Masjid Saka Tunggal: Membaca Tradisi Islam di Banyumas

Bangunan Masjid Saka Tunggal

Masjid sebagai tempat ibadah dalam sejarah memiliki peranan yang penting dalam tumbuh kembangnya umat Islam. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Rudolf Otto dalam bukunya Das Gefuhl des Uberueltlichen (1932), ia menggambarkan bahwa masjid sebagai ekspresi sempurna kehampaan yang menanti untuk dipenuhi dengan berkah Ilahiyah, yakni pengalaman manusia, miskin (faqir) sebagaimana ia adanya, dalam kehadiran (dihadapan) Dzat Maha Kaya, al-ghaniy. Sebagai umat muslim, terkadang kita terkesan abai terhadap tempat suci berjamaah (masjid).  Masjid bukan hanya bangunan yang berbentuk persegi atau persegi panjang, dengan dikelilingi tembok, namun ia memuat kisah sebagai bangunan. Keberadaan masjid selalu berkelit kelindan dengan konteks historis, budaya, dan makna yang terkandung di dalamnya.

            Dalam hal ini, Masjid Saka lekat kaitannya dengan sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Banyumas. Masjid Saka Tunggal terletak di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas. Berdasarkan catatan pemerhati sejarah dan kebudayaan Banyumas disebutkan bahwa, diperkirakan masjid ini  berdiri pada tahun 1572 M. Sepintas memang terkesan tidak ada perbedaan dengan masjid yang lainnya, tetapi jika ditelisik lebih seksama, masjid ini memiliki bagian yang terkesan particular tetapi sebenarnya utuh. Misalnya, terdapat pilar utama di tengah masjid (saka tunggal), bedug, kentong, mimbar, dan tongkat.

            Selama ratusan tahun berdiri, bentuk bangunan Masjid Saka Tunggal tak banyak berubah. Perubahan signifikan terjadi bertepatan renovasi besar-besaran pada tahun 1996, diantaranya: material atap dan selubung bangunan. Atap masjid dahulu memakai sirap kayu dan ijuk, kini diganti dengan seng. Selain itu, dinding masjid dahulu memakai kayu dan gedhek bambu, kini diganti dinding bata. Bentuk pilar saka tunggal (baca: tiang satu) memuat karakteristik Saka Guru sekaligus simbolisasi dari ajaran tauhid (monotheisme). Pada pilar Soko Guru terdapat ornamen bentuk sayap burung yang mencandrakan “papat kiblat lima pancer” atau empat mata angin dan satu pusat. Empat sayap burung tersebut memuat nilai filosfis berupa hawa nafsu pada manusia; lawwamah, muthmainah, sopiah, dan amarah. Keempat sayap burung dan Tiang Soko Guru seolah memberikan insterupsi bahwa ketika hendak sembahyang, hati kita hendaklah tenang (baca: bi qolbin salim). Ibrahim datang kepada Tuhannya dengan hati yang damai.

Sebagaimana Firman Allah Swt (Q.S. Ash- Shafat/37:83-84, H.B. Jassin, Al-Qur’an Bacaan Mulia) : Wa inna min syii’atihii la ibraahim; idz jaa a rabbahuu bi qolbin salim.(Dan Ibrahim termasuk golongan; Lihatlah ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati bersih dari hawa nafsu dan Ikhlas).

            Ornamen sayap burung, erat kaitannya dalam dunia tasawuf. Burung adalah amsal pencapaian khazanah tasawuf Islam. Ibnu Arabi dalam kitab Turjamul Asywaq membahas burung thawus atau cendrawasih sebagai perlambang dari keruhanian manusia: satu-satunya aspek manusia yang mampu menembus lapisan langit kegaiban, atau perlambang ibadah sebagai mikraj manusia. Dalam terjemah Nusantara, burung-burung pada masjid merujuk pada capaian ruhani para pendirinya. Pada pilar soko guru, terdapat ukiran mim dal yang merupakan akronim dari nama Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Selain itu, pada mimbar terdapat ukiran surya mandala khas Kerajaan Singasari dan Majapahit, yang melambangkan Al-Qur’an dan Hadits. Dan ada pula sebuah bedug dan kentong pusaka yang sangat jarang ditabuh. Keseluruhan tata bangunan Masjid Saka Tunggal berupaya mengeksplisitkan pengalaman keberagaman pendiri dan masyarakatnya, atau seperti kata Umberto Eco, menuntaskan tantangan estetis, historis dan spiritual masyarakatnya tanpa memerlukan penghakiman kalangan manapun.

