1

Desa Plosokuning memiliki akses yang tergolong mudah. Menuju ke tempat ini hanya membutuhkan 5 menit masuk menjamah jalan desa dari jalan Kaliurang. Tepatnya sekitar tiga setengah kilometer dari perempatan Ringroad utara (Kentungan) kita akan menemukan jalan desa sempit nan-sepi setelah belok ke arah timur, sangat kontras dengan keramaian sebelumnya.

Adem banget ya…,” kata Arip teman perjalanan sekaligus bertugas sebagai pembonceng atas kemauannya sendiri. Malam itu memang lebih dingin dari biasanya. Bulan bulat keemasan mengintip samar di atas langit mengiringi keberangkatan kami menaiki motor. Sepanjang jalan Kaliurang sampai tiba di Masjid Plosokuning sarung kami berkibar-kibar.

Sampai di Desa Plosokuning, tepat pada sebuah belokan yang agak curam kami sudah bisa melihat mustaka dan atap tajuk dua tingkat masjid kuno ini. Kami harus mengambil jalan memutar masuk permukiman untuk menuju gapura depan masjid di sisi timur.

Monggo mas…,” sapaan balasan bapak-bapak  yang sedang sibuk di bangunan semi permanen yang difungsikan sebagai dapur masjid setelah kami memberikan isyarat nyuwunsewu. Melewati gapura dengan ornamen buah labu (waluh dalam bahasa Jawa) pada bagian atasnya, kami berada di halaman dengan empat pohon sawo kecik berukuran sedang berpagar bambu. Bagi yang peka, pohon sawo kecik ini juga lazim dijumpai di nDalem pangeran, keraton, atau makam lama.

Melewati gapura dengan ornamen buah labu (waluh dalam bahasa Jawa) pada bagian atasnya, kami berada di halaman dengan empat pohon sawo kecik berukuran sedang berpagar bambu. Bagi yang peka, pohon sawo kecik ini juga lazim dijumpai di nDalem pangeran, keraton, atau makam lama.

Suasana masjid masih sepi. Kami melihat beberapa orang menggelar tikar pandan di serambi masjid, sementara kami memanfaatkan waktu untuk foto-foto dari halaman. Jam menunjukkan belum manjing waktu isyak, kami memang sengaja datang lebih awal, selepas berbuka puasa tadi tanpa mengubah “dresscode” yang memang begini-begini saja sejak sore hari.

Kira-kira tujuh menit menunggu, kentongan menyusul bedug ditabuh. Azan berkumandang disusul satu demi satu jamaah menuju masjid. Seorang jamaah yang agak sepuh menghampiri dan menyalami kami yang masih berada di bawah pohon sawo kecik menikmati azan. “Sinten niki? Monggo mas mlebet,” sapanya. Kami mengangguk sejurus kemudian menuju tempat wudhu di samping serambi. Kami sempat berpapasan dengan beberapa jamaah. Sepertinya memberi senyum dan saling menyalami menjadi pemandangan biasa di tempat ini.

Beruntung sempat belajar Arkeologi di UGM dan hidup di Jogja, lumayan banyak masjid kuno yang saya ketahui sekaligus beberapa sempat saya datangi. Termasuk keberadaan masjid yang disebut sebagai “Pathok Negara” kepunyaan Keraton Yogya ini. Ya, pathok adalah tanda, batas dan pedoman, sedangkan negara di situ adalah keraton Yogya. Selain di Plosokuning, ada tiga masjid lain di tiga penjuru mata angin batas keraton Yogya. Sebelah timur adalah Masjid Babadan, Masjid Dongkelan di batas selatan, dan sebelah timur adalah Masjid Mlangi.

2

Masjid Pathok Negara Plosokuning diyakini hadir sejak tahun 1724, 21 tahun sebelum perjanjian Giyanti yang menjadi tonggak berdirinya Keraton Yogyakarta. Masjid ini hadir lebih dulu daripada masjid pathok negara lan, bahkan sebelum keraton berdiri. Masyarakat meyakini pembangunannya dirintis oleh keberadaan tokoh Kyai Mursodo, putra dari Kyai Nur Iman yang mengembangkan dakwah di kampung Mlangi. Kyai Nur Iman adalah saudara lain ibu dari pangeran Mangkubumi (HB I).

