Keajaiban di Tepi Jalan

“Kotak ajaib” lainnya kami amsal dari rambu-rambu yang tanpa kami sadari, telah terpancang begitu saja di tepi jalan. Kebanyakan bertanda panah warna hitam, berlatar warna kuning, menikung ke kiri atau ke kanan. Persis kotak menempel di tiang. Hanya rambu dekat sekolah kami yang tampil beda: dua sosok serupa bayang-bayang tampak bergandengan tangan. Dan kami bertengkar karenanya.

“Ini tanda anak sekolah menyeberang jalan,” kata Ipul, murid paling pandai di kelasku.

“Setelah kurenung-renungkan, agaknya ini gambar kera,” kata Isul Karnaedi.

“Benar. Sekolah kita kan dekat rawa, banyak keranya,” Leni mendukung Isul.

“Ini Pak Mawan dengan beruknya,” teriak Ujang dari belakang. Ipul yang sejak tadi merasa kesal mendadak marah ketika nama pamannya yang tukang beruk (monyet terlatih pemetik kelapa) dibawa-bawa. Kami pun nyaris bertinju di bawah rambu jalan yang masih baru. Untung Pak Syahril, guru agama, kebetulan lewat dengan sepeda kumbangnya. Ia mendadak berhenti, menyandarkan sepeda lalu bergegas melerai, bukan, memarahi, kami.

Selain ketakjuban pada rambu, masih ada keajaiban lain, begitu nyata. Suatu pagi ibu membangunkanku lebih awal. Ia menuntunku ke tepi jalan. Di sana serombongan anak tampak sedang bermain sepatu roda. Mereka adalah para ponakan Pak Rajalis yang baru datang dari kota, berliburan ke desa, ke rumah sang paman, yang tak lain seorang penilik sekolah di kecamatanku. Ada empat orang anak, laki-perempuan, meluncur dengan sigap, saling salip, tapi tak saling bersinggungan siku apalagi bertabrakan. Hanya saja, karena banyaknya lobang jalan, beberapa kali mereka tampak hampir jatuh, membuat dada kami berdebar-debar. Tak jarang mereka menyumpah sambil membandingkan jalan kami dengan jalannya di kota. Apa pun, tanpa terasa, kami, anak-anak kampung, telah berbaris menonton di tepi jalan, lupa mandi ke sekolah. Sebagian masih melilitkan handuk atau berselempang kain sarung di bahu. Ah, keajaiban selalu ada pada yang baru, dan itu menyenangkan!

Tak jarang mereka menyumpah sambil membandingkan jalan kami dengan jalannya di kota. Apa pun, tanpa terasa, kami, anak-anak kampung, telah berbaris menonton di tepi jalan, lupa mandi ke sekolah. Sebagian masih melilitkan handuk atau berselempang kain sarung di bahu. Ah, keajaiban selalu ada pada yang baru, dan itu menyenangkan!

Tapi ada pula hal biasa yang tak kalah menyenangkan, dan itu terasa istimewa, ialah menunggu lewat truk tanki Pertamina yang sopirnya mirip Rhoma Irama. Rambutnya keriting, bercambang lebat dan mukanya bulat khas bulan purnama. Gempal tubuhnya persis, terlihat menyumbul dari kaca bertulisan “Dilarang Menumpang” dan “Dilarang Merokok” itu. Pakaiannya selalu necis. Kadang ia sengaja berkacamata hitam, memakai peci haji, jadi persis betul artis idola kami. Jika ia melintas kami akan berteriak,”Bang Rhoma!” Bahkan Ujang sampai mencabut poster kakaknya di kamar, lalu poster film “Menggapai Matahari II” itu kami rentang saat ia lewat. Namun ia tak menoleh sedikit pun. Tampak betul ia menjaga wibawanya. Kami dibuat penasaran.

Sampailah suatu hari, truk tanki “Bang Rhoma” menabrak sapi Uni Jani. Kaki sapi itu patah. Para pemuda berhasil menghentikan “Bang Rhoma” dan memaksanya turun untuk berunding. Semua orang, tua muda, laki-perempuan, berduyun-duyun mendatangi rumah kepala desa Thamrin, tempat perundingan berlangsung alot. Kabar menyebar,”Ada Rhoma, ada Rhoma…”

Perundingan itu akhirnya selesai juga. “Bang Rhoma” merasa mati langkah didatangi orang sekampung—padahal mereka datang karena penasaran dan sebagian untuk memujanya. Permintaan Uni Jani yang minta ganti tiga karung padi, dikabulkan. Uni Jani bertekad akan membesarkan si anak sapi dengan membuatkan kandang khusus. Maklum, anak sapi itu masih kecil, belum bisa dijual atau disemblih.

