Ngawi, yang dalam novel Para Priyayi karya Ki Ageng Umar Kayam disebut Wanagalih memiliki destinasi wisata sejarah ciamik soro, yaitu Benteng Pendem. Nama aslinya Benteng Van Den Bosch. Banyak yang menjadikan benteng panoramik klasik itu sebagai spot foto prewedding, spot para pegandrung fotografi, dan even-even asolole lainnya. Selama ini, benteng itu selalu dikaitkan dengan kedigdayaan masa kolonial Belanda. Namun, jarang orang tahu di dalam benteng terdapat makam seorang tokoh pejuang bangsa yang karib disapa KH. Muhammad Nursalim.

Selain sebagai benteng pertahanan perang di wilayah Mancanegari Wetan, Benteng Pendem itu juga menjadi tempat tinggal atau asrama tentara kolonial Belanda (baik itu bule maupun pribumi), penjara khusus, dan lainnya. Benteng ini masih berfungsi dengan baik dan benar hingga tahun 1942 sebagaimana tergurat dalam Ngawi Tempo Doeloe (2014). Ternyata, di balik bangunannya yang megah, meski kini tentu sudah jauh berbeda dengan dulu, terselip sebuah kisah tragis yang mengiris hati. Dia, yang namanya sudah disebut, dikubur hidup-hidup dalam benteng. Ironisnya, namanya seakan-akan terlupakan dari deru perjalanan Indonesia yang semakin bergemuruh dan riuh. Ihwal sepak terjangnya yang fenomenal akan dibeber di bagian akhir nggedabrus ini.

Yeah, pertama kali saya blusukan ke Benteng Pendem pada tahun 2001. Pada saat itu, saya masih menyandang status sebagai wartawan sebuah harian di Surabaya yang ingin mengecek adanya desas-desus adanya makam keramat di dalam benteng. Sayangnya, saat itu benteng masih tertutup untuk publik, dijaga aparat, dan menjadi tempat budi daya sarang burung walet. Akhirnya, saya ngacir ke tempuran Bengawan Solo dan Bengawan Madiun di belakang benteng sambil menikmati aroma Ngawi purba yang masyhur itu. Kedua kalinya pada 200, ternyata kondisinya masih sama. Akhirnya, saya ngacir ke Alas Ketonggo. Saya ke sana lagi pada 2010 dan 2015, pada saat itulah baru dapat menikmati bangunan yang didirikan untuk menghadapi sisa-sisa pemberontakan pengikut Pangeran Diponegoro di Ngawi dan sekitarnya serta mengamankan posisi Ngawi sebagai ‘jalan simpang’ yang seksi.

Saya ke sana lagi pada 2010 dan 2015, pada saat itulah baru dapat menikmati bangunan yang didirikan untuk menghadapi sisa-sisa pemberontakan pengikut Pangeran Diponegoro di Ngawi dan sekitarnya serta mengamankan posisi Ngawi sebagai ‘jalan simpang’ yang seksi.

Kini, Benteng Pendem telah menjadi destinasi wisata andalan Kabupaten Ngawi. Benteng seluas 165 m x 80  m di atas lahan seluas 15 hektar ini terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi. Lokasinya juga unik karena berada di pertemuan dua sungai besar, yaitu di Tempuran Bengawan Madiun dan Bengawan Solo. Sebagaimana yang sudah disebut, benteng ini menjadi pusat pertahanan Belanda karena meski Perang Diponegoro (1825–1830) sudah pupus, perlawanan pengikutnya yang lari ke timur masih demikian bergelora.

