Festival Ili-ili dan Cerita yang Mengitarinya

Ketika kita mendengar acara festival kita pasti akan membayangkan sebuah acara dengan gegab gempita keramaian serta rangkaian acara yang berlarat-larat dipenuhi banyak pagelaran seremonial. Tetapi beda halnya dengan acara festival Ili-Ili yang ada di Kecamatan Ngadirejo Temanggung Jawa Tengah (17-19/10/ 2022). Acara festival yang satu ini tidak hanya menyuguhkan seremoni seperti festival biasa, lebih dalam dari hal itu festival ini digunakan oleh kolektif anak muda di sana sebagai bentuk upaya konservasi mata air di tengah ancaman krisis lingkungan di lereng Gunung Sumbing.

****

Pagi itu saya berangkat ke Temanggung dengan banyak pertanyaan yang membayangi saya sepanjang jalan. Sebuah Pertanyaan penasaran akan seperti apa festival Ili-Ili dijalankan dan bagaimana format acara yang seperti apa yang akan dipresentasikan oleh panitia. Dengan mengangkat tagline yang menurut saya cukup dalam yaitu “mensyukuri nikmat dengan merawat” festival ini tampaknya ingin memberi makna lebih bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya.

Benar saja sesampainya saya di sana, semua peserta yang sebagian besar dari luar kota kemudian diarahkan oleh panitia pada satu bangunan rumah tua yang tampak masih klasik. Ndalem Abdurahman nama rumah yang tampak masih berdiri kokoh tersebut. Bentuk rumahnya seperti perpaduan antara arsitektur Jawa, Cina dan Arab yang bisa dilihat dari bangunan utama berbentuk limasan dengan pagar yang tinggi menjulang kemudian pintu masuk yang agak menjorok ke dalam, seperti yang kita dapati pada rumah-rumah di daerah kauman ataupun pecinan. Di rumah tersebut peserta melakukan registrasi kemudian diajak untuk melihat pembukaan pameran fotografi dan desain visual hasil lomba yang diadakan oleh panitia yang berkaitan dengan krisis lingkungan yang ada di daerah Temanggung.

Karya-karya fotografi dan desain visual dipresentasikan dengan rapi disertai tata letak layaknya di galeri profesional. Walaupun hanya sebuah rumah tua, yang menurut cerita panitia rumah tersebut sudah sekian lama tidak ditempati lalu dengan adanya festival rumah ini kemudian dijadikan ruang pemeran. Hal itu menunjukkan sebuah upaya pemanfaatan ruang secara lebih kreatif, sekaligus mengajak kembali peserta untuk menikmati suasana bangunan klasik yang mempunyai nilai sejarah dimana model arsitektur seperti rumah tersebut tidak banyak lagi digunakan oleh masyarakat sekitar saat ini.

Selepas acara pembukaan pameran selesai, peserta kemudian memasuki acara selanjutnya yaitu jelajah desa dengan tajuk “Desa Urban dan Ketahanan Pangannya.” Tidak jauh dari Ndalem Abdurahman, kira-kira hanya 200 meter peserta berjalan menyusuri jalan Desa Ngadirejo yang sudah padat penduduk. Peserta diajak untuk melihat laboratorium desa (Labdes) Ngadirejo. Lokasi Labdes ini sendiri dulunya adalah lahan mangkrak dengan tumpukan sampah yang menggunung, kemudian diaktivasi menjadi kebun kolektif yang asri bagi warga di tengah permukiman urban dusun Demangan.

M Anton Rifai sebagai kordinator Labdes dalam sarasehan madya menjelaskan bahwa laboratorium desa sendiri adalah ruang kolektif dari sekumpulan masyarakat yang ditujukan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di desa. Awal munculnya Lebdes dipicu karena ada kebutuhan karena selama ini tidak jarang realisasi pembangunan dan pemberdayaan yang diterapkan di desa masih jauh dari akar persoalan masyarakat. Anggota Labdes sendiri terdiri dari berbagai lapisan masyarakat terutama pemuda dan perangkat desa yang sadar akan pentingnya menjaga ekosistem yang sehat dan berdaya di desa.

“Keberadaan Lebdes ini diharapkan bisa menjadi titik temu untuk riset/laboratorium bagi pemikir dan pelaku dengan tujuan untuk melahirkan metode-metode baru untuk mewujudkan ruang hidup––khususnya di desa––yang lebih seimbang dari sisi lingkungan, ekonomi, sosial dan kebudayaan” ujar Anton­­­­­ yang juga sebagai Sekertaris Desa Ngadirejo (Pak Carik).

