Sejak ratusan tahun lalu, serat-serat digubah dan dibaca(kan) untuk menjadi penuntun, pedoman, atau pengajaran. Pada abad XXI, sekian gubahan sastra para puangga Jawa terpengaruh peradaban India, Islam, Tiongkok, dan Barat terus terbaca, terpahamkan di latar waktu berbeda dan pengamatan atas keberulangan peristiwa. Pemetikan hikmah atau menguak makna di kitab-kitab sastra lama terus mengalami “pertambahan” setelah ada adonan biografi, sejarah, dan perangkat tafsir terbaru.

Warisan-warisan penting masih terbaca: Panitisastra, Serat Centhini, Wulangreh, Wedhatama, Cemporet, dan lain-lain. Semua gubahan sastra itu mengandung niti atau wulang. Kita terjemahkan sebagai ajaran. Sri Widati (2003) menjelaskan: “Pada dasarnya, ajaran pokok dalam buku-buku niti itu mengarahkan perempuan mendasari perilaku mereka kepada konsep alus dan rasa. Hal ini adalah tindak lanjut dari pandangan patriakhi yang mengedepankan laki-laki pada sektor publik dinilai penuh kekerasan, sedangkan perempuan ditempatkan di sektor domestik, tempat berkebalikan yang penuh dengan kelembutan, kesabaran, dan kasih.” Kita menduga terselenggara pengajaran tata nilai ke perempuan dengan batasan-batasan mengacu ke adat, agama, atau suasana kemodernan.

Pada abad XXI, ajaran-ajaran termaktub dalam khazanah sastra Jawa masa lalu masih “tersisa” atau dianggap menurunkan pengaruh atas kemunculan pengertian-pengertian untuk perempuan bertumbuh di sosial-kultural Jawa. Pembahasaan ajaran mungkin berubah. Keinsafan atas makna mungkin bersalin ke hal-hal mudah dimengerti dalam sekian peristiwa mutakhir. Kaum perempuan tetap diinginkan dalam kedirian alus dan rasa. Patokan semakin dikuatkan dengan warisan seruan-seruan di masa Orde Baru saat Soeharto sengaja menggerakkan kekuasaan berselera kejawaan.

Kita menengok masa lalu, berikhtiar menandai ajaran-ajaran pernah dianut pada abad XIX dan XX. Pembacaan memilih Serat Wulang edisi Departemen P dan K, 1981. Serat itu digubah oleh Raden Mas Riya Jayadiningratt I. Alih aksara dikerjakan Moelyono Sastronaryatmo dan alih bahasa oleh Suhartinah Sudijono. Kita mengarah ke kutipan-kutipan bermaksud pengajaran untuk wanita. Pembaca mungkin lekas merasakan ada sejenis perintah dan larangan demi membentuk wanita khas Jawa. Kita simak: “Sebagai wanita, anakku, tenaga dan tingkah lakumu hendaklah mencerminkan tenaga seorang wanita yang halus, tidak kasar seperti tenaga laki-laki, sebab bila demikian, itu tidak sedap dipandang mata.” Perbedaan sudah kentara: wanita itu halus dan lelaki itu kasar. Pensifatan dikehendaki tidak dipertukarkan.

Pada saat wanita berpredikat sebagai istri, seruan-seruan semakin bertambah dan rumit. Pembentukan diri ada di tahapan kehormatan bergantung kemampuan meladeni dan mengabdi suami. Kita membaca dengan jangkauan masa lalu saat kehidupan keluarga masih berkutat ke nalar-imajinasi feodal. Pembaca masa sekarang bisa memberi ralat atau sangkalan berdalih situasi zaman berubah: “Seorang wanita perlu belajar mengatur, menghias, serta memelihara rumah tangga, dan berdandan menghias diri, sehingga sedap dipandang. Seorang wanita perlu pandai memasak masakan yang enak, serta indah warnanya. Wanita dapat membuat/meramu obat dan jamu, segala macam boreh, param, bobok pilis, dan segala macam ramuan.” Di rumah, sekian peristiwa atau pekerjaan selalu dituntut penerapan ajaran bagi perempuan ingin terakui di hadapan suami. Istri terasa menanggung seribu tuntutan.