(Ornamen Emat Sayap Burung)

(Pilar Utama Masjid Saka Tunggal)
(Bedug dan Kentong Pusaka Mbah Tholih)

Dalam kepercayaan masyarakat cikakak sendiri, tidak bisa dilepaskan dari sosok historis dalam sejarah Islam tradisional di Banyumas, yakni Kyai Tholih/Mbah Tholih yang dimakamkan tidak jauh dari letak Masjid Saka Tunggal. Sosok Kyai Tholih/Mbah Tholih merupakan ulama yang menyebarkan Islam di Desa Cikakak sekaligus pendiri Masjid Saka Tunggal. Mendiang Muhammad Syamsuri, juru kunci Makam Mbah Tholih, menyebutkan sebagaimana termuat dalam Babad Alas Mertani Cikakak, bahwa Mbah Tholih sebenarnya adalah Syech Maulana Ngabdul Kahfi Zamzani, yakni putra Prabu Siliwangi Padjajaran. Hasil wawancara saya dengan Suyitno, sesepuh Aboge, menyebutkkan bahwa sebelum Islam masuk di Desa Cikakak, masyarakat setempat beragama Hindu-Buddha.

Eksistensi Islam Aboge di Cikakak

                  Membicarakan seputar Islam di Desa Cikakak (Masjid Saka Tunggal), tentunya kita akan disuguhkan dengan para penganut Islam-Jawa Aboge. Aboge pada dasarnya merupakan sebuah sistem penanggalan Jawa yang kali pertama diperkenalkan oleh Ngabdulloh Syarif Sayyid Kuning atau Raden Rasyid Sayyid Kuning. Aboge sendiri pada dasarnya adalah singkatan atas tahun Alip yang jatuh pada hari Rabu Wage. Tahun-tahun lainnya adalah “Akatpono” atau tahun Ehe yang jatuh pada hari Ahad Pon. “Jangahpono” atau tahun Jim Awal yang jatuh pada hari Jumat Pon. “Jasapaing” atau tahun Je yang jatuh pada hari Selasa Pahing. “Daltugi” atau tahun Dal yang jatuh pada hari Sabtu Legi. “Bemisgia” atau tahun Be yang jatuh pada hari Kamis Legi. “Wunenwon” atau tahun Wawu yang jatuh pada hari Senin Kliwon. Dan “Jangahgia” atau tahun Jim Akir yang jatuh pada hari Jum’at Wage. Perhitungan kalender Jawa ini ditetapkan oleh Sultan Agung Mataram, sejak tanggal 8 Juli 1633 M/ 1043 H atau 1555 saka, dengan mempertemukan sistem kalender Saka dan Hijriyah.

             Menurut Suyitno, Islam Aboge adalah Islam yang sebagaimana pada umumnya (Ahlussunah Wal Jamaah), hanya saja untuk kalendernya memakai kalender Jawa. Tersebab itu pula, terdapat perbedaan beberapa perayaan hari besar Islam antara Islam-Jawa Aboge dengan Islam Arab yang oriented. Lebih Jauh lagi, sistem penanggalan Aboge diciptakan untuk menyiasati perbedaan Islam dengan Hindu Jawa dengan cara membuat beberapa hari perayaan diantara keduanya terjadi secara bersamaan (Nusa Jawa: Silang Budaya, Jilid 2, 2005). Pemaduan dua sistem penanggalan ini, dalam istilah M.C Riclefs, adalah bagian dari apa yang disebutnya sebagai “sintesis mistik” yang terjadi pada masa Sultan Agung dan Pakubuwono II di Surakarta (Mystic Sintesis In Java, 2006).