Sesampainya di Labdes peserta kemudian disuguhkan dengan dua bangunan dengan desain arsitektur berbahan dasar bambu. Penggunaan bambu sebenarnya selaras dengan tipografi daerah Temanggung yang masih banyak ditemukan bambu jenis ori atau petung. Tidak hanya itu, dalam Labdes juga terdapat kebun kolektif pangan lokal. Di sana ditanami dengan berbagai tanaman, sayuran, empon-empon dan obat-obatan.

Tidak lama kemudian kami dipersilakan untuk makan bersama di selasar Labdes yang tampak artistik dan asri. Semua peserta makan barsama dengan cara kembulan (makan bersama-sama beralaskan dengan daun pisang) yang berlarat panjang. Seperti dijelaskan oleh panitia bagian konsumsi semua makanan yang disuguhkan merupakan hasil dari olahan ibu-ibu desa setempat. Ada tuju lauk yang bermakna pitulungan mulai dari ayam Ingkung, sayur kacang kentang, rempeyek dan sebagainya yang menemani santap siang kami saat itu.

Ekologi dan Air: Antara Krisis dan Upaya Pelestariannya

Setelah santap siang sarasehan pertama dimulai. Peserta diajak urun rembuk soal bagaimana melihat krisis air dan upaya pelestariannya. Sarasehan madya ini dilaksanakan di rumah pak Erda tak jauh dari Labdes. Dalam sesi ini panitia mendatangkan beberapa penggiat lingkungan mulai dari penggerak aktivis hingga akademisi. Pertama Ukke R Kosasih salah satu penggiat lingkungan dari Bandung, Diah Widuretno sekolah Pagesangan dari Gunung Kidul Yogyakarta, Feby H. Kaluara Akademisi yang fokus meneliti soal air di kota urban dari Depok, dan Dicky Senda penggiat lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di NTT. Dalam forum ini para pemateri memaparkan pengalaman dan perspektifnya melihat krisis lingkungan dan air.

Seperti diungkapkan oleh Feby dalam sarasehan bahwa ia menekankan di daerah hilir manajemen distribusi air yang sudah digunakan harus diperhatikan. Hal tersebut bertujuan agar penggunaan air bisa tepat guna dan tidak terbuang yang bisa jadi malah mencemari lingkungan.

“Di daerah urban ketersediaan air bersih ke depan akan menjadi persoalan serius. Maka dari hal itu ketersediaan mata air yang masih banyak bisa kita temukan di desa harus kita rawat dan jaga,” Ujar akademisi dan praktisi yang tinggal di Depok tersebut.

Tidak hanya itu Ukke R Kosasih juga menambahkan bahwa soal pengelolaan air sebenarnya ada di tangan setiap individu. Tanggung jawab tersebut tidak bisa hanya dilimpahkan pada orang-orang tertentu saja. Manusia seharusnya memiliki pilihan: apakah akan menjadi solusi atau justru menjadi polusi atas pengelolaan air. Karena pengelolaan air merupakan tanggung jawab bersama dari setiap kita manusia.

Sebenarnya keresahan terkait krisis air yang mana setiap musim hujan melimpah mengakibatkan banjir dan ketika musim kemarau kekurangan air menjadi persoalan bagi warga Ngadirejo inilah yang awalnya menjadi pemantik munculnya festival Ili-ili ini. Munif salah satu ketua acara menjelaskan bahwa ketergantungan manusia dengan air begitu tinggi. Tetapi hal itu tidak disadari oleh banyak orang hari ini termasuk warga Ngadirejo. Padahal Munif yang juga warga setempat menceritakan bahwa ancaman krisis air bersih semakin nyata di daerah Ngadirejo. Hal tersebut bisa dilihat dari semakin kecilnya debit air yang masuk ke rumah-rumah warga setiap jam produktif pagi hari. Hal ini dirasakan oleh sebagian besar warga Ngadirejo yang bertempat pada hilir Gunung Sumbing sebagai hulu resapan air bersih di bawahnya. Padahal selama ini masyarakat di hilir untuk kebutuhan air bersih warga di sana bergantung penuh pada PDAM yang mengambil sumber mata air dari hulu Gunung Sumbing.

Sebenarnya keresahan terkait krisis air yang mana setiap musim hujan melimpah mengakibatkan banjir dan ketika musim kemarau kekurangan air menjadi persoalan bagi warga Ngadirejo inilah yang awalnya menjadi pemantik munculnya festival Ili-ili ini. Munif salah satu ketua acara menjelaskan bahwa ketergantungan manusia dengan air begitu tinggi. Tetapi hal itu tidak disadari oleh banyak orang hari ini termasuk warga Ngadirejo.