Sejak peristiwa itu, tiap kali lewat, “Bang Rhoma” akan menekan klakson, kadang melambai, pada orang yang ia jumpai duduk di pos ronda atau lapau kopi. Tapi bersamaan dengan itu, entah kenapa, rasa penasaran kami pupus sudah sehingga kami tak tertarik lagi padanya.

Dalam Perangkap Jalur Membenam

SEMENTARA dunia berputar cepat di kotak ajaib kami, berkelabat seperti “Dunia Dalam Berita” dan bergema seumpama syair OM Soneta di acara “Aneka Ria”, kehidupan di jalan malah bertambah lambat. Ruas jalan rusak parah. Remuk-redam. Bandingannya hanya pada masa bergolak—PRRI, setidaknya begitu cerita kakek-nenek kami. Aku sempat merasakan akibatnya. Setamat SMA, aku mulai ikut membantu paman Kodis membawa teri super ke Padang. Jika jalan baik, perjalanan dengan mobil pick-up itu bisa tuntas dalam hitungan jam, tapi kini nyaris seharian. Celakanya, suatu kali di Siguntur Tua, mobil kami terjebak lumpur. Semalaman kami berjuang mengeluarkannya, sia-sia.

Paginya, dari halaman sebuah rumah ada seorang perempuan menyapa. Senyumnya akrab serupa fajar, namun tak kukenal. Lama kugosok mataku untuk akhirnya sadar bahwa perempuan yang  anak itu tak lain Masyitoh, kawan SMP-ku dulu. Lama sekali kami tak bertemu. Orang tuanya bukan asli orang kampungku, hanya mereka pernah lama tinggal di rumah Dubalang, tak jauh dari rumahku. Ada yang bilang keluarga Masyitoh kerabat jauh Pak Dubalang. Baru naik ke kelas tiga, Masyitoh dibawa pindah oleh orang tuanya, entah ke mana. Aku ingat, Masyitoh punya dua adik, satu masih kecil dan aku tak tahu namanya, sedangkan yang SD bernama Itos—anaknya jago catur.

Kini dalam kelelahan di jalan, Masyitohlah yang kemudian melayani kami dengan makan-minum, handuk bersih dan kain sarung yang sengaja diambilkan dari dalam lemari—terendus dari aroma kapur barus.

“Begini hidupku sekarang, Kudal, mengurus anak-anak,” katanya tanpa kuminta. Ia cerita, setamat SMP ia tak melanjutkan sekolah lagi sebab dikawinkan ayahnya dengan anak seorang haji.

“Jadi, ke Siguntur ini dulu kau pindah saat naik ke kelas tiga?” tanyaku sekedar bernostalgia.

“Bukan. Dari sekolah kita di Taluak, kami dibawa ayah ke Lubuak Aluang. Di situ aku menamatkan SMP dan Itos menamatkan SD. Setelah itu ayah ke sini, membuka kedai nasi di kelok sana, tapi keburu tutup,” ia menunjuk sebuah rumah makan yang nyaris runtuh, ditinggalkan. “Tapi di sinilah aku bertemu anak Pak Haji…” ia menunduk.

“Oya, Itos di mana sekarang?” cepat aku beralih tanya.

“Ia STM di Padang, padahal ingin jadi tentara,” ia tertawa tertahan, terdengar seperti dari lorong yang jauh.

“Kau beruntung punya suami, anak-anak dan rumah yang besar, Ita. Kapan suamimu pulang?” tanyaku akhirnya, antara canggung dan asing.

“Biasanya tiga hari. Kami punya truk yang biasa membawa getah gambir daerah sini ke Padang, lalu mencari tambahannya ke Pangkalan, Kotobaru. Sejak jalan rusak perjalanan bisa jadi lima hari bahkan seminggu. Tapi pagi ini ia akan pulang, nanti kuminta ia membantumu,” katanya.

Aku meliriknya; pandangan kami beradu. Dia secantik dulu, saat kami saling tak berani menyatakan isi hati.

