Meziarahi Candi Dadi

Di masa lalu, sejarah tak pernah tumbuh sebagai sebuah kebetulan. Intuisi manusia telah membubuhkan makna pada ruang dan waktu. Menahbiskannya menjadi kudus, bahkan pusat dunia.

Sebuah bus membawa saya ke pusat dunia itu. Suasana dalam bus tersebut cukup lengang. Tidak ada penumpang yang berdiri di tengah kabin, kursi yang berjejalan, atau pedagang asongan yang menjajakan dagangan. Kursi di sebelah kanan saya pun masih kosong, menyisakan ruang bagi saya untuk meletakkan ransel yang sesak oleh berbagai barang keperluan mendaki Gunung Penanggungan. Akan tetapi, sayang sekali, karena suatu alasan, teman mendaki saya tiba-tiba tidak bisa berangkat. Padahal saya ingin sekali mendaki gunung yang dulunya adalah sebuah mandala agung itu. Saya terpaksa harus mengubah rencana perjalanan.

Saya bertolak ke Tulungagung. Sebenarnya saya sudah pernah berkunjung ke Tulungagung pada 2019 lalu untuk menengok candi-candi yang ada di sana. Namun, tiga tahun lalu, sebuah candi gagal saya kunjungi karena aksesnya yang tidak bisa dibilang mudah. Candi Dadi, sebuah tempat suci yang berdiri di puncak Bukit Walikukun, salah satu bagian dari wilayah perbukitan Wajak Kidul. Saat nongkrong di warung dan hendak mengunjunginya, warga sekitar menakut-nakuti. Mereka berkata bahwa beberapa orang yang hendak mendaki ke puncak tempat candi itu berdiri, tersesat dan hanya berputar-putar tak tentu arah. Saya yang belum tahu rute pasti menuju ke sana sontak berpikir bahwa jalurnya pasti panjang, terjal, dan membingungkan. Begitulah akhirnya saya batal menengok situs tersebut. 

Candi Dadi terletak di Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung. Tampaknya, Boyolangu dulunya adalah tempat yang cukup populer di masa Hindu-Buddha. Banyak situs peninggalan leluhur masih bisa ditemui di daerah ini. Bahkan, Candi Gayatri yang masyhur itu, tempat pendharmaan Rajapatni, istri Dyah Wijaya, sang pendiri Majapahit, ada di sini. 

Agar tidak sendirian saat mendaki bukit yang katanya cukup tinggi dan menguras tenaga itu, saya mengajak sepupu saya untuk menemani mendaki. Begitu masuk ke Desa Wajak Kidul, kami disambut gapura raksasa bertatahkan aksara Jawa yang saya pun tidak mengerti artinya. Namun, itu tidak penting karena apa pun itu, inilah tangga sewu (sebenarnya jumlah anak tangganya tidak sampai seribu/sewu;hanya metafora), jalan menuju Bukit Walikukun tempat Candi Dadi menanti.

Pagi itu cukup panas. Barangkali kami mendaki kesiangan. Perbukitan Wajak Kidul adalah bebatuan kapur yang kering. Vegetasi utamanya adalah pohon jati. Lanskap perbukitan juga didominasi rerumputan dan semak belukar. Teriknya matahari dan rerumputan kering berwarna keemasan seolah mengingatkan kami bahwa ini musim kemarau.

Sepanjang perjalanan kami berhenti beberapa kali. Udara yang begitu kering dan panas membuat kami lebih sering merasa haus. Air minum yang cuma satu botol harus kami hemat supaya tidak habis di tengah perjalanan. Saya jadi berpikir, betapa repotnya peziarah dan para tukang yang membangun candi ini di masa lalu. Bayangkan, membawa material berupa batuan candi ke puncak bukit tentunya bukan tugas yang mudah dan pastinya memakan waktu dan tenaga. Begitu pula bagi para peziarah yang harus rela mendaki cukup jauh untuk beribadah. Meskipun ada beberapa lainnya di sekitar sini, hanya Candi Dadi yang dibangun di puncak bukit. 

Pemilihan tempat untuk mendirikan candi tentunya tidak sembarangan. Para silpin (seniman candi) tentunya punya alasan khusus yang bisa jadi praktis atau magis ketika memilih tempat di mana bangunan sakral ini akan dibangun. Candi-candi yang dibangun di tempat mudah dijangkau mempertimbangkan alasan kepraktisan. Sementara itu, candi-candi yang berada di tempat yang sulit dijangkau seperti di gunung atau bukit, dibangun karena alasan magis.  