“Bahkan ada sebuah riset dari salah satu akademisi bahwa 10 tahun ke depan jika tidak ada pengelolaan air lebih baik, daerah Temanggung bisa kekurangan air. Itu baru soal air, belum bagaimana soal alih fungsi lahan dan persoalan lainnya. Dari hal itu melalui festival ini setidaknya ada upaya untuk membangun kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan” tegas Munif yang juga menjadi pegawai di pemerintahan Desa Ngadirejo.

Adanya ancaman terhadap kesediaan air bersih inilah kemudian memunculkan keprihatinan sebagian pemuda desa yang terhimpun dalam Labdes. Sehingga Lebdes yang di desain sebagai episentrum pengetahuan untuk memecahkan persoalan-persoalan di desa memunculkan ide untuk diadakan semacam gerakan konservasi mata air yang ada di daerah hulu lereng Gunung Sumbing sebagai sumber penyedia air bersih yang ada di Kecamatan Ngadirejo. Munculnya gagasan konservasi tentu tidak langsung disikapi dengan gegabah oleh pemuda yang ada di sana. Tetapi melalui berbagai dialog dan diskusi hampir selama setengah tahun seperti dikatakan Munif, kemudian dilakukan pemetaan masalah dan berupaya menginventarisir potensi yang ada di sana sehingga muncullah gagasan desain festival Ili-Ili ini.

Pemilihan bentuk festival sebagai medium konservasi bukan tanpa sebab. Karena bagaimanapun bentuk festival merupakan instrumen kebudayaan yang paling dekat dengan masyarakat. Sehingga diharapkan melalui berbagai konten acara dalam festival yang terhubung dengan tradisi yang sudah melekat dalam alam pikiran masyarakat di sana upaya transfer of kenowledge bisa tersampaikan secara lebih sublim dan mendasar.

Makna Ili-ili sendiri mengandung arti aliran air. Penggunaan kata Ili-ili dalam festival ini berangkat dari ungkapan bahasa Jawa yang dekat dengan kesadaran masyarakat di sana terkait air. Hal ini juga yang membedakan festival ini dengan bentuk festival lainnya, yang mana festival Ili-ili berusaha berangkat dari persoalan masyarakat dan berupaya menjawab persoalan tersebut menggunakan metode festival sebagai metrum kesadaran baru orang hari ini. Sehingga bentuk acara hingga konten-konten yang ada di dalamnya, mulai dari diskusi sarasehan, trip jelajah desa dan mata air, hingga pertunjukan seni semuanya berangkat dari apa yang ada di desa kemudian di kemas dengan sentuhan acara dalam bentuk festival yang lebih modern.

Selepas sarasehan madya selesai, peserta kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok. Tidak lama kemudian beberapa angkutan desa (mobil angkudes) telah siap menjemput peserta. Di bawah langit sore Desa Ngadirejo yang mulai gelap, semua peserta di bawa naik ke atas menuju homestay di lereng Gunung Sumbing untuk menginap. Menariknya homestay yang akan peserta tempati bukan di homestay mewah layaknya di tempat wisata, tetapi peserta diajak untuk tinggal dibeberapa rumah warga setempat agar lebih bisa secara langsung bersentuhan dengan masyarakat setempat.

Kebetulan saya dan kelompok kecil saya ditempatkan di salah satu rumah warga bapak “Sulasyo”. Rumah sederhana, tetapi begitu hangat dengan sambutan dan rasa kekeluargaan yang disuguhkan mereka ketika menyambut kedatangan kami. Bapak Sulasyo sendiri hanya tinggal dengan istrinya dan satu cucunya yang masih kelas 3 SD. Ke dua anaknya sudah tinggal terpisah dengan dirinya. Dalam kehidupan di masa tuanya tersebut hari-harinya di isi dengan beribadah kemudian bekerja di kebun tembakau dan cabai di ladang yang ia miliki. Walaupun usianya sudah tidak muda lagi, rasa perhatiannya kepada tradisi dan budaya Jawa begitu kuat. Bisa dikatakan Sulasyo adalah seorang seniman kesenian di desanya. Ia adalah penggiat jaran kepang kesenian khas daerah di sana. Walaupun sekarang tidak menjadi pelaku seni yang aktif, tetapi rasa perhatiannya terhadap kesenian tidaklah luntur. Seperti yang ia ceritakan ia masih jadi kordinator untuk menghidupkan kesenian di sana. Hal ini bisa di lihat dari beberapa set gamelan yang ada di rumahnya untuk latihan kesenian.