Belum habis pagi, tiba-tiba terdengar truk menderu memasuki halaman. Masyitoh menepati janji. Suaminya bersama anak buahnya membantu kami. Bertahun-tahun kemudian, aku bertemu sebuah buku usang yang kubaca berulang, Jalur Membenam karya Wildan Yatim. Aneh, aku merasa pengarang Sidempuan yang tinggal di Bandung dan juga ahli Biologi itu seolah bercerita tentang diriku!

Hutan yang Rusak dan Badak-badak

KETIKA usiaku terus bertambah dan kupikir sudah seharusnya pergi meninggalkan kampung, truk-truk pembawa kayu gelondongan kian merajalela di jalanan. Menghantui dan meneror kepala siapa saja. Terlebih kemudian truk-truk itu meraung dalam kubangan. Badan jalan sudah merosot betul kondisinya lantaran tiap hari dilintasi beban berat tak berampun. Kondisinya persis kubangan kerbau, kubang babi atau…kubangan badak-badak!

Ya, badak! Binatang berjangat tebal itu jadi ungkapan buruk di kampungku: muka badak, pekak badak. Itu buat orang keras kepala dan tak tahu malu. Di sekolahku dulu, jika kami susah diatur, kepala sekolahku lantang berteriak,”Semuanya dengarken, kecuali bagi yang pekak badak!”

Begitu pula menjelang pemilihan bupati, kencang beredar pendapat bahwa daerahku mesti tetap dipimpin orang berlatar belakang tentara, seperti biasanya. Ketua DPRD kami (waktu itu pemilihan oleh mereka) tentu saja sepakat. Orang daerah kita masih banyak yang pekak dan bermuka badak, jadi perlu digebrak, begitu katanya. Karuan jadi ramai di koran-koran. Padahal dari sebuah buku yang kubaca di perpustakaan sekolah, aku tahu, badak justru hewan yang sangat peka dengan gerak, suara dan cahaya.

Tapi itulah manusia seenaknya bikin umpama. Dan itulah yang terjadi, namun dalam amsal berbeda. Di tengah gerahnya kampung kami menghadapi truk pengangkut kayu, para pemuda mulai nekad menyetop truk atau melemparnya diam-diam. Beberapa kaca truk pecah dan serombongan pemuda ditantang berkelahi oleh sopir truk kayu yang pongah. Suatu malam, aku ikut melempar sebuah truk. Dari jauh kami sudah melihat silau lampunya menyorot seisi kampung. Dadaku berdebar kencang, telingaku tegak; mungkin seperti seekor badak menghadapi ancaman. Kami berempat—aku, Sihem, Isul dan Nedi—menunggu di Jembatan Tajun, tempat yang lengang. Begitu truk masuk jembatan, Nedi berbisik memberi aba-aba, dan serentak kami lemparkan batu-batu dalam genggaman, sebagian kami bungkus dalam kain sarung. Terdengar kerontang besi beradu. Lalu suara berderai yang keras, seolah desau pelepah tua jatuh melayang dari pohon kelapa. Itu bunyi kaca yang pecah. Kaca depan truk itu menganga, memperlihatkan wajah sopirnya yang kaget, tapi segera berubah murka.

Dadaku berdebar kencang, telingaku tegak; mungkin seperti seekor badak menghadapi ancaman. Kami berempat—aku, Sihem, Isul dan Nedi—menunggu di Jembatan Tajun, tempat yang lengang. Begitu truk masuk jembatan, Nedi berbisik memberi aba-aba, dan serentak kami lemparkan batu-batu dalam genggaman, sebagian kami bungkus dalam kain sarung.

Truk berhenti di tengah jalan. Dan kami, dari pokok rumbia, segera mengambil langkah seribu, melewati hutan sagu, rawa-rawa penuh lintah hingga sampai ke rumah Ikal tempat kami biasa bermalam. Sesampai di situ, kami cuci kaki, lalu dengan berkelumun kain sarung di atas tikar, kami segera pura-pura tidur seolah tak terjadi apa-apa. Sementara di jalan orang-orang dibuat heboh, dan sopir truk beserta kernetnya menyumpah-nyumpah menyebut nama hantu blau dan sejenisnya. Masing-masing orang tua berusaha mencek anak-anaknya di tempat bermalam mereka, di surau atau rumah-rumah tetangga. Semua aman. Semua anak terbukti tidur nyenyak malam itu.