Seorang wanita perlu pandai memasak masakan yang enak, serta indah warnanya. Wanita dapat membuat/meramu obat dan jamu, segala macam boreh, param, bobok pilis, dan segala macam ramuan.” Di rumah, sekian peristiwa atau pekerjaan selalu dituntut penerapan ajaran bagi perempuan ingin terakui di hadapan suami. Istri terasa menanggung seribu tuntutan.

Pada abad XXI, sekian hal itu bisa tergantikan dengan kemauan istri atau kebijakan bersama. Memasak tidak lagi terlalu merepotkan saat ada perabot-perabot mutakhir. Istri menginginkan praktis bisa menggunakan bumbu instan tanpa perlu capek dan mengalami waktu lama. Pada keputusan berbeda, memasak tak lagi “jaminan” atas kewajiban istri. Kini, kebiasaan membeli masakan matang di warung-warung sudah lazim. Pilihan memesan masakan dengan pengantaran melalui jasa transportasi pun berlaku hampir tanpa gugatan berargumentasi boros, malas, atau “tidak sopan”.

Tuntutan wanita itu dipertimbangan alus dan rasa terbaca lagi: “Tingkah laku hendaknya selalu cekatan, tangkas, namun jangan berlaku kasar dan tergesa-gesa. Roman muka yang manis harus selalu kau tunjukkan kepada suamimu, dan janganlah sampai berubah. Demikian pula engkau harus selalu hemat dan teliti. Semestinya engkau lebih baik mengusahakan pujian daripada menyimpan dendam.” Biografi wanita sebagai istri memiliki kaidah-kaidah memiliki ganjaran-ganjaran berupa cela, jarang mendapat pujian tulus. Masa lalu wanita dalam gubahan sastra bergelimang ajaran memang mudah “dikoreksi” oleh realita-realita mutakhir. Koreksi atau ralat bisa dilakukan oleh kaum wanita atau mengalami perombakan bila ada keberpihakan dari suami turut membuat tatanan baru dalam berkeluarga.

Masa lalu wanita dalam gubahan sastra bergelimang ajaran memang mudah “dikoreksi” oleh realita-realita mutakhir. Koreksi atau ralat bisa dilakukan oleh kaum wanita atau mengalami perombakan bila ada keberpihakan dari suami turut membuat tatanan baru dalam berkeluarga.

Kita memilih kutipan terakhir dalam pengimajinasian nasib wanita masa lalu: “Berbuatlah sopan dan jangan melakukan perbuatan yang bersifat liar, jorok, tidak tahan berdiam diri, selalu hendak pergi. Bila demikian yang engkau lakukan itu, berarti engkau tidak mempunyai sopan santun. Kuatkan hatimu sebagai seorang wanita, tingkah laku bersopan santun hendaklah selalu diperlihatkan dalam hidupmu sehari-hari.” Pada masa Soeharto berkuasa, berlaku rezim sopan santun didiktekan ke kaum wanita melalui pelbagai organisasi. Pemerintah turut campur membentuk kesopanan melalui pengaruh politis dan acuan ke adat atau agama. Sopan santun sering terpahamkan melulu harus diterapkan kaum wanita ketimbang kaum lelaki. Ajaran-ajaran alus dan rasa perlahan terbaca dengan protes dan ralat. Pada abad XXI, gubahan sastra itu terbaca di situasi “bertabrakan” atau “berkebalikan”.

Kepribadian wanita mutakhir itu adonan dari warisan leluhur, politik, bisnis, dan berpatokan agama. Sekian hal bisa saling “menggugurkan” atau “menggenapi” tanpa ada pemutlakan ajaran-ajaran lama. Ingatan atas sastra lama bila dihadapkan dengan gubahan sastra baru dihasilkan kaum perempuan bakal terjadi “bentrok”. Dulu, niti atau wulang ke perempuan bersumber dari sastra sering digubah kaum lelaki ketimbang perempuan. Penaruhan ajaran-ajaran kentara menginginkan pihak lelaki menuntut, memerintah, dan memberi ganjaran. Begitu.

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi, Solo. Ia rutin menulis esai-esai kebudayaan yang sering menghiasi di berbagai surat kabar. Beberapa buku yang telah diterbitkannya antara lain: Ralat: Sastra Bergelimang Makna (2017), Pemetik Cerita (2017), dan Sepah Sahaja (2018).