Setelah istirahat sejenak dengan hawa dingin yang begitu menusuk tubuh. Kami kemudian di jemput masih dengan mobil angkudes untuk menonton pertunjukan sendratari Babad Alas Giripurno di lapangan Pringsewu desa Giripurno. Sesampainya kami di sana, lapangan sudah penuh dengan warga yang tampak antusias menonton pertunjukan malam itu. Gerimis tipis tidak menghalangi antusias warga yang datang. Sekitar jam 9 malam pertunjukan dimulai. Sendratari yang ditampilkan terlihat begitu megah dengan kostum dan tata rias yang ditampilkan oleh 9 penari. Tari tersebut menceritakan penaklukan pembukaan alas Giripurwo hingga bisa ditempati hingga sekarang––kira-kira itu yang saya pahami. Penampilan sendratari malam itu akhirnya menjadi menutup rangkaian acara pada hari pertama Festival Ili-ili hari pertama. Dengan tubuh lelah semua peserta kembali ke homestay dengan raut bahagia, menghayati keriuhan yang penuh makna dari desa yang jauh dari gemerlap kota tersebut.

Malam selepas acara pertunjukan kami tidak lantas tidur, masih dengan beberapa teman peserta kami sempat berdiskusi. Tak lama kemudian salah satu inisiator festival ili-ili ikut nimbrung di rumah tempat peristirahatan kami. Fransisca Kalista salah satu penggiat dalam pembangunan desa di Temanggung dan juga sebagai inisiator beberapa gerakan seperti pasar papringan, Kebon Jiwan dan Lebdes, menemani rasa penasaran kami dengan berdiskusi soal desain festival Ili-Ili.

Seperti diceritakan Siska panggilan akrabnya bahwa bisa dikatakan festival Ili-ili ini adalah hasil kerja kolaborasi lima desa melalui Lebdes yang dibentuk disetiap desa tersebut dengan berbagai komunitas–komunitas seni budaya yang ada di Temanggung. Berawal dari keprihatinan terhadap ancaman krisis lingkungan terutama air, festival ili-ili sebenarnya ingin mengajak kita semua untuk gugur gunung merawat sumber mata air. Dari hal itu festival Ili-ili ini bukanlah tujuan akhir tetapi awalan untuk upaya-upaya pelestarian alam Temanggung pada khususnya dan bumi pada umumnya. Ibarat sumber sumber mata air, Festival ili-ili ingin mengalirkan semangat untuk merawat alam dari hulu sampai hilir.

Siska menceritakan bahwa untuk sampai pada tahap ini, sebetulnya butuh proses yang panjang. Bahkan tidak mudah. Ia sendiri sudah hampir 7 tahun tinggal di Temanggung. Dari proses yang cukup panjang itulah ia belajar menyelami alam batin masyarakat Temanggung. Peran Siska selama ini seperti ia katakan sebagai fasilitator sekaligus desain program dalam beberapa gerakan desa termasuk di festival Ili-Ili ini. Ia berperan sebagai perajut sekaligus menjembatani lintas komunikasi dari banyaknya kolaborator yang terlibat dalam festival ini. Dan ia mengatakan suatu keberhasilan dalam semua program atau acara itu berangkat dari kesatuan visi dan makna apa yang ingin di cari. Dari hal itulah keinginan untuk tumbuh bersama dari setiap elemen masyarakat setempatlah yang sebenarnya menjadi energinya selama ini.

“Selama ini entah nama peran saya apa, yang jelas saya menemani mereka dan dari sana hidup saya lebih bermakna,” ujar perempuan dari Jawa Barat tersebut.

“Selama ini entah nama peran saya apa, yang jelas saya menemani mereka dan dari sana hidup saya lebih bermakna,” ujar perempuan dari Jawa Barat tersebut.

Menjaga Tradisi dan Seni Budaya sebagai wujud Konservasi

Hawa dingin dengan kabut putih menyelimuti pagi di hari ke dua festival Ili-ili. Sesuai susunan acara agenda pagi itu mengunjungi salah satu sumber mata air di hulu lereng Gunung Sumbing. Destinasi mata air yang akan kami kunjungi tidak jauh dari tempat tinggal kami. Tempatnya di Giripurno kami turun ke bawah bersama rombongan menggunakan angkudes menuju lapangan desa di sana. Sesampainya di lapangan kami berjalan sekitar dua ratus meter dengan jalan curam ke bawah, masuk menyusuri bantaran sungai dengan pepohonan yang masih lebat menuju sumber mata air yang terselip dalam gelapnya gua. Dalam jelajah mata air ini kami diperlihatkan bagaimana sumber mata air dialirkan ke rumah-rumah warga dengan selang-selang yang tidak begitu rapi. Ada puluhan bahkan ratusan selang berbahan plastik dengan warna yang tidak seragam menjalar panjang mengaliri rumah-rumah warga sekitar.