Namun setelah beberapa kali peristiwa serupa terjadi, polisi mulai turun tangan, dan dengan gampang membaca modus anak-anak muda kampung kami. Jika ada terkabar truk dilempar, polisi akan membangunkan semua anak atau pemuda yang tidur di surau dan rumah-rumah tempat mereka biasa tidur bersama. Cukup dengan menyigi mata kaki kami dengan senter atau membawanya ke bawah tiang listrik, si polisi sudah bisa dengan yakin mencekal lengan kami ke atas pick-up. Ternyata mereka menandai dari basah atau tidaknya kaki kami, atau sisa lumpur yang belum sempurna dibersihkan. Beberapa beralasan baru saja melaksanakan sholat tahajud, tapi si petugas peduli apa? Dengan begitu, banyaklah pemuda yang dijemput polisi, lengkap dengan ancaman dan gertakan. Mereka ketakutan, sebagian memilih lari, merantau jauh, dan dunia kembali bungkam.

Tapi saat itulah, binatang bercula dan berjangat tebal itu muncul ambil bagian!

Bagaimana caranya? Bermula dari berita tentang perburuan hewan langka di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Koran Padang maupun Jakarta menjadikan nasib tragis badak sumatera, hewan langka itu, sebagai berita utama. Dan itu sangat sakti mandraguna ternyata! Sebab, dengan lihainya, sekalian wartawan punya celah mengungkap pembalakan kayu—hal yang sebelumnya tak tersentuh. Laporannya dibuat bersambung dan beritanya seolah berseri, berhari-hari. Judul-judulnya juga dibuat mencolok. Akibatnya, bupati kami dipanggil ke Padang, sebagian orang bilang ke Jakarta, entah oleh siapa dan untuk apa. Betul-betul mustajab. Truk kayu mulai jarang melintas bahkan lalu berhenti sama sekali. Truk terakhir yang kulihat sempat terperosok lobang yang dalam, tertahan hingga 2 x 24 jam. Tak seorang pun yang mau menolong. Sopir dan kernetnya yang biasanya selalu memasang tampang pongah, dengan rokok mahal di tangan, kali itu benar-benar menderita. Hujan turun, dan ia tampak seperti dua ekor musang yang kuyup. Benar-benar akhir masa yang menyedihkan. Tak ada juga pertolongan dari mobil derek kiriman bos mereka dari kota. Hanya karena dianggap mulai mengganggu kendaraan lain yang lewat, akhirnya orang kampungku turun tangan membantu mendorongnya beramai-ramai. Sopir truk, dengan sisa senyum yang renyai, pamit diri dan aku melihat seekor badak seolah melintas di dalam matanya.

Sejak hari terakhir melihat truk kayu, agaknya kami semua telah berterima kasih pada badak, meski ia terlanjur kekal dalam ungkapan yang tak layak. Bertahun-tahun kemudian, di sebuah ruang arsip perpustakaan Ibukota, aku dapati banyak berita tentang penembakan badak di daerahku. Bukti bahwa kasusnya pernah heboh, meski mungkin tak seriuh cicak-buaya yang dulu juga heboh, atau perkara saham gunung emas Papua. Salah satu majalah membuatku terhenyak. Di halaman utamanya, terdapat karikatur (mantan) bupati kami dalam pakaian dinas, lengkap dengan tanda pangkat, tapi berkepala badak!

Tapi bagaimanapun hutan kami telah rusak, binasa. Musim hujan banjir melanda kampung. Sawah-sawah terendam, air menjilat-jilat lantai rumah di atas tiang dan meluber ke jalan raya. Ikan-ikan rawa atau air tawar berkecipuk, berloncatan, sebagian menggelepar ke atas lantai papan yang hampir serata air. Tinggal mengulurkan tangkai tangguk dari langkan, maka ikan-ikan gabus sebesar lengan orang dewasa akan kami dapatkan berember-ember. Juga ikan puyu, mujair dan saribulan, semua ada, membuat kami sampai bosan menyantapnya. Apalagi adik-adik kami sering diolok-olok anak kampung sebelah, dekat pasar, bahwa memakan ikan puyu—yang sesungguhnya sangat lezat itu—membuat otak jadi bodoh.

Jika banjir sudah tak terbendung lagi, tak ada yang bisa kami makan kecuali kembali dengan nikmat menyantap ikan-ikan tangkapan kami. Bahkan kami pun tak bisa berdiam di atas rumah karena air yang keruh sudah menghanyutkan tangga dan menggeser tiang dapur. Badan jalan yang lebih tinggi terpaksa kami jadikan tempat mengungsi. Itu masih untung, ketimbang tempat lain yang diamuk galodo, yakni banjir besar disertai longsor, lumpur dan tunggul kayu. Pernah saat banjir besar, serombongan orang datang memotret kami. Yang lain bertanya tentang keadaan pengungsi. Konon mereka wartawan. Beberapa hari kemudian orang sekampung heboh melihat foto kampung kami masuk koran. Mereka antri membacanya di rumah kepala desa.