Baru di masa kemudian masjid ini mendapatkan posisi sebagai bagian dari keraton Yogyakarta dengan fungsinya sebagai tanda atau batas wilayah pusat pemerintahan berada (kuthanegara) dengan wilayah yang disebut negaragung, inti atau daerah penyangga. Pangeran Mangkubumi (HB I)-lah yang merancang “grand desain” keruangan negara Yogyakarta itu, sesuatu yang tidak mengherankan karena beliau juga terkenal sebagai seorang yang cakap dalam bidang rancang-bangun. Kemampuan beliau terbukti melalui perannya mendesain dan membangun keraton Surakarta pada masa sebelumnya.

Nyaris tidak ditemukan bukti sejarah yang memberikan gambaran bentuk masjid awal. Abdi dalem yang sempat kami temui sebelumnya meyakini cerita bahwa masjid lama berdiri lebih ke selatan dari posisi masjid sekarang. Baru pada 1757 saat pembangunan Masjid Gedhe, keraton memindahkannya ke posisi yang ada sekarang dan mengubah bentuk arsitekturnya. Arsitektur masjid Pathok Negara memang sama dengan Masjid Gedhe, perbedaan mencolok hanya pada jumlah atap tajuk dan dimensinya. Jika Masjid Gedhe bersusun tiga, keempat masjid Pathok Negara hanya bersusun dua.

Azan sudah selesai, dilanjut dengan puji-pujian dengan nada slendro yang indah. Sementara jamaah sudah tampak ramai, suara puji-pujian semakin meriah. Selepas mengambil air wudhu, kami melangkahkan kaki menaiki serambi yang lumayan tinggi, mirip batur lebar seperti pada bagian dasar bangunan candi. Batur yang sebenarnya menjadi bagian dasar masjid secara keseluruhan ini dikelilingi oleh kolam. Pikiran saya tiba-tiba terlontar jauh, merangkai imajinasi suasana masjid-masjid masa lampau di Jawa.

Pujian dengan bahasa Arab bernada slendro itu menguasai diri saya, melihat seorang jamaah yang sedang berwudhu di kolam keliling dari atas serambi, saya membayangkan menikmati teater indah di Taman Budaya.

Pujian dengan bahasa Arab bernada slendro itu menguasai diri saya, melihat seorang jamaah yang sedang berwudhu di kolam keliling dari atas serambi, saya membayangkan menikmati teater indah di Taman Budaya. Masuk ruang utama masjid yang disangga empat soko guru kayu, terdapat mihrab sempit, mimbar tandu kayu berwarna coklat tua, wadah lampu gantung logam di tengah dengan lampu-lampu putih hemat energinya, kami dengan tertib duduk bersila sebagaimana jamaah lain.

“Ruang utama inilah yang menjadi fokus renovasi oleh pemerintah pada tahun 2016.” Saya mendapatkan informasi dari Umaira, teman satu alumni yang sempat menjadi asisten tenaga ahli untuk renovasi Masjid Plosokuning. Saya menghubunginya sebelum berangkat menuju masjid. Memang, ruang utama yang di kanan-kirinya terdapat tempat sholat untuk jamaah perempuan (pawestren)  itu tampak “baru” untuk konstruksi atap kayunya. Mungkin kalau siang hari akan lebih jelas lagi untuk mengkonfirmasi bahwa genteng-genteng di keseluruhan bangunan masjid terlihat sudah mengalami penggantian.

Soko guru-nya itu tidak diganti, termasuk beberapa konstruksi atap kayu ada yang ditambah, kalau dindingnya dan pagar hanya mengalami peremajaan. Nah, kalau pawestrennya itu baru.” Umaira menjelaskan lebih lanjut via pesan pendek. Sebagai sebuah warisan budaya, bangunan masjid kuno ini sudah selayaknya mendapatkan perhatian untuk memperpanjang usianya. Agar bentuk dan “kehidupan” di dalamnya selalu menjadi pelajaran lintas generasi.

3

Menunggu sholat isyak dan tarawih kami berusaha mengikuti lantunan puji-pujian yang tampak semakin semarak. Lebih tepatnya semarak dan khusyu’, saya sangat kesulitan  mendefinisikannya. Ruangan yang tidak terlalu besar membuat gema suara memenuhi ruang. Suasana seperti ini mengingatkan saya pada langgar sebelah rumah di desa. Besar dan mengenal Islam yang semarak dengan tradisinya saat bulan Ramadhan seperti di tempat ini melempar ingatan saya akan hal-hal mengasyikkan saat “menginap” selama sebulan penuh di langgar saya di desa.