Bukit, sebagaimana gunung, memiliki makna khusus dalam kepercayaan Hindu-Buddha dan kepercayaan asli Nusantara sebelum periode indianisasi. Kepercayaan kuno Nusantara menganggap roh leluhur (hyang) bersamayam di puncak gunung. Konon, begitulah muasal daerah bernama Dihyang(Dieng) dan Parahyangan(Priangan) yang diyakini merupakan singgasana sang hyang. Kepercayaan tersebut menjadi cikal-bakal lahirnya punden berundak sebagai replika gunung yang merupakan bangunan pemujaan kepada roh leluhur. 

Budaya Hindu-Buddha yang masuk kemudian pada periode indianisasi Nusantara juga meyakini gunung (meru) sebagai tempat suci, singgasana para dewata. Mereka bahkan menyebut Dewa Shiva sebagai Giri Natha, raja gunung. Kisah Samudera Manthana yang kini mewujud dalam sebuah monumen di Bandara Suvarnabhumi,Bangkok, mengisahkan pengadukan lautan dengan sebuah gunung demi pencarian air kehidupan, tirta amerta. Tantu Panggelaran dari era Majapahit mengisahkan pemindahan Mahameru dari Jambhudvipa(India) ke Javadvipa(Jawa) oleh para dewa yang akhirnya melahirkan gunung-gunung suci di tanah Jawa. Gunung adalah axis mundi, pusat kosmos bagi masyarakat Hindu-Buddha. 

Axis mundi, poros dunia, juga merupakan jembatan antartiga alam dalam keyakinan masyarakat Hindu-Buddha, yaitu alam bawah (jagat orang mati), alam tengah (jagat manusia), dan alam atas (jagat para dewa). Seperti pohon, gunung yang berdiri vertikal sarat akan simbol tersebut sehingga kerap dianggap sebagai tangga menuju entitas tertinggi.

Konsep pembagian dunia menjadi tiga tingkatan semacam ini dikenal dengan triloka. Bahkan, candi pun dibangun dengan konsep ini, yaitu bhurloka, bhuvarloka, dan svarloka. Bhurloka adalah kaki candi, simbol alam bawah, sedangkan bhuvarloka dan svarloka adalah dua alam di atasnya. Ketiga dunia tersebut dihubungkan oleh satu pusat, yaitu axis mundi. Jadi, tidak mengherankan jika gunung sebagai poros semesta diyakini masyarakat Hindu-Buddha memiliki akses terhadap alam atas, tengah, dan bawah. Lokus inimemungkinkan penganut Hindu-Buddha menjalin hubungan dengan alam atas dan bawah.

Kedua kepercayaan dari budaya yang berbeda tersebut seakan mendapatkan titik temu. Keduanya beririsan pada gunung sebagai tempat suci. Bagi saya, kepercayaan tersebut masuk akal. Bagaimana tidak, agama-agama samawi juga seringkali menautkan gunung dengan Tuhan, seperti kisah Musa yang menerima Taurat di Sinai. Suku Masai di Afrika menyebut puncak Kilimanjaro sebagai ngaje ngai (rumah tuhan). Entitas tertinggi, apa pun namanya, entah Tuhan, hyang, atau dewata, selalu diasosiasikan dengan ketinggian. Jadi, masuk akal jika masyarakat dari berbagai kebudayaan menganggap tempat-tempat tinggi sebagai ruang kudus.

Jika diamati, bentuk bangunan candi merupakan replika gunung, baik yang bertipe prasada (menjulang tinggi) maupun punden berundak. Candi-candi yang berasal dari periode klasik awal seperti di dataran tinggi Dieng, belum bercampur kepercayaan lokal. Candi-candi dari periode ini tidak mengadopsi konsep punden berundak seperti candi-candi dari masa-masa akhir Hindu-Buddha di Jawa. Pengaruh Hindu-Buddha yang kian luntur di masa-masa akhirnya (menjelang abad ke-15) mengubah arsitekturnya dan menghadirkan kembali unsur-unsur lokal. Tidak mengejutkan jika Candi Sukuh dan Cetho di lereng Lawu yang dibangun pada masa akhir Majapahit mengadopsi arsitektur semacam itu sehingga orang-orang menghubungkannya dengan piramida suku Maya di Amerika Tengah. Padahal, keduanya berasal dari akar kebudayaan yang sama sekali berbeda.