Tak dinyana, aku dan ibuku ada di dalamnya. Aku sedang membungkuk mendaras lumpur di badan jalan, sedang ibuku berdiri tegak memegang periuk kosong (mungkin juga dengan perut kosong).

Aneh, orang-orang di kampungku percaya, kalau sudah masuk koran, katanya bakal ada pembangunan! Begitukah?

“Orang-orang Proyek”

BEGITULAH ternyata—entah benar ada hubungannya atau tidak—entah berapa tahun setelah foto kami dimuat koran, lambat-laun mulai terasa ada pembangunan. Orang-orang sering menatap kami dengan isyarat mata berterima kasih. Entah terima kasih untuk apa. Apakah mereka merasa kami pahlawan? Padahal aku merasa hanya kebetulan. Wartawan itulah yang lebih berhak dianggap pahlawan, meski tentu saja kami tak akan menemukan seorang pun wartawan dalam hari-hari di kampung yang terkurung.

Akhirnya masa itu benar-benar tiba. Angin perubahan datang bersama orang-orang proyek, dengan deretan truk beserta mesin-mesin besar yang aneh-aneh bentuknya. Pelaksana proyeknya sebuah perusahaan yang kuingat namanya: BSP—entah akronim dari apa. Perusahaan ini membuat pangkalannya di sebuah tanah lapang di ujung kampungku, Taratak-Pandakian. Di sana dibangun rumah-rumah bedeng untuk pekerja, satu-dua rumah yang agak besar, agaknya diperuntukkan bagi mandornya atau yang membawa keluarga. Di tengah-tengah lapangan terdapat alat-alat penggilingan pasir dan batu, besar dan berderak-derak, dengan cerobong dan pipa hisap yang mengulur serupa dahan pohon di hutan.

Jalan diperbaiki, lobang-lobang ditimbun dan diaspal, sebagian diperlebar, beberapa jembatan diganti. Kendaraan pemadat jalan (kami sebut “mesin giling”), kendaraan pengeruk (“mesin cangkuk”) dan kendaraan yang bisa meratakan permukaan jalan (“mesin bajak”) siap-sedia turun arena. Sementara puluhan truk dengan moncong panjang dan bak yang bisa menjungkit sendiri (kami sebut “oto kopan”), hilir-mudik dengan air menetes-netes dari pasir dan batu yang mereka ambil di Kayu Gadang, bagian hulu Batang Surantiah. Para sopir truk itu suka bicara keras dan tertawa terbahak-bahak, tapi sebenarnya senang bergaul. Mereka sering menjadi tumpangan bapak-bapak yang punya urusan ke kecamatan atau anak-anak yang berangkat sekolah. Sebagian lagi dari mereka tampak lebih lunak, tapi liat, dengan wajah selalu seperti tersenyum. Mereka bercampur, berbaur. Yang satu suka mengucapkan “bah” dengan lantangnya, sebagian lagi suka bilang “sontoloyo” dengan mata mengerjap jenaka. Ah, merekalah abang-abang dari Batak dan mas-mas dari Jawa yang bisa hidup dalam satu bedeng sebagai orang-orang proyek!

Mereka bercampur, berbaur. Yang satu suka mengucapkan “bah” dengan lantangnya, sebagian lagi suka bilang “sontoloyo” dengan mata mengerjap jenaka. Ah, merekalah abang-abang dari Batak dan mas-mas dari Jawa yang bisa hidup dalam satu bedeng sebagai orang-orang proyek!

Berkat orang-orang proyek yang bekerja siang-malam, rumah-rumah makan tumbuh di sepanjang jalan kampungku. Sebagian bertahan dengan lapau kopi yang kian hidup dan ramai. Satu dua kali terdengar kabar bahwa Si Abang main mata dengan gadis rumah makan; sesekali terloncat berita, dari bisik ke bisik, bahwa Si Mas menjalin cinta dengan janda penunggu lapau kopi. Semua itu ditanggapi wajar oleh orang kampungku, bagai angin lalu di sela rumput dan gelagah, sudah semestinya ada yang bergoyang, menggoda. Akan tetapi ada satu berita percintaan yang ditanggapi tak biasa. Ialah ketika Mandor Herman terkabar hendak meminang Si Neli, gadis manis anak Pak Lemu yang tinggal tak jauh dari base-camp BSP. Apa yang menjadi perbincangan orang-orang, juga dari bisik ke bisik, adalah kenyataan Si Neli sudah bertunangan dengan Si Tando, anak Etek Limah. Malangnya, Tando sedang merantau ke Malaysia, dan sialnya, orang tua Neli menerima pinangan Sang Mandor!