Seperti diterangkan salah satu petugas penjaga aliran mata air disebut penjabat Ili-ili dari pihak desa, bahwa sumber mata air di sini kebanyakan dikelola secara mandiri oleh keluarga masing-masing. Sehingga yang terjadi adalah banyaknya selang yang terlihat tidak beraturan. Petugas bagian Ili-Iii di sini bertugas pertama menjaga keberlangsungan mata air kemudian yang ke dua adalah memastikan distribusi air bersih merata kepada seluruh masyarakat. Walaupun sebagian besar untuk urusan distribusi air masyarakat mengusahakan sendiri, tetapi menurut petugas Ili-ili sumber mata air ini juga diambil oleh PDAM untuk mengalirkan air bagi masyarakat di bawah yg lebih jauh dengan sistem mekanisme pembayaran yang sudah ditentukan. Hal ini dilihat dari penggunaan selang yang lebih besar yang digunakan PDAM dalam mengalirkan air.

Peserta Festival Ili-Ili melihat kondisi mata air di daerah hulu Kec. Ngadirejo lereng Gunung Sumbing

Menurut penjelasan petugas, mata air di sini tidak pernah kekeringan walaupun di musim kemarau. Airnya tetap deras. Hal ini karena hutan alam di sana relatif masih terjaga. Tetapi kekawatiran akan ancaman krisis sumber mata air bukan tidak ada, mengingat pertumbuhan manusia yang semakin banyak secara otomatis kebutuhan terhadap air bersih semakin meningkat. Belum lagi soal alih fungsi lahan yang posisi berada lebih di atas sebagai ladang, otomatis hal tersebut akan mengurangi jumlah hutan yang sebenarnya sebagai penyangga utama sumber-sumber mata air itu agar bisa terus mengalirkan air. Status Gunung Sumbing sebagai hutan produksi bukan hutan lindung juga menjadi persoalan tersendiri ke depan, bukan tidak mungkin hal tersebut akan semakin menambah jumlah alih fungsi lahan secara besar-besaran yang artinya akan mengancam keberlangsungan mata air itu sendiri.

Dari hal itulah selepas menyusuri jejak mata air selepas dhuhur di bawah kabut Gunung Sumbing yang mulai turun Sarasehan Madya Hulu digelar. Sarasehan kali ini mengangkat tema ”Nguri-nguri Tradisi dan Seni Budaya sebagai Wujud Konservasi Lingkungan.” Dalam sarasehan kali ini terdapat 4 pemateri, pertama Mbah Sukoyo penggiat lingkungan dari Temangung, Didi Nini Towok dan Farid Stevy sebagai seorang seniman, dan Titah Aw seorang Jurnalis.

Masing-masing narasumber mengutarakan pendapatnya dengan sangat menarik. Seperti disampaikan salah satu narasumber yaitu Didi Nini Towok yang juga seorang maestro tari yang sekarang tinggal di Yogyakarta. Ia menceritakan pengalamannya setelah sekian lama meneliti berbagai jenis tari-tari yang ada di Jawa bahkan seni tradisi lainnya, ia bisa memastikan bahwa semuanya mengandung makna ritual. Makna ritual ini secara sederhana bisa dilihat dari berbagai pagelaran kesenian kita tersebut zaman dahulu selalu di pentaskan di waktu-waktu tertentu, misalnya setelah panen raya dengan tujuan mengucap rasa syukur atas kelimpahan rezeki dari Tuhan. Hal itu menunjukkan bahwa rasa keterikatan leluhur kita dengan alam sebagai sumber penghidupan merupakan bagian integral yang tidak bisa dipisahkan. Sehingga dengan nalar yang seperti itu, kesenian sebenarnya mempunyai nilai tidak hanya sebagai pertunjukan tetapi juga tuntunan untuk mengenal alam sekitar lebih tinggi adalah Tuhan.

Sementara itu Farid Stevy yang sekarang juga aktif di komunitas Resan Gunungkidul (semacam komunitas konservasi mata air dan pohon) memberi pernyataan menarik bahwa jangan sampai modernisasi menghilangkan keluhuran budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur kita. Menurutnya konservasi alam juga seharusnya dibarengi dengan konservasi nilai-nilai kehidupan yang telah diwariskan oleh para leluhur. Karena melalui nilai-nilai yang sudah menjadi tradisi yang sebenarnya lamat-lamat masih hidup tersebut, anak cucu kita nanti akan belajar bagaimana leluhur kita dahulu menjaga lingkungan sekitarnya. Karena sebenarnya nilai-nilai yang mewujud menjadi mitologi yang sering kita dapati di desa-desa tersebut mempunyai tujuan pendidikan agar kita sebagai manusia tidak sembarangan merusak lingkungan. Dan kita kaya akan nilai-nilai seperti itu.