 

Tidak mengejutkan jika Candi Sukuh dan Cetho di lereng Lawu yang dibangun pada masa akhir Majapahit mengadopsi arsitektur semacam itu sehingga orang-orang menghubungkannya dengan piramida suku Maya di Amerika Tengah. Padahal, keduanya berasal dari akar kebudayaan yang sama sekali berbeda.

Baru dua puluh menit mendaki, kami sudah kehabisan hampir setengah botol air mineral. Kami tidak tahu berapa lama lagi waktu yang kami butuhkan untuk mencapai tujuan. Sepanjang jalan, pemandangan didominasi lanskap kering, warna kuning rerumputan, dan bebatuan kapur dengan sudut-sudut tajam. Sesekali kami menemukan tumbuhan kayu putih. Namun, saya belum melihat satu pun pohon walikukun yang menjadi nama bukit ini. Hanya pohon jati dan semak belukar yang silang sengkarut.

Dengan mengikuti petunjuk jalan yang dibuat  oleh warga, kami melanjutkan perjalanan. Di setiap persimpangan, kami berhenti untuk mencari petunjuk arah. Dalam perjalanan, kami bertemu sejumlah orang. Beberapa di antaranya merupakan wisatawan yang baru kembali turun dari Candi Dadi. Beberapa lainnya para pesepeda dan pengendara motor trail yang tampak menikmati jalur perbukitan yang memang cukup menantang.

Akhirnya, kami tiba di sebuah persimpangan. Di situ, kami disambut tanjakan curam. Kami yakin, dari derajat kecuramannya, ini adalah tanjakan terakhir menuju puncak. Jalan setapak di depan kami masih didominasi semak di sisi kanan dan kiri. Dari atas sini, Gunung Budek yang berada di sebelah barat dari tempat kami berpijak, bisa terlihat jelas. Gunung—yang menurut saya lebih tepat adalah bukit—Budek memiliki mitosnya sendiri (soal ini kelak saya ketahui dari sang juru pelihara candi). Konon, dulu ada seorang pemuda yang jatuh cinta kepada seorang wanita hingga tidak mendengarkan seruan ibunya. Ibu sang pemuda yang murka mengutuk anaknya yang budek itu menjadi sebuah gundukan tanah yang menjulang ke langit. Lebih kurang, kisahnya sama dengan Malin Kundang. 

Setelah hampir satu jam berjalan dari anak tangga pertama tangga sewu, akhirnya kami sampai juga ke tujuan. Papan nama bertuliskan ‘Candi Dadi’ menyambut kami yang terengah-engah.

Di puncak Bukit Walikukun, Candi Dadi berdiri kokoh. Saya memandangnya takjub. Seketika dahaga di korongkongan terlupakan. Rasa lelah saya kalah. Memang tidak semegah Prambanan yang tinggi menjulang, atau senyentrik Sukuh dengan arca falusnya yang ugal-ugalan. Candi ini memiliki keunikan sendiri. Candi Dadi bahkan tidak memiliki pintu masuk seperti lazimnya candi-candi lain. Bangunan ini juga tidak berbentuk punden berundak seperti Candi Mirigambar yang berada di bawah bukit ini. Sejauh yang bisa saya duga, situs ini masih sama dengan bentuk aslinya. Dengan kata lain, belum ada pemugaran.

Saat saya berjalan mengitari bangunan, yang ternyata nyaris tanpa relief dan angka tahun ini, saya bertemu Pak Andi, sang juru pelihara candi. Berbadan tegap, kekar, dengan celana panjang loreng dan sepatu bot, membuat saya berpikir, ia pasti anggota TNI. Tapi ternyata bukan. Laki-laki dari desa setempat ini adalah juru kunci Candi Dadi yang bersahaja. Sambil membersihkan tanah di sekitar dari dedaunan kering, ia menemani saya mengobrol. Benar saja, menurutnya, candi ini memang masih orisinal.