Di atas kertas, Ngawi dan sekitarnya sudah takluk pada Belanda sekitar tahun 1825 karena perlawanan Adipati Madiun Kertodirjo, Adipati Ngawi Junodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirdjo pada awal Perang Jawa sudah berhasil dilumpuhkan. Tercatat, Ngawi tunduk pada Belanda pada 13 November 1825 di bawah kepemimpinan Theunissen van Lowick. Namun, ibarat bara dalam sekam, perlawanan itu tidak padam dengan sendirinya. Di antaranya adalah munculnya Wirotani, pengikut Diponegoro yang melakukan pemberontakan pada pemeritntah kolonial Belanda pada masa setelahnya.  Ihwal seluk-beluk perlawanan pengikut Pangeran Diponegoro di Madiun, Ngawi, dan kawasan Mataraman Jawa Timur dapat dilihat dalam Sejarah Kabupaten Madiun (1980), sedangkan ihwal Perang Jawa dengan deskripsi yang masif dapat ditengok dalam Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855  karya Peter Carey (2012).

Oleh karena itu, untuk mempertahankan kedudukan dan fungsi strategis Ngawi serta menguasai jalur perdagangan, Pemerintah Hindia–Belanda membangun sebuah benteng yang dimulai tahun 1839 dan kelar tahun 1845, yaitu Benteng Van den Bosch. Benteng ini dihuni tentara Belanda 250 orang bersenjatakan bedil, 6 meriam api, dan 60 orang kavaleri dipimpin Van den Bosch, tokoh dalam sejarah kolonial Indonesia yang dikenal sebagai pencetus Tanam Paksa. Di dalam benteng  terdapat barak, dapur, sumur, penjara, dan tentu saja kakus umum. Sungguh, kakus umum ini juga menarik diabadikan. Untunglah, saya sudah mengambil beberapa jepretan. Ehm.

Pada perkembangan selanjutnya, benteng ini sebagai tempat tahanan politik Belanda. Tahanan yang dimaksudkan bukan hanya dari kalangan berkulit cokelat, tetapi juga dari kalangan “londo” bule sendiri. Pasalnya, pada akhir abad ke-19, terjadi kesadaran politik di kalangan Belanda sendiri karena mereka terpengaruh pada perkembangan Eropa yang dimenangkan oleh kalangan fasis dan sebagian lainnya berorientasi pada politik liberal.

Selain kisah-kisah tentang pemadaman pengikut Diponegoro, terdapat kisah pemenjaraan orang Belanda oleh bangsanya sendiri. Yang unik di antaranya adalah ada tahanan Belanda yang dikawal oleh tentara bayaran yang berasal dari Ambon, Madura, bahkan Jawa yang berkulit legam dan mengkilat apabila berkeringat. Mileng-mileng.

Kisah lain yang tidak kalah unik adalah adanya sebuah makam bercorak Islam di dalam bangunan itu. Yup, itu adalah makam dari orang yang namanya sudah disebut, yaitu KH. Muhammad Nursalim. Data tertulis tentang tokoh yang satu ini amatlah minim. Namun, dari beberapa sumber, baik itu sumber tertulis maupun cangkeman, dijelaskan bahwa ia adalah seorang tokoh agama di Ngawi akhir abad-19, ketika Pangeran Diponegoro sudah ditangkap secara licik oleh Kapten de Kock di Magelang pada 28 Maret 1830.

Namun, dari beberapa sumber, baik itu sumber tertulis maupun cangkeman, dijelaskan bahwa ia adalah seorang tokoh agama di Ngawi akhir abad-19, ketika Pangeran Diponegoro sudah ditangkap secara licik oleh Kapten de Kock di Magelang pada 28 Maret 1830.

Dalam Jejaring Ulama Diponegoro (2019), Bizawie  menyatakan bahwa kekalahan yang dini di Ngawi membuat Pangeran Diponegoro naik pitam. Ia lalu mengutus seorang pengikutnya untuk menggalang kekuatan di sana yang selama ini dikenal sebagai penyebar agama yang tangguh, yakni KH. Muhammad Nursalim. Menurut Bizawie (2019), yang mendapatkan informasi dari KH. Bisri Mustofa dan adiknya KH. Mustafid Siroj, bahwa KH. Muhammad Nursalim adalah putera Kiai Maktub, seorang Tumenggung Rojo Niti. Bahkan Bizawie (2019) menyebut bahwa dulu Benteng Pendem itu sebuah pesantren. Hmmm.