            Selain penganut Islam-Jawa Aboge, masyarakat setempat Desa Cikakak (Masjid Saka Tunggal) juga penganut tarekat Syattariyah. Berdasarkan pengisahan Suyitno, menyebutkan penyebaran tarekat Syattariyah sekitar abad-18 oleh dua sosok ulama yakni Mbah Nur Hakim dan Mbah Karyadi. Perlu diketahui, Mbah Nur Hakim merupakan salah satu dari sekian ulama penyebar tarekat syattariyah di Banyumas, dan tergabung dalam jaringan laskar perang Diponegoro (Sufisme Mbah Nur Hakim: Penyebar Tarekat Syattariyah di Banyumas, Chubbi Syauqi, https://langgar.co/sufisme-mbah-nurhakim-penyebar-tarekat-syattariyah-di-banyumas/). Adapun Mbah Karyadi, adalah murid dari Mbah Nur Hakim. Ia, membantu penyebaran tarekat syattariyah di Desa Cikakak, sampai akhir hayat.

Pergumulan Islam-Jawa Aboge dan Tarekat Syattariyah

            Secara umum terdapat dua pemahaman keislaman yang unik yang selama ini berkembang di Desa Cikakak; Islam Jawa Aboge  dan Islam-Jawa Aboge dan Syattariyah. Islam Jawa Aboge merupakan Islam yang dianut oleh sebagian kecil masyarakat Desa Cikakak yang murni di bawa oleh Mbah Tholih. Sedangkan Islam Jawa Aboge- Syattariyah adalah masyarakat yang sudah menganut Islam Aboge dan bertarikat syattariyah. Pada kesempatan tersebut saya juga menanyakan perihal keterkaitan Islam Jawa Aboge dengan tarekat syattariyah. Menurut Suyitno, aboge dan tarekat syattariyah adalah dua hal yang membentuk corak keberislaman masyarakat Desa Cikakak. Aboge hanyalah hitungan hisab tradisional  dalam menentukan perayaan hari besar Islam dan bukan bagian dari tarekat syattariyah. Meski begitu, jika melihat tarekat syattariyah di berbagai belahan Nusantara. Tiap-tiap tarekat syattariyah memang memiliki kalender hisab yang unik seperti contoh tarekat syattariyah di Sumatra Barat yang memakai kalender hisab Taqwim dan hisab Munjid. Sedangkan tarekat syattariyah bagi masyarakat Desa Cikakak bagaikan tata kelola spiritual sekaligus intelektual yang biasanya ternaungi dalam pakem-pakem tasawuf.

            Meminjam perkataan Buya Hamka dalam bukunya “Perkembangan Tasauf Dari Abad Ke Abad” dijelaskan bahwa tasawuf merupakan bentuk kerohanian dengan tata cara atau filsafat keagamaan yang mengacu pada wilayah kejiwaan, dan bagi Buya Hamka, tasawuf juga harus diakui sebagai pusaka keagamaan yang berpengaruh besar pada perasaan serta pemikiran umat Islam. Ajaran-ajaran tasawuf (tarekat) bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits, dan semua ketauladanan dari Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Kehidupan sufistik bisa saya temukan secara nyata pada siklus keseharian masyarakat Desa Cikakak yang banyak menampakan nilai-nilai tasawuf.  Dan diantara wujudnya yakni, mereka sanggup hidup bersama dengan banyak kera liar, meskipun kera tersebut sering membuat ulah kepada mereka. Para kera liar tersebut konon ceritanya adalah hewan endemik Desa Cikakak dan menjadi peliharaan Mbah Tholih.

            Hewan peliharaan berupa keranya Mbah Tholih mengingatkan saya dengan cerita dari sosok Mbah Mutamakin Kajen yang pernah memelihara anjing. Oleh masyarakat muslim Kajen dan sekitarnya, kisah ini dimaknai secara “metaforis” sebagai perlawanan “rohani” terhadap hawa nafsu. Demikianlah tafsiran yang populer. Pada cerita kera peliharaan Mbah Tholih, saya mencoba menafsirkan dalam frame tasawuf, kisah Mbah Tholih memelihara kera bagi saya melambangkan semacam perlawanan sifat “buruk manusia”. Dalam perspektif A-Qur’an, orang yang melampaui batas diibaratakan sebagai kera, yakni “Jadilah kamu kera yang hina“. Kuunuu Qiradatan Khoosi’in. Menurut Mujahid, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, “fisik mereka tidak ditukar menjadi kera, tetapi hati jiwa, dan sifat merekalah yang dijadikan seperti kera, sehingga mereka tidak dapat menerima pengajaran dan tidak dapat menerima ancaman. Lebih lanjut lagi, menurut Al-Ghazali, anjing dan binatang buas lain dipandang hina bukan karena fisiknya. Anjing dan binatang buas lainnya dipinjam sebagai simbol keburukan kerena sifat kebuasan dan unsur “najisnya” (sifat dendam, tamak, serakah) yang mencemari batin manusia.