Candi Dadi merupakan bangunan tunggal tanpa relief dan arca. Berdiri di puncak bukit dengan ketinggian lebih kurang 400 m dpl, candi ini terletak paling tinggi di antara tiga lainnya yang masih bisa ditemukan di wilayah perbukitan ini. Tiga candi lainnya, antara lain Urung, Gemali, dan Buta. Ukuran Candi Dadi memang tidak terlalu besar. Denah dasarnya berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 14 m x 14 m dengan tinggi 6,5 m. Jika dilihat dari atas, candi ini berbentuk segi delapan dengan lubang sumuran di tengahnya. Ceruk ini unik karena diameternya cukup besar, yaitu  3,5 m dengan kedalaman 3 m dan tampaknya, tidak banyak candi yang memiliki lubang sebesar ini di bagian tengah atapnya. Beberapa orang berpendapat bahwa lubang tersebut adalah yoni, simbol kesuburan yang biasanya ditemukan di candi-candi Hindu. Berdasarkan papan informasi, diduga, candi ini dibuat pada masa akhir Majapahit.

Candi Dadi dengan pola geometrisnya merupakan representasi mandala. Layaknya Penanggungan yang dikelilingi delapan bukit di sekelilingnya yang menjadi mandala agung Majapahit, candi ini pun memiliki delapan sudut. Delapan sudut tersebut merupakan simbol arah mata angin. Lubang di tengah seakan-akan mempertegas titik pusat pola sakral itu. Menurut Pak Andi, beberapa orang percaya bahwa liang itu adalah pusat kosmos dalam keyakinan mereka. 

Mandala secara harfiah berarti ‘lingkaran’. Namun, dalam penerapannya, konsep ini diberi makna kontekstual yang berbeda-beda. Misalnya, mandala dapat dipahami sebagai diagram simbolis dengan pola geometris paling hakiki dan dasar, yaitu lingkaran atau persegi. Dalam konteks lain dapat diartikan juga sebagai ‘tempat yang disucikan’. Borobudur merupakan manifestasi sempurna dari konsep ini. Mandala berbentuk lingkaran lebih umum dijumpai di candi-candi Buddha, sementara candi-candi Hindu berpola persegi. Bagi saya, Candi Dadi yang berbentuk persegi delapan merupakan transisi antara pola persegi dan lingkaran. 

Borobudur merupakan manifestasi sempurna dari konsep ini. Mandala berbentuk lingkaran lebih umum dijumpai di candi-candi Buddha, sementara candi-candi Hindu berpola persegi. Bagi saya, Candi Dadi yang berbentuk persegi delapan merupakan transisi antara pola persegi dan lingkaran. 

Mandala dengan titik pusat pada pola konsentrisnya merupakan pasangan sempurna bagi  kultus gunung sebagai tempat suci. Kombinasi kedua konsep ini menjadikan Candi Dadi sebagai wujud komplet axis mundi. Barangkali inilah alasan para silpin Jawa mendesain dan memilih puncak bukit sebagai tempatnya didirikan.

Sayang sekali saya tidak membawa drone untuk mengambil gambar Candi Dadi dari atas, 

 “Iya, Mas, memang bagus kalau dilihat dari atas,” tanggap Pak Andi sambil menghentikan sejenak aktivitasnya menyapu halaman di sekitar candi. “Tapi enggak boleh sembarangan ambil gambar. Soalnya rawan sekali kami kecolongan data sama peneliti-peneliti asing. Makanya, untuk pengambilan gambar menggunakan drone memang harus izin dulu.” 

Pria yang setiap hari naik-turun bukit untuk melaksanakan tugasnya ini pun menceritakan mitos-mitos lokal seputar Candi Dadi (termasuk mitos tentang Gunung Budek yang sudah saya ceritakan sebelumnya) kepada saya yang duduk di kaki candi yang rindang oleh pepohonan. 

Konon, di wilayah pebukitan ini dulu ada seorang pangeran yang jatuh cinta kepada seorang putri.

“Nama pangeran dan putrinya sendiri enggak jelas siapa,” kelakar Pak Andi. Sang pangeran ingin sekali mempersunting sang putri untuk dijadikan istri. Namun, seperti Dewi Kilisuci dalam kisah Lembu Sura dan Rara Janggrang dalam kisah Prambanan, sang putri mengajukan syarat kepada sang pangeran. Tidak seugal-ugalan Rara Janggrang yang meminta seribu candi pada Bandung Bandawasa, sang putri hanya meminta dibuatkan empat candi.

