pernah mengenakan kemben untuk kegiatan di luar rumah.

Saya kerap menyaksikan nenek berpakaian “tidak lengkap” yaitu hanya mengenakan baju dalam bernama kemben saat memasak.

Pada masa itu, cara berpakaian belum menjadi bahan pembicaraan yang aktif. Cara berpakaian cukup “diketahui” lalu dilaksanakan. Apalagi sebagai aturan tertulis, di keluarga saya setidaknya belum terjadi. Dengan demikian, saya belum mengenal tata cara berpakaian yang dilabeli “Islami” di keluarga maupun di lingkungan rumah meski saya seorang muslim sejak lahir serta tinggal di lingkungan yang dominan muslim. Baik saya, maupun kakak perempuan yang berusia lima tahun lebih tua dari saya akan berpakaian dengan rasa “apa adanya”. Ibu yang berperan sangat penting dalam urusan pakaian lebih sering memillih atau menjahit sendiri pakaian cantik untuk kami.

Sementara, ibu saya berpakaian tidak jauh berbeda seperti anak-anak perempuannya. Baik ibu maupun saya, sama-sama memakai pakaian yang masuk kategori pakaian barat. Disebut pakaian barat karena diidentifikasi mendapat pengaruh dari pakaian perempuan kulit putih di masa kolonial. Pakaian barat ini berarti menggunakan atasan (blouse), rok, atau gaun (dress). Ibu tidak pernah menggunakan rok di atas lutut atau blus jika keluar rumah. Ibu memakai pakaian santai jika tengah bekerja rumah tangga.

Disebut pakaian barat karena diidentifikasi mendapat pengaruh dari pakaian perempuan kulit putih di masa kolonial.

Meski cara berpakaian antara saya, ibu dan nenek berbeda, saya tidak mengenal label moralitas yang mengikutinya. Misalnya, karena pakaian nenek dilengkapi dengan tiyung, tidak menandakan bahwa nenek lebih shaleh daripada ibu yang memakai pakaian barat dengan potongan yang sama sekali tidak dilengkapi penutup kepala. Walaupun demikian, nenek dan ibu sama-sama orang yang tekun beribadah setiap harinya. Kesamaan pakaian antara kami adalah ketika sama-sama melakukan ibadah shalat. Kami akan menggunakan pakaian shalat bernama mukena. Bahkan ibu saya merupakan guru mengaji pertama di rumah bagi anak-anaknya sebelum kemudian masuk ke madrasah. Saya tidak pernah didorong untuk mengetahui ciri kesalehan dari pakaian. Saat ia mengajari kami mengaji, terkadang hanya mengenakan pakaian biasa saja. Sekali lagi, saya tidak diperkenalkan ukuran kesalehan dilihat dari pakaian yang dikenakan.

Cara berpakaian di masa itu umumnya berjalan tanpa banyak dibahasakan secara verbal, baik tertulis maupun oral. Kesepakatan tata cara berpakaian seakan mengendap dalam pikiran dan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari. Kesepakatan tata cara berpakaian tersebut kemudian menyatu dengan selera yang diolah secara personal. Misalnya, sempat ada tren menggunakan rok mini yang terbuat dari bahan jeans. Tren rok mini saat itu merasuk melintasi batas usia. Saya yang masih duduk di sekolah dasar ikut-ikutan meminta dibelikan rok mini tersebut. Ibu saya pun mengabulkan permintaan saya tanpa memberikan penjelasan apa pun mengenai  kode moral dalam rok mini. Saat dikenakan untuk sehari-hari, ternyata saya merasa risih sendiri. Saya tidak nyaman ketika paha mungil saya tak tertutupi pakaian karena rok yang kependekan.

Cara berpakaian di masa itu umumnya berjalan tanpa banyak dibahasakan secara verbal, baik tertulis maupun oral.

Rasa tidak nyaman saat mengenakan rok mini, selain karena faktor udara Bandung yang dingin, juga karena kebiasaan. Saya memang tidak terbiasa mengenakan pakaian minim. Kemungkinan besar saya merasa sedang memaksakan diri untuk ikut tren, padahal sebenarnya saya tidak suka. Meskipun tidak ada seorang pun yang menegur apalagi menghukum saya karenanya. Norma ada dalam level sosial yang mengatur masyarakat di sekitar saya dengan cara yang sunyi. Norma berjalan seperti superego di dalam diri seorang manusia. Memang jarang sekali perempuan di lingkungan saya yang mengenakan pakaian minim. Pakaian yang dikenakan lebih bersifat menengah, yaitu tidak terlampau mini dan tidak juga terlampau longgar atau panjang.

Lingkungan religius seperti masjid pun tidak memberlakukan tata cara berpakaian secara tertulis. Tetapi masjid tetap dihormati dengan tata cara berpakaian yang sopan menurut ukuran waktu itu. Sementara, jika hendak melakukan aktivitas ibadah seperti shalat maka para perempuan akan mengenakan mukena, yaitu pakaian shalat yang hanya memperlihatkan wajah dan telapak tangan serta tidak memperlihatkan lekuk tubuh. Sedangkan jika aktivitas mengaji, setidak-tidaknya selendang dikenakan dengan disampirkan secara longgar di kepala. Pada masa itu, saya masih dapat menyaksikan para perempuan yang berada di muka umum tidak dibedakan agamanya melalui penampilan. Ketika mereka sudah berada di masjid, barulah jelas agama yang dipeluknya. Perempuan Muslim pada waktu itu belum diidentikkan dengan penutup kepala rapat (jilbab) atau pakaian panjang. Kini hal tersebut sebatas kenangan. Zaman sudah berubah. Cara berpakaian perempuan muslim sudah menjadi urusan banyak orang, mulai dari pedagang hingga politisi.

***

Kurniasih (Ani)
Kurniasih (Ani), peminat kajian religi dan budaya, bekerja sebagai dosen di Universitas Katolik Parahyangan.