Tidak berselang lama muncullah lelaki sepuh menuju barisan paling depan sejurus kemudian melaksanakan sholat sunnah dua raka’at. Beliaulah Kyai Baedowi, imam masjid Plosokuning yang malam itu bertugas memimpin jamaah isyak dan tentu saja dilanjut sholat tarawih. Iqomah segera dilantunkan, disusul dengan shaf-shaf rapi yang telah terbentuk, kami sholat isyak dilanjut membaca zikir dan tahlil mengikuti Kyai Baedowi. Puji-pujian menjelang sang imam melantunkan do’a hadir kembali mengisi memori kami yang baru pertama kali jamaah di masjid ini. Ya, pujian dengan lagu Jawa sekali lagi yang disambung dengan sahutan jamaah mangamini do’a sang imam.

Sholat Tarawih dilaksanakan 20 rokaat dilanjut tiga rokaat shalat witir. Dengan intonasi yang masih jelas dan gerakan imam yang lumayan cepat menjadikan kami berdua, saya dan Arip, menyelesaikan semua rangkaian isyak, tarawih dan witir dengan kaos dalam basah keringat. Tapi inilah yang sebenarnya kami cari. Selepas witir dan do’a jamaah membubarkan diri diiringi tabuhan bedug yang ada di serambi. Iramanya sangat cepat seperti bedug takbiran.

Kami mengamati para jamaah yang lepas dari shaf-shaf mereka menuju serambi dan bersegera mengambil tempat melingkar. “Sepertinya ngaji iki, rip..,” saya membisikkan kalimat tersebut sambil mencolek punggung Arip yang sudah tergopoh-gopoh ingin mencari udara segar ke luar. Benar sekali. Kami dipersilahkan untuk duduk karena akan diadakan ngaji pasan (ngaji kitab tertentu selama bulan puasa) yang menjadi tradisi di Masjid Plosokuning selepas jamaah tarawih.

4

Saya bersebelahan dengan Pak Jaenudin Ahsan, warga Plosokuning asli yang sejak kecil hidup dengan tradisi Islam di sini. Kehadiran masjid pathok negara  di empat penjuru mata angin keraton Yogyakarta selain menjadi pedoman batas eksistensi geopolitik keraton, juga sebagai pusat syiar Islam. Selain itu Fungsi pathok negara pada masanya adalah sebagai pusat pengadilan hukum syariat Islam di luar peraturan hukum kolonial yang ada waktu itu. Seperti hukum hak waris, pernikahan, perceraian, dll. Menurut saya ini adalah bentuk “pemberontakan” yang luar biasa terhadap dominasi kolonial pada masa itu. Posisinya yang berada di empat penjuru mata angin mengingatkan pada falsafah kiblat papat yang harus selalu diingat setiap insan dalam menjalani kehidupan di dunia agar selamat menuju janma utama atau manusia paripurna.

Atmosfer Islam tradisi dengan kehidupan santrinya sudah pasti tidak terlepaskan dari keberadaan masjid pathok negara.

Atmosfer Islam tradisi dengan kehidupan santrinya sudah pasti tidak terlepaskan dari keberadaan masjid pathok negara. Seperti Pak Jaenudin, “Saya dulu ngajinya juga di sini mas, sejak Kyai Mursodo yang merintis pendidikan di sini, keturunannya-lah yang mengajar kami ngaji.” Tentu yang dimaksud beliau selain ngaji Al Qur’an, masyarakat Plosokuning juga sangat akrab dengan ngaji kitab kuning karangan para ulama terdahulu. Seperti malam ini, jamaah mengaji kitab Riyadhus Shalihin, karangan Imam Nawawi yang akrab di pondok-pondok pesantren tradisional.

“Di Desa Plosokuning sekarang ada tiga pondok pesantren,” Kata Pak Jaenudin melanjutkan. Ngaji pasan malam itu dibawakan oleh seorang Kyai muda, putera Kyai yang sebelumnya mengisi pengajian serupa. “Itu masnya baru pulang dari Mesir, mas…,” Lanjut Pak Jaenudin yang biasa dipanggil Pak Jae atau Pak Ahsan setelah saya bertanya siapa nama kyainya. Beliau masih sangat muda, suaranya jelas dan enerjik bak ustaz-ustaz di TV. Namun masih tampak dengan pembawaan tenang dan bahasa kromo yang lembut.