Layaknya Bandung Bandawasa, sang pangeran memanggil bala bantuan bangsa lelembut untuk membantunya memenuhi syarat sang putri. Namun, sayang sekali, memang sejak awal sang putri cuma iseng dan tidak serius menangapi pinangan sang pangeran. Melihat empat candi yang dimintanya hendak rampung, sang putri kebingungan. Tak sudi dia menjadi istri sang pangeran, entah mengapa. Akhirnya, sang putri meminta bantuan para perempuan desa sekitar. Mereka melepas ayam-ayam, menumbuk lesung, membakar kayu-kayu, membuat langit terang benderang di sebelah timur seolah fajar menyingsing. Karena pada masa itu belum ditemukan jam tangan, pangeran pun kaget pagi datang secepat itu. Para lelembut pun kocar-kacir dibuatnya, meninggalkan pekerjaannya, membiarkan tiga candi (Candi Urung, Gemali, dan Buta) runtuh seketika. Hanya satu candi yang berhasil dirampungkan sang pangeran. Karena hanya satu yang jadi, candi itulah Candi Dadi (dalam bahasa Jawa, dadi berarti ‘jadi’). Salah satu candi dinamai Candi Urung. Urung  adalah bahasa Jawa yang artinya ‘batal’ atau ‘tidak jadi’. Kini ketiga candi tersebut memang sudah tidak utuh lagi, terutama Candi Urung yang hanya menyisakan bongkahan-bongkahan batu yang disusun serampangan oleh warga. Namun, kisah sang pangeran dan putri belum berakhir. 

Sang pangeran murka oleh tipu muslihat sang putri yang licik. Merasa kecewa karena dirinya dikerjai, pangeran mengeluarkan kutukan kepada sang putri sebagai bentuk kemarahannya. “Karena kau dan perempuan-perempuan itu sudah menipuku, kukutuk kalian semua! Tidak akan ada laki-laki yang mau meminang kalian! Kalian tidak akan mendapatkan pasangan hingga tua!”  Saya pikir, kesamaan tema kisah ini dengan kisah Rara Janggrang dan Lembu Sura menunjukkan bahwa cerita-cerita semacam itu cukup populer di zamannya. Atau, boleh jadi legenda semacam ini berfungsi sebagai gimmick bagi tempat-tempat tertentu untuk menarik pengunjung. 

Begitulah kisah tentang Candi Dadi dan kutukan lajang yang konon menimpa sebuah dusun di sekitar perbukitan ini. Meski demikian, menurut warga sekitar, tampaknya saat ini yang tak kunjung menikah di dusun itu adalah para lelaki. Namun hal ini cukup masuk akal. Belakangan, mungkin hidup memang makin sulit bagi para lelaki. Lapangan kerja makin susah, harga kebutuhan pokok menjulang, dan masalah sosial ekonomi lainnya kian kompleks, sehingga membuat mereka berpikir ulang untuk cepat menikah. 

Ada pula teori lain tentang penamaan candi ini. Menurut Pak Andi, beberapa meyakini bahwa penamaan candi didasarkan pada banyaknya keinginan para peziarah yang terkabul setelah melakukan samadi atau ritual di tempat ini. “Ada juga yang bilang kalau melakukan ritual di sini, keinginannya akan terpenuhi, dadi, alias jadi,” tuturnya sambil menunjuk sisa-sisa ritual semalam yang dilakukan beberapa peziarah.

Merasa cukup dengan legenda Candi Dadi, saya kembali mengamati badan candi. Tak seperti candi-candi lain yang pernah saya kunjungi, bangunan ini tidak disusun menggunakan batu andesit atau batu kali. Candi Dadi dibangun menggunakan batu kapur yang menurut saya lebih mirip batako. Kemungkinan batu-batu tersebut diambil dari sekitar bukit mengingat letak candi yang tidak praktis untuk mengangkut bahan dari lokasi yang jauh. 

Karena candi ini tidak pernah dipugar sejak penemuannya, tak heran jika batu-batu candi ditumbuhi lumut kerak yang tidak baik bagi tubuh candi. Lumut kerak adalah simbiosis antara alga dan jamur yang biasanya tumbuh di pepohonan atau bebatuan. Lumut kerak dikenal sebagai organisme perintis yang dapat melapukkan batuan dan memberikan tempat hidup bagi organisme lainnya. Banyaknya lumut kerak menjadi petunjuk bahwa tingkat polusi udara di sini masih rendah.