            Pada pengamatan lainnya, fenomena hidup sufistik juga terlihat pada rutinan majlis dzikir dari tarekat syattariyah yang diadakan di Masjid Saka Tunggal. Saya sendiri menyaksikan sekaligus mengikuti dzikir tarekat syattariyah seusai solat jumat di Masjid Saka Tunggal. Sebelum solat jumat juga ada ritual selawatan (sholawatan) yang mungkin bagian dari amalan tarekat syattariyah. Sholawat merupakan pujian atas kemuliaan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Shalawat juga sebentuk doa sekaligus dzikir kepada Allah. Antara doa dan dzikir memiliki keterkaitan keterikatan yang sangat erat, karena dalam berdoa diharuskan mengiringinya dengan sholawat atas Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Maka dengan menyaksikan fenomena yang ada di Desa Cikakak, bisa kita pahami bahwa ada banyak ekspresi bertasawuf sebagaimana menurut Abdul Wadud Kasyful Humam dalam buku “Satu Tuhan Seribu Jalan”, dijelaskan bahwa hakikat tasawuf adalah kesadaran atas adanya komunikasi serta dialog langsung antar roh manusia dengan Tuhan, dan adanya kera yang hidup berdampingan, rutinan dzikir sebelum dan pasca solat jumat, dan majlis dzikir tarekat merupakan perwujudan dari dialog ketuhanan mereka. Dalam buku “Agama Jawa: Ajaran, Amalan, dan Asal-Usul Kejawen”, Prof. Suwardi Endraswara mendeskripsikan bahwa ritus-ritus di Jawa jelas mengekspresikan pekerti agama yang penuh dengan muatan spiritualitas, dan di Desa Cikakak, ritus tersebut tersusun dalam tradisi-tradisi yang pekat dengan makna spiritual tasawuf.

            Kemudian ketika saya mengamati perilaku serta sikap dari masyarakat yang ada di Desa Cikakak, terbaca secara jelas bahwa mereka, meminjam istilah Slamet Gundono, adalah manusia-manusia yang hatinya bolong, mlompong, dan kosong. Yakni orang yang manah (hati) selalu terikat dengan Gustialah (Allah). Bi Qolbin Salim. Kosong di sini bukan bermakna tak berisi. Pun demikian, sebaliknya, kosong (suwung) itu isi, dan agar berisi harus kosong (suwung). Sehingga kehidupannya tampak penuh kesabaran, kesederhanaan, dan ketasawufan. Maka dengan demikian dapat dimengerti bahwa masyarakat Desa Cikakak dalam dimensi kehidupannya mempunyai relasi yang kuat dengan alam tasawuf.

            Berdasarkan uraian komponen-komponen spiritual maupun tradisi yang ada pada masyarakat Desa Cikakak maka, dapat ditafsirkan bahwa perwujudan dari sufisme Jawa ada di Desa Cikakak, dan dalam konteks lokalnya disebut sebagai Kejawen. Kemunculan kejawen sendiri bermula dari tasawuf dalam Islam. Terutama berkaitan dengan hakikat Makrifatullah yang merupakan konsep hubungan antara manusia dengan Tuhannya melalui wasilah ritual sekaligus syariat Islam. Pada masyarakat Desa Cikakak, hal itu terlihat pada tradisi atau ritual yang penuh dengan simbol-simbol kebaikan, keislaman, maupun ketasawufan. Sehingga sampai pada poin ini, dapat kita maknai bahwa Desa Cikakak adalah salah satu pengejawantahan ekosistem sufisme Jawa di Banyumas yang masih tersisa.

Chubbi Syauqi
lahir di Banyumas, 1 Maret 2000. Dia tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan Tarbiyah, Prodi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Purwokerto. Dia tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan (HMJ MPI), dan tergabung dalam anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), serta terdaftar sebagai anggota Sastra Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Purwokerto.