Menurutnya konservasi alam juga seharusnya dibarengi dengan konservasi nilai-nilai kehidupan yang telah diwariskan oleh para leluhur. Karena melalui nilai-nilai yang sudah menjadi tradisi yang sebenarnya lamat-lamat masih hidup tersebut, anak cucu kita nanti akan belajar bagaimana leluhur kita dahulu menjaga lingkungan sekitarnya.

Sedangkan Mbah Sukoyo penggiat lingkungan dari daerah Krecek Temanggung menyatakan bahwa menanam adalah bagian dari laku hidupnya sebagai upaya meneruskan pesan para leluhurnya dulu. Sehingga kegiatan konservasi tidak lagi hanya menjadi gerakan yang butuh disuarakan tetapi sudah menjadi kesadaran personal sehingga termanifestasikan dalam laku kesehariannya.

Tita Aw sebagai seorang jurnalis yang selama ini dikenal melalui tulisan-tulisannya yang berusaha menarasikan tradisi dengan segala mitologi dibelakangnya mengungkapkan bahwa dalam tradisi kita banyak cerita-cerita yang mempunyai nilai-nilai tentang ajaran terkait menjaga lingkungan. Dengan terus merawat cerita-cerita yang tumbuh banyak di dalam tradisi masyarakat itulah sebenarnya tradisi mempunyai fungsi konservasi.

Kabut putih turun lebat menjadi penanda berakhirnya sarasehan madya hulu pada sore itu. Peserta kemudian diarahkan untuk kembali ke homestay untuk berpamitan dengan keluarga asuh. Sore itu juga kami berpindah lokasi ke daerah wisata situs liyangan yang berada di lereng sebelah Timur Gunung Sindoro. Agar tidak terlalu malam kami bergegas berlarian dengan petang agar kami dapat mengunjungi situs Liyangan yang konon katanya menjadi titik awal peradaban pertama di daerah Kedu Temangung.

Benar, kami sampai situs Liyangan sudah menjalang petang. Berkaitan dengan jadwal acara yang cukup padat akhirnya kami tetap melanjutkan jelajah situs Liyangan dengan salah satu tour gate yang terlihat cakap menjelaskan bekas perkampungan yang umurnya diprediksi hampir seribu tahun ini. 

Situs Liyangan ditemukan pada tahun 2005 oleh salah seorang pekerja yang sedang menambang pasir di kedalaman 8 meter. Area ini kemudian dieskavasi oleh Balai Arkeologi Yogyakarta dengan tujuan untuk observasi potensi temuan lebih lanjut. Wilayah penemuan ini kemudian semakin meluas. Seiring dengan perkembangan penelitiannya, situs ini diperkirakan merupakan pemukiman penduduk karena pada situs ini ditemukan gerabah, keramik cina, dan berbagai artefak lainnya.

Menariknya di Situs Liyangan ini ditemukan sebuah bekas lumbung yang terbakar. Hal ini dibuktikan dari adanya tumpukan artefak padi hitam yang masih bisa kita lihat sampai hari ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa budaya tanam terutama padi pada zaman itu sudah berkembang sedemikian rupa di sana. Walaupun hari ini di daerah sekitar situs Liyangan saat ini tidak ada persawahan padi lagi. Hal lain misalnya juga ditemukan struktur irigasi tata kelola air yang juga menjadi bukti bahwa pada zaman dulu kesadaran atas ruang dan pengelolaan lingkungan menjadi hal yang utama dalam membangun sebuah pemukiman lebih luas peradaban.

Gema azan Magrib terdengar bersahutan menandakan jelajah situs Liyangan sore itu harus segera kami akhiri. Tidak jauh dari situs Liyangan kami diarahkan ke homestay yang tampaknya menjadi bagian dari daerah wisata situs Liyangan. Tempatnya cukup luas, ada sekitar 6 rumah panggung yang akan kami tempati malam itu. Dan akhirnya hari ke dua kami tutup dengan meditasi menghayati segala pengetahuan yang kami dapatkan hari itu. Melalui bersentuhan langsung dengan obyek pengetahuan yang selama ini terasa berjarak dengan kami, akhirnya kami sadar bahwa banyak warisan peninggalan pengetahuan dan kearifan yang mesti kita rawat hingga berbagai warisan tersebut menghantarkan hidup kita bisa sampai sejauh ini dengan air, tanah dan udara yang masih terjaga. Lalu dengan kondisi alam kita yang sudah diambang krisis ini apakah generasi kita saat ini mampu mewariskan keindahan alam ini untuk anak cucu kita nanti? Sebuah pertanyaan yang jawabannya coba kami endapkan pada sanubari masing-masing pada malam itu.

