Suluk Sang Salik: Mengulik Jati Diri Melalui Filsafat Islam Nusantara

Bulan Ramadhan kemarin, saya mengikuti kegiatan Ngaji Posonan 2021 yang diadakan Pondok Pesantren Budaya Kali Opak dengan tema Islam Berkebudayaan: Jalan Menuju Diri Secara Kosmopolitan. Acara ini awalnya diagendakan berjalan selama tujuh belas hari dari tanggal 16 April-02 Mei, namun karena ada sesuatu hal terpaksa kegiatan ini dipercepat satu hari. Kegiatan ini diikuti dari berbagai macam golongan, ada yang dari mahasiswa, filolog, aktivis, santri dan sebagainya.

Pematerinya sendiri tidak main-main, mulai dari kiai, sejarawan, budayawan, saintis, dosen dan sebagainya. Mungkin dalam hal ini saya akan sebutkan satu persatu mulai dari Kiai Jadul Maula, Nur Khaliq Ridwan, Irfan Afifi, C Hollan Taylor, M. Yaser Arafat, Madha Soentoro, Afthonul Afif, Kiai Nasiron, Labibah Zain, Inyak Ridwan Munzir, Argawi Kandito, dan Muhyiddin Basroni. Seperti yang tertera, mereka semua menggodog kami layaknya cantrik yang sedang bertapa di dalam kawah candra di muka.

Tentu hal ini tidak berlebihan karena pada hakikatnya ngaji posonan kali ini bagaikan suatu kawah candra dimuka bagi para cantrik untuk menemukan ke-diri-annya secara kosmopolitan dalam menghadapi perkembangan zaman. Artinya, sebagai manusia modern kita dituntut untuk bersifat kritis apa yang datangnya dari luar dan mandiri, serta melakukan dinamisasi untuk diri sendiri. Mengutip apa yang dikatakan oleh K.H Achmad Shidiq al-muhafazha al-qadimish shalih wa akhdzu bil jadidil ashlah.

Dengan begitu diharapkan para cantrik yang mengkuti ngaji posonan mampu mengenal asal usul dan  menemukan ke-diri-annya melalui Islam Bekebudayaan seperti yang tertera dalam tema. Salah satu materi di mana kita diajak untuk menemukan asal usul ke-diri-an kita bertajuk Filsafat Islam Nusantara yang dipaparkan oleh Irfan Afifi. Perjumpaan penulis dengan Irfan Afifi adalah perjumpaan yang bersifat mistik (dalam artian) tidak terduga dan bagi penulis sendiri  Irfan Afifi adalah salah satu guru, kiai, atau begawan, tatkala ada suatu problem lebih khsusus masalah ilmu pengetahuan penulis selalu datang ke Langgar meminta saran dan arahan.

Saya rasa malam itu adalah malam yang panjang dari malam-malam sebelumnya, pembahasan mengenai Filsafat Islam Nusantara paling lama dan paling meng-klik kesadaran alam bawah sadar penulis. Pasalnya, apa yang disampaikan oleh Irfan Afifi bak kilat cahaya yang menyinari nalar penulis yang selama ini masih tertutup gelapnya arus pengetahuan. Saya menyadari selama menekuni dunia filsafat sejak S1 sampai sekarang sedang menempuh gelar Magister di bidang Filsafat Islam, belum menemukan falsafah bangsanya sendiri yang kaya akan khazanah Filsafat Islam.

Dimensi ke-Diri-an Jawi

Awal mula, Irfan Afifi juga menyampaikan kegelisahnnya yang hampir mirip-mirip dengan kegelisahan penulis selama ini. Ia mengutarakan bagaimana terdapat suatu pergolakan pemikiran dan keinginan yang terjadi di dalam diri sendiri karena basik latar belakangnya dari dunia pesantren yang sangat kontradiktif dengan pendidikan UGM yang bersifat sekuler. Selama pergolakan itu, ia berusaha menjauhi dunia spritualitas (agama). Namun, ia menandaskan semakin kita menjauhi agama maka kita semakin mendapat tarikan yang begitu kuat dari spiritualitas (agama) itu sendiri.

Sesungguhnya ini adalah pesan dari sang begawan (Irfan Afifi) untuk para cantrik supaya tidak meninggalkan dimensi spiritualitas yang sudah melekat dalam diri manusia dari bangsa Timur. Inilah pentingnya bagi para cantrik untuk belajar falsafahnya sendiri yang selama ini sudah menghilang akibat politik pengetahuan yang dilakukan oleh kaum kolonial. Tema Filsafat Islam khususnya Islam Nusantara memang menjadi tema yang seksis sekaligus bagian dari rekonstruksi filsafat di Nusantara.