Sebagian lain berbisik-bisik,”Eh, apa si Abang dikhitan?”

“Kenapa tidak?”

“Dia kan Batak.”

“Bah, Batak Sidempuan si Abang mah!” jawab rekannya dari Jawa.

“Lagian, kalau pun tak sunat, dapat gadis secantik Neli ia pasti mau disunat,” kata seorang lain, dan mereka lalu tertawa bersama-sama.

Begitulah, tak ada yang bisa melerai cinta mereka, kecuali jika Tando bersegera pulang. Tapi itu tak kunjung terjadi, sampai jalan di daerahku selesai dibangun. Konon, Tando memang menyerah, tak mau pulang ketika mendengar gadisnya diincar orang, sebab ia tahu selama ini Mandor Herman telah memberi banyak “pinjaman” uang buat keluarga Neli. Dan itu tak mungkin bisa ia tebus dengan keadaan yang masih merana di rantau orang. Begitu orang-orang proyek bubar, Si Neli digunggung dibawa terbang oleh Mandor Herman ke Medan, berbarengan dengan usainya satu-dua percintaan abang-abang dan mas-mas dengan perempuan kampung kami—semua kembali ke keadaan semula. Si Tando pun pulang dengan mata tak lagi basah, sebab katanya ia sudah belajar melepaskan orang yang dicinta ketika mendengar kiamat dini bagi percintaannya. Sebaliknya, mata ibu-ibu di kampung kamilah yang dibuat basah, haru melihat Tando, rida menerima segala tiba.

Hingga setahun kemudian, tiba pula saat yang tak terduga. Pada suatu malam sehabis hujan badai, sebuah bus malam berhenti di muka rumah Pak Lemu. Cahaya lampu bus mengkilap dipantulkan aspal jalan yang masih baru. Segera saja bagai kelekatu orang-orang kampungku merubung bus, sumber cahaya itu. Siapa yang pulang? Perantau mana yang datang? Ini bus malam, bus jauh. Sebagian orang mendongakkan kepala, dan segera tahu siapa gerangan yang turun: Si Neli, perempuan kampung kami. Kenapa ia sendiri? Dan meski berpakaian kedodoran, orang-orang tahu belaka perempuan itu sedang mengandung, mungkin anak pertama.

Siapa yang pulang? Perantau mana yang datang? Ini bus malam, bus jauh. Sebagian orang mendongakkan kepala, dan segera tahu siapa gerangan yang turun: Si Neli, perempuan kampung kami. Kenapa ia sendiri? Dan meski berpakaian kedodoran, orang-orang tahu belaka perempuan itu sedang mengandung, mungkin anak pertama.

Setelah Neli turun beserta sedikit barang bawaannya, bus segera melaju, dan setelahnya, di depan pintu meledaklah tangis sepasang perempuan. Ibu dan anak. Apa yang terjadi? Malam itu juga orang-orang segera tahu jawabannya. Neli nekad meninggalkan Medan karena Si Abang kerap menyakitinya, semacam kompensasi yang sulit dimengerti. Puncaknya, Si Abang diciduk polisi karena kasus suap-menyuap, sebagian orang berbisik,”Korupsi!”

Aku semakin terang mengingat kisah ini kembali, saat membaca novel Orang-orang Proyek Ahmad Tohari, seakan aku diajak pulang ke pangkal jalan, di mana selalu ada benang kusut yang minta dibereskan. Direnungkan.

Bus Siang, Bus Malam

BERKAT jalan panjang yang dibangun, kami pun seolah terbangun dari tidur panjang. Kampung terasa berseri seolah dirayapi sebentang makhluk halus yang meliuk membawa segalanya melaju. Dan yang lebih menggairahkan: bus-bus lewat berpacu. Bus-bus itu lintas dua kali sehari, jumlah busnya juga bertambah banyak. Pagi, bus berpacu ke Kota Padang masuk Terminal Lintas Andalas yang beradu pinutu dengan Pasar Raya; sore kembali ke pangkalannya di kota kecamatan yang tersebar di selatan: Kambang, Balaiselasa, Airhaji, Indrapura, Tapan hingga Lunang-Silaut di perbatasan Bengkulu. Nama-nama beserta rupa dan warna bus masih berkelabat di kepalaku hingga sekarang: Budi Jaya, Painan Indah, Sinar Lengayang, Sinar Bulan, Gunung Kulam, DMB, Erlindo, Mansiro, Mustikarila, Habeco…

O, juga klaksonnya yang minta minggir! Walau teleng karena beban, larinya tetap kencang.