Tradisi Sebagai Jangkar Penyelesaian Persoalan Ekologi

Hari ke tiga langit Temanggung tampak begitu cerah. Gunung Sindoro yang terpapar cahaya mentari juga begitu gagah. Hari terakhir festival Ili-ili ini akan diawali dengan sarasehan Ageng. Yang mana dalam sarasehan Ageng ini merupakan puncak rangkaian sarasehan yang digelar sejak hari pertama meliputi sarasehan alit, madya hilir dan hulu hingga puncaknya Muasyawarah Ageng. Penggunaan nama sarasehan ageng sebetulnya bukan tanpa sebab, pasalnya sarasehan kali ini bisa jadi poin terpenting dari adanya festival Ili-ili ini sebagai medium konservasi. Karena dalam sarasehan ageng kali ini semua stakeholder mulai dari pemerintah desa (kepala desa dari 20 desa di Ngadirejo), hingga pemangku kebijakan dari tingkat kabupaten dan kecamatan semua dipertemukan dalam sarasehan ini. Semuanya diajak berdialog bersama, bermusyawarah untuk merumuskan langkah-langkah apa yang harus ditindak lanjuti untuk menyelamatkan sumber mata air lebih luas keberlanjutan ekosistem lingkungan di daerah Temanggung.

Sebelum surat rokemendasi di tandangi oleh seluruh kepala desa yang ada di Kecamatan Ngadirejo. Serasehan di buka dengan dialog yang dipantik oleh empat narasumber utama yaitu Fransisca Callisata, Totok Purwanto, Rara Sekar, dan Yoyo Yogasmana yang dipandu oleh Dicky Senda. Dalam sarasehan ini fokus perbincangan membahas terkait bagaimana  pendekatan tradisi, seni budaya, dan Inklusi sosial mampu mengatasi krisis ekologi.

Sarasehan Ageng Bersama Rara Sekar, Yoyo Yogasmana, Totok Purwanto, Fansisca Callista

Beberapa poin penting disampaikan dalam sarasehan ini oleh narasumber misalnya seperti diutarakan oleh Yoyo Yogasmana dari Kasepuhan Ciptagelar yang menyatakan bahwa tradisi merupakan hukum utama untuk menjaga keberlangsungan ekosistem lingkungan di Ciptagelar. Sehingga sampai hari ini di sana kondisi alam bisa di jaga bahkan surplus kebutuhan pangan ditengah banyak wilayah lainnya dilanda kekawatiran krisis pangan dan lingkungan. Salah satu sebab utama kenapa hal itu bisa terjadi seperti ia ceritakan bahwa adanya tradisi yang masih mereka pengang kuat sampai hari ini. Karena mereka meyakini bahwa sistem tradisi yang meliputi tatakelola pertanian, hunian (rumah), sampai nilai-nilai keseharian yang mengatur mereka semuanya dibuat oleh leluhur kita mempunyai tujuan untuk menjaga keseimbangan antara kita sebagai manusia dengan alam, manusia dengan manusia lainnya, lebih jauh manusia dengan Tuhan. Dari kesadaran tradisi yang seperti itulah Kasepuhan Ciptagelar sampai hari ini masih terjaga.

Karena mereka meyakini bahwa sistem tradisi yang meliputi tatakelola pertanian, hunian (rumah), sampai nilai-nilai keseharian yang mengatur mereka semuanya dibuat oleh leluhur kita mempunyai tujuan untuk menjaga keseimbangan antara kita sebagai manusia dengan alam, manusia dengan manusia lainnya, lebih jauh manusia dengan Tuhan. Dari kesadaran tradisi yang seperti itulah Kasepuhan Ciptagelar sampai hari ini masih terjaga

Lain halnya seperti disampaikan oleh Rara Sekar sebagai seorang seniman dan aktivis lingkungan, ia menyatakan bahwa kita harus mampu memahami alasan dan tujuan di balik lahirnya suatu tradisi dan budaya. Dengan pemahaman tersebut sebenarnya akan membantu kita dalam melihat masyarakat secara lebih utuh. Dengan demikian kebijakan konservasi harusnya berpijak dari cara pandang masyarakat yang sampai hari ini masih melekat dengan tradisi.