Candi Dadi, seperti candi-candi yang lain, tentunya sudah bertahan selama berabad-abad  di bawah gempuran cuaca yang mengikis kekuatan bangunan indah nan luhur ini. Tak seperti candi-candi lainnya, akses yang sulit membuat perawatan pada badan candi kian rumit. Walhasil, Pak Andi merawat candi ini sekadarnya. Ia berharap akses menuju candi dibenahi sehingga dapat memudahkan perawatan dan juga memuluskan jalan bagi wisatawan. 

Cuaca dan usia memang faktor alami. Candi-candi yang eksis hingga kini tentunya telah melewati sekian banyak paparan kekuatan alam yang terjadi sepanjang sejarah. Bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir bandang, tentunya berkontribusi bagi rusaknya candi-candi sehingga beberapa mungkin belum sempat tercatat sejarah. Namun, bukan hanya bencana alam yang mengancam eksistensi situs bersejarah. Ada juga faktor lain yang tak kalah penting, yaitu ‘bencana budaya’.

Bencana budaya yang saya maksud, yaitu perubahan kondisi sosial di sekitar situs bersejarah. Masyarakat sekitar candi kini sudah bukan lagi penganut Hindu-Buddha. Fenomena ini turut menentukan eksistensi dan kelestarian situs bersejarah. Fakta inilah yang membagi situs bersejarah menjadi ‘monumen hidup’ dan ‘monumen mati.’ Monumen hidup adalah situs cagar budaya yang hingga kini masih berfungsi sama seperti saat situs tersebut dibuat. Misalnya, masjid atau gereja yang kini masih aktif digunakan masyarakat. Candi, meskipun sewaktu-waktu digunakan untuk ritual tertentu, termasuk ke dalam monumen mati. Karena sudah tak lagi berfungsi sebagaimana dulu, situs-situs semacam ini cenderung dilupakan masyarakat. Candi-candi yang tak lagi berfungsi pun terlantar, tertimbun tanah, dan ditumbuhi rerumputan, hingga akhirnya lenyap dari catatan sejarah. Kondisi menjadi semakin mengenaskan saat batu-batu candi dibongkar orang-orang untuk kepentingan lain, seperti kebutuhan lahan atau bahan bangunan. Arca dan panel relief diperdagangkan demi dijadikan koleksi dan pajangan.

Setelah berbincang cukup banyak dengan sang juru pelihara, saya mengambil gambar sekadarnya. Sayang sekali saya tidak bisa mengambil penampakan candi ini dari atas untuk melihat pola mandala yang mengagumkan itu. Merasa lelah dan belum siap untuk perjalanan turun, saya memilih duduk-duduk di bawah pepohonan hingga kemudian sadar bahwa pokok-pokok di sekitar candi inilah yang memberi nama bukit tersebut: walikukun yang sejak tadi saya cari.

Walikukun (Schoutenia ovata) merupakan pohon yang diyakini memiliki magi oleh masyarakat Jawa. Jika ditanam di empat penjuru mata angin, mereka percaya pohon ini akan melindungi suatu tempat dari gangguan makhluk gaib. Walikukun yang tumbuh di sekitar candi mengindikasikan bahwa tempat ini suci, memagari situs dari gangguan yang tampak maupun tidak. Jika dilhat dari bawah situs ini benar-benar tersembunyi, tidak terlihat karena tertutup rimbunnya pepohonan. 

Candi Dadi memang tidak ramah pengunjung. Akses yang sulit membuat hanya segelintir orang yang mau menempuh satu jam berjalan kaki mendaki bukit untuk sekadar melihat candi. Jalur yang terjal, panjang, dan letaknya yang nyaris tersembunyi dapat berfungsi sebagai pelindung situs ini dari gangguan manusia, tapi juga mempersulit perawatan batuan candi yang terus terkikis oleh waktu dan kekuatan alam.

Berbagai simbol meneguhkan status bangunan ini sebagai ruang sakral. Mandala, axis mundi, bukit, dan walikukun yang mengitarinya membuat candi di puncak bukit ini tak hanya suci, tapi juga poros semesta.

0
22