Suatu kali, dari jendela rumah papanku yang menghadap jalan raya, aku berteriak mengusir tupai di pohon kelapa,”Hoi, tupaiii….pergi tupai!” Tak dinyana, sebuah bus yang melintas mendadak berhenti. Rupanya mereka mengira teriakanku itu suara orang menyetop bus!

Kututup jendela dengan hati puas. Begitulah kalau busnya kosong, mereka akan berburu penumpang. Coba jika penuh, menoleh pun sopirnya tidak. Aku tahu lantaran kerap membantu orang menyetopkan bus, salah satunya Wak Kaidir. Ia tak pernah berani.

“Rasa mau ditabraknya saja kita,” katanya.

“Terus, bagaimana Wak menghentikannya saat pulang?” tanyaku.

“Selepas Jembatan Tajun, awak picingkan mata dan berteriak,Sini satu, Pir!”

Meski berteriak dari jauh, bus tumpangan Wak Kaidir tetap berhenti di tempat yang terlewat. Itu saking kencangnya lari bus. Maklum, ketika bus-bus jumbo dengan bodi keluaran “New Armada” Magelang menguasai jalur utama, jalan baru saja selesai total diperbaiki oleh “orang-orang proyek”. Sopir bus seakan “balas dendam” dari keterpurukannya selama ini.

Sementara itu bus-bus malam antar propinsi berjalan lebih pelan, mungkin karena ukurannya lebih besar, tambah menjulang dengan beban di atapnya. Menakjubkan. Ia seolah muncul begitu saja dari balik kelam. Hanya mereka yang berjaga hingga larut yang akan menjumpainya. Tujuannya Padang-Sungaipenuh, Padang-Bengkulu atau Medan-Bengkulu (Di bus malam itulah dulu gadis kenalanku dan gadis kenalan Ujang Meren pernah menumpang, kemudian tidak lagi, bahkan setelah jalan kami diperbaiki). Aku sering tergeragap menyaksikan bus-bus malam lintas satu-persatu. Anak Gunung, Cahaya Kerinci, Bengkulu Indah, Bunga Setangkai, Mawar Selatan, itu nama-nama yang menyeruak kenanganku. Bertambah kekal kenangan, tiap teringat bahwa aku dan Ujang pernah terus membayangkan gadis kenalan kami melintas.

Sejumlah bus pernah mengalami kecelakaan di Bukit Batu Biawak, Bukit Pulai atau Bukit Jaring Punai dan Kelok Awas di selatan—ini agak mengerikan untuk dikenang, tapi selalu terkenang. Cerita tentang kecelakaan itu menyebar cepat dibawa orang lewat, dan berkembang bercabang-cabang. Misalnya, bagaimana bus Mustikarila yang disopiri Oyon, pemuda Pasar Surantih, jatuh di kelok yang tak terlalu patah (biasa disebut “tikungan manis”) dan jurangnya pun tidak terlalu dalam, tapi makan banyak korban. Sebelum kejadian, Oyon bertengkar dengan kakak perempuannya yang menyumpahinya supaya dia mati masuk jurang. Kata yang lain, Oyon habis minum-minum di kedai nasi. Ada pula yang bilang, di sampingnya duduk janda Dahlimar, membuat Oyon kepayang oleh minyak wangi dan gerai rambutnya. Entah mana yang benar. Yang jelas, dua orang kampungku ikut jadi korban. Pertama uni Tiar, kakinya patah dan ia jalan bertongkat sejak itu. Kedua, Pak Bakir, pinggulnya patah dan ia menceracau menyebut nama sekalian makhluk sebelum matanya kekal tertutup.