Siska sebagai orang yang terlibat jauh dalam desain festival Ili-Ili juga menambahkan secara lebih subtantif. Bahwa memaknai segala sesuatu yang kita lihat dan lakukan menjadi sangat penting ketimbang hanya sekedar seremoni dan euforia semata. Kemampuan untuk memaknai sesuatu akan berguna bagi kita dalam memandang masyarakat secara lebih nyata dengan segala kelemahan dan kelebihannya. Dan dalam tradisi masyarakat kitalah sebenarnya energi perubahan untuk harapan lebih baik itu ada.

Selepas diskusi PLT Camat Ngadirejo M. Setyo Nusantoro di dampingi kepala desa dan perwakilan kepala desa membacakan poin-poin komitmen bersama untuk melaksanakan konservasi air di kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temangung. Dua poin utama surat komitmen bersama adalah: bahwa air adalah aspek penting kehidupan yang perlu diupayakan kelestariannya. Selain itu harus adanya upaya memaknai nilai-nilai dan filosofi yang terkandung dalam tradisi, budaya dan peristiwa masa lampau untuk kemudian disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan zaman hari ini, khususnya tentang pengelolaan dan konservasi air untuk difungsikan sebagai pijakan praktik rill konservasi.

Penandatangan surat komitment besama dipimpin oleh M Satyo Nusantoro sebagai Camat Ngadirjo

Pendatangan surat komitment bersama tersebut menjadi penanda acara sarasehan dan musyawarah ageng siang itu selesai. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan melalui proses diskusi dan belajar bareng selama dua hari dalam festival Ili-Ili menghasilkan suatu yang setidaknya kemudian nantinya dapat menjadi acuan para pengambil kebijakan sampai pada level terbawah untuk mengimplementasikan kebijakan pembangunan dan pemberdayaan yang selaras dengan visi konservasi air dan lingkungan di Kecamatan Ngadirejo.

Seperti yang disebutkan dalam paragraf awal tulisan ini, hal inilah yang sebenarnya membedakan Festival Ili-ili ini dengan jenis festival lainnya. Karena tujuan konservasi air yang menjadi tema besar dalam festival ini mampu dieksplorasi secara maksimal kemudian diwujudkan dalam konten-konten acara yang tidak hanya terjebak dalam seremoninya semata, tetapi mampu memberi satu jawaban atas persoalan yang ada di tengah masyarakat. Hal lain yang penting perlu dicatat juga adalah bagaimana unsur kebudayaan masyarakat meliputi kesenian dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya dalam festival ini tidak hanya jadi obyek eksotisme yang selalu dilihat tidak sejajar. Tetapi melalui festival ini tradisi masyarakat yang berkembang di sana, desain acara dan jawaban atas persoalan krisis lingkungan dibayangkan, kemudian diangkat marwah nilai-nilai pengetahuan dialamnya untuk dijadikan pijakan.

Hal tersebut tercermin dalam ritual Tirta Mulya Adiraja yang dilaksanakan setelah acara Musyawarah Ageng yang mana dalam ritual ini dilakukan arak-arakan air yang sebelumnya diambil dari 20 tuk (mata air) keramat dari 20 kecamatan di Kabupaten Temanggung. Air yang telah diarak kemudian disatukan dalam benjana. Kemudian setelah terkumpul air didoakan oleh para sesepuh desa dan seluruh masyarakat. Pembacaan doa ini dipimpin secara langsung oleh Salah satu tokoh agama/kepercayaan yaitu Mbah Kawat. Dari rangkaian itu kita bisa melihat bahwa dalam sebuah ritual yang sakral secara tidak langsung menjadi pengikat kesadaran manusia yang tidak bisa lepas dari dimensi spiritual. Agaknya jika kita berangkat dari banyaknya tradisi kita yang hampir semuanya mempunyai makna ritual dan spritual, festival Ili-ili tampil lebih elegan.

Akhirnya malam puncak Festival Ili-ili tiba, penampilan Rara Sekar dan Umar Hean dengan lagu-lagunya membawa pengunjung yang datang pada refleksi panjang tentang makna kehidupan. Ikhsan Sekuter juga menjadi penampil penutup malam itu. Dengan musik flok nya yang sarat akan kritik sosial, membuat orang yang datang satu lapangan larut dalam keheningan malam. Begitulah rangkaian Festival Ili-ili ini bagi saya sendiri membawa pada pengalaman untuk lebih memaknai ulang kehidupan.

Doel Rohim
Redaktur langgar.co, bergelut di PP Budaya Kaliopak. Bisa disapa via Twiter @doelrohim961 Ig: Doel_96