Toni Harsono: Jalan Sunyi Mempertahankan Seni Peranakan

Berbicara tentang Jombang, terkadang langsung disebut sebagai daerah santri, dan digeneralisir bahwa Jombang sebagai daerah yang homogen alias Islam semua secara individu maupun kultural. Hal itu seakan-akan juga menggeser mereka-mereka yang bukan Islam sebagai sosok yang hidup di tanah Jombang. Pamor tentang kota santri inipun akhirnya ditepiskan oleh sosok bernama Toni Harsono dengan Museum Potehi, yang mana Toni Harsono menganggap bahwa Budaya Peranakan juga bagian dari Jombang dan bagian dari Indonesia.

Toni Harsono atau acap kali disebut pak Toni adalah sosok yang mengarungi samudera sunyi yang tak pernah dilirik oleh banyak orang. Beliau hanyalah bapak-bapak yang sederhana dengan menaiki sepeda motor biasa yang tak pernah melihatkan kekayaannya, namun beliaulah yang menghidupi wayang potehi untuk menolak kepunahan, beliau baru terlihat kaya saat membahas potehi, baik itu kaya dari segi materi hingga segi pengetahuan. Beliau telah menghidupi potehi dengan semangatnya sendiri dan mandiri. Hingga saya hampir tak percaya dengan kegilaan pak Toni.

 Beliau telah memulai karirnya dalam kesunyian wayang potehi sejak tahun 2001, namun sebelumnya beliau sudah bergelut dengan wayang potehi sejak kecil, yang mana ada satu pengalaman menarik dari beliau, dimana beliau semasa kecilnya sangat lekat dengan wayang potehi, jika saja pementasan wayang potehi telah selesai, sesampainya beliau di rumah, beliau akan langsung jatuh sakit karena sudah merasa hampa. Hal ini bisa disebut kecintaan pak Toni yang mendalam pada potehi. Diawali dengan hal itulah pak Toni akan menceritakan selanjutnya.

Potehi di Perlintasan Gudo, Jombang

Secara historis, keluarga pak Toni adalah keluarga pedalang wayang Potehi, sejak kakeknya yang telah membawa Potehi ke Gudo. Kakek pak Toni telah mendalang wayang potehi sejak tahun 1930-an dengan nama grup “Fu Ho An”. Begitupula dengan ayahnya yang menjadi pedalang Potehi juga.

Mengapa wayang Potehi di Klenteng “Hong San Kiong” hingga saat ini masih eksis? Apa yang terjadi? Berbicara secara historis, melalui pitutur pak Toni sebagai saksi sekaligus pelaku sejarah, hasrat  untuk beradanya wayang potehi masih sangat tinggi, dan seakan-akan tak mau meredup, itulah kiasan yang terjadi untuk Klenteng “Hong San Kiong” maupun wayang potehinya.

Berbicara tentang konteks historis, secara tak langsung wayang potehi dan Klenteng ini telah menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum Tionghoa maupun masyarakat Gudo, bisa terbilang antara Klenteng dan rakyat Gudo sudah tak ada sekat lagi, seperti kebanyakan yang terjadi di banyak tempat, dimana antara kaum Tionghoa dan masyarakat sekitar merasa terpisah. Pada akhirnya latar belakang inilah yang membuat wayang potehi dan klenteng ini masih  eksis hingga hari ini.

Terlebih lagi dalam era-era Orde Baru, dimana ada sentimen anti-tionghoa yang mana berdampak sangat besar bagi masyarakat Tionghoa ini sendiri, mulai dari penggantian nama, hingga pelarangan aktivitas masyarakat Tionghoa (seperti Barongsai, Wayang Potehi dll). Namun hal ini seakan-akan tidak pernah terjadi pada masyarakat Tionghoa Gudo maupun wayang potehinya, mereka hidup tentram sesamanya dan pada waktu orba masih melanjutkan aktivitas kesenian mereka. Bahkan saja sedikit cerita pada masa Orba, wayang potehi dari kelenteng Gudo ini pernah diundang ke Kodim untuk berpentas disana di saat kebijakan Orba tentang pelarangan kesenian Tionghoa merajalela.

Kembali ke latar belakang awal, mereka tetap eksis karena adanya satu ikatan antara masyarakat sekitar dengan Klenteng itu sendiri, dan sudah menjadi warisan tersendiri bagi masyarakat Gudo sendiri. Hal ini menjadi satu peristiwa yang pastinya sangat mengejutkan bagi kita semua.