Selain itu, ada pula bus Cahaya Kerinci jatuh ke jurang setelah sopirnya, konon, melihat makhluk tanpa kepala di tikungan. Tujuh orang meninggal. Beberapa waktu sebelumnya, mobil keluarga Nain jatuh di Kelok Baimin, dalam perjalanan menonton sirkus ke ibukota kabupaten. Kelok Baimin merupakan kelok paling tajam di Bukit Taratak. Aku baru sempat melihat keloknya langsung setelah menjadi remaja tanggung dengan suatu laku takjub yang tidak dibuat-buat. Aku sentuh dinding pengamannya dengan tangan bergetar (satu di antaranya pecah karena ditabrak datsun Nain). Nama “Baimin” berasal dari lafal sebutan “pagar semen” ini. Sebelumnya, hanya dapat kubayangkan dari cerita orang. Keloknya patah seperti siku, kata Munui, sambil membengkokkan sikunya. Sempit diapit bukit dan jurang, kata Mansur seraya merapatkan kedua telapak tangannya. Sudah keloknya siku dan sempit, menanjak pula, tambah Kodin sambil mengangkat tangan membuat sudut teramat miring.

Di kelok itulah mobil Nain jatuh. Istrinya yang sedang hamil tua tewas, dan cerita berkembang ke mana-mana. Konon si istri menjelma arwah penasaran yang membuat Kelok Baimin menjadi angker untuk sekian lama.

Ah, bus juga akhirnya yang membawaku pergi. Setelah beberapa tahun luntang-lantung di kampung setamat SMA, dan sesekali ikut membantu paman Kodis mengantar teri ke Padang atau Pekanbaru, saatnya aku menyerah. Mungkin seperti Tando yang menyerah. Atau persis pamanku yang perlahan juga menyerah, sebab setelah jalan mulus-lancar, saingan usaha ikan kian banyak. Apalagi yang kami punya jika bukan kehendak untuk menyerah dan segera mencari medan laga baru untuk bertarung? Jadi, begitulah, sebagaimana lazimnya adat di kampung, bila kubangan telah kering, saatnya terbang jadi bangau mencari kubangan lain ke sebalik bukit atau kaki gunung: ke seberang, ke rantau jauh, ke negeri orang…

Kawan-kawanku datang bertandang, dan bertanya,”Naik bus apa kau berangkat, Kudal? Bus siang atau bus malam?” Itu untuk memastikan apakah aku akan pergi jauh atau dekat. Jika naik bus siang berarti aku akan pulang cepat, ibarat “merantau di celah dapur”; bila naik bus malam artinya aku akan merantau ke luar daerah, bahkan luar pulau, dan pulangnya bakalan lama atau sekalian “merantau cina”.

“Naik bus siang dulu, nanti sesampai di Padang baru naik bus malam,” jawabku.

Mereka berpandangan. Tak lama pecahlah gelak-tawa.

“Kapindiang! Itu tak ada dalam kamus kita,” Ikal menuding, dan mulailah kami saling bertikam kata. Kata-kata yang terasa terus bergema bahkan ketika bus membawaku berlari, jauh di jalan masa kecilku, memanjang hingga ke masa remaja, membawa segala yang melintas di atasnya.

 

***

KINI, jalan masa kecilku dan segala yang melintas di atasnya itu, sejatinya tak banyak berubah. Atau, ia menyusut ke masa lalu?

Bila sesekali pulang ke kampung, dari Kota Padang (ini kota satu-satunya di dunia yang tak punya terminal, kata kawanku), maka akan kulihat tikungan demi tikungan menyusut pelan-pelan. Apa yang dulu menakjubkan, ternyata sekarang tak lebih sebuah kelokan yang dilalui sopir travel—pengganti bus—sambil bersiul memegang kemudi sebelah tangan. Bahkan aku tak sadar mobil travel plat hitam yang kutumpangi telah melewati Bukit Batu Biawak atau Bukit Pulai yang dulu terasa sangat curam. Apakah karena tanjakannya sudah dipapas, jalan diperlebar atau jenis kendaraannya yang baru? Mungkin begitu.

Tapi satu hal tak berubah: jalinan batin tak bertara. Persis hubunganku dengan Masyitoh. Tiap kali kembali ke kota, selalu kubayangkan ia berdiri di halaman rumahnya yang luas seolah ia ikut melepasku. Setelahnya, aku seperti terhempas ke jalur-jalur yang membenam, menarik kenanganku, dalam, dalam…

 

(Oktober 2015-April 2016-Juni 2020)


(Versi pendek cerita ini pernah dimuat Koran Tempo. Digarap ulang dalam versi panjang–sebuah versi lain– dengan banyak revisi, tambahan, dan ‘tikungan’).