Pengajian diikuti oleh mayoritas jamaah, termasuk jamaah perempuan. Saya melihat serambi masjid tidak muat untuk menampung jamaah, hingga ada beberapa jamaah yang menggelar tikar yang tadinya berada di serambi ke luar halaman. Ada dua baris memanjang tikar yang dipakai sebagai alas jamaah mendengarkan pengajian sang kyai. Selain duduk santai dan menyalakan rokok, ada juga yang sambil klekaran. Saya tergoda untuk keluar, tetapi karena sebelumnya sudah nyaman bercakap-cakap dengan Pak Jaenudin, saya urungkan niat tersebut.

Nggih…salam niku mboten kedah assalamu’alaikum kemawon, menawi ten mriki legane niku, biasanae ngagem nyuwun sewu..utawi monggo… memang beda, tetapi kita lihat esensinya sama. Nggih mboten?,” Saya mencuplik sedikit tafsiran dari sang kyai setelah membacakan sebuah ayat dalam kitab yang sedang dibaca. Sebagai orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan lama di pesantren, bagi saya ngaji-ngaji seperti ini adalah oase.

5

Tidak berselang lama, muncul beberapa pemuda bersama nampan dengan gelas-gelas berisi teh panas. Menyusul kemudian kardus-kardus berisi makanan ringan diedarkan. “Mantap,” sambut Arip yang daritadi sepertinya kehausan. Pak kyai dengan microphone-nya pun mempersilahkan jamaah untuk nyambi menikmati hidangan yang ada. Keringat kami sudah agak kering, perut yang mulai sedikit lapar tertolong oleh tahu isi, roti dan pastel jatah kami masing-masing.

Pengajian berlangsung sekitar 30 menit. Saya melihat suasana yang khidmat penuh senyum. Tak jarang, sang kyai membuat para jamaah melemparkan tawa dengan sindiran-sindiran dan sedikit plesetannya. “Nanti sahur di sini saja mas, ada, dimasakkan kok,” tiba-tiba Pak Jae membisikkan kalimat tersebut sambil memegang lutut saya. “Wah, yang benar pak?,” Saya menukas. “Lho, di sini dari mana-mana yang ikut ngaji, pada nginep juga, ada yang dari Jawa Timur juga. Ini masnya rumahnya di Benteng,” lanjut Pak Jae sambil menuding seseorang di depannya. “Itu yang dari desa sebelah juga tiap subuh kesini,” lanjutnya. Saya tak kuasa menolak tawaran Pak Jae.

Saya sempat memperhatikan rombongan penginap di Masjid Plosokuning. “Ya..mencari berkah bulan Ramadhan, mas,” jawab seseorang dari mereka. Ternyata ada beberapa orang yang mencari keheningan agar khusyuk beribadah selama bulan Ramadhan di sini.

Sebelum bubar jamaah saling bersalaman. Saya sempat memperhatikan rombongan penginap di Masjid Plosokuning. “Ya..mencari berkah bulan Ramadhan, mas,” jawab seseorang dari mereka. Ternyata ada beberapa orang yang mencari keheningan agar khusyuk beribadah selama bulan Ramadhan di sini. Saya memang pernah mendengar di pengajian-pengajian bulan Ramadhan yang sudah terkenal memang ramai orang yang bermukim untuk ikut ngaji. Tapi itu ada di pondok pesantren, antara lain di Pasuruan dan Rembang.

Pada akhirnya kami berdua tidak sempat sampai menunggu sahur di Plosokuning karena Arip akan mengerjakan sesuatu malam itu. Tidak mungkin ia meninggalkan saya di sini atau saya menahan motor biar ia pulang sendiri. Kami berdua berpamitan dengan jamaah yang tersisa membawa banyak sekali kesan dan oleh-oleh.

“Kalau orang tidak tahu ngaji yang benar akan rugi. Apalagi di zaman seperti ini, mas,” tukas Pak Jaenudin di akhir obrolan.

^^^  

Saya dan Arip berjalan keluar masjid melewati gapura mengharap ampunan Yang Maha Kuasa. Wallahua’lam, Wallahu, saya melihat ornamen buah waluh samar-samar di ketinggian atap gapura, bersanding dengan bulan bulat keemasan, mesra!

***