Mulai merintis

Toni Harsono, seorang Tionghoa yang bersahaja memulai petualangannya saat bertemu dengan seorang legenda tari Indonesia yaitu Didik Nini Thowok atau disebut sebagai Eyang Didik pada tahun 2008-an, dimana mereka terlelap dalam pembicaraan tentang mendokumentasi momen dari Kelenteng Gudo, sekaligus wayang potehi itu sendiri. Akhirnya pada pembicaraan tersebut terpantiklah satu gagasan untuk membuat galeri ataupun museum Potehi.

 Pantikan dari eyang DNT (singkatan Didik Nini Thowok) membuat pak Toni berpikiran dua kali, “apakah ini perlu?”, dan hal tersebut terjawab pada tahun 2012-an, pantikan dari Eyang DNT terealisasi dengan awal yang mungkin hanya sederhana saja. Namun dengan kesadaran dan kesedarhanaan inipun ternyata menimbulkan banyak tantangan yang sangat banyak. Mulai dari tantangan internal hingga eksternal.

Beliau merintisnya dengan uang pribadi, “saya adalah orang gila, dimana saya telah membangun museum ini dengan dana pribadi, saya yakin bahwasanya di Jombang terlebih orang tionghoa seperti saya, berani melakukan hal seperti saya, dengan mengeluarkan uang sebegitu banyaknya, bahkan bisa mencapai milyaran saya kira” Ucap Toni Harsono.

“saya adalah orang gila, dimana saya telah membangun museum ini dengan dana pribadi, saya yakin bahwasanya di Jombang terlebih orang tionghoa seperti saya, berani melakukan hal seperti saya, dengan mengeluarkan uang sebegitu banyaknya, bahkan bisa mencapai milyaran saya kira”

Hal ini sangat jarang terjadi dalam masyarakat kita, bahkan seorang yang bergelimang harta pun tidak akan berani melakukan hal tersebut. Hal yang gila ini semata-mata atas nama cinta seorang Tionghoa bernama Toni Harsono terhadap kearifan budaya peranakan yang seakan-akan dengan gampang luntur karena adanya stigma ataupun sosial yang berjarak.

Museum potehi Gudo seiring waktu berkembang terus-menerus, dan tetap berada di kesunyian jalan kebudayaan, namun di sisi lain museum potehi hari ini sudah mulai dilirik banyak orang, mulai dari peneliti hingga pengunjung biasa. Kesunyian ini setidaknya membuahkan hasil, walaupun itu tak banyak.

 Pak Toni hari ini pun sudah memiliki beberapa karyawan pembuat wayang potehi, karyawannya ini pun bukan berasal dari seniman pahat yang khusus potehi, namun mereka berasal dari banyak pekerjaan sebut saja Muhammad Budi yang dulunya bekerja sebagai pembuat plat nomer, dan sekarang Budi direkrut sebagai pembuat potehi oleh pak Toni, yang mana mendapat gaji satu juta per minggu tanpa target. Hal ini menjadi salah satu kegilaan pak Toni selain membangun museum dengan biaya mandiri.

Toni Harsono sebagai Teladan

Mungkin hari ini tidak ada yang mau melirik kebudayaan maupun sejarah diri, masing-masing  dari kita disibukkan untuk mencari kesenangan yang tak berwujud tanpa menghasilkan apapun. Hal inilah yang membuat kebudayaan maupun sejarah kita cepat punah tanpa kabar dan jejak, dimana kita tak mau mencoba sedikit saja untuk menengok sejarah maupun budaya kita. Maka saya ingin mencoba berbicara singkat tentang pak Toni sebagai refleksi kita bersama.

 Kita juga pastinya tak ingin sejarah kita hilang begitu saja, tanpa ada tulisan ataupun jejak sedikitpun. Maka dengan hal yang sepele itulah, anak atau cucu kita tidak akan merasakan warisan nenek moyang yang sangat berharga di kemudian hari. Setidaknya pak Toni ini menjadi satu bentuk kesadaran sosok individu yang menjadi pemantik kita agar lebih mencintai dan menghargai sejarah serta budaya masing-masing.

Pak Toni sebagai teladan disini memiliki banyak poin yang kita petik, mulai dari kecintaan beliau terhadap wayang potehi hingga kegilaan mendanai museum wayang potehi sebagai cintanya terhadap budayanya sendiri. Tak luput juga, pak Toni adalah sosok perawat yang sangat baik, beliau menyimpan warisan-warisan kakek dan ayahnya dalam brangkas besar, demi kesejahteraan sejarah wayang potehi ini. Maka saya ucapkan sekali lagi pak Toni dapat kita tiru atas nama kecintaannya terhadap potehi demi anak cucunya sekaligus bangsanya yang kaya ini agar tidak kehilangan juga.

Sehat Selalu Pak Toni, Berkah Selalu Wayang Potehi

Mojoagung, 13 April 2021

Buku Langgar Shop