Sementara itu, dari sumber cangkeman menyebut bahwa sang kiai ini termasuk salah satu pengikut Diponegoro yang menolak takluk. Usai 1830 bahkan ada yang menyebutnya setelah 1839, ia masih melakukan gerakan pembangkangan kepada pemerintah Belanda di Ngawi dengan tetap menyalakan obor semangat yang dinyalakan Diponegoro pada 1825. Dengan kata lain, ia sebarisan dengan Wirotani.

Kisah tentang pahlawan satu ini memang demikian menarik, khas orang Jawa yang dikaruniai beberapa kelebihan “adikodrati”. Sahdan, dalam beberapa kali pertempuran, sang kiai mampu meloloskan diri. Apalagi ternyata tubuhnya terbukti kalis dari terjangan peluru Belanda. Dengan sebuah siasat, tentara Belanda berhasil menangkap sang kiai yang memiliki sejumlah pengikut tersebut.

Begitu berhasil disergap, ia langsung dibawa ke dalam benteng. Maksud hati Belanda ingin segera menyudahi hidup kiai tersebut karena ia dipandang duri dalam daging. Ia tidak dihukum buang karena kedudukannya yang tidak setenar idolanya, Pangeran Diponegoro. Ia pun bukan dari kalangan bangsawan tinggi.

Namun, begitu diberondong peluru, tak satu pun mesiu itu bersarang di tubuhnya sebagaimana dalam setiapkali terjadi clash selama ini. Ia pun disiksa, tetapi tubuhnya tidak mempan senjata tajam dan pentungan. Belanda tidak kurang akal, tubuh sang kiai pun diikat dengan tali tambang dengan kuat dan banyak, sehingga ia tidak bisa bergerak. Dalam posisi itu, ia lalu dikubur hidup-hidup tidak jauh dari sel tempatnya dipenjara. Dengan cara itu, sang kiai pun menghembuskan nafas terakhirnya.

“Makam Mbah Muhammad Nursalim di Benteng Pendem tentu membawa aib pada Belanda karena Belanda ogah mencampuradukkan antara kepentingan orang mati dengan mereka yang masih hidup. Belanda pasti punya komplek pemakaman sendiri baik bagi kalangan mereka sendiri maupun kalangan musuh-musuhnya yang berbeda dengan tempat tinggalnya sehingga tidak mungkin orang Belanda menanam mayat musuhnya di kediamannya. Mbah Muhammad Nursalim adalah pengecualian itu.” tutur seorang pemerhati sejarah asli Ngawi yang minta namanya tidak disebutkan. “Makamnya di Benteng Pendem menunjukkan kapasitas sang pahlawan dan itu mencipratkan citra negatif ke pihak penjajah karena ada mayat yang tertanam di tempat mereka sehari-hari hidup.” lanjut dia.

“Makamnya di Benteng Pendem menunjukkan kapasitas sang pahlawan dan itu mencipratkan citra negatif ke pihak penjajah karena ada mayat yang tertanam di tempat mereka sehari-hari hidup.” lanjut dia.

Dulu, makam KH. Muhammad Nursalim hanyalah sebuah gunduk kecil, bersemak, dan bernisan berupa pohon kamboja. Dulu, saya punya fotonya, tetapi hilang entah di mana. Kini, makamnya sudah dipugar dengan keramik biru laut dan nisan yang berisi nama sang kiai tanpa epitaf tanggal kelahiran dan tanggal kematian. Pohon kambojanya masih tetap dibiarkan sebagai saksi sejarah yang tampak begitu tua, angkuh, dan menjulang ke langit.

Pemugaran makam sang kiai dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1992 oleh Komandan Batalyon Armed 12. Sebuah penghargaan pada seorang pahlawan bangsa yang telah mencipratkan sebuah aib pada nilai-nilai yang dianut musuh bangsanya.

Demikianlah. Begitu saja.