Pasalnya, kajian tematik filsafat Islam Nusantara belum banyak disentuh oleh para sarjana dan cendekiawan Indonesia. Justru malah kebanyakan dari mereka terfokus pada kajian filsafat Barat maupuan filsafat Timur Tengah yang kadang tidak setarikan nafas dengan falsafah yang ada di Nusantara. Irfan Afifi memberikan contoh seorang pemikiran muslim asal Pakistan, Muhammad Iqbal (1877-1938), dalam disertasinya yang berjudul The Development of Metaphysics in Persia bahwa filsafat bisa dikatakan sebagai usaha untuk menjelaskan realitas yang ada dipelupuk mata.

Irfan Afifi ujarnya dengan tegas, dimensi antara filsafat Barat dengan filsafat Timur sangat jauh berbeda. Wacana yang dikembangkan dalam filsafat Barat adalah suatu wacana skeptis yang berangkat dari rasionalisme dan empirisme. Hal ini sangat berpengaruh dengan pembentukan karakter manusia, sebab ketika proses kemanusiaan meningkat di situ ada proses perasaan yang ikut meningkat. Proses perasaan ini diolah, diproses, diproduksi melalu hati (qalb) dalam bahasa sufistik disebut dauq.

Tentunya, Barat tidak akan mengenal proses pengolahan rahsa ini, sebab pijakan filosofisnya hanya berlandaskan rasionalisme dan empirisme. Perlu dipahami bersama bahwa orang yang hanya mengenal aspek empirisnya, maka secara otomatis dia akan melihat aspek yang paling rendah. Ternyata di Timur Islam, khususnya Jawi, aspek usaha untuk mengenali ke-diri-annya tidak semata-mata hanya melalui aspek rasionalitas melainkan melibatkan semua aspek yang ada di dalam kesemuanya itu (mistik dan rasio) dan semua aspek itu bersentuhan dengan religiusitas (agama).

Kemudian, Irfan Afifi menjelaskan, melalui disertasi Syed Naquib al-Attas yang berjudul The Mysticism of Hamzah Fansuri mistik hadir sebagai pengetahuan yang sudah mendarah daging dalam masyarakat Jawi, terutama umat Hindu. Dengan begitu, proses ke-diri-an mereka dibentuk hanya melalui satu aspek saja (mistik) atau aspek estetik, maka proses intelektual dengan menggunakan rasio tidak akan berkembang. Dengan begitu Islam hadir sebagai penjelas di antara keduanya (mistik dan rasio) untuk memberikan penjelasan yang lebih spesifik.

Setelah ke-diri-an manusia terbentuk dalam masyarakat Jawi, ada semacam politik ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh kaum kolonial yang berusaha memisahkan masyarakat Jawa dengan keyakinanya dalam hal ini Islam. Kita lihat dua tokoh Javanolog Crawfud dan Raffles, di dalam karya mereka penekanan mereka terhadap agama lebih bertendensi mecitrakan Islam secara kurang baik atas dugaan kebencian kedua tokoh ini terhadap Islam. Di dalam dua karya tersebut kita akan mengafirmasi kebencian mereka di sepanjang isi teksnya (Irfan Afifi, 2020:161).

Karena sejatinya, keyakinan, bahasa, simbol yang ada di dalam masyarakat Jawi bukanlah lahir dari bahasa Hindu-Budha, melainkan kesemua itu lahir memang sudah ada relasi antara mahluk dan khaliq, Irfan Afifi mencontoh kata wujud. Ternyata dalam level kemanusiaan wujud dalam level jasad lebih dekat dengan materi, tetapi ketika jiwa lebih mengedepankan aspek metafisis, jiwa akan melekat pada sang pencipta dalam hal ini level kemanusiaan sudah manunggaling kaula gusti (wahdah al-Wujud), pada hakikatnya wujud itu hanya satu, kalaupun ada pengejawantahan dari satu, kesemuanya itu hanya tajallinya dari Sang Wujud, ujar Irfan Afifi.

Akhir, sebenarnya aspek yang ditekanakan dalam Filsafat Islam Nusantara adalah aspek ontologis dan aspek epistemologi yang bisa diperoleh melalui proses suluk. Suluk ini sebenarnya laku sang salik untuk menuju sangkan paraning dumadi. Karena hakikatnya ilmu mendekatkan mahluk kepada sang khaliq, kalau tidak bisa mendekatkan kepada sang pencipta (khaliq) maka itu bukan dinamakan ilmu.

Diskusi malam ini bagi penulis begitu hidup banyak pertanyaan yang dilontrakan para cantrik yang ingin mendapatkan ilmu baru. Namun, penulis tidak bisa menyebutkan satu persatu dari pertanyaan mereka karena keterbatasan penulis merekam proses dialog antara para cantrik dan sang begawan. Dialog tersebut berakhir persis mau memasuki pukul 01:00 WIB dinihari yang ditutup oleh sang moderator dengan pesan-pesan kebaikan agar para cantrik bisa menemukan poros ke-diri-annya sehingga bisa menjadi salik yang kosmopolit.

Buku Langgar Shop
Raha Bistara
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Aqidah dan Filsafat Islam.